Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Studi-Studi Mengenai Tengger Sebelumnya

0

Studi-Studi Mengenai Tengger Sebelumnya

Sebelum karya-karya kontemporer tentang komunitas Tengger beredar. Pada era klasik atau jaman penjajahan  Belanda, bahkan naskah-naskah  lama era   Majapahit   cukup   memberikan   perhatian   dalam   melihat   kebudayaan

 

 

64    Edgar,   Andrew   and  Sedgwick,   Peter,   Key  Concept   in  Cultural   Theory.   (London. Routledge, 1999) p. 339.

65   Hibriditas  merupakan  terminologi  yang  dikembangkan   oleh  tokoh  Postkolonial  India

Homi K Bhaba. Dia memahami terminology ini untuk melakukan perlawanan atas kekuatan politik cultural   penjajah.   Dengan   demikian   hibriditas   dalam   pandangan   Bhaba   merupakan   produk kontruksi  cultural  kolonial  yang tetap membagi  Negara  jajahan  dalam dua pilahan  yaitu identitas murni  penjajah  dengan  ketinggian  kultur  yang  didiskriminasikan   dengan  kaum  campuran  indo. Lebih lanjut baca dalam Muji Sutrisno, Diri dan “The Other” dalam Hermeunetika  Pascakolonial: Soal Identitas. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2004) hal 27-30.

 

 

 

 

Tengger. Karya-karya  yang dihasilkan oleh Pigeaud (1960), Pigeaud dan De Graaf  (1985),  Donal  Weatherbee  (1978)  banyak  sekali  memberikan  ulasan tentang  Tengger  dalam  perspektif  kesejarahan.  Melalui  karya-karya  mereka inilah, para peneliti Tengger dikemudian hari banyak mengambil referensi mengenai historiografi komunitas Tengger. Perdebatan mengenai sejarah orang Tengger   menjadi   perbicangan   ramai   dari   karya-karya   mereka.   Melalui hubungan-hubungan kebudayaan, para penulis di atas sering mengaitkan antara Tengger dengan Majapahit.  Ada yang berkayakinan  bahwa Tengger tumbuh dan berkembang seiring dengan kehancuran Majapahit oleh Demak. Sementara argumentasi yang lain menyatakan bahwa komunitas Tengger dianggap telah ada, bahkan Majapahit sendiri belum berdiri.

Robert Hefner melakukan studi tentang Jawa pada era tahun 1970-an. Ia melakukan  satu penelitian  etnografi  di Pegunungan  Tengger  Jawa Timur selama 28 bulan. Dari tempat ini setidaknya  Hefner menghasilkan  dua buku yang menjadi  bagian penting untuk melihat  Jawa (Tengger)  bagi studi-studi berikutnya. Buku yang pertama berjudul Hindu Javanese; Tengger Tradition an Islam (1985),  buku kedua: The Political  Economy  of Mountain  Java An Intepretatif History (1990).

Hefner mencatat dalam bukunya bahwa setelah runtuhnya Kerajaan Hindu-Budha (Majapahit) diawal abad XVI M, sebagian penduduk yang beragama  Hindu  melarikan  diri  ke  Bali  yang  masih  tetap  Hindu  sampai sekarang.   Sementara   sejumlah   kecil   mengasingkan   diri   ke   Pegunungan

Tengger66

 

 

66.  Hefner,  Robert.  The  Political  Economy  of  Mountain  Java;  An  Intepretative  History

(University of California Press) 1990 p. 14.

 

 

 

 

Kalau memang para pelarian itu adalah mereka yang merasa terancam dengan munculnya  kekuatan Islam (Demak), apakah keyakinan spiritualnya? Pengkuan mengenai betapa sulitnya untuk melihat agama orang Tengger diakui sendiri oleh Hefner diawal penelitianya. Misalnya ia menyatakan;

..however,  has sometime left unclear the question as to whether Tengger  are  in fact Hindu,  Buddhist,  animist,  or Kejawen  ’Javanist’. Indeed, some report have indicated that in modern times Tengger have

converted to Islam”67

 

Namun  setelah  berjibaku  lama  di Tengger,  Hefner  membangun  satu asumsi            bahwa               ”…seperti                 Agama    Jawa    lainnya,    orang-orang   Tengger menggunakannya  untuk merujuk pada istilah agama. Namun agama Tengger bukanlah suatu ketunggalan  makna, Hefner melihat agama Tengger merujuk pada suatu realitas keagamaan yang pernah ada masa Majapahit atau Jawa pra

Islam. Identitas itu merujuk pada Agama Hindu, atau Agama Budo”68

 

Agama Budo sebagaimana yang tertuliskan di atas adalah sebuah simplifikasi  atas  makna  Tengger  itu  sendiri.  ”Tengger  underscore  (’budo’) their belief that their religion was always part of a wade Javanese heritage”,

demikian  ungkapan  Hefner69.  Agama  Budo  dilihat  oleh  Hefner  memiliki

 

beberapa  varian-variannya.  Setidaknya  Hefner  melihatnya  ada  tiga  varian, yakni Budo TenggerBudo Jawa, dan Budo Bali. Agama Budo berkembang sebelum adanya pendidikan dan Reformasi Hindu di Tengger. Budo Tengger sendiri sebuah identitas yang digunakan secara khusus untuk menggambarkan

kesucian tradisi di Pegunungan Tengger.70

 

 

 

67   Hefner,  Robert,  Hindu  Javanese:   Tengger  Traditionan   Islam.  (Pricenton:   Pricenton

University Press, 1985) p. 3.

68 Ibid.  p. 39.

69 Ibid, p. 39.

70 Ibid, p. 40.

 

 

 

 

Dalam kehidupan spiritualitasnya, masyarakat Tengger juga mengakui adanya Tuhan yang monotheistik. Wong Tengger juga mengakui ada semangat spiritualitas seperti adanya roh nenek moyang, dan kekuatan spiritualitas yang menjaga Tengger. Hal ini dapat dilihat dari catatan Hefner dibawah ini;

This two-tiered vision of spiritual hierarchy is the most commonly acknowledge  scheme  among  Tengger,  and many  villagers  speak  as if these were the only categories of spirits. More doctrinally sophisticated villagers, however, are quick ti point out that Tengger also recognize a monotheistic God above and beyond ancestral and territorial spirit. They speak of this God with a variety of term, most of them consistent with term  used  by  other  Javanese.  Like  Javanese  Cristians,  for  example, Tengger  will  on  occasion  refer  to  God  as  Alloh.  Particulary  when speaking  with  Muslim.  More  commonly,  however,  Tengger  refer  God

with the more neutral term Tuhan (Lord God) or Sang Hyang Widi71.

 

Selain memiliki kesaman maknawi dalam memandang  dan mengakui Tuhan,   komunitas   Tengger   juga   menjalankan   tradisi   selametan.   Tradisi selametan ini juga dikenal luas oleh masyarakat Jawa tradisional, sebagaimana yang digambarkan oleh Clifford Geertz. Tradisi selametan menjadi salah satu faktor kesamaan antara komunitas kejawen muslim (Geertz, 1986, Woodward,

1999 dan Hefner, 1985).

 

Walau memiliki titik pertemuan menyangkut tradisi selametan. Antara Tengger dengan Islam terlibat kontestasi yang bersifat simbolik. Dalam catatan yang dibuat oleh Hefner dengan mengutip dari Jesper dan Meinsma, Hefner mengilustrasikan kontestasi itu melalui Ritus Karo.

Kontestasi  antara  Islam  dan Tengger  dengan  menyandarkannya  pada

Ritus Karo  nampaknya terjadi  dan dimulai pada masa pendudukan Belanda, mengingat catatan yang menjadi referensi Hefner adalah pada tahun 1880-an.

 

 

 

 

71 Ibid. p. 71-72.

 

 

 

 

Kisah pertengkaran  ini diperankan  lewat cerita-cerita  perebutan kuasa antara

 

Ajisaka (Tengger) dengan Nabi Muhammad (Islam).72

 

Robert Hefner (1985) dalam bukunya yang berjudul Hindu Javenese; Tengger tradition and Islam merupakan kajian menarik yang menyoal proses Islamisasi dan masuknya kalangan Hindu modernis yang disokong oleh negara. Dalam  buku  ini,  Hefner  melihat  pergumulan  yang  berujung  pada  resistensi antara  Islam  dan Tengger,  serta akomodasi-akomodasi  orang-orang  Tengger terhadap Hindu.

Buku yang ditulis dengan pendekatan sejarah lisan ini menjadi sumber pembeda dalam melihat identitas antara agama masintream (Islam dan Hindu) serta   Tengger.   Melalui   sejarah   lisan,   Hefner   dapat   melacak   kembali partikularitas Hindu yang hanya menempel berupa serpihan dalam kebudayaan Tengger secara umum.

Hindu mendapatkan tempat yang terbuka ketika komunitas Tengger sendiri merasa mengalami  ancaman  terhadap  dominasi  orang-orang  Islam di pegunungan   bawah.   Apalagi   dalam   perjalanannya   Hindu   mendapatkan sokongan penuh dari negara. Dalam perjalanannya, Hindu telah mendapatkan tempat  di  Tengger  melakukan  ‘purifikasi’  atas  makna-makna  ritual.  Serta dalam banyak hal memberikan rasionalisasi atas pola-pola pembangunan yang dicanangkan oleh negara. Keduanya dalam awal karir pemerintahan orde baru menjadi  pasangan  yang  sinergis  dan  membentuk  hubungan-hubungan  yang

saling mutualistik.

 

 

 

 

 

72   Hefner,  Robert,  Hindu  Javanese:   Tengger  Traditionan   Islam.  (Pricenton:   Pricenton

University Press, 1985) p. 133-136.

 

 

 

 

Di sisi lain, Islam cukup ‘agresif’ dalam mengabarkan  kebenarannya. Kontestasi simbolik lewat ritus-ritus dan cerita-cerita magis menjadi perjalanan panjang   dua   kebudayaan   ini.   Bahkan   ritus   sengaja   diciptakan   untuk mengadopsi,             mendialektik,    sekaligus            meresistensi                       makna-makna cerita, sebagaimana  yang  tertuang  dalam  ritual  Karo.  Pada  dimensinya  yang  lain, ritual  yang  dilakukan  oleh  komunitas  Tengger  juga  menjadi  penghubung dengan  sistem  tanda  mereka  dalam  mengelola   dan  mereproduksi   sistem ekonomi. Ritual juga menjadi metode dalam menangkap realitas disekeliling mereka,  lebih-lebih  disaat  menghadapi  suasana  sosial  dan  kenyataan  hidup yang relatif baru.

Pada era tahun akhir 1960-an hingga pertengahan 1970-an, menjadi komunitas Tengger adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Identitas Tengger akan  membawa  ketakutan  tersendiri,  sebab  selalu  dilekatkan  dengan  tidak Islam,  dan  lebih  dekat  dengan  komunis,  yang  berarti  pula  stereotype  yang begitu  negatif.  Kenyataan  ini membawa  dampak  buruk  bagi wong  Tengger. Sebaliknya  keislaman  pada  masa  itu,  atau  hingga  kini  merupakan  wujud keakuan,  sebab  bisa  dijadikan  potensi-potensi  keselamatan  dan  keuntungan dalam realitas politik di Indonesia.

Pada konteks dan eranya, buku ini memiliki kecermatan dan ketelitian yang luar biasa dalam mengambarkan  kehidupan dan kebudayaan  komunitas Tengger. Buku ini sangat penting untuk menjadi referensi utama dalam melihat kebudayaan  Tengger  pada  awal  tahun  70-an.  Walau  begitu  buku  ini sangat mungkin  untuk  dikatakan  ‘cukup  lapuk’  untuk  dijadikan  patokan  didalam melihat   tengger   kekinian.   Oleh  karenanya,   karya  spekatakuler   ini  harus

 

 

 

 

dilanjutkan kembali pembacaannya, khususnya dalam melihat kebudayaan Tengger  saat  ini, khususnya  yang  menyangkut  hubungan  dengan  Islam  dan industri pariwisata. Industri pariwisata harus mulai dibaca dan ditempatkan sebagai  kekuatan  penting,  sebab  kekuatan  ini ikut  bergumul  cukup  intensif dalam  menyusun  mozaik  kebudayaan  Tengger  saat  ini. Memang  kalau  mau melacak,   kekuatan   ini  muncul   seiring   dengan   proyek   modernisasi   yang digerakan oleh orde baru. Tentu saja, kekuatan ini belum muncul pada eranya Hefner melakukan penelitian di Tengger.

Sementara  di  dalam  bukunya  yang  kedua  tentang  Tengger,  Robert Hefner (1990) menghasilkan buku The Political Economy of Mountain Java An Intepretatif History. Dalam buku ini, Hefner banyak mengulas Tengger pada dimensi kehidupan ekonomi politiknya. Hefner mengambil ruang penelitian dengan momentum yang sangat tepat, sebab ia menuliskan Tengger di tengah suasana  transisi  politik  yang  melanda  Indonesia.  Sebuah  fase  perpindahan rezim, dari orde lama ke orde baru. Gambaran mengenai perkelahian  politik dan  pembantaian  atas  nama  garis  ideologi  menjadi  suasana  kelabu  secara nasional.  Kenyataan  ini  juga  berimbas  secara  tragis  dalam  ruang  lokal  di Tengger.

Atas nama pembaharuan politik dan revitalisasi kebenaran agama, pembantaian            manusia                        terjadi        dimana-mana.                  Seiring     dengan     proyek

‘pembersihan’   lingkungan    dari    anasir    kiri,    derap    pembangunan   yang mengkiblatkan  diri pada blue print ekonomi  ala Barat menjadi  imam  besar dalam   proyek   modernisasi   Indonesia   yang  dicanangkan   oleh  orde  baru.

 

 

 

 

Modernisasi   itu   melanda   hingga   menyentuh   basis   ekonomi   masyarakat

 

Indonesia hingga gaungnya masuk kepelosok pedesaan.

 

Redisitribusi tanah yang didegungkan oleh kelompok landreform yang dimotori oleh komunis untuk memberikan basis produksi bagi petani miskin, sayub-sayub hilang dari permukaan politik nasional. Orde baru jutru menggantikannya  dengan kebijakan involusi pertanian yang mengubah secara mendasar  pola  kebudayaan  komunitas  Tengger.  Obat-obatan  kimiawi,  serta pupuk   organik   telah   menggantikan   pola-pola   produksi   pertanian   yang berbasiskan kearifan lokal. Akibatnya, otonomi masyarakat gunung (Tengger)

ini kian melemah ketika era modernisasi berlangsung.73

 

Melalui proyek developmentalisme yang sangat sentralistik ini pula, menarik  seluruh  identitas  lokal (Tengger).  Bahkan  pada desa yang terpencil sekalipun telah mendorong warganya dalam nirsadarnya untuk menjadi keanggotaan masyarakat secara lebih luas. Kenyataan ini menimbulkan ironi, sebab nasionalisasi identitas yang digerakan lewat skema pembangunan telah membuyarkan segenap identitas masyarakat Tengger sendiri.

Namun sayangnya, penelitian yang dilakukan oleh para antropolog ini tidak banyak menyuguhkan pola-pola resistensi masyarakat Tengger dalam menghadapi  pemusatan  pembangunan  ekonomi  politik  yang  dipimpin  oleh orde baru. Termasuk kemungkinan siasat komunitas Tengger menghadapi dominasi kelompok-kelompok Islam yang bersekutu dengan militer.

Berangkat  dari  kondisi  seperti  ini,  peneliti  ingin  melihat  lebih  jauh

 

tentang  proses  representasi  dan  pembentukan  identitas  masyarakat  Tengger.

 

 

73   Hefner,  Robert.  The  Political  Economy  of  Mountain  Java;  An  Intepretative  History.

(University of California Press, 1990) p. 336.

 

 

 

 

Peneliti hendak memberikan gambaran lebih detil tentang perkembangan masyarakat  tengger dewasa ini. Peneliti melihat bahwa kajian dan penelitian tentang masyarakat  Tengger  banyak  di lakukan  oleh para Antropolog.  Pada penelitian  ini, peneliti  banyak  memberikan  gambaran  tentang  kondisi  psikis masyarakat  Tengger  dalam  menghadapi  perubahan.  Kondisi  psikis  ini  bisa berupa perlawanan, negosiasi ataupun menggunakan cara-cara yang lain.

Leave A Reply

Your email address will not be published.