Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Status Identitas Ego Remaja Tengah ditinjau dari Persepsi Pola Asuh Demokratis, Peran Jenis dan Jenis Kelamin

0

Remaja merupakan aset bangsa yang diharapkan dapat meneruskan pembangunan yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya dan sekaligus diharapkan  memberikan  kontribusi  positif  yang  bermanfaat  pada  bangsa. Remaja diharapkan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi disertai landasan iman yang kokoh sehingga mampu menghasilkan karya dan cipta yang akan dipersembahkan pada bangsa Indonesia. Salah satu kemajuan suatu bangsa adalah terletak pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa kemakmuran bagi rakyatnya. Untuk menuju ke arah tersebut, sejak dini remaja  layaknya          mempersiapkan       diri                       sehingga             mampu    membawa bangsanya pada kemajuan tersebut.

Membahas   mengenai   remaja   selalu   menarik   dan   paling   banyak mendapat  perhatian.  Begitu  pentingnya  masa  remaja  ini,  maka  Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sidang umumnya mengeluarkan resolusi yang menetapkan tanggal 12 Agustus sebagai hari remaja sedunia, yang dimulai sejak tahun 2000. Sidang umum merekomendasikan perlu adanya kegiatan pemberian informasi kepada masyarakat sehubungan dengan peringatan tersebut untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan program aksi bagi remaja. Pelaksanaan  hari  remaja  sedunia  yang  bertempat  di  Johannesburg,  Afrika Selatan mengambil tema “Youth action for sustainable Development”. Di dalam

 

 

 

 

 

 

 

 

peringatan tersebut, dibuat program untuk mengikutsertakan dan melibatkan remaja dalam bidang lingkungan hidup dan pembangunan (Kompas, 2002).

Masa remaja merupakan masa belajar untuk tumbuh dan berkembang dari anak menjadi dewasa. Masa belajar ini disertai dengan tugas-tugas perkembangan. Sama halnya dengan di sekolah, tugas perkembangan ini juga harus diselesaikan  oleh seorang remaja  dengan baik dan tepat untuk dapat naik ke       kelas    berikutnya.   Istilah    tugas   perkembangan        digunakan       untuk menggambarkan harapan masyarakat terhadap individu untuk melaksanakan tugas tertentu pada masa usia tertentu sehingga individu dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat.

Masa remaja digambarkan sebagai masa dimana  remaja tersebut mulai menguji karakteristik psikologi terhadap diri untuk menemukan siapa dirinya sesungguhnya dan bagaimana remaja berperan dalam lingkungan sosial tempat remaja tersebut tinggal (Steinberg & Morris, 2001).

Isu mengenai identitas ego dan perubahannya selalu ada dalam rentang kehidupan manusia. Seperti yang telah dikatakan oleh Lippe dan Skoe (1998) bahwa     perkembangan  identitas  ego  adalah  proses  sepanjang  hayat  yang dikarakteristikkan dengan kemampuan bereksplorasi serta bagaimana individu mengkonsolidasikan  pengalaman-pengalaman  masa  lalu.  Meskipun  identitas ego ini telah dimulai sejak masa anak dalam tahap perkembangan psikososial yang dikemukakan oleh Erikson, namun perkembangan identitas ego ini lebih banyak mendapat perhatian di masa remaja. Menurut Erikson (dalam Marcia,

1993) kesadaran mengenai identitas ego dimulai pada masa remaja, kesuksesan

 

 

 

 

 

 

 

 

remaja dalam mencapai identitas egonya dipengaruhi juga oleh kemampuannya dalam menyelesaikan tahap perkembangan psikososial sebelumnya, yaitu tahap basic  trustautonomy,  initiative  dan  industri  dengan  sukses  pula.  Alasan lainnya,  perkembangan  identitas  ego  yang  terjadi  di  masa  remaja  lebih kompleks jika dibandingkan pada masa kanak-kanak. Ini disebabkan bahwa kemampuan intelektual yang lebih tinggi dimiliki remaja menjadikan remaja tersebut lebih memiliki kesadaran diri mengenai perubahan-perubahan yang terjadi di dalam dirinya dan di luar diri, yaitu perubahan yang terjadi di lingkungan maupun terhadap apa yang dirasakannya. Selain itu, masa remaja terjadi perubahan-perubahan yang menjadi karakteristik masa tersebut, seperti perubahan dalam aspek biologi, kognisi dan sosioemosional (Steinberg, 2002). Lebih lanjut Lippe dan Skoe (1998) menyatakan bahwa perkembangan identitas ego  selama  masa  remaja  adalah  penting  karena  hal  tersebut  menyediakan sebuah fondasi pada perkembangan psikososial dan hubungan interpersonal di masa dewasa. Kesulitan dalam meraih perkembangan identitas ego akan banyak melibatkan                      remaja     dalam    perilaku    bermasalah,     antara    lain        seperti penyalahgunaan obat dan terlibat dalam sexual intercourse. Ini dikarenakan bahwa identitas ago adalah struktur di dalam diri remaja yang menentukan siapa diri remaja sesungguhnya, apa yang akan dilakukan dan akan kemana nantinya di dalam hidup bersama masyarakat. Remaja yang mampu meraih identitas ego tidak lagi berada dalam kondisi bingung, ia mengetahui potensi dirinya dan memiliki prinsip di dalam hidup. Kesimpulannya adalah remaja yang terlibat dalam perilaku bermasalah adalah remaja yang masih dalam kondisi bingung

 

 

 

 

 

 

 

 

yaitu  remaja  yang  belum  mampu  memecahkan  krisis  antara  identity  dan diffusion  sehingga  tidak  tahu  harus  berbuat  bagaimana  layaknya  remaja  di dalam masyarakat, mudah dipengaruhi karena belum memiliki prinsip atau komitmen. Dengan demikian, memudahkan remaja tersebut terlibat dalam perilaku bermasalah.

Menurut Fuhrmann (1990), seseorang telah dikatakan mempunyai identitas  ego  berarti  ia  mempunyai  suatu  konsep  diri  yang  realistik  yang meliputi baik penguasaan fisik maupun kognitif terhadap lingkungan serta mempunyai kesadaran sosial di dalam suatu masyarakat. Individu yang mempunyai identitas ego yang kuat menyadari adanya kontuinitas dirinya dengan orang lain maupun keunikan individualitasnya. Perkembangan identitas ego pada remaja dipahami sebagai kelanjutan dari perkembangan di masa sebelumnya, melibatkan peran keluarga dan masyarakat.

Identitas ego adalah suatu struktur diri, konstruksi diri yang bersifat internal, organisasi yang dinamis terhadap dorongan-dorongan, komponen- komponen      dan          kepercayaan-kepercayaan         serta              sejarah   individu                                        yang bersangkutan.  Semakin  baik  berkembangnya  struktur  ini,  semakin  sadar individu akan menjadi apa dirinya kelak melalui keunikan-keunikan yang ada pada  dirinya  dan  dengan  kesamaannya  dengan  orang  lain,  juga  melalui kekuatan-kekuatan                       dan    kelemahannya.                    Sebaliknya     semakin          buruk berkembangnya struktur ini semakin bingung individu dalam membedakan dirinya  dengan  orang  lain  serta  semakin  sering  individu  harus  mencari

 

 

 

 

 

 

 

 

dukungan  pada  sumber-sumber     eksternal  di  dalam  mengeveluasi  dirinya

 

(Marcia, dalam Irmawati,1996).

 

Marcia  (1993)  juga  mengatakan  bahwa  perkembangan  identitas  ego akan bergerak dari satu tahap ke tahap berikutnya atau dengan kata lain dari status satu ke status berikutnya. Adapun status identitas ego yang dimaksud adalah terdiri atas empat status, yaitu: Diffusion, Identity foreclosure, moratorium  dan  akhirnya  identity  achieved.  Keempat  status  identitas  ego tersebut berbeda dalam hadirnya eksplorasi dan komitmen dalam aspek pekerjaan, agama, kesukuan, persahabatan, pacaran dan sikap terhadap peran jenis. Remaja yang berada pada kategori diffusion adalah mereka yang tidak mampu membuat komitmen karena mereka belum siap atau belum mampu melakukan        eksplorasi.       Identitas   foreclosure   ditandai   dengan   munculnya komitmen terhadap nilai, sikap atau rencana yang ada namun tidak didahului dengan eksplorasi. Sebaliknya pada tahap moratorium remaja tidak membuat satu komitmen melainkan aktif mencari dan bertanya. Selanjutnya pencapaian remaja pada identitas achieved didahului oleh aktif melakukan eksplorasi sehingga pada akhirnya melakukan satu komitmen terhadap pilihan remaja tersebut  yang  meliputi  aspek  pekerjaan,  kesukuan,  agama,  persahabatan, pacaran dan peran jenis. Identitas achieved adalah status identitas yang diharapkan dapat dicapai di usia remaja sebagai pijakan untuk memasuki perkembangan psikososial masa dewasa. Bila identitas ini tidak dapat diselesaikan dengan baik dimasa remaja, maka akan mengalami kesulitan menghadapi masa dewasa nantinya. Istilah eksplorasi dan komitmen adalah dua

 

 

 

 

 

 

 

 

aspek penting dalam perkembangan identitas ego. Eksplorasi adalah periode dalam perkembangan identitas yang mana remaja melakukan berbagai usaha dalam  rangka  mencari  satu  alternatif  yang  diputuskan  diantara  a  banyak alternatif yang ada dihadapan remaja tersebut. Komitmen adalah bagian dari perkembangan identitas yang mana remaja telah mampu membuat satu keputusan yang diyakini setelah melewati eksplorasi (Marcia,dalam Santrock,

1999). Keberhasilan remaja dalam mencapai identitas ego achieved diartikan sebagai keberhasilan remaja dalam meraih identitas egonya.

Identitas achieved berperan dalam tahap perkembangan psikososial berikutnya, yaitu intimacy. Erikson (dalam Marcia,1993) mengatakan bahwa kualitas   intimacy   individu   dewasa   banyak   ditentukan   oleh   kemampuan membuat komitmen terhadap diri, misalnya berafiliasi dengan orang lain, membangun  hubungan  yang  lebih  baik  dengan  pasangan  dan  komitmen terhadap etika yang dibuat. Intimacy melibatkan komunikasi, komitmen, relationship, pengetahuan dan tanggung jawab     (Rogers dan Fromm, dalam Marcia, 1993). Identitas achieved dikarakteristikkan dengan hadirnya komitmen terhadap pekerjaan, kesukuan, agama, persahabatan, pacaran dan sikap terhadap peran jenis setelah dilakukan eksplorasi.

Umumnya identitas yang achieved ini diraih pada akhir usia remaja atau saat memasuki dewasa awal. Pada usia remaja awal, nampak belum kondusif untuk melakukan eksplorasi diri, remaja tersebut masih butuh waktu untuk melakukan  penyesuaian  terhadap  dampak  dari  perubahan-perubahan  masa puber. (Atwater,1990).

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Pikunas (1976) bahwa remaja akhir adalah fase awal terbentuknya identitas ego dan cenderung lebih stabil. Ini dipengaruhi oleh latar belakang pengalaman pribadi, potensi diri dan pandangan orang lain.

Marcia (1993) membagi tiga tahap perkembangan identitas ego remaja ke dalam tiga masa perkembangan remaja, yaitu masa remaja akhir berada pada tahap consolidation, yaitu tahap identitas ego mulai terkonstruksi dengan stabil dan dikatakan juga pada masa remaja akhir adalah awal diraihnya identity achieved.    Berbeda    dengan    masa    remaja     tengah    yang                 masih   harus mengorganisasikan             keterampilan-keterampilan  lama  dan  pemahaman  dan penilaian tentang siapa dirinya. Nama lain dari kondisi tersebut adalah periode restructuring. Periode destructuring adalah istilah yang diberikan kepada masa remaja  awal  sehubungan  dengan  pembentukkan  identitas  ego.  Remaja  awal yang berada pada periode tersebut masih dalam proses transisi dari masa anak menuju masa dewasa. Masa ini merupakan awal terjadinya perubahan dalam aspek  kognitif, psikoseksual       dan       psikologis.       Remaja             tersebut     masih membutuhkan waktu untuk mengadakan penyesuaian terhadap perubahan tersebut.kesimpulannya bahwa remaja awal belum mampu mengadakan eksplorasi.

Archer dan Meilman (dalam Marcia, 1993) memiliki penelitian mengenai status identitas ego dengan mengambil kelompok usia antara 12 sampai 24 tahun. Ditemukan bahwa 19 persen dari jumlah keseluruhan remaja yang  berusia  17  tahun  masih  berada  di  sekolah  menengah  akhir  mampu

 

 

 

 

 

 

 

 

mencapai identitas moratorium dan achieved. Selanjutnya jumlah terbanyak dalam meraih identitas moratorium dan achieved adalah subyek   yang berada pada kelompok usia 18 tahun dan usia 20. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Meilman dan Archer menyimpulkan bahwa           status identitas moratorium dan achieved tidak dapat dicapai oleh remaja yang duduk dibangku sekolah menengah pertama, melainkan akan ditemui pada remaja yang tengah berada di sekolah menengah atas. Lebih lanjut Marcia (1993) menyatakan bahwa status identitas ego akan meningkat dari satu tahap ke tahap berikutnya sejalan dengan bertambahnya usia. Sementara menurut Haditono (1994) remaja tengah berada diantara usia 15 sampai 18 tahun.

Di  Indonesia  penelitian  yang  berkaitan  dengan  status  identitas  ego remaja adalah penelitian Irmawati (1996) mengenai peran status identitas ego dan status usia remaja kembar terhadap perkembangan sosial. Subyek di dalam penelitian tersebut adalah remaja kembar yang berusia antara 12 sampai 21 tahun yang berada di kota Surabaya. Hasil penelitian tidak ditemukan bahwa status identitas ego dan status usia remaja kembar berperan terhadap perkembangan sosial. Lebih lanjut hasil penelitian tersebut, juga tidak menemukan perbedaan status identitas ego bila ditinjau dari status usia.

Penelitian yang hampir sama dilakukan oleh Innayati (2002) mengenai Hubungan  Pengasuhan                    Islami             dengan  Identitas Diri           Remaja              di    Kota Yogyakarta. Subyek penelitian adalah remaja yang berusia antara 13 sampai 18 tahun.  Hasil  penelitian  ditemukan  bahwa  ada  hubungan  antara  pengasuhan islami orangtua dengan pembentukan identitas diri pada remaja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penelitian lain yang khusus memfokuskan pada masa remaja tengah adalah Hubungan Gaya Pengasuhan Orangtua dengan Eksplorasi dan Komitmen Remaja Tengah dalam Domain Pekerjaan yang dilakukan oleh Purwadi (2003). Gaya pengasuhan yang dimaksud peneliti tersebut adlah enabling , yaitu orangtua yang memberikan kesempatan kepada remaja untuk menyatakan isi pikiran, ide dan kecenderungannya serta memberi kemungkinan untuk berbeda sikap. Lawan dari enabling adalah constraining. Hasilnya, ditemukan adanya hubungan antara gaya pengasuhan orangtua dengan eksplorasi dan komitmen remaja tengah dalam domain pekerjaan. Orangtua dengan gaya pengasuhan enabling mendukung remaja tengah di kota Yogyakarta dalam kemampuannya melakukan eksplorasi dan komitmen terhadap domain pekerjaan.

Remaja tengah umumnya belum berada pada status identitas achieved, seperti yang telah dikemukakan oleh Marcia (1993) bahwa remaja tengah ada pada tahap       restructuring   yaitu    tahap            yang      mana                  remaja   mulai mengorganisasikan  keterampilan lama dan pemahaman baru dan mulai untuk mempertanyakan dan menilai siapa dirinya. Lain halnya dengan remaja akhir yang umumnya merupakan awal dalam mencapai identitas achieved. Archer ( dalam Marcia, 1993) mengelompokan pencapaian status identitas ego manjadi satu antara remaja awal dan remaja tengah, sedangkan remaja akhir dikelompokan tersendiri. Sementara Marcia (1993) menyatakan bahwa status identitas ego akan meningkat dari satu tahap ke tahap berikutnya sejalan dengan bertambahnya usia remaja.

 

 

 

 

 

 

 

 

Survei yang dilakukan tanggal 15 Nopember 2003 melalui wawancara terhadap  10  remaja  siswa  sekolah  menengah  umum  di  Kotamadya  Kendari dalam rangka mengetahui status identitas egonya. Ada beberapa aspek yang menjadi bahan pertanyaan bagi remaja tersebut, antara lain aspek agama, menentukan pilihan jurusan dan cita-cita, sikap terhadap pacaran dan sikap terhadap suku lain. Hasil wawancara terdapat 5 remaja yang masih bingung dengan pilihan jurusan di sekolah dan menentukan cita-cita, sebanyak 3 remaja yang pemahaman terhadap agama yang dianut berdasarkan pemberian agama dari  orangtua,  artinya  tidak  diikuti  dengan  mengkaji  pengetahuan  yang berkaitan dengan agama yang diyakini atau menjalankan ibadah. Sebagian besar remaja telah punya komitmen terhadap cita-cita dan telah mempersiapkan jurusan di sekolah yang diminati, meyakini agama yang dianut bukan karena pemberian orangtua saja, melainkan banyak mendalami pengetahuan yang berhubungan dengan agama yang dianut. Aspek pacaran menjadi topik yang menarik  bagi  remaja,  sebanyak  6  remaja  yang  berpendapat  bahwa  pacaran belum boleh dilakukan dengan alasan belum waktunya dan belum dibolehkan dari orangtua, namun ada juga yang mengatakan boleh pacaran asalkan dapat mengontrol diri.Sebanyak 4 remaja yang masih bingung mengenai bagaimana perannya dalam keluarganya dan masyarakat dan sebagian kecil yaitu 2 remaja yang beranggapan bahwa memiliki sahabat itu tidak penting. Sebanyak 5 remaja melihat orang lain berdasarkan suku yang dianut dan hal ini masih membudaya pada masyarakat di Kota Kendari. Berdasarkan hal tersebut penulis menduga ada kecenderungan remaja tengah di Kota Kendari masih bingung dan  belum

 

 

 

 

 

 

 

 

mampu membuat keputusan  sendiri. Ada kecenderungan remaja tersebut belum mampu menggunakan potensi yang ada pada dirinya untuk menentukan siapa dirinya sesungguhnya, apa yang harus dilakukannya dan akan kemana remaja tersebut nantinya. Istilah lain untuk menggambarkan kondisi tersebut adalah pencarian terhadap identitas diri atau identitas ego.

Perkembangan aspek-aspek psikologi mengalami peningkatan ke arah lebih baik, tentunya tidak berjalan dengan sendirinya. Perkembangan tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor. Begitu juga dengan perkembangan status identitas ego. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan identitas ego pada remaja, di dalam penelitian ini hanya membatasi pada faktor: pola asuh demokratis, menurut Fuhrmann (1990) bahwa pola asuh demokratis orangtua sangat  mendukung  remaja  dalam  meraih  identitas  egonya.  Lebih  lanjut, Schwartz dan Montgomery (2002) berpendapat bahwa peran jenis turut menentukan perkembangan status identitas ego remaja. Schiaffino,dkk (2001) berdasarkan       hasil     penelitianya                        menemukan                  bahwa              ada          perbedaan perkembangan status identitas ego antara laki-laki dan perempuan.

Kemampuan remaja tengah dalam mencapai status identitas ego diduga ada hubungannya dengan pola asuh demokratis, peran jenis dan jenis kelamin. Koch (1983) menyebutkan bahwa cara pengasuhan orangtua kepada anak- anaknya     ditunjukkan sampai     anak-anak         tersebut  meraih usia      remaja. Pengasuhan orangtua yang dihubungkan dengan identitas ego, Marcia (1993) berpendapat bahwa tekanan sosial justru lebih difokuskan pada remaja awal dan tengah mengenai isu identitas ego. Ini dikarenakan bahwa remaja tersebut selain

 

 

 

 

 

 

 

 

masih tinggal bersama orangtua juga karena pengaruh orangtua kepada mereka masih sangat kuat pada remaja tengah dibandingkan remaja akhir. Kemampuan remaja        tengah dalam  menemukan     jawaban              atas        pertanyaan-pertanyaan mengenai siapa dan akan kemana remaja tersebut sangat dipengaruhi oleh bagaimana komunikasi dan kedekatan antara orangtua dan remaja serta bagaimana peran orangtua dalam membentuk individualitas pada remaja tengah (Cooper, dalam Lippe dan Skoe,1998).

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Steinberg (1999) bahwa pola asuh orangtua memiliki pengaruh yang kuat bagi penyesuaian perilaku remaja tengah. Ini dikarenakan bahwa apa yang dialami oleh remaja tersebut akan mempengaruhi di masa remaja akhir dan masa dewasa awal. Orangtua melalui pengasuhannya menjadi model bagi remaja tengah yang membantu atau bahkan menghambat remaja tengah tersebut dalam mencapai identitas egonya (Mussen, dkk, 1979).

Lebih lanjut Marcia (1993) menambahkan bahwa pola asuh demokratis orangtua berperan dalam perkembangan awal identitas ego bagi remaja. Orangtua melalui pengasuhannya, memberikan dukungan psikologis dan menyediakan dasar yang kuat bagi perkembangan identitas ego remaja. Pola asuh demokratis orangtua mengajarkan remaja untuk mampu membuat komitmen. Orangtua yang demokratis memberikan keseimbangan yang tepat antara pembatasan dan otonomi, memberikan kesempatan bagi remaja untuk mengembangkan kesadaran diri ketika orangtua menyediakan standar atau nilai-

 

 

 

 

 

 

 

 

nilai yang diyakini, mengarahkan pada pentingnya perkembangan individualitas

 

(Steinberg, 2002).

 

Pola asuh demokratis diduga mendukung remaja tengah dalam meraih status           identitas           egonya.  Pola    asuh  demokratis    adalah   orangtua        yang memperlakukan remaja dengan memberikan kebebasan namun masih tetap diikuti kontrol orangtua. Ada proses take give antara orangtua dan remaja yaitu komunikasi dua arah, walaupun orangtua diistilahkan dengan agen sosialisasi pertama akan tetapi mereka juga mendengarkan apa yang dikatakan oleh remaja. Orangtua yang demokratis tidak bersifat mengekang dan membatasi, melainkan mereka hangat dan penuh pengertian terhadap kebutuhan psikis remaja. Orangtua umumnya menginginkan remaja agar memiliki perilaku yang   matang           dan        bertanggung              jawab     serta    mendukung    terbentuknya individualitas. Disiplin yang berasal dari pola asuh ini memberi kesempatan pada       remaja       untuk             menjelajah                  lingkungan dalam      rangka   memperoleh kompetensi interpersonal (Baumrind, dalam Conger, 1977; Hetherington, 1999; Lippe dan Skoe, 1998 dan Santrock,1999). Pola asuh  demokratis sama artinya dengan istilah authoritative yang merupakan istilah pola asuh dari Diana Baumrind. Penulis menggunakan istilah demokratis dengan tujuan menghindari kesalahan penafsiran kearah pola asuh otoriter.

Masa remaja tengah ditandai dengan bagaimana remaja tersebut menggambarkan indiviualitasnya. Masa remaja tengah juga mengavaluasi diri pada dimensi-dimensi akademik, atletik, penampilan, hubungan sosial dan etika atau moral ( Steinberg & Morris, 2001).

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembentukan status identitas ego remaja tengah tidak lepas dari kemampuan dalam eksplorasi dan membuat komitmen. Komitmen adalah berkenaan dengan kemampuan dalam membuat keputusan di antara beberapa alternatif setelah melakukan eksplorasi. Eksplorasi dalam hal ini adalah mencari informasi atau pengetahuan mengenai baik dan buruk, bermanfaat atau tidak mengenai  seautu  hal  yang  tengah  dihadapi  oleh  remaja  tersebut,  sehingga sampai pada satu pilihan yang diputuskan. Kemampuan remaja dalam memutuskan apakah dia terlibat penyalahgunaan obat terlarang dan alkohol atau tidak, melakukan hubungan seks saat pacaran atau tidak dan sebagainya dipengaruhi oleh pola asuh orangtua. Penelitian yang dilakukan oleh Mupier, dkk (2002) mengenai Difference in Parenting Style Between African American Alcoholic and Nonalcoholic Parents. Penelitian dilakukan dengan mengambil subyek yang berusia antara 13 sampai 17 tahun. Data dikumpulkan melalui dua bentuk. Pertama, data mengenai subyek yang kecanduan alkohol dengan menggunakan Children of Alcoholics Screening Test (CAST). Data kedua mengenai ada tidaknya pengaruh genetik dalam keterlibatan anak pada alkohol (Children’s Structured Assesment for the Genetics of Alcoholism atau disingkat C-SAGA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa subyek yang mempersepsikan orangtuanya memiliki pola asuh authoritative atau demokratis adalah subyek yang tidak terlibat pada alkohol.

Peran jenis diduga memiliki hubungan dengan pencapaian identitas ego pada remaja tengah. Menurut Hurlock (1973) salah satu tugas perkembangan yang  harus  dikuasai  oleh  remaja  adalah  meraih  peran  jenis.  Peran  jenis

 

 

 

 

 

 

 

 

didefinisikan sebagai perilaku spesifik yang diharapkan dan dijadikan standar yang diterapkan pada laki-laki dan perempuan; penyimpangan subyek dari ketentuan  tersebut  akan  mendapatkan  sanksi  sosial  yaitu  berupa  penilaian negatif ( Eysenck, dalam Nainggolan, 2002). Pengkategorian peran jenis subyek dalam penelitian ini, mengacu pada teori Bem (dalam Nuryoto, 1992) yang membagi  peran  jenis  menjadi  empat  kategori,  yaitu  maskulin,  feminin, androgini dan tak tergolongkan.

Orlofsky (dalam Bursik dan Young, 2000) menemukan bahwa baik laki- laki maupun perempuan yang memiliki skor maskulin dan androgini yang tinggi mencapai skor yang tinggi untuk status identitas achieved dibandingkan sifat feminin dan tak tergolongkan.

Empat kategori peran jenis seperti yang telah disebutkan sebelumnya dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Perbedaannya terletak pada peran jenis mana yang lebih dominan. Berbeda dengan keyakinan tradisional yang menganggap peran jenis feminin hanya ada pada perempuan dan peran jenis maskulin ada pada laki-laki. Keyakinan ini telah mendapat banyak kritikan oleh para ahli psikologi (Bem, dkk, dalam Klein dan Willerman, 1979). Pendapat yang sama dikemukan oleh Coats dan Overman (dalam Young dan Bursik,

2000) berdasarkan hasil penelitian mereka menemukan bahwa ada perbedaan profesi antara sifat perempuan tradisional dan nontradisional berdasarkan pengalaman mereka di masa kecil. Perempuan nontradisional lebih aktif dan kompetitif      dibandingkan  perempuan  tradisional.  Penelitian  lanjutan  yang dilakukan oleh Bursik dan Young (2000) mengenai perbedaan identitas ego dan

 

 

 

 

 

 

 

 

kematangan perencanaan hidup pada perempuan atletik dan yang bukan atletik dengan mengambil rentang usia antara 18 sampai 24 tahun. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa perempuan yang aktif dalam atletik memiliki peran jenis androgini sedangkan feminin dimiliki oleh perempuan yang tidak terlibat dalam atletik.

Faktor    ketiga    yang    juga    diduga    memiliki     hubungan    dengan pembentukan status identitas ego pada remaja tengah adalah jenis kelamin. Hipotesis Marcia (1993) menyatakan bahwa pembentukan identitas ego pada perempuan kompleks sehingga membutuhkan waktu yang lebih panjang. Pendapat yang serupa dikemukakan oleh Jesselson (dalam Muss, 1988) bahwa ada perbedaan dalam perkembangan antara remaja laki-laki dan perempuan. Khusus dalam pembentukkan identitas ego antara remaja laki-laki dan perempuan bedanya terletak pada pola identitas achievement dan moratorium adalah saling dekat dan tampil secara bergantian bagi remaja laki-laki. Bagi remaja perempuan antara identitas achieved dan foreclosure hadir secara bergantian. Maksudnya, status identitas ego yang achieved diraih oleh remaja laki-laki belum stabil sehingga terkadang mengalami moratorium. Begitu juga sebaliknya bagi perkembangan identitas ego remaja putri.

Leave A Reply

Your email address will not be published.