Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Resiko

0

Resiko

Layaknya sebuah koin dengan dua mata sisi, ketika kita berbicara return maka kita juga akan berbicara mengenai resiko. Investasi meskipun menjanjikan suatu bentuk manfaat finansial atau return, juga membawa serta suatu bentuk resiko. Resiko ini muncul sebagai akibat dari ketidak-pastian akan return yang mungkin terjadi di masa datang dan karena kehadiran resiko inilah muncul suatu bentuk return bagi siapa saja yang mau menanggung resiko yang dimaksud. Begitu pula sebaliknya, tidak ada aset investasi yang secara cuma-cuma memberi return tanpa adanya resiko yang menyertainya.

Resiko secara definisi dapat diartikan sebagai kemungkinan akan bedanya realisasi terhadap return atas sebuah aset investasi dengan nilai yang sebelumnya diharapkan akan terjadi. Semakin besar jarak (variasi) dari nilai return yang diharapkan akan terjadi (expected return) dengan nilai return sesungguhnya yang terjadi nantinya (actual return) maka akan semakin besar pula resiko dari aset investasi tersebut.

Resiko bisa datang dari berbagai sumber. Beberapa sumber yang mungkin melahirkan resiko antara lain:

  • tingkat suku bunga
  • kondisi pasar
  • tingkat inflasi
  • tingkat proporsi hutang perusahaan
  • tingkat likuiditas aset investasi
  • fluktuasi nilai mata uang
  • kondisi politik dan ekonomi

Semua sumber-sumber yang mungkin melahirkan resiko investasi di atas kemudian dikelompokkan ke dalam dua tipe dari resiko. Kedua tipe resiko tersebut adalah:

  1. Resiko sistematik

Resiko yang tergolong ke dalam tipe ini berarti bahwa resiko tersebut tidak dapat dihilangkan dan melekat pada semua instrumen investasi yang ada. Resiko ini muncul akibat faktor yang bersifat makro (pasar).

  1. Resiko nonsistematik

Resiko seperti ini bersifat unik untuk masing-masing aset investasi artinya bahwa tiap aset mungkin memiliki resiko yang berbeda-beda. Tipe resiko seperti ini dapat dihilangkan dengan langkah-langkah seperti yang dinyatakan oleh Markowitz dengan membentuk portofolio atas investasi.

            Kedua tipe resiko inilah yang kemudian membentuk nilai dari Total Risk. Untuk itu permodelan dari total risk dapat dituliskan sebagai berikut:

Total Risk  =  Systematic risk + Nonsystematic risk

             Identifikasi terhadap bentuk resiko sendiri sangatlah bersifat multidimensional (Fama & French, 1992), ini berarti bahwa setiap investor dalam melakukan pemilihan sebuah investasi dapat memiliki acuan yang berbeda-beda dalam menilai resiko instrumen investasi yang ingin dimilikinya.

            Markowitz melalui teori portofolionya mengidentifikasi resiko dalam bentuk variance2) dan standar deviasi (σ). Menurutnya resiko itu adalah seberapa jauh jarak antara realized return dengan expected return dari portofolio yang terbentuk. Semakin besar variasi yang terjadi atas return portofolio maka akan semakin besar pula resikonya yang ditunjukkan dengan semakin besarnya nilai variance dan standar deviasi portofolio tersebut.

            Hal ini berbeda dengan pendapat Sharpe (1964), Lintner (1965) and Black (1972). Berdasarkan teori Capital Asset Pricing Model (CAPM) yang mereka keluarkan, instrumen investasi tidak bisa dipandang hanya dalam bentuk portofolio saja. Untuk saham secara individual, menurut mereka, tingkat resiko dipandang sebagai seberapa besar tingkat sensitifitas return saham individu terhadap return pasar. Tingkat sensitifitas ini mereka lambangkan dengan koefisien beta (β). Mereka memandang bahwa beta adalah satu-satunya bentuk resiko yang berpengaruh pada return. Untuk penjelasan lebih lengkapnya akan dibahas pada sub bab tersendiri.

            Dari teori CAPM ini kemudian dilakukan beberapa penelitian berkenaan dengan kebenaran atas teori ini. Penelitian-penelitian tersebut menyimpulkan bahwa sebenarnya terdapat adanya bentuk lain dari resiko selain beta yang terbukti berpengaruh terhadap return. Diawali dengan penelitian yang dilakukan Basu pada tahun 1977, bahwa ternyata ada variabel lain dari resiko yang ternyata memiliki pengaruh dalam pembentukan return. Ia menemukan adanya hubungan antara PER (Price per Earning Ratio) dengan return. Hubungan ini tergambarkan lewat perbedaan nilai return yang ternyata lebih tinggi untuk saham-saham dengan nilai PER yang tinggi dibanding saham-saham dengan nilai PER yang rendah. Dengan kata lain PER memiliki hubungan positif dengan return.

            Dari penelitian oleh Basu ini, beberapa penelitian dengan tujuan serupa pun dilakukan oleh beberapa peneliti ekonomi yang lain. Secara garis besar pennelitian-penelitian tersebut setidaknya menemukan adanya tiga variabel lain selain beta yang juga memiliki pengaruh terhadap return. Variabel-variabel tersebut adalah PER, PBV (Price to Book Value Ratio) dan size.

Leave A Reply

Your email address will not be published.