Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Potensi Manusia

0

Potensi Manusia

            Dalam teori pendidikan yang dikembangkan dunia Barat, dikatakan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh pembawaan (nativisme). Sebagai lawannya berkembang pula teori yang mengajarkan bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh lingkunganya (empirisme). Sebagai sintesanya dikembangkan teori ketiga yang mengatakan bahwa perkembangan seseorang itu ditentukan oleh pembawaan dan lingkungannya ( konvergensi).[1] Menurut Islam, konvergensi inilah yang mendekati kebenaran, sebagaimana sabda Nabi Muhammad yang mengatakan:

 

عن الاسود بن مربّع أن النبي ضلى الله عليه وسلّم قال: كل مولود يولد على الفطرة حتى يعرب عنه لسانه فاباواه يهوّدانه أو ينصّرانه أو يمجّسانه (رواه ابو يعلى والطبرانى والبيهقى)

 Artinya:  Dari Aswad bin Murobba’, sesungguhnya Nabi SAW.bersabda: Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci sampai dia mengucapkan (sesuatu) yang bisa mengubah kesuciannya, karena Ibu-Bapak (orang tuanyalah) yang menjadikan anak tersebut Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi (H.R. Abu YA’la, Thabrani, dan al-Baihaqi).[2]

 

 

            Menurut hadits ini manusia membawa kemampuan-kemampuan, kemampuan inilah yang disebut pembawaan, fithrah yang disebut dalam hadits itu adalah potensi, potensi adalah kemampuan. Jadi, fitrah yang dimaksud disini adalah pembawaan.[3] Sedangkan ayah ibu adalah lingkungan sebagaimana yang dimaksud oleh para ahli pendidikan. Kedua-duanya inilah yang menentukan perkembangan seseorang.

            Konsep fitrah dalam pengertiannya sangat beragam, sebagaimana pengertian fitrah menurut Al-Ghozali adalah suatu sifat dari dasar manusia yang dibekali sejak kelahirannya dengan keistimewaan berikut:

  1. Beriman kepada Allah;
  2. Kemampuan dan kesediaannya untuk menerima kebaikan dan keburukan, atas dasar kemampuan untuk menerima pendidikan dan pengajaran;.
  3. Dorongan ingin tahu untuk mencapai hakekat kebenaran yang merupakan daya untuk berfikir;
  4. Dorongan biologis yang berupa syahwat dan insting;
  5. Kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat manusia yang dapat dikembangkan dan disempurnakan.[4]

 

      Muhaimin dan Abdul Mujib, dalam bukunya Pemikiran Pendidikan Islam mengartikan fitrah sebagai berikut:

  1. Fitrah berarti Suci;
  2. Fitrah berarti Islam;
  3. Fitrah berarti Tauhid;
  4. Fitrah berarti Nurani;
  5. Fitrah berarti kondisi penciptaan yang mempunyai kecenderungan untuk menerima kebenaran;
  6. Berarti al-Ghorizah (Insting) dan Al-Munzalah (Wahyu dari Allah).[5]

Karena fitrahnya itu, manusia memiliki kesucian, yang kemudian harus dinyatakan dalam setiap sikap yang suci dan baik kepada sesamanya. Sifat dasar kesucian itu disebut Hanifiyah, karena manusia adalah makhluk hanif. Sebagai makhluk yang hanif itu manusia memiliki dorongan naluri kearah kebaikan dan kebenaran.[6] Tetapi perlu kita ketahui bahwa fitrah juga potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan Ma’rifatullah.

  1. Fitrah berarti ketetapan atas kejadian asal manusia mengenai kebahagiaan dan kesesatannya;
  2. Fitrah  berarti tabiat alami yang dimiliki manusia (Human Nature);
  3. Fitrah berarti sadar bahwa manusia mempunyai banyak kecenderungan, ini disebabkan oleh banyaknya potensi yang dibawanya. Dalam garis besarnya, kecenderungan itu dapat dibagi menjadi dua, yaitu kecenderungan menjadi orang baik dan kecenderungan untuk menjadi orang yang jahat.[7] Jadi, fitrah itu sendiri adalah potensi untuk menjadi baik dan sekaligus potensi menjadi buruk, potensi untuk menjadi Muslim, dan potensi untuk menjadi Musyrik.

Dalam Al-Qur’an Q,S. Al-Rum ayat 30, yang berbunyi:

فأقم وجهك للدّين حنيفا

Artinya: “Maka luruskanlah (hadapkanlah) mukamu kearah agama serta condong kepadanya.” [8]

Maksud dari ayat diatas, Allah menyatakan bahwa potensi manusia itu tidak akan diubah, artinya kecenderngan untuk menjadi baik dan menjadi buruk itu tidak akan diubah oleh Allah.[9]

Syamsul Arifin dalam bukunya Islam Pluralisme Budaya dan Politik, mengatakan bahwa fitrah sering dipahami sebagai potensi bercorak keagamaan.[10] Sehingga potensi keagamaan yang ada menyebabkan manusia mempunyai kecenderungan yang kuat tehadap kebaikan (hanif). Selanjutnya agar kecederungan demikian itu selalu berada dalam perkembangan yang harmonis dan konstan, manusia mencari sandaran kepada “agama “. Dapatlah dikatakan, bahwa potensi fitrah menyebabkan manusia senantiasa menjadikan agama sebagai kebutuhan palling fundamental dan universal.

Penafsiran yang lengkap mengenai potensi fitrah tersebut, Ibnu Taimiyah tidak hanya membatasi potensi fitrah manusia pada potensi yang bersifat keagamaan semata, menurut Ibnu Taimiyah bahwa potensi fitrah mengandung tiga daya kekuatan, yang terdiri dari: daya intelek (Quwwatul ‘Aql), daya ofensif (Quwwatul Al-Syahwat), daya tahan defensive (Quwwatul al-Ghodob).[11]

Daya intelek (akal) merupakan potensi dasar yang dimiliki oleh manusia yang digunakan sebagai alat untuk mengetahui dan bertindak. Apa yang dimaksud dengan akal (daya intelek), dalam pengertian Islam memiliki pengertian yang beragam, demikian pula dalam pengertian filsafat pada umumnya. Namun demikian keduanya menunjuk pada potensi yang dimiliki manusia yang dipergunakan sebagai alat untuk berpikir.

Menurut Plato (420-438), bahwa akal adalah bagian jiwa manusia yang merupakan kekuatan untuk menentukan kebenaran dan kesalahan, dengan akal, manusia dapat mengerahkan seluruh aktifitas jasmani dan kejiwaannya, sebagai manusia mampu memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera.[12]

Selanjutnya Muhammad Ibnu Zakariah Al- Razi (865-925) berpendapat bahwa akal adalah ukuran atau pengendali dan pengatur, sehingga manusia harus mengikuti gerak akal,[13]dan juga akal merupakan kekuatan vital untuk mengembangkan diri. Menurut John Locke, akal mempunyai kekuatan-kekuatan serta material untuk melatih kekuatan-kekuatan itu. Ada dua kekuatan akal manusia yaitu:

  1. Kekuatan berfikir yang disebut pengertian. Pengertian ini memerlukan keterlibatan dari enam kekuatan mental mnausia yaitu:
    1. Mengamati/pengamatan;
    2. Mengingat/ingatan;
    3. Imajinasi;
    4. Kombinasi aktivitas psikis;
    5. Abstraksi/pikiran;
    6. Pemakaian tanda atau simbolis;
    7. Kekuatan kehendak yang disebut kemauan. Menurut John Locke, manusia sering mengimajinasikan sesuatu tindakan yang berhubungan dengan sesuatu pikiran, jadi kemauan adalah kekuatan untuk memilih.[14]

      Sedangkan fungsi potensi akal manusia, sebagaimana yang diungkap oleh Dr. Nabih Abdul Rahman Usman, antara lain:

  1. Sebagai alat penerangan

                  Manusia adalah mahluk Allah yang memiliki  beberapa keistimewaan dan kelebihan, salah satunya adalah insting  dan daya nalar yang mampu mengekspresikan dan menerangkan gejolak jiwa dan mengungkapkan perasaannya baik melalui isyarat, gerakan, dan menjelaskan dengan bahasa dalam bentuk soal jawab diantara sesama, dan juga media tulis serta cetak.

  1. Untuk mengatur pembicaraan tulisan dan ungkapan

            Dengan pembicaraan  manusia boleh mengungkapkan perasaannya untuk berbuat positif dan negatif, menyebarkan ilmu pengetahuan, menyampaikan informasi dan orang lain dapat membaca gejolak jiwa.

  1. Alat berfikir

                  Kemampuan berbahasa manusia sangat mempengaruhi manusia dalam mengkaji sejarah masa silam dan memprediksikan kejadian masa yang akan datang. Kemampuan berpikir sangat membantu manusia dalam menguasai ilmu pengetahuan, kesustraan dan dapat menyingkap hukum dan rahasia alam. Dengan pikiran yang berpusat pada akal, manusia dijuluki dengan makhluk yang terbaik, dapat menguasai ilmu pengetahuan dan memanfaatkan benda-benda yang ada dialam semesta ini.[15]

Sementara itu, kekuatan ofensif (Quwwatul Syahwat) merupakan potensi dasar yang dimiliki oleh manusia, sehingga manusia mampu menginduksi objek-objek yang menyenangkan dan bermanfaat. Adapun kekuatan defensif (Quwwatul Ghadhab) merupakan potensi dasar yang dapat menghindarkan manusia dari perbuatan yang membahayakan bagi dirinya.

Al-Ghozali mengemukakan kekuatan Al-Ghadsb dan Syahwat adalah dua kecenderungan yang inheren didalam daya (Al-Ba’itsah) atau kehendak (iradah), apabila tidak ada daya yang lebih tinggi yang menjadi sumber pertimbangan lain, maka Al-Ghadhab akan dapat menimbulkan kebuasan dan Al-Syahwat dapat membawa keserakahan.[16] Karena itu potensi akal manusia, sangat penting sebagai alat pengontrol (self control) dua potensi tersebut, sehingga hidupnya dapat diaktualisasikan untuk kepentingan hidup yang benar dan bermanfaat sesuai dengan etika agama.

            Dari uraian diatas, dapat kita ketahui bahwa manusia memiliki beberapa potensi yang dapat dikembangkan. Dan pendidikanlah yang mempunyai peran utama dalam perkembangannya itu, khususnya pendidikan Islam pondok pesantren yang membawa potensi tersebut sesuai tuntunan agama.



[1] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992), hlm. 14-15.

[2] Abdul Aziz, Hadits dan Ilmu Hadits untuk MA, (Semarang: Penerbit Wicaksana, 1988), hlm. 64.

[3] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosydakarya, 1991), hlm. 35.

[4] Zainudin, dkk, Seluk Beluk Pendidikan dari AlGhozali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 66-67.

[5] Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), hlm. 13-21.

[6] Nurcholis Madjid, Islam Agama Kemanusiaan, Membangun tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, ,(Jakarta: Paramadina, 1995), hlm. 179.

[7] Ahmad Tafsir, op.cit., hlm. 35.

[8] H. Mahmud Yunus, op.cit.,  hlm. 367.

[9] Ahmad Tafsir, op.cit., hlm. 37.

[10] Syamsul Arifin dkk.,  op.cit., hlm. 157.

[11] Ibid, hlm. 158.

[12] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hlm. 11.

[13] Abdul Munir Mulkan, Paradigma Intelektual Muslim, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah, (Yogyakarta: Penerbit Sipress, 1994), hlm. 50.

[14] Wasty Soemanto, op.cit.. hlm. 13.

[15] Nabih Abdul Rahaman Usman, op.cit., hlm.119-122.

[16] Muhammad Yasir Nasution, op.cit., hlm. 183.

Leave A Reply

Your email address will not be published.