Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Posisi Guru Agama Menurut Pakar Pendidikan

0

Posisi Guru Agama Menurut Pakar Pendidikan

Posisi guru agama sangatlah penting  dalam proses pendidikan karena guru adalah orang yang bertanggung jawab dan yang menentukan arah pendidikan tersebut. Itulah sebabnya Islam sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang berilmu pengetahuan. Kedudukan orang alim dalam Islam dihargai lebih tinggi apabila orang itu mengamalkan ilmunya, dengan cara mengajarkan ilmu itu kepada orang lain.

Dan pengamalan itu sangat dihargai oleh Islam. Islam memandang guru mempunyai derajat yang lebih tinggi dari pada orang yang tidak berilmu dan orang-orang yang bukan pendidik dan masih dapat disaksikan secara nyata pada zaman sekarang serta dengan adanya alasan yang dapat memperkuat mengapa orang Islam sangat menghargai guru yaitu pandangan bahwa ilmu (pengetahuan) itu semuanya bersumber dari Tuhan. Penghormatan dan penghargaan Islam terhadap orang-orang yang berilmu disebutkan dalam Al-Qur’an surat Mujadallah ayat 11 :

Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ (المجادلة: 11)

Artinya:

            Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat_. (Mujadallah ayat 11).[1]

Mengapa kedudukan guru yang terhormat dan tinggi itu diberikan kepada guru? Para ulama menjelaskan bahwa seorang guru agama adalah bapak spiritual father atau bapak rohani bagi muridnya, yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia dan meluruskannya kejalan yang benar. Oleh karena itu menghormati guru pada hakekatnya adalah menghormati anak-anaknya sendiri dan penghargaan terhadap guru juga berarti penghargaan pada anak-anaknya sendiri.

Dengan guru agama itulah anak-anak dapat hidup berkembang dan menyongsong tugas hari depannya dengan gemilang. Dalam berbagai literatur yang membahas mengenai pendidikan Islam, selalu dijelaskan tentang guru agama dari segi tugas dan posisinya atau kedudukannya.[2] Dalam hubungan ini Asma Hasan Fahmi misalnya mengatakan barang kali hal pertama dan menarik adalah perhatian dalam mengikuti pembahasan orang Islam tentang hal ini yaitu penghormatan yang luar biasa terhadap guru, sehingga menempatkannya pada tempat yang kedua sesudah martabat para Nabi. Rosullah menegaskan kedudukan ini dalam hadits sebagai berikut :

اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ اَلأْنبِيَاءِ

Artinya:

            Ulama (termasuk para guru) adalah pewaris nabi_.

Guru memang menempati kedudukan terhormat di masyarakat kewajibanlanyalah yang menyebabkan guru dihormati, sehingga masyarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak didik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia.

Islam sendiri sangat menghargai orang-orang yang berilmu pengetahuan (guru atau ulama). Maka Allah SWT telah bersaksi terhadap orang yang diberinya bahwa Dia telah memberikannya kebaikan dan diberi karunia yang banyak, serta akan mendapat balasan (pahala) di dunia dan akherat. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah, ayat 269:

’ÎA÷sムspyJò6Åsø9$# `tB âä!$t±o„ 4 `tBur |N÷sムspyJò6Åsø9$# ô‰s)sù u’ÎAré& #ZŽöyz #ZŽÏWŸ2 3 (البقرة: 269)

 

Artinya:

            Allah SWT telah memberikan hikmah (ilmu) kepada siapa yang Dia kehendaki, dan barang siapa yang dianugerahi hikmah (ilmu) tersebut, maka ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak_(Al-Baqarah: 269)[3]

Begitu juga Abu Nu’aim, mengakui begitu mulianya nilai seorang guru dan diterangkan di dalam haditsnya sebagai berikut:

تُعَلِّمُوْا العِلْمِ وَتُعَلِّمُوْا لِلْعِلْمِ السَّكِيْنَةَ وَالْوِقَارُ وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ        (رَوَاهُ اَبُوْا نُعَيْم عَنْ عُمَرِ)

Artinya:

            Pelajarilah aku, dan pelajarilah ketenangan dan ketentraman untuk ilmu, dan rendahkanlah diri (tawaddhu’lah) kepada orang yang kamu sekalian belajar dari padanya_. (H.R. Abu Nu’aim)[4]

Menurut penulis guru dikatakan orang yang berilmu pengetahuan karena guru adalah orang yang selalu memberi santapan jiwa dengan ilmu, guru sebagai pemberi pengetahuan yang benar, guru sebagai pembina akhlaq yang mulia, serta guru sebagai pemberi tuntunan tentang hidup yang baik. dengan penuh kesabaran, keikhlasan tanpa pamrih.itulah yang menempatkan kedudukannya menjadi orang yang dihormati dan gurulah yang mampu mengemban dan menjaga amanat tersebut.

Keutamaan profesi Guru Agama Islam sangatlah besar, sehingga Allah menjadikannya sebagai tugas yang diemban Rasulullah saw. Sebagaimana yang diisyaratkan lewat firman-Nya Q.S. Al-Imran 164 yaitu:

ô‰s)s9 £`tB ª!$# ’n?tã tûüÿÿfldrslÿÿf126fsaf ÏZÏB÷sßJø9$# øŒÎ) y]yèt/ öNÍkŽÏù Zwqߙu‘ ô`ÏiB ôMÎgÅ¡àÿRr& (#qè=÷Gtƒ öNÍköŽn=tæ ¾ÏmÏG»tƒ#uä öNÍkŽÅe2t“ãƒur ãNßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJò6Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% ’Å”s9 9@»n=|Ê AûüÎ7•B ÇÊÏÍÈ (العمران: 164)

Artinya:

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi )itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata_. (Al-Imran: 164)[5]

Guru agama Islam memiliki beberapa tugas dan tanggung jawab diantaranya: seorang guru adalah sebagai pembersih diri, pemelihara diri, pengembang serta pemelihara fitrah manusia. Jadi jabatan guru adalah jabatan professional, sebab tidak semua orang dapat menjadi guru kecuali mereka yang dipersiapkan melalui pendidikan untuk itu profesi guru berbeda dengan profesi lainnya, perbedaan terletak dalam tugas dan tanggung jawab serta kemampuan dasar yang diisyaratkannya (kompetensi). Kompetensi guru dapat dikategorikan dalam tiga bidang aspek:

  1. Kompetensi bidang kognitif, artinya kemampuan intelektual, seperti penguasaan mata pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan mengenai cara belajar dan tingkah laku individu, pengetahuan tentang bimbingan penyuluhan, pengetahuan tentang administrasi kelas, pengetahuan tentang cara menilai hasil belajar siswa, pengetahuan tentang kemasyarakatan serta pengetahuan umum lainnya.
  2. Kompetensi bidang sikap, artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas profesinya. Misalnya sikap menghargai pekerjaannya, mencintai dan memiliki perasaan senang terhadap sesama teman profesinya, memiliki kemauan yang keras untuk meningkatkan hasil pekerjaannya.
  3. Kompetensi perilaku (performance) artinya kemampuan guru dalam berbagai ketrampilan atau berperilaku seperti ketrampilan mengajar, membimbing, menilai, menggunakan alat bantu pengajaran, bergaul atau berkomunikasi dengan siswa, ketrampilan menumbuhkan semangat belajar siswa, ketrampilan menyusun persiapan atau perencanaan mengajar, ketrampilan melaksanakan administrasi kelas dan lain-lain.[6]


[1] Departemen Agama RI, Op.Cit., Hal. 910.

[2] Abudin Nata, Op.Cit., Hal 68.

[3] Departemen Agama RI, Op.Cit., Hal 67

[4] Muhammad Nur, Muhtarul Hadits, Bina Ilmu, Surabaya, 1987, Hal. 216

[5] Departemen Agama RI, Op.Cit., Hal 104.

[6] Nana Sudjana, Dasar-dasar Belajar Mengajar, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2000, Hal 18.

Leave A Reply

Your email address will not be published.