Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Pondok Pesantren dalam Tinjauan Definif

0

Pondok Pesantren dalam Tinjauan Definif

Istilah Pondok Pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu. Disamping itu, kata pondok mungkin berasal dari Bahasa Arab Funduq yang berarti asrama atau hotel. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura umumnya digunakan istilah pondok dan pesantren, sedang di Aceh dikenal dengan Istilah dayah  atau rangkang atau menuasa, sedangkan di Minangkabau disebut surau[1]

            Menurut asal katanya pesantren berasal dari kata santri yang mendapat imbuhan pe dan akhiran an yang menunjukkan tempat. Dengan demikian pesantren artinya tempat para santri. Selain itu, asal kata pesantren terkadang dianggap gabungan dari kata santri (manusia baik) dengan suku kata tra (suka menolong) sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. [2]

            Pondok merupakan tempat penampungan sederhana bagi pelajar yang jauh dari asalnya. Merupakan tempat tinggal  Kiai bersama santrinya dan bekerjasama untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Pondok bukanlah semata-mata dimaksudkan sebagai tempat tinggal atau asrama santri untuk mengikuti pelajaran yang diberikan oleh kiai, melainkan juga sebagai  tempat latihan bagi santri untuk hidup mandiri.

            Lebih jelas dan sangat terinci sekali Nurcholish Madjid mengupas asal usul kata santri, dan juga tentang kiai karena kedua perkataan tersebut tidak dapat dipisahkan ketika  membicarakan tentang pesantren . Ia berpendapat: santri asal kata sastri (sansekerta) yang berarti melek huruf, dikonotasikan dengan santri adalah kelas literary, pengetahuan agama dibaca dari kitab berbahasa Arab dan diasumsikan bahwa santri berarti juga orang yang tahu tentang agama (melalui kitab-kitab) dan paling tidak santri bisa membaca Al-Qur’an, sehingga membawa kepada sikap lebih serius dalam memandang agama. Perkataan santri juga berasal dari bahasa Jawa cantrik yang berarti orang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru pergi menetap (ingat pada pewayangan), tentu dengan tujuan dapat belajar dari guru mengenai suatu keahlian. Cantrik dapat diartikan juga orang yang menumpang hidup atau ngenger (Jawa). Termasuk orang yang datang menumpang  dirumah orang lain yang mempunyai sawah dan ladang untuk ikut menjadi buruh tani juga disebut santri, tentu juga berasal dari perkataan cantrik.[3]

            Sedangkan menurut Mastuhu, pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam yang mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai  pedoman perilaku sehari-hari[4]

            Dengan demikian, pondok pesantren secara etimologi adalah terdiri dari dua kata yang mengarah pada makna yang sama. Kata pondok berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat tinggal atau asrama, sedangkan pesantren berasal dari bahasa  tamil atau India Shassti dengan kata dasarnya Shassta yang mendapat  awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat tinggal para santri yang  mempelajari ilmu-ilmu agama. Begitu juga pesantren berasal dari kata santri yang mendapatkan awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat belajar para santri untuk mendalami ilmu-ilmu agama.

            Adapun secara terminologi definisi pondok pesantren banyak sekali ragamnya sesuai deangan versi para ahli yang mengemukakannya, akan tetapi berbagai ragam definisi tersebut memiliki dasar yang kuat dan rasional serta dapat dipertanggungjawabkan secara logika, dan masing-masing dari definisi tersebut saling melengkapi kekurangannya. Oleh karena itu, layak untuk di cermati pengertian dan makna  pondok pesantren yang terkandung secara representatif dan komprehensif.

            Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa Ahli, antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Menurut Zamakhsyari Dhofier,

            Pesantren adalah sebuah asrama pendidikan tradisional, dimana para siswanya semua tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri tersebut berada dalam komplek yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan keagamaan lainnya. Komplek ini biasanya dikelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku[5]

 

b. Menurut Mastuhu                    

“Pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam dengan menekankan pentingnya moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari”.[6]

 

  1. c.  Menurut M. Dawam Raharjo “Pondok Pesantren  adalah suatu lembaga keagamaan yangmengajarkan, mengembangkan, dan menyebarkan ilmu agama Islam”.[7]

 

  1. Menurut Sudjoko Prasojo,

            Pesantren adalah  lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara non klasikal, dimana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa arab oleh Ulama Abad pertengahan, dan para santrinya biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut. [8]

 

            Dari beberapa definisi yang diberikan oleh beberapa ahli diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang bernafaskan Islam  untuk memahami, menghayati, mengamalkan ajaran Islam (Tafaqquh Fiddien) dengan menekankan moral agama sebagai pedoman hidup bermasyarakat, yang didalamnya mengandung beberapa elemen yang tidak bisa dipisahkan, yang antara lain kiai sebagai pengasuh sekaligus pendidik, masjid sebagai sarana peribadatan sekaligus berfungsi sebagai tempat pendidikan para santri dan asrama sebagai tempat tinggal dan belajar santri



      [1]  Zamakhsyari Dhofier, op.cit., hlm.18.

      [2] Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm 5.

  [3] Nurcholis Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 1997), hlm. 5.

 [4]  Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta: INIS, 1994), hlm. 55.

 [5] Zamakhsyari Dhofier, op.cit., hlm.18.

 [6]  Mastuhu, op.cit., hlm 6

 [7]  M. Dawam Rahardjo, Pergulatan Dunia Pesantren Membangun dari Bawah, (Jakarta: P3M, 1985) hlm 2.

 [8]  Sudjono Prasodjo, Profil Pesantren, (Jakarta: LP3S, 1982), hlm. 6.

Leave A Reply

Your email address will not be published.