Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Perspektif Teori

0

Perspektif Teori

 

Mengurai identitas diri tidak cukup dari aspek internal individu, tetapi ada aspek eksternal yang turut membentuknya. Ketika individu masih belum mampu untuk mendefinisikan diri, peran lingkungan, kelompok atau komunitasnya akan sangat menentukan bagaimana dia mendefinisikan diri.

Memahami aspek internal dan eksternal individu dalam mengkontruksi identitas diri, khususnya pada gay. Maka dalam penelitian ini menggunakan dasar teori yang dikemukakan oleh Jaques Emire Lacan86. Seperti yang ditulis

oleh Mark Bracher87 dibawah ini.

 

 

 

85 Ibid, h.225

86  Jaques Lacan dilahirkan tahun 1901 di Paris. Ia mendalami ilmu kedokteran dan meraih gelar doctor dalam bidang kedokteran  pada tahun 1932. selain menjalani  profesi sebagai dokter, Lacan  juga  berprofesi  sebagai  psikiater.  Karir  psikiatrisnya  dimulai  pada  tahun  1936  ketika  ia memberi ceramah pada kongres ke-14 The International Psychoanalitic Association di Marienbad. Dalam  kongres  ini,  ia menguraikan  teorinya  yang  disebut  dengan  fase  cermin.  Tahun  1933  ia

dikelurkan  dari asosiasi tersebut karena praktek psikiatrisnya  dianggap menyimpang  dari praktik psikoanalisis  ortodoks.  Selain  itu ia dikelurkan  karena perbedaan  teori dengan anggota  asosiasi, seperti menolak sikap empiris dan saintis, menentang psikologi Ego, dan mempersoalkan  tendensi medikalisasi  dalam  psikoanalisis  (mengaitkan  psikoanalisis  dengan  profesi  medis).  Dua  buah karya Lacan yang terkenal Ecrits (1966) dan Television (1974). Selain itu ia memberikan  banyak ceramah  yang  dilakukan  dalam  Le  Seminare  de Jacques  Lacan  (1975).  Meninggal  pada  tahun

1971. lebih lanjut lihat pada K Bartens,  Filsafat  Barat Kontemporer,  Gramedia  Pustaka  Utama, Jakarta, 2001, h.201-203

87    Mark   Bracher,   Lacan,   Discourse,   And   Social   Change:   Apsychoanalytic   Cultural

Criticism (Cornell University  Press: New York, 1997) terjm. Oleh Gunawan Admiranto,  Jacques

 

 

Lacan   memandang   bahwa   subyek   senantiasa   tidak   sadar.   Subyek dibentuk oleh kekuatan yang berada di luar dirinya. Dalam   pandangan lacan pola pembentukan subyek ini, bertahap. Pertama, tahap real merupakan tahap dimana  subyek  mengalami  keadaan  yang sebenarnya.  Pada masa ini bahasa belum  terbentuk.  Tidak  ada  kekurangan  (lake)  dan  kegelisahan  yang  ada hanyalah  kepuasan  segala  kebutuhan  dan  kelengkapan.  Tapi  ini  adalah  ide pertama  kekurangan  yang  muncul  dari  seorang  bayi.  Kekurangan  itu  tidak pernah akan bisa kembali terpenuhi lagi.

Kedua, tahap imaginer,  tahap ini adalah tahap dimana sang bayi mulai memiliki permintaan. Permintaan itu adalah pengakuan dirinya dari yang lain. Bayi  pada  masa  ini,  belum  memiliki  identifikasi   yang  jelas.  Dia  masih memandang  yang  lain di luar dirinya  sebagai  sesuatu  yang berbeda  dengan dirinya.  Dengan  demikian  oposisi  biner  antara  aku (self) dan entitas  di luar dirinya  (liyan)  kabur.  Masa ini, disebut  Lacan  sebagai  masa  cermin.  Proses identifikasi   yang  dilakukan   oleh  bayi  tidak  bersifat   internal.   Bayi  lebih memilih identitasnya disesuaikan dengan apa yang berada di luar dirinya. Pada masa ini, sang bayi mulai gegar. Kebutuhanya tidak bisa dipenuhi total, seperti pada saat dia masih berada pada masa real. Kekurangan, tanpa gagasan disintegrasi   tubuh  dan  alienasi   mulai   muncul.   Bagi  lacan,  identitas   diri senantiasa dilihat dari sisi liyan.

Ketiga,   masa   simbolis.   Pada  masa   ini,  Lacan   beranggapan   bahwa keretakan88  hubungan antara diri dan ibu yang terjadi pada masa cermin mulai bisa diatasi. Anak mulai memutuskan bahwa ia bisa menyatu dengan apa yang diinginkan  oleh  ibu.  Berhubung  anak  sudah  beranjak  dewasa,  maka  tidak

mungkin  dilakukanya  kepada  ibu. Anak  lebih  melampiaskan  dalam  wilayah simbolik.  Ayah, bagi Lacan merupakan  penentu kebijakan  yang memberikan hukuman tertentu bagi anak. Lacan melihat ayah bukan sebagai ayah biologis sebagaimana  digambarkan  oleh  Freud.  Lacan  memberikan  gambaran  ayah simbolis yang dituliskan sebagai Phallus.

Phallus merupakan ungkapan Lacan untuk menyebutkan penis. Lacan membedakannya sebab konsep penis menurut Freud digambarkan oleh Lacan bukan sebagai hal yang biologis, tetapi lebih pada sebuah struktur simbolik. Semua jenis kelamin baik perempuan  maupun laki-laki tidak memilikinya, sehingga ada sebuah imaji secara terus menerus untuk mendapatkan phallus sebagai  bentuk  kerinduan  dan  keinginan  akan  keutuhan.  Bisa  dikatakan

 

 

 

Lacan Diskursus Dan Perubaha Social: Pengantar Kritik-Budaya Psikoanalisis, JALASUTRA, Yogyakarta, 2005. xvi-xxiv

88  Pada posisi seperti ini, identitas diri dan kelengkapan  diri tidak ada. Yang ada tidak lain

adalah  imajinasi  dan khayalan  tentang  diri yang berada  pada luar dirinya.  Khayalan  bagi Lacan dimaknai  sebagai  dunia  citra  dimana  anak membuat  identifikasi.  Dalam  perbuatan  keseharianya anak  akan  mengarah  pada  kesalahpahaman  tentang  dirinya  sendiri.  Lihat  dalam  John Story,  An Introdutory  Guide  to  Cultural  Theory  and  Popular  Culture.  1993.  Terj.  Nurdin,  Dede.  Teori Budaya dan Budaya Pop: Memetakan  Lanskap Konseptual  Cultural Studies, Qalam, Yogyakarta,

2003, h.128-132.

 

 

phallus merupakan bentuk representasi simbolik hasrat pada keutuhan, yang mengawali serta mendorong rantai penandaan dan terjadi pada semua fantasi kita.89

Hal ini akhirnya melahirkan  kesetaraan konsep identitas antara   laki-

 

laki   dan   perempuan.   Struktur   fisik   tidak   menjadi   patokan   bagaimana perempuan  dan laki-laki  merepresentasikan  dirinya.  Semuanya  hanya terkait pada imaji atas simbol yang subjek terima pada jenjang perkembangan (real, cermin dan simbolik) dan wacana yang diregulasikan secara terus-menerus sampai akhirnya masuk pada wilayah ketidaksadaran subjek.

Ketidaksadaran   sendiri  menurut  Lacan  bukanlah  ruang  nyata  bagi wacana yang lain, berbeda dengan Freud yang menjadikannya sebagai konsep substantif. Ketidaksadaran tidak bersifat primordial atau instingtual, melainkan bersifat   implisit             dalam   setiap   hal   yang   kita                              ucapkan   atau   lakukan. Ketidaksadaran  sebagai  wilayah  yang  tidak  pernah  kita  ketahui,  walaupun bukan berarti setiap usaha untuk memahaminya  sebagai tindakan yang tidak

berguna.90

 

Bagi Lacan, setiap subyek senantiasa mengisi kekosongan dan jeda oposisi biner yang terjadi antara subyek dan objek (others) yang akan melahirkan desire.91 Pemenuhan kebutuhan ini menggunakan mekanisme bahasa, yaitu dengan displacement melalui metonimia condensation melalui

metafora  yang  tidak  pernah  bisa  dipenuhi.  Bahasa  bekerja  dalam  wilayah

 

89   Madan  Sarup,  1993.  An  Introductory  Guide  to  Post-Strukturalism  and  Post  Modern, Athens,  Georgia,  (The  University  of Georgia  Press)  Terj.  Aginta  Hidayat,    Post-Strukturalisme dan Post-Modernisme,  Sebuah Pengantar Kritis, Jendela, Yogyakarta, 2004, h. 21

90 Ibid, h.18

91   Beberapa  wacana  tentang  hasrat  lihat  esainya  Edhenk,  Postmodern  dan  Pembebasan

Hasrat,  Majalah  Inovasi.  UIN  Malang    Edisi  22  Th.  2005.  Inovasi,  Malang:,  2005,  h.  57–58. Bandingkan dengan Agustinus Hartono, Deluze, Guatari dan Skizoanalisis: Sebuah Pengantar Genealogi Hasrat. Jalasutra, Yogyakarta, 2007, h. 13-40.

 

 

simbol yang secara paradigmatik  akan mengisi kekosongan  itu. Anak yang sudah  mulai  memasuki  kemampuan  bahasa  akan memiliki  ketergantungan terhadap bahasa dalam mengenali subyek. Dengan demikian simbol menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh subyek.92

Konsep struktur simbolik Lacan merupakan upaya untuk menciptakan

 

mediasi antara analisis libidinal dan kategori linguistik. Hukum bahasa dan masyarakat  menjadi bagian dalam diri anak ketika anak mematuhi  otoritas dari larangan ayah. Garis besarnya Oedipus bukan dalam pengertian tubuh melainkan bahasa, sehingga bisa dikatakan tidak ada tubuh sebelum bahasa ada.  Semua  pengalaman   manusia  dimediasi   secara  simbolis  dan  harus

ditafsirkan (dalam konteks konvensi sosial). 93

 

Sehingga    identitas    seksual   juga    bisa    dimaknai   sebagai   proses simbolisasi yang dilakukan subjek. Bila melihat pada hubungan seksual baik itu hetero maupun homo, tidak lain juga dari proses bagaimana subjek melakukan  simbolisasi  terhadap  sosok  Liyan,  yang  berkaitan  erat  pada tahapan cermin. Lacan mengatakan identitas dihasilkan dari struktur simbolik

yang mentransendensikan  subjek dan mengatur seluruh perjalanan sejarah.94

Ada suatu ketidaksadaran simbolik yang memang dialami oleh setiap subjek begitu juga dengan gay, ada proses pencitraan dalam masa cermin yang membuat dia mengharapkan keutuhan dari bentuk fisikal laki-laki. Lacan menyatakan  dorongan Libido berpusat pada fungsi citra, mulai berjalannya

 

 

 

 

92    John  Lechte,   Fifty  Key  Contemporary   Thinkers,   Routledge   and  New  York.  Terj. Gunawan,  A  Admiranto,  2001  50  Filsuf  Kontemporer  dari  Strukturalisme  Sampai Poststrukturalisme.   Kanisius , Yogyakarta, 1994, h. 68.

93 Madan Sarup, Op. cit. h. 37-38

94Madan Sarup, Op. cit. h.36

 

 

naluri   seksual   secara   mekanis,   pada   dasarnya   terkristalisasi   di   dalam hubungan antar citra.95

Subjek  tidak  lagi  mendefinisikan  dirinya  sebagai  sesuatu  yang  riil (real).  Lacan  percaya  bahwa  hanya  melalui  wacana  yang lain lah,  subjek dapat  menemukan  identitas  diri.96   Dia  akan  senantiasa  melihat  sudut  lain diluar  dirinya,  Lacan  menyatakannya  dengan  cermin.  Dengan  seperti  itu subjek baru mampu mendefinisikan dirinya. Lacan menjelaskan subjek terbentuk dari berbagai diskursif diluar dirinya. Sehingga subjek tidak lagi sadar   kalau   terbentuk   dari   kondisi   sosialnya.   Pencitraan   oleh   subjek

dilakukan  secara terus menerus sampai kapan pun, karena   keutuhan  yang ingin  dicapai,  padahal  keutuhan  tersebut  tidak  akan  pernah  terjadi.  Yang semua itu mempengaruhi pada konsep identitas yang sampai kapan pun juga akan tetap berubah dan tidak akan menemukan yang pasti.

Bagi Lacan, hasrat untuk keutuhan, kerinduan akan kesatuan, dan keinginan  untuk  pengintegrasian  itu  adalah  wajar  dirasakan  oleh  subjek. Perlu dipahami bahwa, segalanya tidak akan pernah mungkin kembali. Pemikiran yang cenderung memberikan idealisasi masa lampau akan kembali lagi,  membuat  keterjebakan  ontologis  yang  cenderung  romantisme  masa

lalu.97 Agar tidak terjebak dalam oposisi biner antara masa lalu dan sekarang,

Lacan  menggunakan   posisi  antara  (periferi).  Untuk  menciptakan   posisi antara,  Lacan  menggunakan   teori  symbolic  order.  Dengan  memberikan

 

 

 

 

 

 

95 Mark Bracher, Op. cit. h.132

96 Madan Sarup, Op. cit. h. 35

97 Madan Sarup, Op. cit. h.38

 

 

simbol penyatuan seperti ini Lacan hendak memberikan identitas kebudayaan yang senantiasa memiliki hasrat penyatuan.98

Subyek   bukanlah   suatu   kesadaran   yang  bebas   yang  terlepas   dari kontruksi  di  sekelilingnya.  Subyek  adalah  kontruksi  bahasa,  politik,  dan budaya. Subyek hanya bisa dimengerti dengan cara mencermati cara-cara manusia dan kejadian-kejadian menyusun dan menuangkannya dalam sebuah narasi. Dalam perkembanganya, individu menjadi subyek yang terbelah identitasnya.  Identitas  tidak  lagi  diciptakan  dari  ego  seseorang,  melainkan

super ego yang mendesain identitas diri.99

 

Pada  diri  gay  juga  akan  terus  melakukan  redefinisi  identitas  diri, walaupun  dia sudah  mendefinisikan  diri sebagai  seorang  gay,  tetapi  dalam pengenalan diri dan memaknai identitas akan terus berubah. Ada pencitraan yang  dilakukan,  dan  seperti  yang  dikatakan  Lacan  sebagai  bentuk  dari keinginan  untuk  melakukan  penyatuan.  Sehingga  wajar  jika  kemudian  ada bentuk  klasifikasi-klasifikasi  yang lebih rinci dari bentuk  hubungan  sejenis (gay). Dan tentunya setiap subjek juga mempunyai kisah yang berbeda dalam mendefinisikan diri karena berbedanya proses pencitraan yang dia lakukan.

Gambar 2.1. Bagan konsep identitas “Lacan”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

98   Edi  Purwanto,  Representasi  Wong  Tengger  atas  Perubahan  Sosial  dalam  Perspektif Social Identity Theory (Studi Etnografis di Desa Wonokerto dan Ngadas Probolinggo),  SKRIPSI Fakultas Psikologi UIN Malang, 2007, h.28 (tidak diterbitkan)

99  Bagaimana  identitas  dibentuk  pada masa paradigma  rasionalisme  yang ditandai  dengan

munculnya Descartes dengan “Cogito ergo sum” hingga Postmodern “tubuh tanpa organ” miliknya Giles Deluse dan Felix Guatari. Baca hal 155-192, bandingkan dengan Cavallaro, David. Critical and Cultural Thematik Variation, The Athlone Prees, London & New Brunwick, Nj, 2001

 

 

Real

 

 

 

 

Imajiner                   Liyan                    Bahasa

 

 

 

 

 

Simbolik


Phallus

 

 

 

 

 

 

Laki-laki


Perempuan

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.2. Bagan pembentukan identitas seksual gay

 

 

Penanda

 

 

 

Gay              Real


Imajiner


 

Laki-laki

 

 

 

 

 

Liyan


Pencitraan


Perempuan

 

 

 

 

 

Bahasa


 

Petanda

 

 

 

 

Simbolik

 

 

 

Phallus


 

Pembentukan identitas

 

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.