Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Persepsi Siswa Terhadap Peran Guru Agama Yang Ideal

0

Persepsi Siswa Terhadap Peran Guru Agama Yang Ideal

Seringkali muncul pendapat bahwa murid tidaklah layak dimintai pendapat mengenai tindakan-tindakan, rencana-rencana serta usaha-usaha yang dibuat oleh seorang guru. Alasan pendapat inilah bahwa pengetahuan murid dibidang pendidikan tidak sepadan dibandingkan dengan pengetahuan guru. Memang alasan ini dapat dibenarkan, akan tetapi dapat kita ketahui bahwa murid adalah sebagai salah satu unsur pokok dalam hubungan dan interaksi dan murid sebagai unsur utama dalam mencapai tujuan pendidikan.

Justru murid adalah unsur yang paling berkepentingan di dalam interaksi dalam pendidikan. Bagaimanapun juga, segala tindakan-tindakan, rencana-rencana serta usaha-usaha harus berorientasi pada pada kemampuan dan kebutuhan murid. Seorang guru yang baik dan bijaksana adalah baik dan bijaksana ditinjau dari sudut murid, bukan dari sudut guru itu sendiri.[1]

 Sebab itu semata-mata dengan maksud untuk menyempurnakan usaha guru. Untuk mencapai hasil yang maksimal demi kepentingan murid. Sudah selayaknya guru membuka mata dan hatinya terhadap penerimaan pendapat dan penilaian murid mengenai berbagai hal yang dikerjakan oleh guru itu. Guru harus jujur untuk menarik pelajaran dan pengalaman.

Penilaian murid terhadap interaksi dapat diperoleh melalui berbagai macam-macam cara yang pada umumnya dapat digolongkan dalam cara yang informal dan cara formal. Dengan pengamatan dapat secara informal mengumpulkan bahan-bahan dari murid-muridnya. Besar gunanya meminta para murid mengeluarkan pendapat mereka (biasanya secara anonim) mengenai persoalan-persoalan tertentu secara resmi.

Dapat juga meminta pendapat murid melalui teguran secara halus atau kritikan yang dapat membangun kepribadian guru. Tanpa kesempatan itu, guru tidak dapat mengetahui secara lebih pasti mengenai reaksi dan respon murid-murid. Kita menyadari bahwa pergaulan murid-murid adalah bentuk pergaulan yang khas, sudah sewajarnya apabila dapat diperoleh pendapat-pendapat dan pengertian-pengertian yang melapangkan jalan pergaulan yang khas itu.

Pandangan murid itu bukan hanya berguna bagi pribadi guru tetapi juga dapat menjadi petunjuk bagi kekurangan-kekurangan guru. Dari penjelasan di atas, maka persepsi siswa-siswi terhadap peran guru dalam hal ini adalah peran guru agama secara khusus sangat diperlukan sekali oleh seorang guru sebagai pedoman untuk melangkah kedepan dan sebagai motivasi untuk mengembangkan kompetensi yang telah dimiliki oleh guru.

Peran guru agama yang ideal di mata siswa-siswi sama halnya dengan peran guru pada umumnya pertama, adalah peran guru sebagai demonstrator hendaknya senantiasa menguasai materi pelajaran yang akan diajarkannya serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya. Karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Dalam hal ini guru agama dituntut untuk menguasai materi pendidikan agama secara keseluruhan agar siswa paham dengan ajaran Islam melalui pendidikan agama.

Kedua adalah guru sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang diperlukan organisasikan. Tujuan umum dari pengelolaan kelas ialah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik. Dari tugas guru sebagai pengelola kelas, maka guru agama harus dapat mengembangkan kemampuan siswa dan mengarahkan serta membimbing siswa untuk selalu melaksanakan ajaran Islam yang telah di dapat dalam kelas untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga guru sebagai mediator dan fasilitator hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk mengefektifkan proses belajar mengajar. Untuk itu guru agama juga harus mempunyai media tersendiri untuk pendidikan agama Islam agar pendidikan Islam tersebut dapat diterima oleh siswa-siswi dan mudah dilaksanakan siswa sehingga tujuan dari pendidikan Islam sendiri dapat tercapai.

Yang terakhir adalah guru sebagai evaluator yang dimaksud disini adalah kegiatan untuk mengetahui apakah tujuan yang dirumuskan tersebut tercapai atau belum. Dengan penilaian guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan, penguasaan siswa-siswi terhadap mata pelajaran yang diberikan. Begitu halnya dengan peran guru agama tidak jauh berbeda.[2] Dilihat dari segi dirinya sendiri guru harus berperan  sebagai berikut :

  1. Petugas sosial, yaitu seorang yang harus membantu untuk kepentingan masyarakat. Dalam kegiatan-kegiatan masyarakat guru senatiasa merupakan petugas-petugas yang dapat dipercaya untuk berpartisipasi di dalamnya.
  2. Pelajar dan ilmuwan, yaitu senantiasa terus menerus menuntut ilmu pengetahuan. Dengan berbagai cara setiap saat guru senantiasa belajar untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
  3. Orang tua, yaitu orang tua murid di sekolah dalam pendidikan anaknya. Sekolah merupakan lembaga pendidikan sesudah keluarga sehingga dalam arti luas sekolah merupakan keluarga, guru berperan sebagai orang tua bagi siswa-siswinya.
  4. Suri tauladan, yaitu yang senantiasa menjadi suri tauladan yang baik bagi siswa-siswinya bukan untuk seluruh masyarakat. Guru menjadi ukuran bagi norma-norma tingkah laku.
  5. Pencari keamanan, yaitu yang senantiasa mencarikan rasa aman bagi siswa. Guru menjadi tempat berlindung bagi siswa-siswi untuk memperoleh rasa aman dan puas didalamnya.[3]


[1] Winarno Surakhmad, Pengantar Interaksi Belajar mengajar, Tarsito, bandung, 1994, Hal. 138

[2] Moh. Uzer Usman, Op.Cit., Hal 9-11

[3] Moh. Uzer Usman, Op.Cit., 1

Leave A Reply

Your email address will not be published.