Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Peran Pendidikan Dalam Pemberdayaan Perempuan

0

Peran Pendidikan Dalam Pemberdayaan Perempuan

Tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang‑Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan sehingga mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global, khususnya peran perempuan sebagai bagian dari pelaku pembangunan, maka perlu dilakukan pemberdayaan dan peningkatan potensi perempuan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Pembangunan pemberdayaan perempuan dilakukan untuk menunjang dan mempercepat tercapainya kualitas hidup perempuan, dapat dilakukan melalui kegiatan sosialisasi atau advokasi pendidikan, pelatihan, dan ketrampilan bagi kaum perempuan yang bergerak dalam seluruh bidang kehidupan.

Pendidikan merupakan hak setiap individu, kaya‑miskin, lemah‑kuat, pandai‑bodoh, laki‑laki maupun perempuan. Oleh karena itu pendidikan adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidup dan menjadi kebutuhan bagi semua tanpa memandang latar belakang. Salah satu penyebab penindasan, peminggiran, subordinasi, bahkan perlakuan kasar terhadap perempuan adalah kemiskinan pendidikan yang dialami oleh kaum perempuan.[1] Lebih dari itu pemerintah memiliki kewajiban untuk memberikan fasilitas yang layak dan maksimal dalam pendidikan ini. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang 1945 yaitu Negara ikut terlibat dalam mencerdeskan kehidupan bangsa.

Dalam agama Islam sendiri diajarkan bahwa antara laki-laki dan perempuan pada hakekatnya sama dalam hak untuk memperoleh pendidikan.

Dalam Al Quran Surat Al Alaq Allah SWT. Berfirman:

ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ

 

 Artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”[2]

 

Dari ayat al Qur’an tersebut di atas dapat dipahami bahwa Tuhan mengajarkan kepada manusia tentang manusia. Kata manusia di sini menunjukkan universalitas dan tidak terpaku pada golongan manusia tertentu, baik laki-laki atau perempuan.

Kuantitas pendidikan yang diterima perempuan sangat minim, sehingga tidak kaget kalau dua pertiga dari penduduk dunia yang buta huruf adalah perempuan. Anak‑anak perempuan mendapatkan pendidikan ala kadarnya atau bahkan tidak sama sekali, memang sangat berat menghadapi dunia, mereka tidak memiliki sumber daya yang memungkinkan secara efektif mengatasi kemiskinannya, kecuali hanya ratapan kesedihan. Tanpa pendidikan mereka, perempuan bukan apa‑apa.[3]

Meskipun pendidikan yang ditawarkan kepada anak perempuan dianggap “pedang bermata dua”, yakni pendidikan yang berguna untuk menjaga dirinva sendiri dan untuk memenuhi kebutuhan‑kebutuhannya sendiri, serta pendidikan yang bermanfaat bagi keluarga (sebagai ibu rumah tangga). Oleh karena itu, pendidikan bagi pernberdayaan itu sebagai sesuatu memperkuat dan mempertinggi perasaan mereka tentang kekurangan sebagai perempuan, kalau perempuan memang enggan untuk diposisikan sebagai manusia nomor dua setelah laki‑laki, sehingga keberadaannya tidak dianggap sebagai pelayan atas kebutuhan laki‑laki.

Salah satu bagaian dari Hak Asasi Manusi yang dimiliki manusia sejak lahir, dimanapun dan dalam waktu apapun, harus diberikan bahkan tidak boleh dihalang‑halangi adalah hak untuk mendapatkan pendidikan. Dalam UUD 1945, pasal 31, dijelaskan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran (pendidikan) yang layak.

            Dalam Islam dianjurkan menegakkan persamaan di bidang hukum dan pendidikan. Antara laki‑laki dan perempuan harus mendapatkan hak atas pendidikan tanpa harus mengalami diskriminasi. Melalui pendidikan, baik laki-laki maupun perempuan, baik ilmu keagamaan maupun kemasyarakatan, manusia bisa menjalankan fungsinya sebagai khalifah fil‑ardl.[4]

Pendidikan harus diarahkan pada perkembangan penuh kepribadian, kompetensi, skill, ketrampilan serta pengokohan rasa hormat terhadap Hak Asasi Manusia dan prinsip‑prinsip kebebasan. Setiap orang, baik laki‑laki maupun perempuan berhak untuk bebas berpartisipasi di dalarn kehidupan kebudayaan masyarakat dan dalam memajukan ilmu pengetahuan dan menikmati manfaatnya. Selain itu, pendidikan juga sangat berarti terutama bagi pemberdayaan perempuan. Melalui pendidikan, perempuan dapat meningkatkan kualitas hidupnya, mempunyai kemampuan dan keamanan, guna kemandirian, memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan, keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalarn hal pendidikan, ada tiga jenis pendidikan yang wajib ditempuh oleh perempuan:

  1. Pendidikan yang wajib bagi setiap orang demi menjaga kehidupannya sendiri dan untuk memenuhi kebutuhan‑kebutuhan pribadinya.
  2. Pendidikan yang bermanfaat bagi keluarganya.
  1. Pendidikan yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekelilingnya.

Meskipun gerakan pemberdayaan perempuan melalui pendidikan untuk meningkatkan kualitas kehidupan perempuan mulai diberdayakan. tetapi masih ada hambatan‑hambatan yang berupa asumsi negatif tentang tabi’at perempuan. Salah satu diantaranya adalah, asumsi yang berasal dari teks‑teks keagamaan yang ditafsirkan secara tekstual dan konservatif, tanpa memandang kultur sosiologis yang berkembang. Seperti, bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah akal dan agamanya lemah. Padahal asumsi ini terpengaruh oleh kondisi sosial perempuan Arab pada waktu itu.

Oleh karena itu, pembekalan kaum perempuan dengan pendidikan dalam konteks sekarang sangat urgen, bahkan menjadi kewajiban, karena kepribadian umat dan bangsa ditentukan anak‑anaknya. Maka, pendidikan pada kaum perempuan dimulai dari proses pendidikan mental, demokrasi dan pembentukan kepribadian dalam keluarga. Selanjutnya, mempersiapkan mereka menjadi sumber daya manusia yang unggul dan sempurna.

Perlu diketahui, bahwa harapan‑harapan tersebut di atas, akan sulit terkabul, kecuali melalui uluran‑uluran tangan dan nurani ibu‑ibu pendidik, serta pemerhati nasib perempuan yang berpendidikan tinggi dan memiliki bekal yang memadai. Belum pernah terpikirkan oleh kita, bagaimana kita akan membentuk dan membina generasi yang unggul dan tangguh, jika kaum ibu saja masih terbelakang tanpa pendidikan.



[1] Fadmi Sutiwi, Perempuan dan Gerakan Pemberdayaan Sebuah Dinamika. Jurnal Ilmu dan Kemanusiaan. Edisi Khusus Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang 3-8 Juli 2005. hal. 60

[2] Al-Qur’an Dan Terjemahannya (Semarang: Toha Putra, 1992)

[3] Julia Cleves Mosse, An Introduction to Gender and Development Cet. IV “terj”. Harian Silawati. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1993),  Hlm. 193

[4] Miftahul Huda, Hak Asasi Manusia dan Pendidikan. Jurnal Pendidikan Fakultas Tarbiyah el-Hikmah, Edisi Mei-Juni. 2004. hal. 127

Leave A Reply

Your email address will not be published.