Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Pengertian Solidaritas

0

Pengertian Solidaritas

 

Berawal  dari sebuah tatanan masyarakat pasca pencerahan yaitu masyarakat modern awal. Ketika karya sosiologi mulai menjadi legitimasi ilmiah, segala problem masyarakat dan kegiatan masyarakat menjadi bahan penelitian dari sosiologi. Tidak terlepas mengenai sistem sosial dalam masayarakat modern awal.

Atas dasar semangat pencerahan tersebut timbul satu konsepsi dalam kajian sosiologi apa yang disebut solidaritas sosial. Emile Durkheim dalam tesisnya The Devision Of Labor In Society menjelaskan bahwa solidaritas sosial dalam masyarakat terpetakan menjadi dua domain yaitu:

 

  1. Solidaritas Mekanik

Solidaritas mekanik yang mengarah pada problem transisi dari tradisional ke modern. Ia mencirikan “solidaritas mekanis” masyarakat tradisional sebagai solidaritas yang tergantung pada “keseragaman” anggota-angotanya, yang mana dalam kehidupan bersamanya diciptakan bagi keyakinan dan nilai-nilai bersama. Dalam kondisi solidaritas mekanis, menurutnya “individualitas tak berlaku” sebab “kesadaran individual” tergantung pada kolektif dan mengikuti pada geraknya. Jadi, solidaritas mekanis lebih memberi peluang seluas-luasnya bagi kebersamaan tanpa batas. Dengan begitu logika individual begitu saja terenyahkan. Tiada keputusan individu untuk mewarnai keputusan kolektif. Hukuman hanya ada pada masyarakat kolektif. Proses penyeragaman ini menjadikan masyarakat tradisional semakin kecil kesempatannya untuak sekedar membuat keputusan individual.[1]

Sebelum menuju uraian terkait solidaritas organik, alangkah baiknya manakala terlebih dahulu menguraikan hal yang mencirikan masyarakat komplek dalam arus modernitas. Karena soidaritas organic nantaianya akan beroperasi pada masyarakat komplek. Masyarakat komplek adalah kebalikan dari ciri-ciri dari masyarakat sederhana. Masyarakat-masyarakat komplek mempunyai wilayah-wilayah yang luas dan rapat penduduk, dengan berbagai macam kelompok yang tersusun beraneka ragam. Sebagai ganti tersegmentasi, masayarakat komplek sejak awal terintegrasi dalam arti bahwa bagian-bagian mereka bergantung satu sama lain pada dukungan timbal-balik, sehingga masyarakat-masayarakat itu lebih bersifat “organis” daripada “mekanis”

Didalam masyarakat-masyarakat kompleks rancangan-rancangan institusional disepesialisasikan sehingga sejenis institusi keluarga, religius, pendidikan, politis, dan ekonomis, menjadi lebih tampak jelas dan demikian juga setiap jenis institusi menjadi kurang pokok bagi setiap anggota masyarakat itu. Individu-individu tidak lagi dibawah kontrol ketat dari kolektivitas institusi-institusi yang terjalin erat yang mendominasi masyarakat-masyarakat sederhana. Didalam dirinya setiap institusi juga menghasilkan spesialisasi peran-peran dan karenanya menyebabkan munculnya perbedaan-perbedaan yang menonjol antara para individu yang menduduki peran tersebut.sepesialisasi kegiatan-kegiatan yang saling tergantung ini adalah cirri bukan hanya dari proses ekonomi akan tetapi secara menyeluruh dari semua segi masyarakat, misalnya sebuah masyarakat organis membutuhkan sebuah “organ politik” yang tersepesialisasi, negara untuk merundingakan dan memutuskan demi kepentingan seluruh masyarakat, dan didalam organ masyarakat tertentu ada keaneka ragaman peran politis yang saling bergantung, antara lain yang paling jelas, peran penyusun undang-undang mengadili para pelanggar undang-undang dan mrelaksanakan undang-undang. Kecenderungan keberagaman dalam masyarakat kolektif inilah menurut Dhurkheim memiliki satu kekhasan terendiri dalam perubahan sosial.

  1. Solidaritas Organik

Solidaritas organis, yaitu solidaritas yang terbangun dan beroperasi didalam masyarakat kompleks berasal lebih dari sekedar saling ketergantungan dari kesamaan bagian-bagiannya.perbedaan-perbedaan yang membentuk kesatuan baru ini tentu bersifat saling melengkapi dan tidak saling bertentangan, karena setiap peran yang terspesialisasi penampilannya tergantung pada kegiatan-kegiatan orang atau kelompok organisasi yang saling berhubungan didalam suatu kegiatan dan aktivitas dan tak satupun berdiri lepas satu sama lain. Solidaritas organis dengan demikian, adalah sebuah kesatuan dari sebuah keseluruhan yang bagian-bagiannya berbeda-beda namun berhubung-hubungan dengan cara sedemikian rupa sehingga masing-masing membantu mencapai tujuan-tuuan keseluruhan. Fungsi pembagian kerja bukanlah sebagaimana mungkin diharapkan, dan sebagaimana dikatakan Adam Semith, meningkatkan produktivitas, melainkan untuk memungkinkan sebuah kehidupan sosial yang integral yang tidak tergantung pada sebuah keseragaman melulu dalam bagian-bagian sistem itu. Inilah kemudian yang diikutunya dari Marx dan Comte, yang keduanya itu berfikir bahwa pembagian kerja mau tidak mau pasti membedah tatanan sosial.[2]



[1] Peter Beilharz, Teori-Teori Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 106-107.

[2]  Tom Campbell, Tujuh Teori Sosial,(Yogyakarta; Kanisius, 1994), h. 185-187.

Leave A Reply

Your email address will not be published.