Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Pengertian Pola Asuh

0

Pengertian Pola Asuh

 

Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat, awal seorang anak memperoleh pengalaman dan pengetahuan tentang hidup melalui orangtuanya. Oleh karena itu keluarga memiliki peran yang sangat penting bagi tumbuh dan kembangnya anak yang pada akhirnya akan banyak berperan di dalam lingkungan masyarakat. Pikunas (1976) menyatakan ada tiga  fungsi keluarga, yaitu meliputi:

a.saling memberikan kebutuhan afeksi, dukungan dan kebersamaan b.melahirkan, mengasuh dan membesarkan anak

c.mengajarkan dan mentransfer mengenai budaya, agama, ekonomi dan moral kepada anak.

Pola asuh orangtua terhadap remaja banyak memberikan pengaruh pada perkembangan konsep diri, kemandirian dan identitas ego (Bee, 1981).

 

 

 

 

 

 

 

 

Fuhrmann  (1990)  mengartikan  pola  asuh  sebagai  respon  orangtua melalui sikap dan perilakunya yang memiliki kekuatan dalam mempengaruhi bagaimana remaja nantinya mengatasi dunianya. Keberhasilan remaja dalam menjalani dan menyelesaikan tugas perkembangaannya secara sukses tanpa mengalami kesulitan dan hambatan psikologis lebih banyak ditemukan pada remaja yang memiliki hubungan yang baik dengan orangtuanya. Oleh karena itu orangtua perlu menjadi pengasuh yang tepat bagi remaja dalam rangka mepersiapkan remaja tersebut untuk menjalani dunianya. Selain itu, dalam rangka menuju masa dewasa yang tentunya memiliki tugas perkembangan yang beda dengan masa sebelumnya (Conger, 1977).

Perilaku di masa remaja juga dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil, khususnya dalam perkembangan psikososial waktu remaja berada pada tahap identity dan identity diffuse. Kemampuan remaja dalam menyelesaikan krisis pada tahap tersebut dipengaruhi oleh pengalamannya ketika berada pada tahap sebelumnya dalam menyelesaikan krisis yang ada pada masing-masing tahap.

Bandura dan Dodge (dalam Vandell, 2000) menyatakan bahwa pengalaman anak di rumah digunakan dalam mengkonstruksikan isyarat-isyarat sosial dan mengarahkan respon anak tersebut pada konflik dan dilema sosial baik di sekolah maupun di dalam lingkungan sosial lainnya. Sebagai contoh anak yang sering mendapat hukuman fisik di rumah dan orangtua yang menggunakan metode disiplin yang kaku dan keras akan mengalami defisit dalam memproses informasi yang ada dalam lingkungan sosialnya, yaitu anak akan lebih agresif dalam merespon masalah interpersonal dan agresif di dalam

 

 

 

 

 

 

 

 

lingkungan peer nya. Orangtua sebagai agen pertama sosialisasi anak waktu orangtua mengenalkan mengenai keyakinan, nilai dan sikap yang ditunjukkan mereka kepada anak-anaknya. Efektivitas orangtua sebagai agen sosialisasi bagi anak ditentukan oleh hubungan emosional anak dan orangtua, tipe atau jenis pengasuhan yang digunakan untuk mengontrol anak dan ketepatan pengasuhan tersebut dengan usia dan kepribadian anak ( Hetherington dan Parke, 1999).

Diana Baumrind (dalam Santrock,1999) menyatakan bahwa orangtua seharusnya dalam mengasuh remaja tidak menghukum dan menjauhkan diri dari remaja tersebut, melainkan orangtua membuat aturan-aturan yang jelas dalam mengasuh dan menjadi lebih dekat dengan remaja. Menurut Baumrind dalam mengasuh anak   ada tiga tipe pola asuh, yaitu: pola asuh demokratis, otoriter dan permisif. Pola asuh demokratis lebih menekankan pada pengasuhan dan sikap hangat orangtua terhadap remaja, sedangkan pola asuh otoriter adalah pengasuhan orangtua yang menekankan pada hukuman dan membatasi kebebasan remaja. Lain halnya dengan pola asuh permisif adalah orangtua yang memberi  kebebasan  sepenuhnya  pada  remaja  dan  tidak  ada  kontrol  dari orangtua.

Kesimpulan yang dapat diambil bahwa pola asuh adalah respon orangtua melalui sikap dan perilakunya yang memiliki kekuatan dalam mempengaruhi bagaimana remaja nantinya mengatasi dunianya. Keberhasilan remaja dalam menjalani dan menyelesaikan tugas perkembangannya dengan sukses tanpa mengalami kesulitan dan hambatan psikologis ditemukan pada remaja yang memiliki hubungan yang baik dengan orangtua. Di dalam hal ini cara orangtua

dalam mengasuh remaja adalah tidak selalu memberikan hukuman dan menjauhkan diri dari remaja, melainkan orangtua membuat aturan-aturan jelas yang dapat dipahami dan dilaksanakan oleh remaja dan membuat hubungan yang dekat dengan remaja.

Leave A Reply

Your email address will not be published.