Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Pengertian Peran Jenis

0

Pengertian Peran Jenis

 

Saat lahir, bayi sudah memiliki suatu kelamin,tetapi belum memiliki peran jenis. Pada saat itu, jenis kelamin biologis seseorang ditetapkan berdasarkan pandangan anatomis fisik. Secara budaya ini menjadi akar dari pengalaman,  perasaan  dan  perilaku.  Pengaitan  yang  dilakukan  oleh  orang dewasa dengan cara pembedaan biologis kelak memberi peran jenis pada si bayi. Secara biologis, laki-laki dan perempuan memiliki organ dan hormon kelamin yang berbeda, juga perbedaan dalam besar dan tinggi rata-rata.

Istilah  sex  role  dan  gender  role  sering  digunakan  secara  tertukar. Menurut   Richmond   (1992)   kedua   istilah   itu   sebenarnya   masing-masing memiliki arti yang berbeda. Istilah sex roles memiliki arti perilaku yang ditentukan oleh jenis kelamin biologis seperti: menstruasi, ereksi dan ejakulasi. Berbeda  denagn  istilah  gender  roles,  sepenuhnya  dibentuk  secara  sosial terhadap  peran  maskulin  dan  feminin  yang  diharapkan  ada  pada  individu. Namun dalam penelitian ini kedua istilah tersebut tidak diperlakukan secara

 

 

 

 

 

 

 

 

berbeda karena dalam bahasa Indonesia sex dan gender diterjemahkan  sebagai hal yang sama yaitu mengandung arti jenis kelamin (Echols dan Shadily,1996). Oleh  karena  itu  dalam  penelitian  ini  digunakan  istilah  peran  jenis                                                                      karena pengertian ini tidak menunjuk pada perbedaan laki-laki dan perempuan secara biologis dan mengandung harapan kebudayaan terhadap sifat feminin dan maskulin. Hal yang sama ditegaskan oleh Nuryoto (1992) dalam disertasinya, dengan demikian peran jenis mengarah pada harapan-harapan sosial dan budaya tentang apa yang harus dilakukan, dipikirkan dan dirasakan sebagai seorang laki-laki dan perempuan.

Berry  dkk  (1999)  menyatakan  bahwa  keyakinan  yang  tersebar  luas dalam suatu masyarakat berkisar pada soal laki-laki dan perempuan seperti apa yang umumnya telah dikaji selama puluhan tahun dalam masyarakat Barat. Temuan umum, stereotipe-stereotipe tentang laki-laki dan perempuan sangat berbeda satu sama lain,  yaitu lewat pandangan bahwa laki-laki dominan, tidak tergantung dan memiliki sifat petualangan. Sementara perempuan emosional, submisif dan lemah. Anak perempuan dan laki-laki disosialisasikan secara berbeda dalam beraneka budaya. Perempuan secara umum disosialisasikan lebih ke arah pengasuhan, tanggung jawab dan kepatuhan, sementara anak laki-laki lebih kearah ketidaktergantungan, pencukupan diri  dan pencapaian.

Hal yang sama diungkapkan oleh Hetherington (1989) bahwa umumnya laki-laki diorientasikan menuju kontrol dan manipulasi terhadap lingkungan. Laki-laki diharapkan menjadi seorang yang independen, asertif, dominan dan bersifat  kompetitif  baik  dalam  hubungan  seks  maupun  sosial.  Sementara

 

 

 

 

 

 

 

 

perempuan  diharapkan  menjadi  lebih  pasif,  mencintai,  sensitif  dan  menjadi orang yang memberikan support dalam hubungan sosial, khususnya di dalam keluarganya yaitu perannya sebagai istri dan ibu. Ekspresi sikap hangat dalam hubungan personal dan menekan munculnya agresif, menekan ekspresi seksualitas yang berlebihan adalah sifat yang lebih berkenan dicirikan kepada perempuan.

Stereotip didefinisikan sebagai harapan-harapan yang dipengaruhi oleh faktor  budaya  terhadap  sifat  dan  perilaku  laki-laki  dan  perempuan.  Jenis kelamin digunakan untuk membentuk kategori sosial terhadap peran jenis (Richmond,1992). Stereotip peran jenis ini berfungsi sebagai standar untuk menilai tingkah laku individu apakah tepat atau tidak dengan jenis kelaminnya. Jadi sejak kecil individu telah diajarkan untuk bertingkah laku sesuai dengan standar dari peran jenis tersebut. Hurlock (1974) menyatakan bahwa belajar untuk melakukan peran jenis yang tepat adalah sebuah proses yang lambat, yaitu periode yang panjang dari perkembangan. Lebih lanjut dikatakan bahwa belajar  melakukan  peran  jenis  relatif  lebih  sulit  bila  dibandingkan  dengan belajar  bergaul  dengan  teman  sebaya,  baik  sejenis  maupun  lawan  jenis (Hurlock, 1973).

Lain    halnya    dengan    Eysenck    (dalam    Nainggolan,    2002)    yang mendefinisikan peran jenis sebagai perilaku spesifik yang diharapkan dan dijadikan standar yang diterapkan pada laki-laki dan perempuan. Penyimpangan subyek dari ketentuan ini akan mendapatkan sanksi sosial (penilaian negatif). Ini berarti bahwa peran jenis mengarahkan perilaku, sikap-sikap atau peranan-

 

 

 

 

 

 

 

 

peranan sosial yang oleh masyarakat atau kebudayaan tertentu dianggap cocok untuk jenis kelamin tertentu.

Lamke (dalam Nainggolan,2002)  lebih lanjut menjelaskan bahwa peran jenis adalah sifat stereotip yang dimiliki oleh manusia berupa sifat feminin dan maskulin. Sifat ini dimiliki oleh individu semenjak masih kecil sampai usia lanjut, hanya saja penampilannya berbeda-beda. Pada anak-anak peran jenis memang belum nampak karena peran jenis kelihatan dari perilaku sehari-hari berupa sifat kewanitaan atau feminitas (misalnya mudah merasa iba, ingin menolong orang lain) dan sifat maskulin (misalnya dominan, agresif, asertif dan independen. Adapun sifit-sifat ini belum dapat dihayati oleh anak-anak.

Pendapat   yang    hampir sama    dikemukakan   oleh         Storm     (dalam Richmond,1992)                yang       menyatakan    bahwa sifat       feminin   dan            maskulin merupakan dua hal yang saling berlawanan, diibaratkan jika laki-laki bersifat independen dan perempuan bersifat tergantung dengan kata lain bahwa perempuan memiliki sifat  lebih kearah pengasuhan. Namun banyak ahli yang berpendapat bahwa keyakinan tradisional mengenai sifat maskulin dan feminin yang hanya ada pada laki-laki (untuk maskulin) dan perempuan (untuk feminin) adalah           bersifat           destruktif   baik     secara    sosial                  maupun  psikologis (Hetherington,1989). Pendapat tersebut didukung oleh Bem dkk (dalam Klein dan Willerman, 1979) yang menyatakan bahwa konsep tradisional mengenai maskulin dan feminin telah menjadi kritikan para tokoh. Para ahli psikologi menolak bahwa konsep maskulin dan feminin tradisional, lebih lanjut dikatakan bahwa   maskulin dan feminin adalah dimensi yang independen dan tetap ada

 

 

 

 

 

 

 

 

pada setiap individu hanya saja yang membedakan adalah apakah feminin yang lebih menonjol ataukah maskulin untuk dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Kesimpulannya dua sifat tersebut ada pada masing-masing jenis kelamin. Didukung oleh banyak penelitian yang menunujukkan bahwa antara laki-laki dan perempuan tidak menunjukkan pola sifat yang saling berlawanan.

Deaux dan Lewis (dalam Richmond,1992) menyatakan bahwa antara laki-laki dan perempuan dapat saling overlap dalam sifat, beberapa laki-laki menunjukkan                     sifat          pengasuhan     begitu                juga  perempuan,ada             beberapa perempuan yang sangat emosional namun beberapa juga tidak, disisi lain ada juga perempuan yang kompetitif begitu juga laki-laki. Atau dengan kata lain individu yang  menunjukkan  maskulin dengan sifat instrumentalnya dapat juga terlihat      feminin  yaitu  sifat  hangat  –  ekspresif  (Rathus,1986).  Penelitian Heilbrun (1976) menemukan bahwa sifat maskulin dan feminin merupakan dua sifat yang independen dan ada pada kedua jenis kelamin, hanya saja apakah feminin ataukah maskulin yang lebih dominan.

Bem (dalam Heilbrun, 1976) menambahkan bahwa selain sifat maskulin dan feminin ada sifat lain yang merupakan kombinasi antara keduanya yaitu androgini. Lebih lanjut dinyatakan bahwa sifat androgini dianggap sebagai sifat yang menghasilkan perilaku yang lebih efektif pada kedua jenis kelamin yaitu, laki-laki dan perempuan. Pendapat tersebut didukung oleh Marcia (1993) menyatakan   bahwa   ada   hubungan   antara   peran   jenis   androgini   dengan kesehatan mental, ini dikarenakan bahwa androgini adalah sifat yang lebih positif, lebih fleksibel dan lebih diterima di dalam masyarakat jaman sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

Disisi lain individu yang memiliki sifat maskulin dan feminin yang rendah dikategorikan ke dalam peran jenis tak tergolongkan .

Memasuki masa remaja proses perkembangan yang berkaitan dengan terjadinya kemasakan seksualitas akan membawa akibat terhadap perubahan dalam perkembangan sosialnya. Hal ini disebabkan pada masa remaja terutama remaja  tengah  sedang  mengalami  banyak  perubahan.  Sejalan  dengan  hal tersebut, ada tugas perkembangan yang harus diselesaikan, yaitu menerima keadaan fisik dan menjalankan peran sosial sesuai dengan jenis kelaminnya. Ini berarti remaja dituntut untuk memiliki peran jenis yang jelas dan berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat.

Peran jenis remaja terbentuk melalui identifikasi terhadap peran jenis yang ditunjukkan oleh ayah dan ibunya. Remaja laki-laki yang mengidentifikasi ayahnya yang maskulin akan menjadi maskulin, begitu juga dengan remaja perempuan jika mengidentifikasi ibunya yang feminin, maka akan menjadi feminin. Hal ini diperkuat oleh pendapat Smart dan Smart (1972) yang menyatakan bahwa semakin kuat remaja mengidentifikasi pada diri ayah, maka anak akan semakin maskulin.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka peran jenis remaja tengah terdiri dari empat  kategori, yaitu: maskulin, feminin, androgini dan tak tergolongkan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.