Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

penelitian semiotika

0
  1. A.   Semiotik Teks Roland Barthes

Penelitian ini menggunakan metode penelitian semiotika Roland Barthes. Metode penelitian semiotika Roland Barthes secara umum dipahami sebagai ilmu tentang tanda. Ferdinand de Saussure sebagai “pencetus” pertama dalam konsepnya tentang tanda, yang merupakan kombinasi antara penanda dan petanda menegaskan bahwa hubungan antara penanda dan petanda ini sifatnya arbitrer. Konsep ini juga digunakan oleh Barthes dalam semiologinya mengenai tingkat pemaknaan denotasi, konotasi dan mitos terhadap tanda.

Adalah Roland Barthes yang mengembangkan ide dari Saussure. Ia lah yang pertama kali menyusun model sistematik untuk menganalisis negosiasi dan gagasan makna interaktif tadi. Inti teori Barthes adalah gagasan tentang dua tatanan pertandaan (order of sgnifications).

Tatanan pertandaan pertama adalah landasan kerja Saussure. Tatanan ini menggambarkan relasi antara penanda dengan petanda di dalam tanda, dan tanda dengan referennya dalam realitas eksternal. Barthes menyebut hal ini sebagai denotasi.

Tatanan pertandaan kedua yang pertama disebut konotasi. Konotasi  menggambarkan interaksi yang berlangsung tatkala tanda bertemu dengan perasaan atau emosi penggunanya dan nilai-nilai kulturalnya. Ini terjadi ketika makna bergerak menuju subjektif atau setidaknya intersubjektif.

Budiman menyatakan dalam bukunya Semiotika dalam Tafsir Sastra: “Antara Riffaterre dan Barthes, bahwa dalam kerangka Barthes, “konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai ‘mitos’, yang berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu”.[1]. Mitos adalah bagian kedua dari tatanan kedua yang terdapat dalam tatanan pertandaan.

1.   Denotasi

Denotasi biasanya dimengerti sebagai  makna harfiah, makna yang “sesungguhnya,” bahkan kadang kala juga dirancukan dengan referensi atau acuan. Proses signifikasi yang secara tradisional disebut sebagai denotasi ini biasanya mengacu kepada penggunaan bahasa dengan arti yang sesuai dengan apa yang terucap. Akan tetapi, di dalam semiologi Roland Barthes dan pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sedangkan konotasi merupakan tingkat kedua.

            Denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna dan, dengan demikian, sensor atau opresi politis. Sebagai reaksi yang paling ekstrim melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya, yang ada hanyalah konotasi semata. Penolakan ini mungkin terasa berlebihan, namun ia tetap berguna sebagai sebuah koreksi atas kepercayaan bahwa makna “harfiah” merupakan sesuatu yang bersifat alamiah.

            Makna denotasi pada dasarnya meliputi hal-hal yang ditunjuk oleh kata-kata. Analisis denotasi dalam penelitian ini merupakan pemaknaan tingkat pertama terhadap makna tanda. Barthes mendefinisikan denotasi sebagai makna paling nyata dari tanda dalam teks. Secara khusus denotasi dapat didefinisikan sebagai first order of siginification terhadap sistem tanda yang terdiri dari penanda dan petanda.

“Dalam menjelaskan sistematisasi dalam proses pemaknaan, Barthes menyatakan bahwa kajian utama dalam pemaknaan dua tahap ini terletak pada konotasi. Barthes menjelaskan bahwa signifikasi tahap pertama adalah hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal atau Barthes lebih suka menyebutnya makna yang paling nyata dalam sebuah tanda”.[2]

 

            “Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda , dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran sebuah petanda”.[3]

Dalam gambar atau foto, pesan denotasi adalah pesan yang disampaikan langsung yang disampaikan gambar secara keseluruhan. Pesan langsung itu disebut pesan tanpa kode (a non coded-iconic). Kita langsung mengakui bahwa itu adalah kenyataan. Kita tidak mempunyai ruang untuk mempersoalkan hubungan antara foto atau gambar itu. Barthes menyebut “kedudukan foto atau gambar itu sebagai analogon”.[4]

 

2.   Konotasi

Konotasi biasanya mengacu pada makna yang menempel pada suatu kata karena sejarah pemakaiannya. Akan tetapi konotasi dikembalikan lagi secara retoris. Sebuah sistem konotasi adalah sistem yang lapis ekspresinya sendiri sudah berupa sistem penandaan: pada umumnya kasus-kasus konotasi terdiri dari sistem-sistem kompleks yang di dalamnya bahasa menjadi sistem pertama, misalnya seperti yang terlihat pada sastra.

Konotasi sebagai sistem yang tersendiri, tersusun oleh penanda-penanda, serta proses yang memadukan keduanya (signifikasi). Penanda-penanda konotasi – disebut konotator – terbentuk oleh tanda-tanda (kesatuan antara signifier dan signified) dari sistem pertama, sistem denotasi. Sementara itu, penanda-petanda konotasi, yang sekaligus berkarakter general, global, dan tersebar, merupakan fragmen ideologi.

“Menurut makna leksikal konotasi dibedakan dengan denotasi. Secara semiotik, konotasi adalah sistem semiotik tingkat kedua yang dibangun di atas sistem semiotik tingkat pertama (denotasi) dengan menggunakan makna (meaning atau signification) sistem tingkat pertama menjadi Expression (signifier)”.[5]

 

Sunardi mengatakan: “sebagai bahasa, tanda-tanda dalam sistem konotasi gambar bersifat historis. Sebagai bahasa objek, tanda-tanda dalam bahasa foto berupa gestures, attitudes, expressions, colours or effects endowed with certain meanings by virtue of the practice of a certain society (bahasa tubuh, sikap, ekspresi, pewarnaan, atau penggunaan efek dengan tujuan tertentu untuk kebaikan masyarakat tertentu). Jadi “stock of signs, the beginnings of a code” (kumpulan tanda-tanda adalah permulaan penandaan), di mana orang akan menghubungkan foto yang dihadapi bersifat historis”.[6]

 

Barthes menyebutkan dalam salah satu essainya The Photographic Message, yang dikutip Sunardi dalam bukunya Semiotika Negativa konotasi dalam foto dapat timbul melalui enam prosedur yang dikategorikan menjadi dua. Pertama, rekayasa yang secara langsung dapat mempengaruhi realitas itu sendiri. Rekayasa ini meliputi: trick effect, pose, dan pemilihan objek. Kedua, rekayasa yang masuk dalam wilayah “estetis” yang terdiri dari photogenia, aestheticsm, dan sintaks.

  1. Trick Effects (manipulasi foto) adalah tindakan memanipulasi foto, seperti menambah, mengurangi atau mengubah objek dalam foto sehingga menjadi gambar yang sama sekali lain dan memiliki arti yang lain pula. Display untuk foto di media cetak adalah 2:3. Dua bagian untuk lebar foto dan tiga bagian untuk panjang foto.
  2. Pose adalah gestur, sikap serta ekspresi objek yang berdasarkan stock of signs masyarakat tertentu dan memiliki arti tertentu pula.
  3. Objects adalah benda-benda atau objek yang dikomposisikan sedemikian rupa sehingga dapat diasosiasikan dengan ide-ide tertentu, seperti misalnya, rak buku sering diasosiasikan dengan intelektualitas.
  4. Photogenia adalah seni memotret sehingga foto yang dihasilkan telah “dibumbui” atau dihiasi oleh teknik-teknik lighting, eksposure, dan printing. Warna, teknik bluring, panning atau efek gerak juga termasuk di sini.
  5. Aestheticsm atau estika berkaitan dengan komposisi gambar secara keseluruhan yang menimbulkan makna tertentu”.[7]

 

Skema 3.2

Skema Konotasi

 

 

Sumber: Sunardi, ST, Semiotika Negativa, 2002

 

Dalam analisis semiotika, istilah signification biasanya hanya dipakai untuk sistem tanda tingkat kedua, karena ada tingkatan tanda menyerupai kasta. Pada tingkat ini kita menghubungkan tingkat signifier dan signified sesuai dengan kondisi atau pengalaman kita; jadi melibatkan subjektivitas kita sebagai audiens atau pemakai.

Konotasi mempunyai makna yang subjektif atau paling tidak intersubjektif. Hal ini disebabkan oleh konsep penanda dan petanda konotasi menghasilkan makna mengenai “bagaimana” objek digambarkan, atau dengan kata lain denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap sebuah objek; sedangkan konotasi adalah bagaimana menggambarkannya sehingga dikatakan konotasi bekerja dalam tingkat subjektif.

3.   Mitos

Mitos menurut Barthes merupakan “cara berpikir dari suatu kebudayaan tentang sesuatu, cara untuk mengkonseptualisasikan atau memahami sesuatu.[8] Barthes disini memikirkan mitos sebagai mata rantai dari konsep-konsep terkait. Barthes menambahkan, bila konotasi merupakan ‘pemaknaan tatanan kedua dari penanda, mitos merupakan pemaknaan tatanan kedua dari petanda”.[9]

Mitos adalah salah satu jenis sistem semiotik tingkat dua. Barthes mendefinisikannya sebagai tipe wicara, hal ini karena mitos adalah “cara orang berbicara, jadi bahasa sebagaimana kita pakai”.[10] Sebagai sebuah tipe wicara, menurut Barthes segala sesuatu  bisa menjadi mitos asalkan disajikan oleh sebuah wacana. Mitos tidak ditentukan oleh objek pesannya, namun oleh cara mitos mengutarakan pesan itu sendiri. Mitos hanya bisa memiliki landasan historis, karena mitos adalah tipe wicara yang dipilih oleh sejarah, sebab mitos tidak mungkin berkembang dari sifat dasar sejumlah hal.

“Barthes menegaskan, cara kerja pokok mitos adalah untuk menaturalisasikan sejarah. Hal ini menunjukkan kenyataan bahwa mitos sebenarnya merupakan produk kelas sosial yang mencapai dominasi melalui sejarah tertentu. Hal ini berarti peredaran mitos mesti dengan membawa sejarahnya, namun operasinya sebagai mitos membuatnya menyangkal hal tersebut, dan menunjukkan maknanya sebagai alami, dan bukan bersifat historis atau sosial”.[11]

 

Mitos dipakai untuk mendistorsi atau mendeformasi kenyataan. Tetapi hal ini terjadi sedemikian rupa sehingga pembaca mitos tidak menyadarinya, dan lewat mitos itu akan lahir berbagai stereotype tentang sesuatu hal atau masalah.

Sebuah teks, menurut Aart Van Zoest yang dikutip oleh Umar Junus dalam bukunya Mitos dan komunikasi, mengatakan “mitos tidak pernah lepas dari ideologi dan memiliki kemampuan untuk memanipulasi pemabaca kearah suatu ideologi”.[12] Mitos tidak dibentuk melalui penyelidikan, tetapi melalui anggapan berdasarkan observasi kasar yang digeneralisasikan oleh karenanya lebih banyak hidup dalam masyarakat. Ia mungkin hidup dalam gosip kemudian ia mungkin dibuktikan dalam tindakan nyata. Sikap seseorang terhadap sesuatu ditentukan oleh mitos yang ada dalam diri seseorang. Mitos ini menyebabkan seseorang mempunyai prasangka tertentu terhadap suatu hal yang dinyatakan dalam mitos.    

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          

Skema 3.3

Sistem Mitos

 

 

 

Sumber: Sunardi, ST, Semiotika Negativa, 2002

 

Dari skema di atas dapat di lihat bahwa, mitos atau sistem mitis dibuat dengan menggunakan sistem semiotik tingkat pertama sebagai signifier bagi sistem semiotik tingkat kedua. Signifier baru ini disebut form dan signified disebut concept. Hubungan antara form dan concept disebut signification atau mitos itu sendiri.

Menurut antropolog struktural Levi-Strauss, mitos merupakan bagian dari bahasa yang substansinya tidak terletak pada gaya, irama ataupun sintaksis, melainkan pada cerita yang diungkapkannya. Fungsi mitos terletak pada suatu tataran khusus yang di dalamnya makna-makna melepaskan diri dari landasan yang semata-mata kebahasaan.

 

4.   Mitis (Mythic Level)

Lebih lanjut dapat diterangkan adanya sistem pemaknaan ketiga (third level of signification) sebagai hasil dari sistem pemaknaan denotasi dan konotasi. Sistem pemaknaan ketiga mencatat adanya pengaruh budaya dalam pemaknaan konotasi sehingga melahirkan ideologi tertentu.

Analitis mitis meliputi identifikasi ketiga unsur sign, signifier, dan signified, melihat hubungan antar ketiga unsur tersebut dan melihat hubungan antara sistem semiotik tingkat pertama dan tingkat kedua.

Analisis mitis harus diarahkan pada asal usul pembentukan sistem semiotik tingkat dua dengan melihat unsur-unsur (konotator) sebagai unsur pembentuk makna.

 

Skema 3.4

Skema Sistem Mitis

 

 

Sumber: Sunardi, ST, Semiotika Negativa, 2002

 

Dari skema di atas dapat dilihat bahwa sistem mitis sebagai
sistem semiotik tingkat dua dapat kita jabarkan secara lebih rinci untuk kepentingan analisis. Dengan menempatkan mitos sebagai metabahasa, Barthes menekankan kode yang sedang dipakai lewat sistem semiotik dan bukannya realitas (reference) yang ditunjuk oleh sistem bahasa. Dalam analisis mitis, kita harus mengarahkan perhatian kita pada kode-kode yang paling potensial ditunjuk oleh metabahasa dalam kelompok masyarakat tertentu.

Nilai semiotik bisa kita pakai untuk menunjukkan kemungkinan
suatu mitos ditukarkan dengan suatu ide (ideologi) dan dibandingkan
dengan mitos-mitos lain. Suatu mitos dapat dipakai karena ia punya nilai. Kita dapat membandingkanya dengan berbagai mitos yang ada dalam suatu masyarakat.

“Ideologi disini merupakan istilah yang digunakan untuk melukiskan produksi sosial atas makna. Inilah cara Barthes menggunakan istilah ini tatkala ia berbicara mengenai pengkonotasian (connotator) yakni penanda konotasi, sebagai “retorika ideologi.” Dalam penggunaannya yang seperti ini, ideologi merupakan sumber pemaknaan tatanan kedua. Mitos dan nilai-nilai konotatif adalah ideologi karena ideologi itu maka mitos dan konotasi mewujudkan kegunaannya”.[13]

 

Berbicara tentang sistem mitis, kita melihat bahwa analisis semiotik tentang mitos sudah mengandaikan perlunya pengetahuan tenatang sistem mitis yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan; kita perlu juga pengetahuan tentang ideologi-ideologi yang ada.



[1]    Alex Sobur, Op. Cit., hal. 71.

[2]    Alex Sobur, Ibid., hal. 128.

[3]    Sunardi ST, Berger, Arthur Asa, Tanda-Tanda dalam Budaya Kontemporer, PT. Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta, 2000, hal. 55.

[4]    Sunardi ST, Semiotika Negativa, Kanal, Yogyakarta, 2002, hal. 161.

[5]    Ibid., hal. 85.

[6]    Ibid., hal. 171.

[7]    Ibid., hal 172.

[8]    Idi Subandi, Op. Cit., hal. 121.

[9]    Idi Subandi, Ibid., hal. 121.

[10]   ST. Sunardi, Op. Cit., hal. 74.

[11] Idi Subandi, Op. Cit., hal. 122.

[12]   Umar Junus, Mitos dan Komunikasi, Sinar Harapan, Jakarta, 1981.

[13]   John Fiske, Op. Cit., hal. 125.

Leave A Reply

Your email address will not be published.