Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Model Mengajar Synectik

0

Model Mengajar Synectik

1. Pengertian

Ada sejumlah model atau pendekatan mengajar yang perlu dikenal oleh para guru. Model-model atau pendekatan tersebut pada umumnya bersumber dari literatur asing. Model atau pendekatan itu ada baiknya diketahui untuk memperluas wawasan tentang pembelajaran. Berikut ini akan dijelaskan model yang sesuai dengan judul skripsi yang penulis bahas yakni model synectik.

Synectik merupakan suatu pendekatan baru yang menarik guna mengembangkan kreatifitas, dirancang oleh William J. J. Gordon dan kawan-kawannya. Mula-mula William J. J. Gordon menerapkan prosedur synectik untuk keperluan mengembangkan aktivitas kelompok dalam organisasi-organisasi industri, di mana individu dilatih untuk mampu bekerja sama satu dengan yang lainnya agar nantinya dapat berfungsi sebagai orang yang mampu mengatasi masalah atau sebagai orang yang mampu mengembangkan produksi.

Untuk memberikan batasan tentang pengertian model synectik ini, maka penulis akan memaparkan beberapa pengertian yang diungkapkan oleh para ahli antara lain:

Drs. H. Abdurrahman memberikan pengertian synectik[1] bahwa:

Synectik adalah model pengembangan kreatifitas untuk memecahkan masalah dengan melatih individu untuk bekerja sama mengatasi problema sehingga mampu meningkatkan produktivitasnya”.[2]

Prof. Dr. M.D. Dahlan, memberikan pengertian synectik mengemukakan, bahwa “Synectik adalah suatu cara baru untuk mengenal ide yang “asing” dan dengan cara ini menghasilkan perspektif baru”.[3]

Dr. Nana Sudjana dan Dra. Wari Suwariyah mengemukakan pengertian synectik, bahwa “Synectik adalah suatu pendekatan untuk mengembangkan kreatifitas siswa, termasuk kreatifitas dalam mengarang (creative writing)’.[4]

Dari pengertian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pengertian model synectik adalah suatu model mengajar untuk mengembangkan kreatifitas berfikir siswa baik secara kelompok maupun secara individual dan dapat pula mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar.

Partisipasi dalam suatu kelompok synectik tentang kreatif merupakan andil yang unik membantu mengembangkan pemahaman interpersonal dan rasa kemasyarakatan, menyebabkan yang bersangkutan dapat saling memahami satu dengan yang lainnya, menyadari kelemahan dan kebebasannya dalam berbagai persepsi anggota kelompok.

2. Proses dan Prosedur Penyusunan Model

Model mengajar adalah suatu rencana atau pola mengajar yang digunakan oleh guru baik dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran apa yang harus diberikan dan petunjuk yang bagaimana seharusnya guru mengajar di kelas.

a. Proses synectik

Menurut Gordon, ada empat yang mendasari synectik yaitu:

1) Kreatifitas merupakan kegiatan sehari-hari. Pada umumnya beranggapan bahwa proses kreatifitas adalah suatu pekerjaan yang unik seperti seni, musik, atau penemuan-penemuan yang baru.

Menurut Gordon, kreatifitas adalah kegiatan rutin setiap hari yang dilakukan oleh individu dan berlangsung terus-menerus sepanjang hidup manusia, karena itu model ini menekankan pada peningkatan kreatifitas untuk memecahkan masalah yang dihadapi jadi kreatifitas bukanlah sesuatu yang misterius, tetapi dapat diuraikan dan dijelaskan proses dan prosedurnya.[5]

2) Proses kreatif tidak selamanya misterius. Tetapi dapat dimanfaatkan untuk melatih individu dalam meningkatkan kreatifitas mereka. Menurut pandangan yang tradisonal kreatifitas itu merupakan suatu misterius, bahwa sejak lahir, dan kreatifitas ini bisa hilang sewaktu-waktu. Gordon percaya jika individu memahami proses kreatifitas, maka mereka dapat belajar atau memanfaatkannya untuk meningkatkan kreatifitas dimana mereka hidup atau bekerja, secara kelompok atau secara mandiri.

3) Kreatifitas tercipta di segala bidang. Ide ini sangat bertentangan dengan keyakinan umum bahwa kreatifitas itu hanya terbatas meningkat karena kreasi manusia.

4) Peningkatan berfikir kreatif individu dan kelompok sama. Individu dan kelompok menimbulkan ide-ide dan produk dalam berbagai hal, sangat berbeda dengan pendirian yang mengatakan, bahwa kreatifitas merupakan pengalaman yang bersifat individual.

Proses spesifik dalam synectik dikembangkan dari seperangkat anggapan dasar tentang psikologis kreatifitas.

Pertama, proses kreatif itu harus mampu dimunculkan agar dapat menuju kesadaran serta dapat dikembangkan secara nyata untuk membantu kreatifitas.

Kedua, komponen perasaan dianggap lebih penting dari pada komponen pemikiran atau intelektual. Kreatifitas merupakan pengembangan pola mental yang baru. Hal-hal yang bersifat irrasional dapat membuka fikiran dan membimbing mental guna memunculkan ide-ide baru.

Ketiga, elemen-elemen emosional dan irrasional sekiranya dapat dipahami untuk meningkatkan kemungkinan sukses dalam situasi pemecahan masalah.

b. Proses penyusunan model

Strategi synectik mempergunakan aktivitas metaporik yang terencana, memberikan struktur langsung di mana individu bebas mengembangkan daya imajinasinya dan pemahaman mereka dalam aktivitas kegiatan sehari-hari.

Ada tiga tipe analogi yang dipergunakan sebagai dasar latihan synectik yaitu:

1) Analogi personal

2) Analogi langsung

3) Menekankan pertentangan.[6]

Analogi personal menuntut siswa agar dapat ditempati terhadap ide atau objek yang dibandingkan. Siswa menjadi bagian dari elemen fisik suatu masalah. Penjabaran mungkin pada individu, perancang, binatang atau benda mati. Contohnya siswa diperintahkan: jadilah mesin motor apa yang kamu rasakan ketika kamu distater di pagi hari sementara akimu mati, dan ketika kamu tiba dilampu stop.

Gordon mengidentifikasi empat tingkat keterlibatan individu dalam analogi personal:

1) Orang pertama menjabarkan kenyataan

2) Orang pertama menganalisis dengan perasaan

3) Identifikasi empatetik dengan benda mati

4) Identifikasi empatetik dengan sesuatu yang hidup

Analogi personal adalah membedakan dua objek atau konsep secara sederhana. Analogi personal ini berfungsi menyederhanakan pengubahan kondisi suatu kenyataan atau problema menjadi situasi yang lain untuk memperoleh suatu pandangan baru tentang ide atau masalah.

Bentuk metapora yang ketiga adalah memberikan tekanan pada pertentangan, umumnya berbentuk dua buah kata yang bertentangan misalnya: kawan musuh, siang-malam.

 

3. Keunggulan dan Kelemahan Model Synectik

Dalam proses belajar mengajar sangatlah diperlukan seorang guru untuk dapat menerapkan suatu model mengajar untuk menghindari kejenuhan siswa dalam belajar, walaupun sangat disadari bahwa setiap model-model mengajar itu memiliki kelemahan dan keunggulan, demikian pula halnya dengan model mengajar synectik yang penulis bahas memiliki keunggulan dan kelemahan.

Di bawah ini penulis akan memaparkan kelemahan dan keunggulan model synectik.

a. Kelemahan model synectik

Seperti telah dibahas sebelumnya, bahwa model synectik adalah model pengembangan kreatifitas berfikir siswa, yang mula-mula dikembangkan oleh William J.J. Gordon, walaupun menurut Gordon model ini berhasil meningkatkan kreatifitas berfikir siswa dan dapat memecahkan masalah berbagai masalah yang dialami oleh siswa baik kelompok maupun individu, tetapi menurut Prof. Dr. S. Nasution M.A., mengklasifikasikan kelemahan model synectik, yakni model synectik menuntut persiapan siswa yang sering makan waktu yang banyak, akibatnya sering sukar dievaluasi karena memerlukan yang konfleks, pelaksanaannya makan waktu yang banyak”.[7]

Melihat kelemahan model synectik yang dipaparkan oleh para ahli tersebut, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa model synectik itu menuntut persiapan siswa yang lebih matang dan persiapan siswa yang lebih matang ini memakan waktu yang banyak, dan dari hasil apa yang dilakukan tersebut sulit untuk dievaluasi secara nyata, karena memerlukan beberapa kriteria yang lengkap. Pelaksanaan terhadap semuanya itu memerlukan waktu yang banyak.

Walaupun model synectik ini memiliki kelemahan umum, bukan berarti kelemahan itu membuat model synectik ini tidak efektif dijadikan oleh guru sebagai model mengajar dalam proses belajar mengajar, karena model synectik ini pula memiliki keunggulan–keunggulan.

b. Keunggulan model synectik

Seperti telah dijelaskaan sebelumnya bahwa setiap mengajar memiliki keunggulan dan kelemahan, termasuk pula model synectik.

Keunggulan-keunggulan model synectik ini diungkapkan oleh para ahli yakni:

Prof.Dr. S. Nasution M.A. mengungkapkan keunggulan model synectik yakni:

“Mendorong siswa menjelajahi hal–hal yang tak biasa, yang lain dari pada yang lain, menciptakan suasana baru, merangsang siswa mengadakan sintesis serta pertimbangan dan pemikiran kritis kreatif.”[8]

Drs. Abdurrahman mengungkapkan keunggulan model synectik sebagai berikut:

 

1)  Meningkatkan kemampuan kreatifitas siswa pada umumnya secara berkelompok

2) Meningkatkan kemampuan dan kreatifitas siswa secara individual

3) Membina keakraban dan kerukunan kelompok.

4) Meningkatkan produktivitas secara perorangan maupun berkelompok.[9]

Menurut Prof. Dr. M.D. Dahlan mengungkapkan keunggulan model synectik yakni:

 

1) Model synectik bermanfaat dalam kurikulum

2) Model synectik dapat mengembangkan kreasi menulis

3) Model synectik dapat menjelajahi masalah-masalah sosial

4) Sebagai problem solving

5) Pengembangan kreasi rencana produk

6) Memperluas perspektif tentang konsep.[10]

Model synectik dapat bermanfaat dalam pembuatan kurikulum karena model synectik dirancang untuk meningkatkan kreatifitas siswa baik secara individu maupun secara kelompok. Dengan pengalaman synectik ini dapat membentuk perasaan kemasyarakatan para siswa. Siswa tersebut dapat belajar satu sama lain seperti melihat bagaimana rekan-rekannya bereaksi tentang suatu ide atau masalah.

Model synectik dapat merangsang kreasi menulis siswa karena aktivitas metaporik dari model synectik merangsang imajinasi siswa, dan hal ini membentuk fikiran dan perasaan siswa dalam menulis.

Model synectik dapat menjelajahi masalah-masalah karena strategi dari model synectik ini yakni, metapora atau analogi menciptakan jarak, sehingga konfrontasi itu tidak mengancam siswa dan memungkinkan terjadinya diskusi dan saling menguji diri. Model synectik ini dapat pula membantu memecahkan baik masalah pribadi maupun masalah sosial dan itu dapat dipertanggungjawabkan.

Model synectik dapat pula digunakan untuk menciptakan suatu rencana atau produk. Produk adalah suatu yang nyata seperti lukisan, gedung atau buku-buku, sedangkan suatu pola seperti ide-ide, konsep-konsep, atau pemahaman baru yang dipergunakan sebagai bahan untuk transportasi.

Model synectik dapat pula memperluas pandangan tentang suatu konsep, karena model ini dapat dimanfaatkan untuk semua tingkatan umur, meskipun oleh anak-anak yang masih sangat mudah untuk memperkuat atau memperpanjang latihan.

Sesuai dengan analisa tersebut di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kelemahan model synectik itu dapat ditutupi oleh keunggulan model synectik. Prosedur synectik dapat dimanfaatkan siswa dalam semua bidang studi baik sains maupun seni. Dapat pula prosedur ini diaplikasikan terhadap hubungan guru siswa di dalam kelas di mana guru membuat materi untuk siswa-siswanya.

4. Tehnik pelaksanaan oleh guru, faktor pendukung dan penghambat.

a. Teknik pelaksanaan oleh guru

Teknik pelaksanaan model synectik oleh guru, yakni guru berusaha untuk memaparkan sesuatu yang baru, mengenal keanehan, dan hal ini akan membantu para siswa memahami masalah ide, atau produk dalam sesuatu yang baru.

Ada dua strategi atau model mengajar yang mendasari prosedur synectik itu yakni: “Strategi pertama: menciptakan sesuatu yang baru. Strategi kedua : memperkenalkan keanehan.”[11]

Strategi pertama membantu para siswa melihat sesuatu yang dikenalkannya melalui sesuatu yang tidak dikenal dengan mempergunakan analogi-analogi untuk menciptakan konsep jarak, kecuali dalam langkah yang terakhir, para siswa kembali ke masalah yang sebenarnya dengan memberikan perbedaan yang berarti. Tujuan strategi ini untuk dapat mengembangkan suatu pemahaman baru, misalnya terhadap gerak-gerik atau tingkah laku seseorang, pemecahan masalah-masalah hubungan sosial, antara lain perkelahian, pemogokan dan sebagainya. Peranan guru hanya memberikan bimbingan pada tahap awal dan tahap akhir kegiatan.

Strategi kedua, memperkenalkan keanehan memberikan pemahaman para siswa untuk menambah dan memperdalam hal-hal yang baru atau materi yang sulit. Metapora dipergunakan untuk keperluan penganalisaan, bukan untuk menciptakan konsep jarak seperti halnya pada siswa strategi pertama.

Kedua strategi tersebut di atas memiliki tahapan-tahapan yaitu:

1)     Tahapan strategi pertama:

(a) mendeskripsikan kondisi saat ini, yakni guru menyuruh siswa mendeskripsikan situasi atau sesuatu topik yang mereka lihat saat ini.

(b) Analogi langsung, salah satu diseleksi dan selanjutnya dikembangkan.

(c) Analogi personal, yakni para siswa mengambil analogi yang diseleksinya pada tahap kedua.

(d) Konflik ditekan, yakni berdasarkan pada tahap kedua dan ketiga, para siswa mengemukakan beberapa konflik dan dipilih salah satunya.

(e) Analogi langsung, yakni para siswa mengembangkan dan menyeleksi analogi langsung lainnya berdasarkan konflik tadi.

(f) Meninjau tugas yang sebenarnya, yakni guru menyuruh para siswa meninjau kembali tugas atau masalah yang sebenarnya dan menggunakan analogi terakhir dan masuk pada pengalaman synectik.

2)     Tahapan Strategi kedua:

(a) Input tentang keadaan yang sebenarnya, yakni guru menyajikaan informasi tentang suatu topik yang baru.

(b) Analogi langsung, yakni guru mengusulkan analogi langsung dan menyuruh siswa untuk menjabarkannya.

( c) Analogi personal, yakni guru menyuruh siswa untuk menjadi analogi langsung.

(d) Membedakan analogi, yakni para siswa menjelaskan dan menerangkan kesamaan antara materi yang baru dengan analogi yang langsung.

(e) Menjelaskan perbedaan, yakni para siswa menjelaskan mana analogi-analogi yang tidak sesuai.

(f) Penjelajahan, yakni para siswa menjelajahi kembali kebenaran topik-topik dengan batasan-batasan mereka.

(g) Membangkitkan analogi, yakni para siswa memberikan analogi sendiri secara langsung dan menjelajahi persamaan dan perbedaan.[12]

Dari tahapan strategi tersebut di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa dalam penerapan model synectik ini oleh guru yakni guru tersebut hanya memberikan gambaran atau informasi tentang sesuatu bahan pelajaran kemudian siswa tersebut mengelolanya sendiri, nanti pada tahap akhir baru guru memberikan bimbingan lagi. Jadi peranan guru hanya memberikan gambaran dan bimbingan hanya pada tahap awal dan tahap akhir kegiatan.

b. Faktor pendukung dan penghambat

1) Faktor Pendukung

Penerapan model mengajar synectik ini akan berlangsung dengan baik apabila didukung oleh sarana-sarana pendidikan yang lengkap.

Menurut Prof. Dr. M.D. Dahlan mengungkapkan sistem pendukung model synectik yaitu:

Dalam Prosedur synectik, kelompok membutuhkan semua fasilitas melalui seorang pemimpin yang kompeten. Dalam hubungannya dengan masalah-masalah yang membutuhkan laboratorium, mereka membutuhkan peralatan untuk dapat digunakan dalam keperluan praktek yang lebih berdayaguna memberi manfaat bagi siswa.[13]

Dari pendapat ahli tersebut di atas, maka penulis menarik kesimpulan bahwa faktor pendukung model synectik adalah; (a) Guru yang profesional dalam bidangnya masing-masing, (b) Adanya laboratorium yang lengkap, (c) Tersedianya peralatan atau sarana pendidikan yang baik untuk keperluan praktek bagi siswa.

2) Faktor penghambat

Penerapan modal mengajar synectik ini akan sulit untuk diterapkan oleh guru-guru apabila sarana pendidikan tidak mendukung.

 

Faktor penghambat dari penerapan model synectik ini adalah:

(a) Guru-guru kurang profesional

(b) Tidak ada laboratorium untuk praktek

(c) Kurangnya peralatan atau sarana yang ada di sekolah.

 

 



[1] H. Abdurrahman, Pengelolaan Pengajaran. (Ujung Pandang: Bintang Selatan, 1998), h. 146.

[2]Ibid., h. 144.

[3]M.D. Dahlan, Model-model Mengajar, (Cet. II; Bandung: Diponegoro, 1990) h. 101.

[4]Nana Sudjana dan Wari Suwariyah, Model-model Mengajar CBSA, (Cet, I; Bandung: Sinar Baru, 1991), h. 49

[5]H. Abdurrahman, op. cit., h. 145.

[6]M.D. Dahlan, op.cit., h. 90.

[7]S. Nasution, Kurikulum dan Pengajaran, (Cet. I; jakarta: Bumi Aksara, 1989) h. 82-83.

[8]Ibid.

[9] Abdurrahman, op. cit., h. 146-147

[10]M.D. Dahlan, op. cit., h. 99-100.

[11]Ibid., h. 93.

[12] M.D. Dahlan. Model-model Mengajar. (Cet. III: Bandung; Diponegoro, 1990), h. 109.

[13]M.D. Dahlan, op. cit., 99.

Leave A Reply

Your email address will not be published.