Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Konsep Dasar Terapi Tawa

0

Konsep Dasar Terapi Tawa

           

            Saat kita berbahagia, secara alamiah kita banyak tersenyum dan tertawa. Kita tidak sadar membuat diri kita terlihat dan merasa riang. Saat suasan hati kita baik, raut muka kita secara alami mencerminkan jiwa kita yang riang. Saat kita merasa murung, secara alami kita terlihat murung dan muram. Dengan kata lain, kita lebih dulu merasa bahagia, atau sedih – dan raut muka yang tepat akan muncul sendiri.

            Dari penelitian mutakhir soal ini tampaknya juga benar bahwa jika memakasa munculnya raut tertentu pada kita, maka pikiran dan tubuh kita akan menanggapinya, dan secara biokimia akan mengenalinya. Jika kita merasa sedih karena alasan tertentu, dan dimenta tersenyum, ekpresi bahagia kita benar-benar akan membuat perasaan kita menjadi lebih baik, sebab ia mempengaruhi hormon-hormon yang mengalir dalam sistem tubuh (Hodkinson, 1991).

            Teori ini dikemukakan dengan baik oleh ilmuwan AS, Paul Ekman, Robert Zajonc dari Ann Arbor, Universitas Michigan. Mereka meneliti mana yang lebih dulu: ekpresi wajah atau emosi.

            Sebelum Zajonc dan Ekman mengemukan teorinya, pioner pertama dari penelitian ini adalah seorang fisioloh Prancis, Israel Waynabaum dengan bukunya yang berjudul  Physionomie Humaine: Son Mechanisme et son Role Social yang terbit tahun 1906. Waynbaum percaya bahwa otot-otot muka bekerja seperti penjepit pembuluh darah yang mengatur aliran darah ke otak. Aliran darah pada gilirannya memengaruhi perasaan kita. Teori yang ia kembangkan menyatakan bahwa emosi seringkali mengikuti ekpresi wajah, bukan mendahuluinya (Lewis et al, 2004)

            Waynbaum mengajukan hipotesa bahwa segala tanggapan emosi yang tampak, seperti merona, terisak-isak, menangis, dan seterusnya berkaitan dengan proses-proses vaskuler (pembuluh darah). Menagis dan tertawa mempengaruhi sirkulasi darah, terutama melalui kerja diafragma. Waynbaum berpendapat bahwa semua reaksi emosi, entah positif atau negatif, mempengaruhi sirkulasi dan bahwa ekspresi wajah memainkan peran penting dalam proses ini (Lewis et al, 2004)

            Waynbaum bertanya, mengapa tersenyum dan tertawa selalu dikaitkan dengan kegembiraan dan sukacita? Ia menduga bahwa peningkatan aliran darah ke otak –yang merupakan akibat fisologis dari tersenyum dan tertawa – terkait dengan kesehatan tubuh dan suasana hati yang positif. Sebaliknya, suasana hati dan ekpresi tertekan menghasilkan penurunan aliran darah ke otak. Pada gilirannya hal ini dapat mengakibatkan penyakit fisik yang sebenarnya. Jadi, orang dengan wajah terus menerus terlihat murung menyebabkan penurunan aliran darah ke otak secara permanen. Artinya, otaknya tidak mendapat gizi yang memadai dan tidak bekerja pada taraf yang optimum (Plutchik, 2002).

            Otot zigomatik berkaitan erat dengan senyum dan kebahagiaan. Menurut teori Waynbaum ini, otot ini secara langsung mengakibatkan darah mengalir di seluruh otak. Pembuluh vena dipenuhi darah, dan hal ini sendiri telah meringankan perasaan dan membuat merasa senang (Plutchik, 2002)

            Dalam bukunya, Waynbaum mengajukan gagasan bahwa tertawa merupakan tindakan yang sehat karena peningkatan sirkulasi itu bersifat baik. Tertawa itu seperti mandi oksigen –sel-sel dan jaringan mendapat tambahan oksigen sehingga orang merasa lebih segar. Sebaliknya, merasa dan berprilaku murung mengakibatkan pengurangan oksigen dalam darah sehingga sel-sel kekurangan oksigen. Sel-sel darah menjadi lapar dan kosong, menghasilkan depresi, kecemasan, dan kemarahan (Plutchik, 2002)

            Mengomentari teori Waynbaum ini, Zajonc menyatakan bahwa darah arteri berdampak mendinginkan otak. Kemungkinan besar suhu otak mempengaruhi neurotransmiter yakni hormon-hormon yang membawa keadaan emosi dan perasaan keseluruh bagian tubuh. Kemungkinan besar saat kita merasa sedih, dan aliran darah ke otak terhambat, maka ini juga melemahkan proses pelepasan dan sintesis neurotransmiter yang penting (Hodgkinson, 1991).

            Saat otak dialiri darah beroksigen tinggi dengan baik, maka ia akan bekerja lebih baik ketimbang saat ia kekurangan oksigen. Yang lebih penting lagi, penyakit adalah hasil ketidakselarasan dalam tubuh. Lebih dari masuk akal dikatakan bahwa kita akan cenderung merasa sedih dan sakit jika jumlah darah ke otak membuat otak tidak dapat bekerja secara optimal (Hodgkinson, 1991).

            Otak mengingat sesuatu untuk kurun waktu yang sangat lama dan agak mustahil ia sepenuhnya lupa hal-hal yang pernah ia alami. Jadi, jika Anda mencoba tersenyum saat anda merasa sedih, otak akan mengingat bahwa di masa lalu ekpresi ini berkaitan dengan kebahgiaan, dan akan segera menanggapinya dengan cara melepaskan neurotransmiter-neurotransmiter yang tepat. Hasilnya kita akan menjadi lebih berbahagia dan merasa lebih positif (Plutchik, 2002).

            Zajonc menyatakan bahwa hal ini dapat digunakan untuk membantu merawat pasien yang mengalami gangguan psikosomatis dan kondisi-kondisi negatif seperti depresi dan kecemasan. Jika pasien yang cemas dan depresi dapat diajari untuk mengendalikan otot-otot wajah yang tepat sehingga mereka terlihat bahagia, bukan sedih, maka mereka akan menyadari bahwa perasaan mereka benar-benar berubah lebih baik, tanpa harus mengubah apapun.

            Jadi terapi tawa atau humor adalah cara alami untuk menghadapi sakit mental dan perasaan tetekan. Meskipun cara ini tidak dijamin berhasil untuk semua kasus, dan keberhasilannya tergantung pada seberapa lama gangguan itu telah dialami dan seberapa besar, akan tetapi setidak-tidaknya tersenyum akan membuat penderita lebih riang dan dan secara sementara terbebas dari masalah. Zajonk menyarankan untuk mengajari orang untuk tersenyum untuk tersenyum sebagai bagian dari praktis atau terapi mereka.

            Hasil-hasil penelitian ilmiah terbaru memperlihatkan bahwa kebahagiaan bukan hanya terletak dalam pikiran, tetapi terkandung dalam otot-otot dan hormon kita. Tindakan menggerakkan otot-otot wajah membentk ekpresi yang berkaitan dengan kesukacitaan dapat menghasilkan efek positif yang berdampak besar pada sistem saraf. Paul Ekman, peneliti utama dalam bidang ini, meyakini bahwa mekanika gerakan otot-otot wajah sangat berkaitan dengan sistem saraf otonom, yang mengatur denyut jantung, pernapasan, dan fungsi-fungsi yang tidak bisa dikendalikan secara sadar.

            Tindakan tersenyum, dan meskipun tidak ingin, juga dapat mempengaruhi jiwa aktivitas SSO orang-orang di sekitar. Orang-orang akan cenderung meniru ekpresi orang lain, jika seseorang memberi salam di pintu sembari tersenyum, Anda akan cenderung membalas tersenyum. Jika mereka tampak marah dan tidak bahagia, Anda akan juga bisa meniru ekpresi mereka.

Leave A Reply

Your email address will not be published.