Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Kondisi Fisik Tanah

0

Kondisi Fisik Tanah

 

Berbagai   aktivitas   dalam   kegiatan   penambangan   menyebabkan   rusaknya struktur,  tekstur,  porositas  dan  bulk density  sebagai  karakter  fisik  tanah  yang penting   bagi   pertumbuhan   tanaman.   Kondisi   tanah   yang   kompak   karena pemadatan   menyebabkan   buruknya   sistem   tata   air   (water   infiltration   and percolation) dan peredaran udara (aerasi) yang secara langsung dapat membawa dampak negatif terhadap fungsi dan perkembangan akar. Akar tidak dapat berkembang  dengan  sempurna  dan  fungsinya  sebagai  alat  absorpsi  unsur  hara akan terganggu, akibatnya tanaman tidak dapat berkembang dengan normal.

Rusaknya struktur dan tekstur juga menyebabkan  tanah tidak mampu untuk menyimpan  dan meresap  air pada musim hujan, sehingga  aliran air permukaan (surface run off) menjadi tinggi. Sebaliknya tanah menjadi padat dan keras pada musim kering sehingga sangat berat untuk diolah yang secara tidak langsung berdampak pada kebutuhan tenaga kerja.

 

Kondisi Kimia Tanah

 

Dalam profil tanah yang normal lapisan tanah atas merupakan sumber unsur- unsur hara makro adalah unsur hara yang diperlukan dalam jumlah banyak seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium dan belerang dan mikro yaitu mangan,   boron, tembaga,  besi, zeng serta molibdenum  yang sangat  esensial  bagi pertumbuhan tanaman (Soepardi, 1983). Selain itu juga berfungsi sebagai sumber bahan organik untuk menyokong kehidupan mikroba.

Hilangnya lapisan tanah atas (top soil) yang proses pembentukannya memakan waktu  ratusan  tahun (Bradshaw, 1983)  dalam  Badri (2004),  dianggap sebagai penyebab       utama   buruknya          tingkat                   kesuburan               tanah      pada            lahan   bekas pertambangan.   Kekahasan   unsur   hara   esensial   seperti   nitrogen   dan   fosfor, toksisitas  mineral  dan kemasaman  tanah (pH yang rendah)  merupakan  kendala umum dan utama yang ditemui pada lahan pasca penambangan.

Lahan bekas  tambang  yang  akan  ditanami  biasanya  berupa  campuran  dari berbagai  bentuk  bahan  galian  yang  ditimbun  satu  sama  lainnya  secara  tidak beraturan  dengan  komposisi  campurannya  sangat  berbeda  satu  tapak  ke  tapak lainnya. Hal ini tentunya mengakibatkan  sangat bervariasinya  reaksi tanah (pH) dan kandungan unsur hara pada areal-areal yang ditanami.

 

 

2.2.3. Kondisi Biologi Tanah

 

Hilangnya   lapisan   top   soil   dan   serasah   sebagai   sumber   karbon   untuk menyokong kehidupan mikroba potensial merupakan penyebab utama buruknya kondisi populasi mikroba tanah. Hal ini secara tidak langsung akan sangat mempengaruhi kehidupan tanaman yang tumbuh di permukaan tanah tersebut.

Keberadaan mikroba tanah potensial dapat memainkan peranan sangat penting

 

bagi perkembangan dan kelangsungan hidup tanaman. Aktivitasnya tidak saja terbatas pada penyediaan unsur hara, tetapi juga aktif dalam dekomposisi serasah dan bahkan dapat memperbaiki struktur tanah.

Sebaran tanah di areal penelitian, ditetapkan dengan mengacu pada studi terdahulu yang pernah dilakukan (Dokumen AMDAL PT. Aneka Tambang Tbk,

2006). Klasifikasi  tanah yang dilihat langsung  dilapangan  menggunakan  sistem klasifikasi (USDA 1977). Sebaran tanah pada areal penelitian terdiri dari 2 Ordo tanah yaitu : Inceptisol dan Oksisol. Ordo tanah ini menurunkan tiga grieat group masing- masing Dystropepts,  Haplortox  dan Akrothox . Sifat fisik tanah meliputi struktur, tekstur, permeabilitas, berat volume dan porositas. Hasil pengukuran selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.

 

Tabel 1. Sifat fisik tanah di lokasi penambangan nikel Tanjung Buli

 

 

 

Parameter           Satuan


Dystropepts             Haplortox         Akrothox

1         2          3          1          2          1          2

 

Pasir (Sand) Lanau (Silt) Liat (Clay) BD

Ruang pori total

Struktur

Permeabilitas


%

%

%

g/cc

%vol

– cm/jam


40

40

20

0,94

64,5

5,4


44

40

16

0,82

69,1

5,54


26

42

32

1,11

58,1

1,34


22

36

42

1,25

52,8

1,22


24

32

44

1,23

53,6

1,15


30

44

26

1,14

58,4

2,24


46

36

1,16

57,5

4

2,32

 

Sumber : Dokumen AMDAL  PT. Aneka Tambang Tbk Unit Bisnis Pertambangan Nikel Daerah

Operasi Maluku Utara , 2006

 

 

Berdasarkan  Tabel  1  diatas  menunjukkan bahwa  sifat  fisik  tanah  di areal penelitian bervariasi. Tekstur tanah yang merupakan perbandingan  antara fraksi pasir,  lanau  dan  liat  menunjukkan  variasi  untuk  masing- masing  jenis  tanah, demikian pula untuk sifat fisik tanah yang lain. Secara umum perbedaan sifat fisik

 

 

tersebut akan berpengaruh pada kemampuan tanah untuk menahan erosi. Menurut Handayani (2002), agregat tanah terbentuk diawali dengan suatu mekanisme yang menyatukan partikel-partikel  primer (pasir, debu dan liat) membentuk gumpulan atau kelompok dan dilanjutkan dengan adanya komponen yang bertindak sebagai pengikat partikel-partikel tanah agar partikel-partikel tanah menjadi lebih kuat.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.