Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Komponen Proses Belajar Mengajar

0

Dalam proses belajar mengajar ada beberapa komponen yang harus dipenuhi, apabila salah satu dari komponen tersebut tidak ada maka proses belajar mengajar tidak akan berlangsung dengan baik.

Oemar Hamalik, mengemukakan bahwa:

Pengajaran, materi pelajaran, teknik mengajar, siswa, secara operasional, ada 5 variabel utama yang berperan dalam proses belajar mengajar, yakni: tujuan guru dan logistik.[1]

Sedangkan menurut Dr. Nana Sudjana, mengemukakan bahwa:

Ada empat persoalan dalam proses belajar mengajar yakni: persoalan pertama berhubungan dengan tujuan pengajaran, persoalan kedua berbicara tentang materi dan bahan pengajaran, persoalan ketiga berhubungan dengan metode dan alat yang digunakan dalam proses pengajaran, persoalan keempat berkenaan dengan penilaian dalam proses pengajaran.[2]

Keempat persoalan (tujuan, bahan, metode dan alat penilaian) menjadi komponen utama yang harus dipenuhi dalam proses belajar mengajar. Keempat komponen tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Berikut ini penulis akan menguraikan keempat komponen tersebut yaitu:

a. Tujuan pengajaran

Tujuan pengajaran merupakan arah yang hendak dicapai dalam proses belajar mengajar. Umumnya tujuan pengajaran bersumber dari tujuan kurikuler (yang terkandung dalam setiap bidang studi), sedangkan tujuan itu bersumber dari tujuan lembaga (tujuan instruksional umum) yang mengarah pada tujuan umum (tujuan pendidikan nasional). Jadi tujuan pendidikan tersusun dalam struktur berjenjang dari tingkat yang paling umum sampai ke tingkat operasional, yang disebut tujuan instruksional khusus (TIK).

Tujuan pengajaran ini berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran. Tujuan ini pada dasarnya merupakan rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki siswa setelah ia menyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar dalam proses belajar mengajar.

 

 

b. Bahan atau materi pelajaran.

Materi pelajaran adalah hal-hal yang pokok yang akan disajikan kepada siswa berkaitan dengan usaha pencapaian tujuan pengajaran. Materi tersebut bersumber dari masing-masing bidang studi. Setiap bidang studi memiliki sejumlah materi pelajaran, yang berbeda satu sama lain. Satu materi pelajaran turut menentukan strategi pencapaian yang akan digunakan, sistem lingkungan belajar dibutuhkan yang memungkinkan pemberian kesempatan yang bervariasi.

Di dalam materi pelajaran terkandung aspek-aspek materi yakni: konsep, fakta, prosedur, keterampilan dan sebagainya, atau dapat dikategorikan sebagai pengetahuan dan keterampilan itu sendiri mengundang dua aspek yakni aspek reproduktif dan aspek produktif.

Bahan pelajaran inilah yang diharapkan dapat mewarnai tujuan, mendukung tercapainya tujuan atau tingkah laku yang diharapkan untuk dimiliki siswa.

c. Metode dan teknik mengajar

Metode adalah cara, sedangkan teknik adalah prosedur atau langkah dan teknik yang akan ditentukan oleh tujuan pengajaran yang hendak dicapai dan materi yang hendak diajarkan.

Setiap strategi pengajaran pada hakekatnya memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Karekteristik tersebut menyebabkan satu metode berbeda dengan lainnya, baik secara konseptual maupun secara operasional.

 

d. Alat penilaian

Dalam menilai hasil belajar siswa, guru perlu menetapkan suatu kriteria tertentu. Melalui kriteria itu maka dapat diperoleh informasi mengenai hasil yang diperoleh siswa, untuk kemudian dapat ditetapkan kedudukan atau posisi siswa dalam hubungannya dengan penguasaan bahan pengajaran, penetapan kriteria dalam menilai hasil belajar siswa pada hakekatnya berhubungan dengan sistem penilaian. Ada dua sistem penilaian hasil belajar, yakni:

1) Kriteria penilaian acuan norma disingkat PAN atau norm referenced

2) Kriteria penilaian acuan patokan disingkat PAP atau criteria referenced.

Kedua sistem penilaian yang sering digunakan sebagai patokan (kriteria dalam mengukur tingkat keberhasilan prestasi belajar siswa.[3]

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaannya

Kegiatan belajar mengajar, merupakan bahagian dari pendidikan yang tidak terlepas dari beberapa faktor yang mencakup: faktor anak didik, pendidik, alat pendidikan dan tujuan pendidikan. Maka demikian pula dengan proses belajar mengajar tentunya tidak terlepas dari beberapa faktor tersebut yang dikenal dengan faktor siswa, faktor guru, faktor materi atau bahan pelajaran, faktor lingkungan dan faktor lainnya, dimana tujuan utamanya adalah terjadinya suatu perubahan tingkah laku.

Perubahan tingkah laku yang diharapkan adalah suatu tingkah laku yang diperlukan dalam situasi kerja tertentu. Jika perubahan tingkah laku terjadi sesuai yang diharapkan, yakni tercapainya pengetahuan, kemahiran, keterampilan, kepribadian, sikap, kebiasaan dan sebagainya, maka kelak ia akan mampu melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dengan baik.

Suatu pendidikan khususnya pendidikan di SMU dikatakan berhasil apabila, benar-benar terjadi perubahan tingkah laku yang diharapkan, juga bahwa dicapainya perubahan tingkah laku itu terlaksana dalam waktu yang telah ditentukan, dengan perkataan lain terjadinya secara efektif dan efisien.

. . . Ada keadaan dimana pendidikan dikatakan tidak ada atau kurang berhasil yaitu:

–  Tidak tercapainya perubahan tingkah laku yang diharapkan

– Perubahan tingkah laku terjadi dalam waktu relatif lama atau lebih lama dari batas waktu yang ditentukan.[4]

Selanjutnya bila hal tersebut terjadi, maka berarti bahwa proses belajar tidak berjalan semestinya, sehingga perubahan tingkah laku tidak berjalan semestinya, tidak sesuai dengan harapan. Hal tersebut tentu tidak dikehendaki.

Bila terjadi ketidakberhasilan dalam belajar, maka dalam penanggulangannya perlu memperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar.

Dalam hal ini penulis akan mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan proses belajar mengajar, yakni:

a. Bahan, metode mengajar dan mengajar

Aspek belajar akan berhasil atau tidak tergantung dari bahan yang diberikan, bahan yang diberikan hendaknya sesuai dengan taraf perkembangan dan kemampuan individu, juga bahan itu menentukan metode yang bagaimana yang sesuai.

Metode mengajar adalah suatu alat atau cara digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Berhasil atau tidaknya tujuan pengajaran tentunya sangat dibutuhkan metode pengajaran yang efektif. Dalam hubungan ini guru hendaknya harus pandai memilih dan menerapkan metode yang baik. Di samping itu, pengajar memegang peranan penting, pengajar harus menguasai teknik mengajar, menguasai bahan, juga harus mengadakan kontak dengan anak didiknya dan sebagainya.

Faktor bahan, metode mengajar dan pengajaran sering berpengaruh terhadap jalannya proses belajar mengajar, hal ini disebabkan karena ada bahan atau materi pelajaran yang sulit atau lambat dimengerti oleh sebahagian dari siswa, demikian pula dengan metode yang digunakan kurang sesuai dengan situasi dan kondisi. Dan demikian pengajar cukup berpengaruh terhadap jalannya proses belajar mengajar karena pengajarlah yang menentukan metode yang digunakan itu.

Dari pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa perbuatan pendidik tidak boleh diadakan tanpa adanya kesanggupan dan tanpa disadari. Selain dari pada itu perbuatan-perbuatan itu harus bertujuan meningkatkan kesusilaan anak didik. Jika kita menganalisis proses belajar mengajar pada intinya bertumpuh pada satu persoalan, yaitu bagaimana guru memberi kemungkinan bagi siswa agar terjadi proses belajar yang efektif atau dapat dicapai hasil yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

 

b. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh didalam proses belajar mengajar. Adapun faktor lingkungan yang akan dibahas pada pasal ini meliputi:

1) Lingkungan keluarga

2) Lingkungan Sekolah

3) Lingkungan Masyarakat

Ketiga lingkungan belajar tersebut satu sama lain saling mempengaruhi dan berkaitan satu dengan lainnya. Di antara ketiganya mempunyai karakteristik masing-masing dalam kaitannya dengan belajar, baik belajar yang kategorinya berhasil maupun tidak berhasil atau disebut pula kesulitan dalam belajar. Untuk lingkungan ini dibahas satu demi satu sebagai berikut:

1) Lingkungan keluarga

Keluarga sebagai lingkungan yang pertama dan utama dari individu. Keluarga merupakan peletak dasar pertama pendidikan dalam pembentukan nilai-nilai dan kepribadian anak sejak kecil sampai usia 7 (tujuh) tahun.

2) Lingkungan sekolah

Seperti telah diketahui bahwa sekolah adalah lembaga pendidikan formal, tempat membina dan membimbing siswa tidak selalu memperlancar proses belajar.

Dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan kesulitan belajar seperti:

a) Kurang alat (sarana dan prasarana) sekolah, baik yang berbentuk fisik maupun yang berbentuk non fisik berupa gedung dan perabotannya.

b) Kondisi lingkungan sekitarnya seperti: kebersihan, keadaan suhu udara, penerangan dan sebagainya.

c) Demikian pula guru dengan kualifikasinya seperti cara mengajar, cara mengelola kelas, cara menilai yang kesemuanya berhubungan erat dengan tingkat pendidikan dan keterampilan serta pengalaman yang telah dimiliki sebagai pendidik, pengasuh dan pembimbing sekolah yang baik. Yang tidak kurang pentingnya yang telah disebutkan diatas adalah kurikulum sekolah, kemampuan anak didik dan kemampuan sekolah. Hal ini dapat mempengaruhi kegiatan belajar siswa di sekolah.

3) Lingkungan masyarakat

Lingkungan ini tidak kalah pentingnya dengan kedua lingkungan yang telah dibicarakan di atas. Lingkungan masyarakat seperti: Media massa, kelompok organisasi sosial budaya, serta nilai-nilai agama yang kesemuanya mempengaruhi kesulitan belajar seseorang atau kelompok siswa. Media massa seperti: televisi, komik, selebaran-selebaran, panpel, atau spanduk dan sebagainya.

c. Pengetahuan Dasar

Pengetahuan dasar atau kecakapan dasar yang diperoleh sebelumnya mempengaruhi pula hasil belajar individu, di dalam sekolah ataupun di luar sekolah. Anak sebelum mengenal sekolah sudah memiliki pengetahuan dasar yang diperoleh dari orang tua atau keluarga (rumah tangga). Pengetahuan inilah yang menjadi dasar selanjutnya bagi anak di sekolah dasar menjadi pengetahuan dasar di sekolah menengah, pengetahuan yang diperoleh di sekolah menengah akan menjadi pengetahuan dasar di sekolah tinggi atau perguruan tinggi. Makin kuat pengetahuan dasar yang diperoleh individu dari sekolah sebelumnya makin mudah keberhasilan dapat diraih. Akan terjadi sebaliknya jika individu memiliki pengetahuan dasar yang kurang memadai pada sekolah sebelumnya akan dapat mengalami kesulitan belajar. Misalnya siswa SD yang tamat dan tidak memiliki pengetahuan atau sekolah lanjutan atas. Hal ini dapat diatasi jika guru, siswa bahkan orang tua menyadari dan berusaha dalam berbagai bentuk, misalnya: lees (pelajaran tambahan di luar sekolah) aktif belajar kelompok, tugas-tugas tambahan dari guru, pelajaran perbaikan dan sebagainya.

d. Faktor Keturunan

Faktor keturunan dan kebiasaan belajar dengan baik sangat memerlukan keteraturan dan kedisiplinan. Teratur dan disiplin dalam menggunakan alat belajar, waktu belajar dan catatan-catatan lain. Lengkapnya alat belajar, waktu yang memadai tempat belajar yang baik tanpa pengaturan dan disiplin yang baik, tidak banyak memperoleh keberhasilan. Demikian halnya kebiasaan belajar, walaupun sarana yang memadai dan waktu yang cukup tanpa kebiasaan belajar yang memadai.

Kebiasaan yang kurang baik atau buruk seperti malas, acuh tak acuh, mencari gampangnya saja, suka menunda-nunda waktu, belajar yang keras pada waktu ujian tidak mengalami selingan dan sebagainya. Jadi faktor-faktor ini semua dapat menyebabkan kegagalan belajar atau ketidaksuksesan.

e. Faktor Motivasi

motivasi dalam belajar merupakan kondisi psikologis yang menjadi pendorong atau tenaga penggerak untuk melakukan kegiatan belajar. Kuat atau lemahnya motivasi belajar dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan hidup realisasi diri. Makin rill kebutuhan hidup individu, makin kuat motivasinya.

Motivasi bersumber dari dua hal yaitu:

1) Motivasi yang bersumber dalam diri individu tanpa rangsangan dari luar, yang biasa disebut insting.

2) Motivasi yang bersumber dari luar diri pribadi individu didasari dengan rangsangan dari luar.

f. Faktor Intelegensi

Kesanggupan individu untuk menyesuaikan diri secara mandiri pada situasi-situasi baru atau krisis dalam kehidupannya, disebut intelegensi, pengertian lain mengemukakan bahwa intelegensi adalah “keseluruhan kemampuan individu”.[5]

Untuk berfikir dan bertindak secara baik serta mengelola dan menguasai lingkungan secara efektif maka lahirlah suatu. Anggapan tradisional berpendapat bahwa intelegensi itu berkembang, padahal tidak demikian, para ahli umumnya berpendapat:

. . .  bahwa intelegensi merupakan kecakapan yang bersifat potensial yang dapat dikembangkan. Proses perkembangan intelegensi sebagai kecakapan yang bersifat potensial (Thorndike, ahli psikologi), utamanya pada masa kanak-kanak dipengaruhi oleh gizi makanan, pengalaman kesempatan belajar.[6]

Selanjutnya beliau berpendapat:

Intelegensi digolongkan atas tiga jenis, yaitu:

1) Intelegensi abstrak, yaitu kecakapan individu yang dinyatakan dalam bentuk konsep-konsep kata atau simbol-simbol lainnya.

2) Intelegensi konkrit, yaitu kecakapan individu yang dinyatakan dalam bentuk keterampilan dan perbuatan.

3) Intelegensi sosial, yaitu kecakapan individu yang dinyatakan dalam bentuk penyesuaian sosial.[7]

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa intelegensi dan hasil belajar mempunyai kaitan yang erat secara statistik angka korelasi dari keduanya menunjukkan sekitar 0,50., perkiraan umum dijelaskan di SD. Sedangkan tingkat IQ di atas rata-rata (120-keatas) dapat menyelesaikan studinya sampai di perguruan tinggi.

g. Faktor Minat

Kecenderungan jiwa untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu objek disebut minat.

Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar. Karena minat sebagai suatu daya tarik untuk memperhatikan bahkan untuk melakukan konsentrasi terhadap pelajaran atau bidang studi yang akan atau sedang diikuti dapat mengandung rasa senang, gairah dan semangat belajar, minat belajar terhadap pelajaran akan menambah perasaan senang pada guru atau pengajar, bahkan menumbuhkan rasa senang dan menyentuh seluruh aktivitas jiwa siswa di sekolah. Sebaliknya, kurang minat terhadap pelajaran, akan menimbulkan perasaan kurang senang terhadap guru bahkan terhadap berbagai aktivitas sekolah secara keseluruhan. Hal ini dapat berakibat tingkah laku tidak sesuai, acuh tak acuh, bolos, malas ke sekolah, mogok belajar, dendam atau dengan kata lain mengalami kesulitan belajar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurangnya minat siswa terhadap pelajaran akan mengakibatkan tidak tertarik pada guru sekolah, sehingga dapat berakibat kesulitan belajar yang serius. Usaha untuk mengembangkan minat siswa terhadap pelajaran dilakukan latihan untuk membentuk kebiasaan berkonsentrasi, karena konsentrasi bukanlah suatu warisan (bawaan), tetapi sesuatu yang diperoleh dan dipelajari. Anggapan ini memperoleh minat dan konsentrasi sebagai aktivitas kejiwaan yang tidak terpisah.

Konsentrasi merupakan akibat dari perhatian yang spontan (walaupun ada pula perhatian yang tidak spontan) yang timbul minat terhadap sesuatu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi itu muncul jika ada minat terhadap sesuatu, jadi minat dan konsentrasi adalah dua aktivitas yang tidak terpisahkan.

Untuk menumbuhkan dan memperoleh konsentrasi dapat dilakukan sebagai usaha, antara lain:

 

1) Membawakan materi pelajaran secara sistematis, praktis dan berseni

2) Memberi rangsangan terhadap aktivitas siswa individu sehingga merupakan suatu yang menarik dan menantang.

3) Membiasakan diri secara teratur, disiplin dan melakukan kegiatan-kegiatan secara terprogram.

4) Kondisi kesehatan fisik dan psikis senantiasa dalam keadaan utuh, sehat dan tidak mengalami kegoncangan. [8]

h. Faktor Bakat

Bakat atau aptitude adalah aktualisasi potensi (potencial actualization) yang sering pula disebut sebagai kemampuan khusus dari individu.

Sesuatu yang dibawa lahir kemudian dikembangkan oleh lingkungan melalui berbagai kegiatan pengalaman dan latihan. Bakat mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap proses dan hasil belajar individu, sehingga hampir  tidak ada yang membantah pernyataan bahwa individu yang belajar pada bidang yang sesuai dengan bakatnya, ia akan berhasil, sukses dan berprestasi apakah itu bidang pelajaran atau bidang lain dalam berbagai aktivitas atau kegiatan. Pada bidang studi yang ada di sekolah lanjutan atau kejuruan, hal ini (bakat) perlu diidentifikasi secara akurat sehingga perkembangan maksimal dari individu dapat dicapai.

Usaha-usaha pemahaman bakat siswa di sekolah hendaknya dapat dilakukan oleh semua staf sekolah, apakah ia sebagai pemimpin sekolah, guru, konselor, atau staf lain dari sekolah, baik dengan pengamatan langsung dengan tes standar (baku) atau tidak. Pengetahuan guru atau petugas lain tentang bakat siswa di sekolah dapat dilakukan secara sistematis atau tidak sistematis terhadap: kecakapan, penyelesaian tugas, prestasi yang dicapai, tingkat kepuasan, minat dan daya tahan konsentrasi dan sebagainya.

Bertolak dari beberapa penjelasan di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan latihan, tanpa pengalaman dan latihan sangat sedikit proses belajar mengajar berlangsung. Pengalaman merupakan suatu interaksi antara individu dengan lingkungan, pengalamannya, dalam interaksi itulah individu belajar, ia memperoleh pengertian sikap keterampilan dan sebagainya. Sehingga dari sekian faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses belajar mengajar ini merupakan garis penentu tujuan proses belajar mengajar, dimana peranan guru mesti mengatur lingkungan sebagai komponen pengajaran yang penting kedudukannya secara baik dan memenuhi syarat.



[1]Oemar Hamalik, Strategi Belajar Mengajar, (Cet.I;Bandung: Mandar Maju, 1993), h. 3.

[2] Dr. Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Cet. II: Bandung; Siamar Baru, 1989). h.30.

[3]Ibid., h. 130.

[4]Sumiati Ibnu Hajar, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses belajar mengajar, (Universitas Indonesia: 1980/1981)

[5]H. Ambo Enre Abdullah, Pokok-pokok Layanan Bimbingan Belajar, (Ujungpandang: Fak Ilmu Pendidikan, 1990).,h. 43.

[6]Ibid., h. 73.

[7]Ibid.

[8]Ibid., h. 75.

Leave A Reply

Your email address will not be published.