Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Kode Etik Guru

0

Kode Etik Guru

Kode etik berfungsi untuk menjadi pedoman dalam menjalankan tugas profesinya. Menurut Kelly Young, kode etik merupakan salah satu ciri persyaratan profesi, yang memberikan arti penting dalam penentuan, pemertahanan, dan peningkatan standar profesi. Kode etik menunjukkan bahwa tanggung jawab dan kepercayaan dari masyarakat telah diterima oleh profesi[1].

Secara harfiah, “kode” artinya aturan dan “etik” artinya kesopanan (tata susila), atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Jadi, kode etik profesi diartikan sebagai tata susila keprofesian.

Kode etik guru yang telah dirumuskan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia adalah sebagai berikut:

1)      guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang berpancasila,

2)      guru memiliki kejujuran profesional dalam menetapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing,

3)      guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan,

4)      guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid dengan sebaik-baiknya bagi  kepentingan anak didik,

5)      guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat sekitar sekolah maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan,

6)      guru secara sendiri-sendiri atau bersama-sama mengembangkan mutu profesi,

7)      guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru, baik berdasarkan lingkungan kerja, maupun dalam hubungan keseluruhan,

8)      guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan organisasi profesi sebagai sarana pengabdian,

9)      guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan[2].

Menurut Imam Ghazali, bahwa kode etik dan tugas-tugas guru adalah sebagai berikut:

1)      kasih sayang kepada peserta didik dan memperlakukannya sebagaimana anaknya sendiri,

2)      meneladani Rasulullah SAW,

3)      hendaknya tidak memberi predikat atau martabat kepada peserta didik sebelum ia pantas dan kompeten untuk menyandangnya dan jangan memberi ilmu yang samar (al-‘ilm al-khofy) sebelum tuntas dan jelas (al-‘ilm al-jaly),

4)      hendaknya mencegah peserta didik dari akhlak yang jelek (sedapat mungkin) dengan cara sindiran dan tidak tunjuk hidung,

5)      guru menyajikan pelajaran kepada peserta didik sesuai dengan taraf kemampuan mereka,

6)      guru hendaknya mengamalkan ilmunya dan jangan sampai ucapannya bertentangan dengan perbuatannya[3].

Jadi, seseorang yang menjalankan profesinya sebagai guru, ia harus memegang dan memedomani kode etik guru yang telah dirumuskan. Kode etik guru yang telah dipedomani diharapkan dapat menjunjung tinggi profesinya, dapat menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya yang lain, dapat meningkatkan mutu profesinya dan mutu organisasi profesinya.

Kode etik yang mempedomani setiap tingkah laku guru, Insya Allah penampilan akan terarah dengan baik. Dan diharapkan guru selalu mengembangkan profesi keguruannya. Jadi, kode etik tersebut sebagai barometer dari semua sikap dan perbuatan guru dalam berbagai segala kehidupan.



[1] M. Nurdin, OpCit, hlm: 127

[2] Rostiyah NK, Masalah Ilmu Keguruan, (Jakarta: Bina Aksara, 1998), hlm: 183-184

[3] Muhaimin, dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: Wicaksana, 1996), hlm: 15

Leave A Reply

Your email address will not be published.