Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Kebudayaan, Etnis dan Identitas Sosial

0

Kebudayaan, Etnis dan Identitas Sosial

 

Kebanyakan   orang  orang  memahami   kebudayaan   selalu   dikaitkan dengan hal-hal yeng berhubungan erat dengan kesenian, atau nilai-nilai yang

diproduksi secara adiluhung oleh kalangan berpendidikan  tinggi atau ningrat

 

 

 

42 Warsito, Op. cit. hal. 19.

 

 

 

 

(aristokrat   dalam   khasanah   terminologi   Jawa).   Gagasan   ini   berakibat munculnya   makna   pembeda   dari   kebudayaan   itu   sendiri.   Yakni   tidak berbudaya dan berbudaya. Tidak berbudaya adalah pemaknaan terhadap sikap- sikap yang bertentangan atau melawan nilai-nilai yang dikontruksikan oleh mereka yang berbudaya.

Atas  pengertian  semacam  ini,  maka  Raymond  William  melakukan koreksi atas pemahaman kebudayaan yang berkembang selama ini. Ia mengembangkan  sebuah pemahaman yang menekankan pada karakter sehari- hari kebudayaan sebagai “keseluruhan cara hidup”.43  Karena kebudayaan dimaknai sebagai karakter kehidupan sehari-hari, maka kebudayaan  itu tidak saja bersifat  personal,  akan tetapi sangat komunal.  Pernyataan  ini kemudian ditegaskan kembali oleh Stuart Hall:

Dua orang yang berasal dari satu kebudayaan sama artinya dengan mengatakan bahwa keduanya menafsirkan dunia dengan cara-cara yang kurang lebih serupa dan dapat mengekspresikan diri mereka, pikiran dan perasaan mereka tentang dunia dalam cara yang bisa dipahami oleh yang lainnya.  Dengan  demikian,  kebudayaan  bergantung  pada  keserupaan, secara umum, dalam penafsiran secara bermakna oleh para anggotanya terhadap apa yang terjadi disekitar mereka dan keserupaan dalam “cara

memahami” mereka tentang dunia.44

 

 

Metode-metode dalam cara memahami dunia secara rinci uraikan oleh William   dengan   memasuki   pada   konsep-konsep    kuncinya.   Untuk   itu, pembahasan  tentang kebudayaan  sebagaimana  yang disarankan oleh William harus menyangkut tentang;

(a). Lembaga-lembaga produksi artistik dan kultural, (b). Formasi- formasi atau aliran-aliran, gerakan dan faksi-faksi produksi kultural, (c). Bentuk-bentuk   produksi,  termasuk  hubungan  antara  sarana  material

 

 

43  Barker,  Culrural  Studies;  Theory  and Practice.  (London:  Sage Publications,  2000) terj. (Kreasi Wacana 2004 Jakarta) hal. 49.

44 Ibid. hal. 50.

 

 

 

 

produksi  kultural  dengan  bentuk-bentuk  kultural  yang  diwujudkannya (d). Identifikasi dan bentuk-bentuk kebudayaan, termasuk kekhasan berbagai  produk  kultural,  tujuan  estetisnya  dan  bentuk-bentuk  khusus yang  melahirkan  dan  mengeskpresikan  makna  (e).  Reproduksi  dalam ruang dan waktu,  suatu tradisi  makna  dan praktik  yang selektif,  yang melibatkan tatanan sosial maupun perubahan sosial (f). Pengorganisasian

“tradisi selektif” berdasarkan sistem pemaknaan yang disadari.45

 

Rex (dalam Ubaidilah) memberikan pengertian bahwa, etnisitas merupakan  kategori-kategori  yang diterapkan pada kelompok atau kumpulan orang yang dibentuk dan membentuk dirinya dalam kebersamaan atau kolektivitas. Ubed Abdillah sendiri melihat ada tiga model pendekatan dalam melihat persoalan etnisitas;

(a).   Promordialisme   melihat   fenomena   etnis   dalam   kategori- kategori  sosio-biologis.  Pendekatan  ini beranggapan  bahwa  kelompok- kelompok   sosial   diperlihatkan   oleh   gambaran   seperti   kewilayahan, agama, kebudayaan, bahasa, dan organisasi sosial yang memang disadari secara objek sebagai hal yang “given” dari sananya. Namun pendekatan ini tidak bisa dipertahankan  secara metodologis  karena memberi status ontologis  dan  esensial  terhadap  entitas-entitas  kelompok.  Sementara ilmu-ilmu   sosial   butuh   tafsiran   dan   penjelasan   akan   kemunculan, stabilisasi, dan perubahan dari waktu ke waktu. (b). Kontruktifis, pendekatan ini memandang identitas etnis sebagai hasil dari proses sosial yang komplek, manakala batasan-batasan simbolik terus menerus membangun dan dibangun oleh manfaat mitologi, suatu hitungan sejarah dari bahasa dan pengalaman masa lampau. (c). Instrumentalisme, pendekatan ini memberikan perhatian pada proses manipulasi dan mobilisasi  politik  manakala  kelompok-kelompok   sosial  tersusun  atas dasar atribut-atribut  awal etnisitas  seperti kebangsaan,  agama, ras, dan

bahasa.46

 

Barker memberikan arti lain. Dia memberikan kajian yang bersifat relasional.  Dengan  mengutip  dari  Brah,  etnisitas  tercipta  melalui  hubungan kuasa antar kelompok. Hubungan kuasa antar kelompok sosial tersebut melahirkan proses dominasi dan marjinalisasi dalam situasi sosial dan sejarah

yang juga terus  berubah.  Diskursus  tentang  etnisitas  yang diletakkan  dalam

 

45 Ibid. hal. 54.

46    Abdillah,   Ubed.   S.   Politik   Identitas   Etnis;   Pergulatan   Tanda   Tanpa   Identitas.

(Magelang: Indonesiatera, 2002) hal. 77.

 

 

 

 

konteks  relasi dominan  dan marjinal  dapat dioperasikan  pada semua  bentuk identitas/regional. Tidak saja wacana kebangsaan selama ini, tetapi juga masuk pada wilayah yang sangat mikro.47

Lenora Fulani, dalam “Race, Identity and Epistemology”, mengatakan

 

bahwa ras dan identitas merupakan pertautan yang akut. Dua entitas ini tidak bisa dipisahkan secara tegas. Ras adalah pandangan pengetahuan barat dalam melihat kelompok pedalaman. Sedangkan identitas adalah pertautan antara kontruksi  kelompok  terhadap  kelompok  lain.  Ras  bisa  dimaknai  sebagai identitas  diri dan sekaligus  identitas sosial. Identitas terbentuk  atas diskursif yang berasal  dari luar individu  atau kelompok.  Pembentukan  identitas  tidak lepas  dari  politik  pengetahuan   yang  dikontruksikan.   Politik  identitas  ini

dimaksudkan untuk kepentingan-kepentingan kekuasaan, modal dan politik48

 

Menurut Stuart Hall (1996: 60), identitas adalah suatu proses yang tak pernah final. Identitas selalu merujuk pada isu apa saja, termasuk soal politik, sosial,   maupun   budaya.   Identitas   adalah   wujud   dari   representasi   yang melahirkan makna-makna komplek bagi subyek penyandangnya. Identitas bisa melahirkan  kekhawatiran,  sekaligus  juga  ketakutan  dan  kengerian.  Namun

identitas juga bisa untuk menunjukkan keakuan dan keterwakilan.49

 

Walau  begitu,  sebagaimana   yang  diungkapkan   oleh  Hall  di  atas, identitas  tidak  berhenti  secara  final,  termasuk  dampak-dampaknya.  Identitas

sangat  memungkinkan   berposisi  secara  ulang  alik,  atau  berpindah-pindah

 

 

 

 

47 Barker, Op. cit. hal. 202-203.

48   Fulani,  Lenora,  “Race,  Identity  and  Epistemology”,  dalam  Postmodern  Psychologies, Societal  Practice  and  Political  Life.  Lois  Holzman  and  John  Morss  (ed.).  (London:  Routledge,

2000) p. 49-78.

49 Barker, Op. cit.

 

 

 

 

tergantung dengan proses formasi diskursif yang berkembang ditengah-tengah masyarakat.

Di awal  bukunya  Manuel  Castells50   The  Power  of Identity,  identitas

 

lebih   dimaknai   pada   wilayah   kesadaran   manusia.   Castells   memberikan beberapa definisi tentang identitas diantaranya adalah sebagai berikut :

Identitas merupakan sumber makna dan pengalaman seseorang. Selain        itu,              identitas        merupakan        proses    konstruksi    makna    yang berdasarkan          pada              atribut           kultural. Pengertian        ini                memberikan pemahaman pada identitas yang dimaknakan dari luar. Identitas bersifat jamak (plural) dan tidak tunggal. Identitas tidak sama dengan peran atau seperangkat peran (roles). Identitas dalam hal ini lebih berfungsi sebagai penata dan pengelola makna. Sementara  peran dengan sendirinya  akan menata fungsi-fungsi sosialnya.

Gugus identitas adalah sumber-sumber makna bagi subyek yang dikontruksi melalui proses individualisasi. Identitas berhubungan erat dengan proses internalisasi nilai, norma, dan tujuan yang sifatnya sangat ideal.  Pada  dasarnya  identitas  itu  bisa  dibedakan  menjadi  dua  yaitu identitas individu dan identitas sosial. Dalam pandanganya ada 3 bentuk asal-usul  identitas  yaitu;  (a) identitas  yang  sah  (legitimizing  identity); contohnya adalah otoritas dan dominasi, (b) identitas perlawanan (resistance   identity)  misalnya   politik  identitas,  (c)  identitas  proyek

(projek identity) misalnya feminisme.51

 

Identitas  tidak  dimaknai  sebagai  esensi  dan  paten.  Namun  identitas lebih dimaknai sebagai kontruksi dan bukan alamiah. Para penulis Postkolonial kebanyakan melihat bahwa, dalam pembentukan identitas seringkali terjadi ketidaksambungan   (disjungsi)   antara   konsepsi   identitas   dengan   perilaku

individu.  Dalam  melihat  pergulatan  identitas,  penganut  Postkolonial  lebih

 

 

 

 

 

50  Manuel  Castells  adalah  mantan  aktivis  berhaluan  marxis.  Dia adalah salah satu pendiri Sosiologi   Perkotaan   (urban   Sociology).   Dalam   karya-karyanya   ia   banyak   dipengaruhi   oleh pemikiran-pemikiran Karl Mark. Buku the Power of Identity (1997) adalah Volume II dari ketiga karya masterpiece-nya  “The Information  Age: Economi, Social, and Culture”.   Sebelumnya  Vol. I; The Rise of The Network  Society  (1996 edisi revisi 2000). Sedangkan  buku Vol III berjudul  The End of Millinium (1998 edisi revisi 2000).

51   Manuel  Castells  The  Power  of  Identity,  perdebatan  tentang  pemaknaan  ini  lebih  jauh

dibahas dalam bab I, Identity and the Meaning in the Network Society. (Oxsford: Blackwell, 1997)

p. 5-67.

 

 

 

 

memberikan   pemahaman   jika   identitas   lebih   dipandang   sebagai   proses pembentukanya daripada hasil jadi-nya.52

Tajfel    (1972),    memberikan    pengertian    bahwa,    identitas    sosial berhubungan erat dengan pengetahuan seseorang tentang bagamana dia harus bersikap terhadap kelompok sosial secara bersama-sama. Kelompok sosial ini memiliki keterikatan emosional, nilai-nilai yang sama yang dipatuhi dan dijalankan secara bersama pula. Rupanya Tajfel sepakat dengan Turner, Hogg, Oakes dan Wetherel. Mereka memiliki pemahaman bersama bahwa, identitas sosial  tercipta  dari peleburan  identitas  diri dalam  kelompok  yang kemudian

membentuk identitas kelompok atau kita sebut sebut sebagai identitas sosial.53

 

Perlu dipahami bahwa pada saat pembentukan identitas sosial, identitas diri hilang. Demikian juga dalam identitas sosial. Dalam pembentukan identitas sosial,  tarik-menarik  antara  diri dan sosial  sangatlah  kuat.  Permainan  relasi kuasa dari kelompok-kelompok  tertentu dalam mengkontruksi  dan merepresi kelompok tertentu bisa terjadi. Identitas sosial terbentuk dari berbagai varian dan tarik-menarik kepentingan yang menjadikanya  sulit sekali diprediksi dan dipakemkan                       keberadaanya.   Dalam    komunitas   tertentu,    identitas    sosial tergantung  kelompok  yang  mengkontruksi  mempersepsikan  dan  kelompok yang terkontruksi merepresentasikan diri dan komunitasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.