Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

JUST IN TIME DAN PERKEMBANGANNYA DALAM PERUSAHAAN INDUSTRI FAHMI NATIGOR NASUTION

0

JUST IN TIME DAN PERKEMBANGANNYA DALAM PERUSAHAAN INDUSTRI FAHMI NATIGOR NASUTION

1.  Pendahuluan

Sistem pemanufakturan tradisional mengatur skedul produksinya berdasarkan pada peramalan kebutuhan di masa yang akan datang.Padahal tidak seorangpun yang dapat memprediksi masa yang akan dating dengan pasti walaupun dia memiliki pemahaman yang sempurna tentang masa lalu dan memiliki insting yang tajam terhadap kecendrungan yang terjadi di pasar

Produksi berdasarkan prediksi terhadap masa yang akan datang dalam sistem tradisonal memiliki resiko kerugian yang lebih besar karena over produksi daripada produksi berdasarkan permintaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu munculah ide Just In Time yang memproduksi apabila ada permintaan. Suatu proses produksi hanya akan memproduksi apabila diisyaratkan oleh proses berikutnya. Sebagai akibatnya    pemborosoan    dapat    dihilangkan    dalam    skala    besar,    yaitu    berupa perbaikan kualitas dan biaya produksi yang lebih rendah. Kedua hal tersebut menjadikan perusahaan lebih kooperatif. Tujuan utama Just In Time adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman.

Just In Time merupakan filosofi pemanufakturan yang memiliki implikasi penting dalam manajemen biaya. Ide dasar Just In Time sangat sederhana, yaitu berproduksi hanya apabila ada permintaan (full system) atau dengan kata lain hanya memproduksi sesuatu yang diminta, pada saat diminta, dan hanya sebesar kuantitas yang diminta.

Prinsip  dasar  Just  In  Time  adalah  peningkatan  kemampuan  perusahaan secara terus menerus untuk merespon perubahan dengan  minimisasi pemborosan. Terdapat empat aspek pokok dalam konsep Just In Time yaitu:
1.  Menghilangkan semua aktifitas atau sumber-sumber yang tidak memberikan nilai tambah terhadap produk atau jasa.
2.  Komitmen terhadap kualitas prima.
3.  Mendorong perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan efisiensi.
4.  Memberikan tekanan pada penyederhanaan aktivitas dan peningkatan visibilitas aktivitas yang memberikan nilai tambah.

Perusahaan-perusahaan    meningkatkan    perhatian    terhadap    keuntungan potensial dari :
1.  Membuat pesanan pembelian yang lebih kecil dan lebih sering.
2.  Membangun kembali hubungan dengan pemasok.
Kedua hal di atas berhubungan dengan peningkatan minat dalam sistem pembelian tepat waktu (Just In Time). Pembelian Just In Time adalah pembelian barang atau bahan sedemikian rupa sehingga pengiriman secara tepat mendahului permintaan atau penggunaan. Dalam keadaan ekstrim tidak adanya persediaan (barang untuk
 
dijual bagi seorang pengecer, bahan baku barang dalam proses atau barang jadi bagi seorang produsen) yang ditahan.

Perusahaan    yang    menggunakan    pembelian    Just    In    Time    biasanya menekankan biaya tersembunyi yang berhubungan dengan menahan tingkat persediaan yang tinggi. Biaya tersembunyi ini meliputi jumlah ruang penyimpanan yang lebih besar dan jumlah kerusakan–kerusakan yang cukup besar.

2.  Pokok-pokok Permasalahan

Pokok-pokok permasalahan dalam perkembangan Just In Time di perusahaan industri yang sering terjadi dalam hal ini adalah :
•    Pengertian Just In Time.
•    Bagaimana persediaan dalam sistem Just In Time.
•    Bagaimana pembelian dalam sistem Just In Time.
•    Bagaimana produksi dalam sistem Just In Time.
•    Penghapusan pemborosan apa saja yang dapat ditimbulkan dari sistem Just In
Time.
•    Bagaimana interval waktu produksi dalam sistem Just In Time.
•    Apa sajakah persyaratan dalam sistem Just In Time.
•    Konsep-konsep apa sajakah yang terdapat dalam sistem Just In Time.
•    Apa sajakah elemen-elemen kunci dalam Just In Time.
•    Bagaimana pengaruh Just In Time terhadap operasional pabrik.

3.  Pembahasan
3.1  Pengertian Just In Time
Menurut Henri Simamora dalam bukunya Akuntansi Manajemen, Just In Time adalah suatu keseluruhan filosofi operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas dipakai sebatas dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan. Just In Time didasarkan pada konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama dengan komponen- komponen    lainnya.    Tenaga    kerja        langsung     dalam    lingkungan    Just    In    Time dipertangguh    dengan    perluasan    tanggung    jawab     yang    berkontribusi    pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang dan waktu produksi.

Metode produksi Just In time mensyaratkan tidak adanya persediaan bahan baku karena bahan baku dan suku cadang dijadwalkan untuk sampai ke pabrik dari pemasok hanya pada saat dibutuhkan saja.

3.2  Persediaan Just In Time
Just In Time adalah suatu keseluruhan filosofi operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas    dipakai    sebatas    dibutuhkan.    Tujuannya    adalah    untuk    mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan. Just In Time didasarkan pada konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama dengan komponen-komponen lainnya. Tenaga kerja langsung dalam lingkungan Just In Time dipertangguh dengan perluasan tanggung jawab yang berkontribusi pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang dan waktu produksi.
 
Perusahaan-perusahaan pabrikasi menyimpan tiga jenis persediaan : bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Persediaan-persediaan ini dirancang untuk bertindak sebagai penyangga sehingga kegiatan-kegiatan perusahaan tetap dapat berjalan mulus kendatipun para pemasok terlambat melakukan pengiriman atau bilamana sebuah departemen tidak mampu beroperasi selama beberapa waktu karena  sesuatu  atau  hal  lainnya.  Persediaan-persediaan  ini  dirancang  untuk bertindak sebagai penyangga sehingga kegiatan-kegiatan perusahaan tetap dapat berjalan mulus kendatipun para pemasok terlambat melakukan pengiriman atau bilamana  sebuah  departemen  tidak  mampu  beroperasi  selama  beberapa  waktu karena sesuatu atau hal lainnya.    Namun penyimpanan persediaan-persediaan itu sudah barang tentu memakan biaya besar. Sistem Just In Time merupakan upaya untuk mengurangi atau menghilangkan persedian. Perusahaan yang mengadopsi system    Just In Time    ke    proses    produksinya    mestilah    merancang    kembali fasilitas – fasilitas    pabrikasinya    dan     kejadian – kejadian yang memicu  proses

Produksi berdasarkan prediksi terhadap masa yang akan datang dalam sistem tradisonal memiliki resiko kerugian yang lebih besar karena over produksi daripada produksi berdasarkan permintaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu munculah ide Just In Time yang memproduksi apabila ada permintaan. Suatu proses produksi hanya akan memproduksi apabila diisyaratkan oleh proses berikutnya. Sebagai akibatnya    pemborosoan    dapat    dihilangkan    dalam    skala    besar,    yaitu    berupa perbaikan kualitas dan biaya produksi yang lebih rendah. Kedua hal tersebut menjadikan perusahaan lebih kooperatif. Tujuan utama Just In Time adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman.

4.  Kesimpulan
Dalam menangani tingginya biaya, menurunnya laba, dan menajamnya persaingan    telah    mengakibatkan    perusahaan    mencari    cara-cara    untuk merampingkan kegiatan usaha mereka dan mengumpulkan lebih banyak data akurat untuk tujuan pengambilan keputusan. Oleh karena itu muncullah ide Just In Time (JIT)  yang  hanya  memproduksi  apabila  ada  permintaan.  Akibatnya  pemborosan dapat dihilangkan dalam skala besar, yaitu berupa perbaikan kualitas dan biaya produksi yang lebih rendah. Tujuan utama JIT adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman.

Prinsip dasar JIT adalah meningkatkan kemampuan secara terus-menerus untuk merespon perubahan dengan meminimisasi pemborosan. Ada empat aspek pokok dalam sistim JIT yaitu :
• Menghilangkan semua aktivitas atau sumber-sumber yang tidak memberikan nilai tambah terhadap produk.
• Komitmen terhadap kualitas prima.
• Mendorong perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan efisiensi.
• Memberikan tekanan pada penyederhanaan aktivitas dan peningkatan visibilitas yang memberikan nilai tambah.

Persediaan JIT adalah untuk sistem persediaan yang dirancang guna mendapatkan barang secara tepat waktu. Pada persediaan JIT mensyaratkan bahwa proses atau orang yang membuat unit-unit rusak dapat dikirim untuk menunggu pengerjaan ulang atau menjadi bahan sisa. Sistim JIT menghapus kebutuhan akan persediaan karena tidak ada produksi sampai barang akan dijual. Hal ini berarti bahwa perusahaan harus mempunyai pesanan terus menerus agar dapat berproduksi
 
Dalam system JIT menerapkan untuk membeli barang hanya dalam kuantitas yang dibutuhkan saja. Untuk itu perusahaan harus mengikat kontrak panjang kepada pemasok agar bersedia mengirimkan barang yang kita pesan sesering mungkin. Hal ini agar tidak adanya persediaan di gudang.

Produsi JIT adalah suatu sistem dimana tiap komponen dalam jalur produksi menghasilkan secepatnya saat diperlukan dalam langkah selanjutnya dalam jalur produksi. Perusahaan harus memproduksi barang sesuai dengan jumlah pesanan agar tidak adanya persediaan.

Pada system JIT perusahaan harus meningkatkan kualitasnya agar dapat bersaing dengan perusahaan yang lain. Untuk perusahaan harus memperhatikan kualitas mutunya. Dalam pengiriman barang dalam JIT harus tepat waktu, sesuai dengan jumlah pesanan dan dengan kualitas yang bermutu tinggi. Karena hal ini dapat mempengaruhi kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan produksi. Jika pelanggan senang maka ia akan sering melakukn pesanan terhadap perusahaan produksi dan sebaliknya jika pelanggan tidak puas maka pelanggan akan memilih ke perusahaan produksi lainnya.

Daftar Referensi

Tjiptono, Fandi dan Diana Anastasia. Total Quality Management, Yogyakarta : Andi
Offset, 1994.

Simamora, Henri, Akuntansi Manajemen, Jakarta : Salemba Empat, 1999. Mulyadi, Akuntansi Manajemen, Ed. 5, Jakarta : Salemba Empat, 1999. Deakin, Maher, Akuntansi Biaya, Ed. 4, Jakarta : Erlangga, 1996.
Cherrington, Hubbard & Luthy, Cost Accounting, San Fransisco : West Publishing
Company, 1994.

Hay, Edward, The Just In Time Breakthough, New York : Rath, 1998. Hansen & Mowen, Akuntansi Biaya, Ed. 4, Jakarta : Salemba Empat, 2000.
Gayle,  Raybun,  Akuntansi  Biaya  Dengan  Menggunakan  Pendekatan  Manajemen
Biaya, Ed. 6, Yokyakarta : Erlangga, 1999.

Milton,  F.  Usry,  Akuntansi  Biaya  Perencanaan  dan  Pengendalian,  Yogyakarta  : Erlangga, 1999.

Leave A Reply

Your email address will not be published.