Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Jenis-jenis Pola Asuh Orangtua

0

Jenis-jenis Pola Asuh Orangtua

 

Steinberg (1991) menyatakan bahwa para ahli psikologi perkembangan mendeskripsikan pola asuh   sebagai dua garis kontinum yang masing-masing memiliki sepasang titik yang saling berlawanan, dimana titik yang satu mengambarkan sifat-sifat pola asuh yang berlawanan dengan sifat pola asuh yang ada pada titik yang lainnya. Adapun sifat-sifat tersebut adalah menerima – menolak  dan        terlalu  banyak  menuntut  –  bersikap  toleransi  kepada  remaja. Steinberg menjelaskan bahwa sikap orangtua yang menerima adalah bersikap hangat dan respon kepada remaja. Mencoba mengetahui segala sesuatu tentang remaja dari perspektif remaja tersebut, sedangkan orangtua dengan sikap menolak adalah orangtua yang lebih suka mengkritik dan tidak perduli kepada remaja. Orangtua yang mengasuh remaja dengan terlalu banyak tuntutan dan banyak  memberikan  persyaratan  adalah  orangtua  yang  lebih  mengutamakan

 

 

 

 

 

 

 

 

kontrol yang sangat kuat kepada remaja, orangtua menuntut remaja untuk patuh namun dengan cara yang kaku terhadap keputusan   atau peraturan yang telah dibuat. Di sisi lain, sikap toleransi orangtua kepada remaja adalah orangtua yang memberikan kebebasan pada remaja sambil dituntun, memberikan kontrol kepada remaja namun tidak kaku.

Menurut Hurlock (1973) bahwa metode atau cara yang digunakan oleh orangtua untuk mengontrol perilaku remaja dapat dibagi menjadi tiga tipe pengasuhan, yaitu : pola asuh otoriter, demokratis dan permisif. Ketiga tipe pola asuh tersebut berbeda dalam cara-cara menerapkan kontrol perilaku remaja oleh orangtua. Orangtua dengan pola asuh otoriter adalah dicirikan sebagai orangtua yang mengharapkan remaja patuh pada aturan-aturan yang dibuat tanpa menjelaskan terlebih dahulu mengapa dan apa tujuannya remaja harus mematuhinya. Remaja tidak diberi kesempatan untuk memberikan alasan, jika melanggar    aturan-aturan          yang                 dibuat oleh       orangtua,              juga    tidak   diberi kesempatan untuk menjelaskan kesalahan yang dibuat oleh remaja tersebut. Hukuman  lebih  sering  diberikan  kepada  remaja  sementara  orangtua  sangat jarang memberikan reward atau memuji ketika remaja berperilaku baik. Sebaliknya pola asuh orangtua demokratis adalah dicirikan sebagai orangtua yang  lebih  melihat  pada  pentingnya  remaja  mengetahui  mengapa  suatu peraturan dibuat, remaja juga diberikan kesempatan untuk berbicara atau memberi alasan ketika melanggar aturan. Adapun hukuman yang diberikan kepada remaja ketika berbuat salah, adalah sifatnya mendidik berbeda dengan pola asuh otoriter. Ciri lain pola asuh demokratis adalah orangtua memberikan

 

 

 

 

 

 

 

 

reward dalam bentuk pujian ketika remaja berperilaku baik. Lain halnya dengan pola asuh permisif yang memiliki ciri-ciri bahwa remaja diberi kebebasan sepenuhnya untuk berperilaku sesuai apa yang dipikirkan dan dirasakan, tidak ada keterlibatan orangtua dalam membuat aturan dan bimbingan maupun arahan ketika remaja menemukan kekeliruan atau salah dalam berperilaku, tidak ada hukuman  yang  bersifat  mendidik  terlebih  reward  dalam  bentuk  pujian. Orangtua berpikir, karena remaja akan menemukan sendiri konsekuensinya sebagai jawaban atas perilaku yang salah dan ketika mereka berperilaku baik maka lingkungan sosial yang akan menilainya.

Diana Baumrind (dalam Santrock, 1999) mengemukakan bahwa pola asuh otoriter adalah dicirikan sebagai orangtua yang lebih banyak menghukum, membatasi kebebasan anak baik dalam tingkah laku maupun verbal dan ada kontrol yang berlebihan. Sebaliknya pola asuh demokratis adalah orangtua memberikan  kebebasan  pada  anak  namun  masih  dalam  batasan  kontrol orangtua. Anak diijinkan untuk berbicara. Ciri khas pola asuh model ini adalah orangtua bersikap hangat dan pengasuhan  pada anak. Lain halnya dengan pola asuh permisif, dicirikan sebagai orangtua yang memberi kebebasan sepenuhnya kepada anak. Peran orangtua dalam hal ini adalah membiarkan apa saja yang ingin dilakukan oleh anak, namun tidak ada tuntunan maupun kontrol dari orangtua.

Berdasarkan penjelasan di atas, pola asuh yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah model atau jenis pola asuh dari Diana Baumrind.

Leave A Reply

Your email address will not be published.