Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Hambatan-hambatan Profesionalitas Guru dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

0

Hambatan-hambatan Profesionalitas Guru dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

            Kemerosotan pendidikan sudah dirasakan selama bertahun-tahun, untuk kesekian kalinya kurikulum dituding sebagai penyebabnya. Hal ini tercermin dengan adanya upaya mengubah kurikulum mulai kurikulum 1975 diganti dengan kurikulum 1984, kemudian diganti lagi dengan kurikulum 1994, kemudian diganti dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi.

            Akadum menyatakan bahwa rendahnya keprofesionalan guru disebabkan oleh antara lain: (1) masih banyak guru yang yang tidak menekuni profesinya secara utuh. Hal ini disebabkan oleh banyak guru yang bekerja di luar jam kerjanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga waktu untuk membaca dan menulis untuk meningkatkan diri tidak ada, (2) kemungkinan disebabkan oleh adanya perguruan tinggi swasta sebagai pencetak guru yang lulusannya asal jadi tanpa memperhitungkan outputnya kelak di lapangan sehingga menyebabkan banyak guru yang tidak patuh terhadap etika profesi keguruan, (3) kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kualitas guru tidak ditintut untuk meneliti sebagaimana yang diberlakukan pada dosen di perguruan tinggi[1].

            Selain itu, Akadum juga mengatakan bahwa dunia pendidikan masih terbelenggu dengan dua masalah yang pemecahannya memerlukan kearifan dan kebijaksanaan beberapa pihak terutama pengambil kbijakan: 1) profesi keguruan kurang menjamin kesejahteraan karena rendahnya gaji, 2) keprofesionalan guru masih rendah[2].

            Mulyasa mengungkapkan beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh guru dalam pembelajaran yaitu:

  1. Mengambil jalan pintas dalam pembelajaran

Tugas guru dalam pembelajaran tidak terbatas pada penyampaian informasi kepada peserta didik. Sesuai kemajuan dan tuntutan zaman, guru harus memiliki kemampuan untuk memahami peserta didik dengan berbagai keunikannya agar mampu membantu mereka dalam menghadapi kesulitan. Dalam pada itu, guru dituntut memahami berbagai model pembelajaran yang efektif agar dapat membimbing peserta didik secara optimal.

Dalam kaitannya dengan perencanaan, guru dituntut untuk membuat persiapan mengajar yang efektif dan efisien. Namun dalam kenyataannya, dengan berbagai alasan banyak guru yang mengambil jalan pintas dengan tidak membuat persiapan ketika mau melakukan pembelajaran, sehingga guru mengajar tanpa persiapan. Mengajar tanpa pesiapan di samping merugikan guru sebagai tenaga profesional juga akan sangat mengganggu perkembangan peserta didik.Ada kalanya guru membuat persiapan mengajar tertulis hanya untuk memenuhi tuntutan administrative atau disuruh oleh kepala sekolah karena akan ada pengawasan ke sekolahnya.

 

 

  1. Menunggu peserta didik berperilaku negatif

Dalam pembelajaran di kelas, kebanyakan guru terperangkap dengan pemahaman yang keliru tentang mengajar. Mereka menganggap mengajar adalah menyampaikan materi kepada peserta didik, mereka juga menganggap mengajar adalah memberikan sejumlah pengetahuan kepada peserta didik. Tidak sedikit guru yang sering mengabaikan perkembangan kepribadian peserta didik, serta lupa memberikan pujian kepada mereka yang berbuat baik, dan tidak membuat masalah. Biasanya guru baru bisa memberikan perhatian kepada peserta didik ketika ribut, tidak memperhatikan atau mengantuk di kelas, sehingga menunggu peserta didik berperilaku buruk. Kondisi tersebut seringkali mendapat tanggapan yang salah dari peserta didik. Mereka beranggapan bahwa jika ingin mendapat perhatian atau diperhatikan guru, maka harus berbuat salah, beruat gaduh, mengganggu, dan melakukan tindakan indisiplin lainnya.

  1. Mengabaikan  perbedaan peserta didik

Kesalahan yang sering dilakukan oleh guru dalam pembelajaran adalah mengabaikan perbedaan individu peserta didik. Setiap peserta didik memiliki perbedaan individual sangat mendasar yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran. Peserta didik memiliki emosi yang sangat bervariasi dan sering memprlihatkan sejumlah perilaku yang tampak aneh. Pada umumnya, perilaku-perilaku tersebut relatif normal dan cukup bisa ditangani dengan menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Akan tetapi, karena guru di sekolah dihadapkan pada sejumlah peserta didik, guru seringkali kesulitan untuk mengetahui mana perilaku yang normal dan wajar, serta mana perilaku yang indisiplin dan perlu mendapat penanganan khusus.

  1. Merasa paling pandai

Kesalahan lain yang sering dilakukan oleh guru dalam pembelajaran adalah merasa paling pandai. Kesalahan ini berangkat dari kondisi bahwa pada umumnya para peserta didik di sekolah usianya relatif lebih muda dari gurunya, sehingga guru merasa bahwa peserta didik tersebut lebih bodoh dibandingkan dengan dirinya, peserta didik dipandang sebagai gelas yang perlu diisi air ke dalamnya.

  1. Tidak adil

Keadilan dalam pembelajaran merupakan kewajiban guru dalam pembelajaran dan hak peserta didik untuk memperolehnya. Dalam prakteknya banyak guru yang tidak adil, sehingga merugikan perkembangan peserta didik dan ini merupakan kesalahan yang sering dilakukan oleh guru, terutama dalam penilaian[3].

      Berdasarkan permasalahan tersebut, maka seorang guru harus mampu memahami kondisi-kondisi yang memungkinkan dirinya berbuat salah, dan yang paling penting adalah mengendalikan diri serta menghindari dari kesalahan-kesalahan.



[1] http: // www. Suara Pembaruan, (com/news, 7 Juni 2001)

[2] Ibid, hlm:2

[3] Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm: 28

Leave A Reply

Your email address will not be published.