Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Hakikat IPA Biologi dan Pengajarannya

0

Hakikat IPA Biologi dan Pengajarannya

Sains merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang diperoleh tidak hanya

produk saja, akan tetapi juga mencakup pengetahaun seperti keterampilan

keingintahuan, keteguhan hati, dan juga keterampilan dalam hal melakukan

penyelidikan ilmiah.

Para ilmuwan IPA dalam mempelajari gejala alam, menggunakan proses dan

sikap ilmiah. Proses ilmiah yang dimaksud misalnya melalui pengamatan,

eksperimen, dan analisis yang bersifat rasional. Sedang sikap ilmiah misalnya

objektif dan jujur dalam mengumpulkan data yang diperoleh. Dengan

menggunakan proses dan sikap ilmiah itu saintis memperoleh penemuanpenemuan

atau produk yang berupa fakta, konsep, prinsip, dan teori. Carin (1993)

menyatakan bahwa IPA sebagai produk atau isi mencakup fakta, konsep, prinsip,

hukum-hukum, dan teori IPA. Jadi pada hakikatnya IPA terdiri dari tiga

komponen, yaitu sikap ilmiah, proses ilmiah, dan produk ilmiah. Hal ini berarti

bahwa IPA tidak hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan atau berbagai macam

fakta yang dihafal, IPA juga merupakan kegiatan atau proses aktif menggunakan

pikiran dalam mempelajari gejala-gejala alam yang belum dapat direnungkan. IPA

menggunakan apa yang telah diketahui sebagai batu loncatan untuk memahami

apa yang belum diketahui. Suatu masalah IPA yang telah dirumuskan dan

16

17

kemudian berhasil dipecahkan akan memungkinkan IPA untuk berkembang

secara dinamis. Akibatnya kumpulan pengetahuan sebagai produk juga

bertambah.

Biologi sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan alam memfokuskan

pembahasan pada masalah-masalah biologi di alam sekitar melalui proses dan

sikap ilmiah. Sebagai cabang IPA, maka dalam pembelajaran biologi berpatokan

pada pembelajaran IPA seperti yang tertuang dalam kurikulum 1994, yaitu

pembelajaran yang berorientasi pada hakikat IPA yang meliputi produk, proses,

dan sikap ilmiah melalui keterampilan proses.

Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa pembelajaran IPA biologi lebih

menekankan pada pendekatan keterampilan proses sehingga siswa menemukan

fakta-fakta, membangun konsep-konsep, teori dan sikap ilmiah di pihak siswa

yang dapat berpengaruh positif terhadap kualitas maupun produk pendidikan.

Pembelajaran biologi selama ini lebih banyak menghafalkan fakta, prinsip, dan

teori saja. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu dikembangkan strategi

pembelajaran biologi yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan

pembelajaran untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka.

B. Teori Konstruktivis dalam Pembelajaran IPA

Konstruktivis adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan

bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi kita sendiri (Von Glaserfelt dalam

Suparno, 1997). Pandangan konstruktivis dalam pembelajaran mengatakan, bahwa

anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar

18

secara sadar, sedangkan guru yang membimbing siswa ke tingkat pengetahuan

yang lebih tinggi (Slavin, 1994; Abruscato, 1999).

Ide pokoknya adalah siswa secara aktif membangun pengetahuan mereka

sendiri, otak siswa sebagai mediator, yaitu memproses masukan dari dunia luar

dan menentukan apa yang mereka pelajari. Pembelajaran merupakan kerja mental

aktif, bukan menerima pengajaran dari guru secara pasif. Dalam kerja mental

siswa, guru memegang peranan penting dengan cara memberikan dukungan,

tantangan berfikir, melayani sebagai pelatih atau model, namun siswa tetap

merupakan kunci pembelajaran (Von Glaserfelt dalam Suparno, 1997; Abruscato,

1999).

Menurut teori ini, satu prinsip paling penting dalam psikologi pendidikan

adalah bahwa guru tidak dapat hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada

siswa agar secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru

dapat memberikan kepada siswa atau peserta didik anak tangga yang membawa

siswa akan pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri harus

memanjat anak tangga tersebut (Slavin, 1994).

Pada bagian ini akan dikemukakan dua teori yang melandasi pendekatan

konstruktivis dalam pembelajaran IPA yaitu Teori Perkembangan Kognitif

Piaget, dan Teori Perkembangan Mental Vygotsky.

1. Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Piaget adalah salah satu pioner yang menggunakan filsafat konstruktivis

dalam proses belajar. Piaget menyatakan bahwa anak membangun sendiri

skemanya serta membangun konsep-konsep melalui pengalaman-pengalamannya.

19

Piaget membedakan perkembangan kognitif seorang anak menjadi empat

taraf, yaitu (1) taraf sensori motor, (2) taraf pra-operasional, (3) taraf operasional

konkrit, dan (4) taraf operasional formal. Walaupun ada perbedaan individual

dalam hal kemajuan perkembangan, tetapi teori Piaget mengasumsikan bahwa

seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun

pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan yang berbeda. Perkembangan

kognitif sebagian besar bergantung seberapa jauh anak memanipulasi dan aktif

berinteraksi dengan lingkungan. Antara teori Piaget dan konstruktivis terdapat

persamaan yaitu terletak pada peran guru sebagai fasilitator, bukan sebagai

pemberi informasi. Guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif

bagi siswa-siswanya (Woolfolk, 1993) dan membantu siswa menghubungkan

antara apa yang sudah diketahui siswa dengan apa yang sedang dan akan

dipelajari (Abruscato, 1999).

Prinsip-prinsip Piaget dalam pengajaran diterapkan dalam program-program

yang menekankan pembelajaran melalui penemuan dan pengalaman-pengalaman

nyata dan pemanipulasian alat, bahan, atau media belajar yang lain serta peranan

guru sebagai fasilitator yang mempersiapkan lingkungan dan memungkinkan

siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman belajar.

Implikasi teori kognitif Piaget pada pendidikan adalah sebagai berikut

(Slavin, 1994):

a. Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar

kepada hasilnya. Selain kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami

proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut.

20

Pengalaman-pengalaman belajar yang sesuai dikembangkan dengan

memperhatikan tahap fungsi kognitif dan hanya jika guru penuh perhatian

terhadap metode yang digunakan siswa untuk sampai pada kesimpulan

tertentu, barulah dapat dikatakan guru berada dalam posisi memberikan

pengalaman yang dimaksud.

b. Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif

dalam kegiatan belajar. Dalam kelas, Piaget menekankan bahwa pengajaran

pengetahuan jadi (ready made knowledge) tidak mendapat tekanan, melainkan

anak didorong menemukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan

dengan lingkungan. Oleh karena itu, selain mengajar secara klasik, guru

mempersiapkan beranekaragam kegiatan secara langsung dengan dunia fisik.

c. Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan

perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan

melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu

berlangsung pada kecepatan yang berbeda. Oleh karena itu harus melakukan

upaya untuk mengatur aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari individuindividu

ke dalam bentuk kelompok-kelompok kecil siswa daripada aktivitas

dalam bentuk klasikal. Hal ini sesuai dengan pendekatan konstruktivis dalam

pembelajaran khas menerapkan pembelajaran kooperatif secara ekstensif.

2. Teori Perkembangan Fungsi Mental Vygotsky

Vygotsky berpendapat seperti Piaget, bahwa siswa membentuk

pengetahuan, yaitu apa yang diketahui siswa bukanlah kopi dari apa yang mereka

temukan di dalam lingkungan; tetapi sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan siswa

21

sendiri, melalui bahasa. Meskipun kedua ahli memperhatikan pertumbuhan

pengetahuan dan pemahaman anak tentang dunia sekitar, Piaget lebih memberikan

tekanan pada proses mental anak dan Vygotsky lebih menekankan pada peran

pengajaran dan interaksi sosial pada perkembangan IPA dan pengetahuan lain

(Howe & Jones, 1993).

Sumbangan penting yang diberikan Vygotsky dalam pembelajaran adalah

konsep zone of proximal development (ZPD) dan scaffolding. Vygotsky yakin

bahwa pembelajaran terjadi apabila anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang

belum dipelajarai namun tugas-tugas itu berada dalam jangkauan kemampuannya

atau tugas-tugas itu berada dalam zone of proximal development. ZPD adalah

tingkat perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangan seseorang saat ini.

Vygotsky lebih yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya

muncul dalam kerjasama atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental

yang lebih tinggi terserap ke dalam individu tersebut (Slavin, 1994).

Sedangkan konsep Scaffolding berarti memberikan kepada siswa sejumlah

besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran kemudian mengurangi

bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil

alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya

(Slavin, 1994).

Ada dua implikasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan (Howe & Jones,

1993). Pertama, adalah perlunya tatanan kelas dan bentuk pembelajaran kooperatif

antar siswa, sehingga siswa dapat berinteraksi di sekitar tugas-tugas yang sulit dan

saling memunculkan strategi-strtategi pemecahan masalah yang efektif di dalam

22

masing-masing ZPD mereka. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pengajaran

menekankan scaffolding, dengan semakin lama siswa semakin bertanggung jawab

terhadap pembelajaran sendiri. Ringkasnya, menurut teori Vygotsky, siswa perlu

belajar dan bekerja secara berkelompok sehingga siswa dapat saling berinteraksi

dan diperlukan bantuan guru terhadap siswa dalam kegiatan pembelajaran.

C. Prinsip-prinsip Belajar Konstruktivis

Para ahli konstruktivis menyatakan bahwa belajar melibatkan konstruksi

pengetahuan saat pengalaman baru diberi makna oleh pengetahuan terdahulu

(Abruscato, 1999). Persepsi yang dimiliki oleh siswa mempengaruhi pembentukan

persepsi baru. Siswa menginterpretasi pengalaman baru dan memperoleh

pengetahuan baru berdasar realitas yang telah terbentuk di dalam pikiran siswa.

Konstruktivisme yang berakar pada prsikologi kognitif, menjelaskan bahwa

siswa belajar sebagai hasil dari pembentukan makna dari pengalaman. Peran

utama guru adalah membantu siswa membentuk hubungan antara apa yang

dipelajari dan apa yang sudah diketahui siswa. Bila prinsip-prinsip

konstruktivisme benar-benar digunakan di ruang kelas, maka guru harus

mengetahui apa yang telah diketahui dan diyakini siswa sebelum memulai unit

pelajaran baru.

Ada tiga prinsip yang menggambarkan konstruktivisme (Abruscato, 1999);

(a) seseorang tidak pernah benar-benar memahami dunia sebagaimana adanya

karena tiap orang membentuk keyakinan atas apa yang sebenarnya, (b)

keyakinan/pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang menyaring atau mengubah

23

informasi yang diterima seseorang, (c) siswa membentuk suatu realitas berdasar

pada keyakinan yang dimiliki, kemampuan untuk bernalar, dan kemauan siswa

untuk memadukan apa yang mereka yakini dengan apa yang benar-benar mereka

amati.

D. Pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang

berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi

belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat

kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa

anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk

memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan

belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan

pelajaran.

Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai

berikut (Lungdren, 1994).

a. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang

bersama.”

b. Para siswa harus memiliki tanggungjawab terhadap siswa atau peserta didik

lain dalam kelompoknya, selain tanggungjawab terhadap diri sendiri dalam

mempelajari materi yang dihadapi.

24

c. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang

sama.

d. Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggungjawab di antara para anggota

kelompok.

e. Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut

berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.

f. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh

keterampilan bekerja sama selama belajar.

g. Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi

yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Menurut Thompson, et al. (1995), pembelajaran kooperatif turut menambah

unsur-unsur interaksi sosial pada pembelajaran sains. Di dalam pembelajaran

kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang saling

membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau

6 orang siswa, dengan kemampuan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen

adalah terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin, dan suku. Hal ini

bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan dan bekerja dengan teman

yang berbeda latar belakangnya.

Pada pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus

agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi

pendengar yang baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau

tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota

kelompok adalah mencapai ketuntasan (Slavin, 1995).

25

2. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif

Beberapa ciri dari pembelajaran kooepratif adalah; (a) setiap anggota

memiliki peran, (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa, (c) setiap

anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman

sekelompoknya, (d) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan

interpersonal kelompok, (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat

diperlukan (Carin, 1993).

Tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif

sebagaimana dikemukakan oleh Slavin (1995), yaitu penghargaan kelompok,

pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil.

a. Penghargaan kelompok

Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan kelompok untuk

memperoleh penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok diperoleh jika

kelompok mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan. Keberhasilan

kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok

dalam menciptakan hubungan antar personal yang saling mendukung, saling

membantu, dan saling peduli.

b. Pertanggungjawaban individu

Keberhasilan kelompok tergantung dari pembelajaran individu dari semua

anggota kelompok. Pertanggungjawaban tersebut menitikberatkan pada

aktivitas anggota kelompok yang saling membantu dalam belajar. Adanya

pertanggungjawaban secara individu juga menjadikan setiap anggota siap

26

untuk menghadapi tes dan tugas-tugas lainnya secara mandiri tanpa bantuan

teman sekelompoknya.

c. Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan

Pembelajaran kooperatif menggunakan metode skoring yang mencakup nilai

perkembangan berdasarkan peningkatan prestasi yang diperoleh siswa dari

yang terdahulu. Dengan menggunakan metode skoring ini setiap siswa baik

yang berprestasi rendah, sedang, atau tinggi sama-sama memperoleh

kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.