Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Guru PAI Yang Ideal

0

Guru PAI Yang Ideal

1.      Pengertian Guru Agama

Kata guru berasal dari bahasa Indonesia yang berarti orang yang mengajar. Dalam bahasa Inggris dijumpai kata teacher yang berarti pengajar. Selain itu, terdapat kata tutor yang berarti guru pribadi yang mengajar dirumah, mengajar ekstra memberi les tambahan pelajaran. Educator yang berarti pendidik, ahli didik. Lecturer yang berarti pemberi kuliah atau penceramah.

Istilah lazim yang dipergunakan untuk pendidik adalah guru. Kedua istilah tersebut bersesuain artinya bedanya adalah terletak pada lingkungannya. Kalau guru hanya dilingkungan pendidikan formal sedang pendidik itu di lingkungan pendidikan formal, informal maupun non formal.

Untuk lebih jelasnya di bawah ini ada beberapa definisi tentang guru menurut pakar pendidikan sebagai berikut:

Pengertian guru menurut Prof. Moh. Athiyah Al-Abrosy adalah spiritual father atau bapak rohani bagi seorang murid adalah orang yang memberi santapan jiwa dan ilmu.[1]

Hadarawi Nawawi mengatakan bahwa guru adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah, sedangkan lebih khusus lagi ia mengatakan bahwa guru berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak didik mencapai kedewasaan.[2] 

Guru menurut Drs. Mohammad Amin dalam bukunya pengantar ilmu pendidikan adalah guru merupakan tugas lapangan dalam pendidikan yang selalu bergaul secara langsung dengan murid dan obyek pokok dalam pendidikan karena itu, seorang guru harus memenuhi berbagai persyaratan yang telah ditentukan.[3]

Sedangkan guru (pendidik) menurut Drs. Ahmad Marimba adalah orang yang memikul pertanggung jawaban untuk mendidik, pada umumnya jika mendengar istilah pendidik akan terbayang di depan kita seorang manusia dewasa dan sesungguhnya yang kita maksudkan adalah manusia yang karena hak dan kewajibannya bertanggung jawab tentang pendidikan si terdidik.[4]

Dan pendidik (guru) menurut Ahmad Tafsir adalah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik.

Dalam literatur kependidikan Islam, seorang guru agama biasa disebut sebagai ustadz, muallim, murabbiy, mursyid, mudarris dan mu’adib. Kata ustadz biasanya digunakan untuk memanggil seorang professor. Ini mengandung makna bahwa seorang guru dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya.

Kata Murabbiy berasal dari kata dasar rabb, Tuhan adalah sebagai rabb Al-alamin dan rab Al-nas, yakni yang menciptakan, mengatur dan memelihara alam seisinya termasuk manusia. Dilihat dari pengertian ini maka tugas guru adalah mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya dan lingkungan.

Kata Mursyid biasa digunakan untuk guru dalam thariqoh (tasawuf). Dalam hal ini mursyid (guru) berusaha menularkan penghayatan akhlak dan atau kepribadiannya kepada peserta didiknya, baik berupa etos kerja, etos ibadah, etos belajar maupun dedikasinya yang serba lillahi ta’ala.

Kata Muddaris berasal dari kata darasa-yadrusu-darsan wa durusan wa dirosatan yang berarti terhapus, hilang bekasnya, menghapus, menjadikan usang, melatih, mempelajari. Dilihat dari pengertian ini tugas guru adalah berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan serta melatih ketrampilan, maka hal ini sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan siswa.

Sedangkan kata Mu’adib berasal dari kata adab yang berarti moral, etika dan adab serta kemahiran bathin, sehingga guru dalam pengertian ini adalah orang yang beradab sekaligus memiliki peran dan fungsi untuk membangun peradaban yang berkualitas dalam masa depan. [5]

Selanjutnya jika melihat pada Al-Qur’an dan Al-Sunnah dijumpai pula istilah-istilah yang merujuk kepada pengertian guru atau orang yang berilmu lebih banyak lagi. Diantaranya istilah al-alim/ulama, ulu-alilm, ulu al-bab, ulu al-nuha, ulu al-absyar, al-mudzakir/ahlu al-dzikir, al-mudzakki, al-rasihun fi al-ilm, dan al-murabbi yang kesemuanya tersebar pada ayat Al-Qur’an.

Kata Al-Alim diungkapkan dalam bentuk jamak, yaitu Al-Alim yang terdapat pada surat Al-Ankabut (29) ayat 43.

ÇÍÌÈ !bqßJÎ=»yèø9$#wÎ) t$ygè=É)÷ètƒ ž$tBur Ĩ$¨Z=Ï9š$ygç/ΎôØnS@»sVøBF{$#ù=Ï?ur (العنكبوت: 43)

 

 

Artinya:

            an perumpamaan-perumpamaan ini kami buatkan untuk manusia dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu_. (Q.S. Al-Ankabut: 43)[6]

Kata tersebut dalam ayat dimaksud digunakan dalam hubungannya dengan orang-orang yang mampu menangkap hikmah atau pelajaran yang tersirat dalam berbagai perumpamaan yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Kata tersebut mengacu kepada peneliti yang tidak hanya mampu menemukan pelajaran, hikmah yang bermanfaat dari setiap perumpamaan yang diciptakan Tuhan tetapi juga mampu memanfaatkannya bagi kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia, dan mendorong untuk mengagungkan kekuasaan Tuhan dan selanjutnya ia tunduk dan patuh kepadanya.

Kemudian jamak dari kata Al-Alim adalah ulama yang dalam Al-Qur’an diungkapkan sebanyak sembilan kali yang dihubungkan dengan seseorang yang mempelajari sesuatu dan tidak hanya ada pada kalangan umat Islam, tetapi juga pada bani Israel. Mereka memiliki sifat takut dan tunduk kepada Allah sebagai akibat dari pengetahuannya yang mendalam terhadap rahasia kekuasaan Tuhan yang tampak pada alam ciptaannya seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, ternak, ruang angkasa, air, dan sebagainya (Q.S. Al-Fathir, 35: 28).

šÆÏBur Ĩ$¨Z9$# Å_U!#ur¤$!$#ur ÉO»yè÷RF{$#ur ì#Î=tFøƒèC ¼çmçRºuqø9r& šÏ9ºx‹x. 3 $yJ¯RÎ) Óy´øƒs† ©!$# ô`ÏB Ínϊ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$# 3 žcÎ) ©!$# ͕tã î‘qàÿxî ÇËÑÈ ) فا طر: 28)

Artinya:

            an demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha pengampun_.  (Q.S. Al-Fathir: 28).[7]                                      

Selanjutnya istilah yang dekat dengan kata Al-Alim atau ulama adalah ulu al-ilm yang dalam Al-Qur’an diulang sebanyak lima kali yang dalam penyebutannya beriringan dengan firman Allah dan para malaikat yang senantiasa bersikap teguh kepada kebenaran dalam firman Allah (Q.S. Ali Imran, 3; 18).

y‰Îgx© ª!$# ¼çm¯Rr& Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd èps3Í´¯»n=yJø9$#ur (#qä9’ré&ur ÉOù=Ïèø9$# $JJͬ!$s% ÅÝó¡É)ø9$$Î/ 4 Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd Ⓝ͖yêø9$# ÞOŠÅ6yÛø9$# ÇÊÑÈ (العمران: 18)

 

 

 

 

Artinya:

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu. (juga yang menyatakan demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana_ . (Q.S .Al-Imran: 18).[8]   

Hal ini menunjukkan bahwa orang berilmu posisinya demikian mulia dan diangkat derajat oleh Allah SWT. Kata berikutnya yang berkaitan dengan guru adalah ulu-albab. Kata ini dalam Al-Qur’an disebut sebanyak dua puluh satu kali dan selalu dihubungkan atau didahului oleh penyebutan berbagai kekuasaan Tuhan, seperti menjelaskan ke-Esaan Tuhan. Dengan demikian kata ulu al-albab mengacu kepada seseorang yang mampu menangkap pesan-pesan ilahiah, hikmah petunjuk dan rahmat Tuhan yang terkandung dalam berbagai ciptaan atau kebijakan-kebijakan Tuhan.

Selanjutnya istilah yang digunakan untuk menunjukkan pengetian guru adalah ulu al-nuha. Dalam Al-Qur’an diulang sebanyak tiga kali dan ditunjukkan bagi orang-orang yang dapat menangkap ajaran, hikmah, petunjuk, dan rahmat dari ciptaan tuhan seperti dalam hal pengaturan waktu malam dan siang serta penciptaan alam seisinya dalam firman Allah  (Q.S. Al-Nur, 24: 24)

tPöqtƒ ߉pkô¶s? öNÍköŽn=tã öNßgçFt^Å¡ø9r& öNÍk‰Ï‰÷ƒr&ur Nßgè=ã_ö‘r&ur $yJÎ/ (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ  ÇËÍÈ ( النّور: 24)

 

 

Artinya:

Ada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki  mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan(Q.S. An-Nur: 24).[9]

Kata selanjutnya berkenaan dengan guru adalah al-mudzaki. Kata ini diulang sebanyak tiga kali dan selau didahului oleh kata-kata Al-Qur’an, yaitu bahwa Allah swt telah menurunkan Al-Qur’an, dan seorang mudzakir adalah orang yang dapat tampil sebagai pemberi peringatan kepada manusia lainnya dengan cara mengemukakan kandungan Al-Qur’an agar manusia lainnya mengingat rahmat Allah SWT (Q.S. Al-Qomar, 54: 17).

ô‰s)s9ur $tR÷Žœ£o„ tb#uäöà)ø9$# ̍ø.Ïe%#Ï9 ö@ygsù `ÏB 9Ï.£‰•B ÇÊÐÈ (القمر: 17)

Artinya:

            Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran (Al-Qomar: 17)[10]

Dengan demikian kata al-mudzakir adalah orang-orang yang telah memahami ajaran tuhan sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an.        

      Dan kata berikutnya yang berkenaan dengan guru adalah ulu al-absyar. Kata ini dalam Al-Qur’an diulang sebanyak tiga kali dan di tunjukkan bagi orang-orang yang dapat menangkap ajaran, hikmah, petunjuk dan rahmat dari ciptaan Tuhan seperti dalam hal pengaturan waktu malam dan siang serta penciptaan alam seisinya. (Q.S. Ali Imron, 3:13)

ô‰s% tb$Ÿ2 öNä3s9 ×ptƒ#uä ’Îû Èû÷ütGt¤Ïù $tGs)tGø9$# ( ×py¥Ïù ã@ÏG»s)è? †Îû È@‹Î6y™ «!$# 3“t÷zé&ur ×otÏù%Ÿ2 NßgtR÷rttƒ óOÎgøŠn=÷WÏiB š”ù&u‘ Èû÷üyèø9$# 4 ª!$#ur ߉Îiƒxsム¾ÍnΎóÇuZÎ/ `tB âä!$t±o„ 3 žcÎ) ’Îû šÏ9ºsŒ ZouŽö9Ïès9 _Í<‘rT[{ ̍»|Áö/F{$# ÇÊÌÈ (العمران: 13)

Artinya:

            Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Q.S. Al-Imran: 13)[11]

Kemudian kata al-mudzaki digunakan oleh Al-Qur’an untuk menunjukkan kepada orang yang membersihkan diri dari orang lain dari aqidah yang tersesat dan akhlak yang tercela, orang tersebut adalah Nabi Muhammad saw (Q.S. Al-Baqaroh : 2)

y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu‘ ¡ Ïm‹Ïù ¡ “W‰èd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ (البقرة: 2)

Artinya:

            Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa  (Al-Baqarah: 2)[12]

Menurut M. Quraish Shihab bahwa kata mudzaki termasuk kedalam pengertian mendidik, sebab mendidik terkait dalam upaya membersihkan orang dari segala sifat dan akhlak yang tercela.

Selanjutnya yang berkaitan dengan guru adalah al-Rosihan fi al-ilm yaitu orang yang memahami pesan-pesan ajaran Al-Qur’an yang memerlukan penalaran dan ta’wil, yaitu mengalihkan makna Al-Qur’an secara harfiah kedalam makna majaziah tanpa harus bertentangan dengan makna Al-Qur’an secara keseluruhan (Q.S. Al-Imron, 3:7)[13]

uqèd ü“Ï%©!$# tAt“Rr& y7ø‹n=tã |=»tGÅ3ø9$# çm÷ZÏB ×M»tƒ#uä ìM»yJs3øt’C £`èd ‘Pé& É=»tGÅ3ø9$# ãyzé&ur ×M»ygÎ7»t±tFãB ( (العمران: 7)

Artinya:

            Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)Nya ada ayat-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pokok isi Al-qur’an dan yang lain ayat-ayat mutsyabihaat. (Q.S. Al-Imran: 7)[14]

Jadi guru agama adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya sesuai dengan ajaran Islam, agar mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah atau kholifah dimuka bumi ini baik sebagai makhluk sosial maupun sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.

Dalam Islam orangtualah yang bertanggung jawab paling utama terhadap anak didiknya bahkan ada yang sebagai pendidik kodrata, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Q.S. At-Tahrim: 6

(#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR (التحريم: 6)

 

Artinya:

            _ Peliharalah dirimu dan anggota keluargamu dari ancaman neraka_. (Q.S. At-Tahrim: 6).[15]

Dari dalil di atas menunjukkan bahwa dirimu_ ini merujuk pada orang tua_ sedangkan anggota keluarga merujuk kepada anak-anaknya. Adapun tugas seorang pendidik (guru) adalah mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi psikomotorik, kognitif maupun afektif dan dikembangkan secara seimbang sampai pada tingkat setinggi mungkin menurut ajaran Islam.

Akan tetapi setelah perkembangan pengetahuan, ketrampilan, sikap serta kebutuhan hidup sudah sedemikian luas dan orang tua juga tidak mempunyai kemampuan, waktu dan sebagainya, maka tugas mendidik ini dialihkan kepada orang lain yang berkompeten untuk melaksanakan tugas tesebut yaitu kepada guru (pendidik) di sekolah agar lebih efektif dan efisien.



[1] Athiyah Al-abrosyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1970, Hal. 136

 

[2] Abudin Nata, Op.Cit., Hal 62.

[3] Moh. Amin, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, Garoeda Buana, Pasuruan, 1992, Hal. 31.

[4] Ahmad Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al-Maarif, Bandung, 1989, Hal. 37

[5] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyagkarta, 2003, hal. 209-213

 

[6] Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya Edisi Revisi, Mahkota, Surabaya, 1990, Hal. 634

[7] Departemen Agama RI, Op.Cit., Hal 700

[8] Departemen Agama RI, Op.Cit., Hal 78

[9] Ibid, Hal. 547

[10] Departemen Agama RI, Op.Cit., Hal 879

[11] Departemen Agama RI, Op.Cit., Hal 77

[12] Ibid, Hal. 8

[13] Abudin Nata, Op.Cit., Hal 47-48.

[14] Departemen Agama RI, Op.Cit., Hal 76

[15] Departemen Agama RI, Op.Cit., Hal 951

Leave A Reply

Your email address will not be published.