Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Guru Agama Islam Sebagai Suri Tauladan

0

Guru Agama  Islam Sebagai Suri Tauladan

Seorang guru adalah sumber keteladanan, sebuah pribadi yang penuh dengan contoh dan teladan bagi murid-muridnya.[1] Guru merupakan sumber kebenaran, ilmu dan kebajikan di lingkungan sekolah. Tetapi ia semestinya mengembangkan dirinya tak sebatas ditempatnya mengajar, karena masyarakat luas membutuhkan pula keteladanannya. Seorang guru tidak cukup hanya baik sebab di dunia ini banyak sekali kita jumpai guru yang baik. Dan kalau cuma untuk mendapat predikat baik tidak perlu bersusah payah menjadi baik. Sekedar untuk tidak pernah menyakiti orang lain, sudah cukup dikatakan baik. Kalau hanya begitu setiap orang pasti bisa. Menjadi baik itu mudah, tetapi menjadi yang terbaik itu susah.

Kurang lebih begitulah yang dituntut murid kepada gurunya. Mereka mendambakan seorang guru yang benar-benar bisa diteladani dan tidak punya cacat moral atau akhlak sedikitpun. Murid semakin kritis bersikap, mereka tidak segan-segan memprotes gurunya jika sikap dan perilakunya bertentangan dengan ucapannya.

Dalam Al-Qur’an kata teladan diproyeksikan dengan kata uswah, metode yang cukup besar pengaruhnya dalam mendidik anak. Allah telah menunjukkan bahwa contoh keteladanan dari kehidupan Nabi Muhammad saw adalah mengandung nilai pedagogis bagi manusia. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi dalam Surat Al-Ahzab: 21

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ (الأحزاب: 21)

Artinya:

            esungguhnya telah ada pada diri Rasullah saw itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dari hari akhir dan dia banyak mengingat (menyebut) Allah_. (Q.S. Al-Ahzab: 21)[2]

Sedangkan Hadits Nabi Muhammad saw yang telah menjadi dasar contoh suri tauladan anak didik adalah:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَهَا بُعِثْت ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الاَخْلاَ ق (رواه الحاكم والبيهقى)

Artinya:

            ari Abu Hurairah r.a. berkata: rasulullah bersabda: sesungguhnya aku diutus ke muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik_.[3]

Itulah sebagian ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang dapat dikemukakan sebagai dasar suri tauladan, dimana kesemuanya itu mencerminkan atau tercermin dalam kepribadian Rasulullah saw. Metode keteladanan mampu mengarahkan manusia pada jalan kebenaran dan sekaligus menjadi perumpamaan dinamis yang menjelaskan cara mengamalkan syari’at Allah swt.

Sesuai dengan TAP MPR RI tentang GBHN dalam bidang pendidikan menetapkan diantaranya bahwa pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangunan yang seutuhnya. Sehingga bagi setiap pendidik harus mampu dengan penuh tanggung jawab menjalankan tugas-tugas tiap tiap sila dari Pancasila, sebagai berikut:

  1. Tugas memenuhi sila pertama, yaitu tugas Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Tugas memenuhi sila kedua, yaitu tugas kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Tugas memenuhi sila ketiga, yaitu tugas persatuan Indonesia atau tugas negara yang dimiliki bangsa Indonesia.
  4. Tugas memenuhi sila keempat, yaitu tugas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
  5. Tugas memenuhi sila kelima, yaitu tugas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.[4]

Sebagai manusia dewasa yang bermoral Pancasila diharapkan pendidik mempunyai sikap hidup yang sehat, yaitu tepat dalam menghayati dan mengamalkan Pancasila tersebut dengan kelima sila-silanya. Sesuai dengan pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila dan demi suksesnya pendidikan, maka seorang pendidik wajib memiliki sifat-sifat budi pekerti manusia bermoral Pancasila.



[1] Sojietno Irmin dan Abdul Rochim, Menjadi Guru yang Bisa Digugu dan Ditiru, Seyma Media, 2004. Hal. 66

[2] Departemen Agama RI, Op.Cit., Hal 670

[3] Jalaludin Al-Suyuti, Jaamius Shoghir, Dar Al-Nasyr Al-Misriyah, Surabaya, Hal 76

[4] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Rhineka Cipta, Jakarta, 2001, Hal. 246-247

Leave A Reply

Your email address will not be published.