Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Guru Agama Islam Sebagai Pengelola Peserta Didik

0

Guru Agama Islam Sebagai Pengelola Peserta Didik

Dalam interaksi belajar mengajar tugas guru tidaklah terbatas pada sekedar menyampaikan materi kepada anak, akan tetapi lebih dari itu adalah bahwa seorang guru harus berusaha mendidik anak didiknya. Kesulitan-kesulitan dan hambatan siswa dalam belajar hendaklah merupakan tantangan bagi guru untuk berusaha membantu memecahkanya. Untuk itu guru dapat membimbing anak secara individual, sesuai dengan perbedaan anak dengan perbedaan bakat, minat, cara, belajar, kemampuan, kebiasaan, tingkah laku dan kepribadian masing-masing anak.

Sehingga dengan bimbingan guru ini anak dapat memahami dan menerima masalah-masalahnya serta dapat memecahkan masalahnya sendiri yang kemudian dapat mengembangkan potensi atau kemampuan yang dimiliki secara optimal. Bimbingan yang diberikan kepada siswa hendaknya menyangkut masalah siswa, yang meliputi masalah di sekolah, didalam keluarga, dan masalah didalam kehidupan di masyarakat yang semuanya itu akan mempengaruhi proses belajar anak.

Sedangkan jenis-jenis bimbingan yang dapat diberikan kepada siswa dapat berupa bimbingan individu, bimbingan sosial, bimbingan pendidikan dan pengajaran, bimbingan pekerjaan dan bimbingan waktu senggang. Sardiman mengemukakan bahwa sehubungan dengan fungsinya sebagai 刾engajar_, 刾endidik_ dan 刾embimbing_, maka diperlukan adanya berbagai peranan pada diri seorang guru.

Peranan guru ini akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa (yang terutama) sesama guru, maupun dengan staf yang lain. Peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar, secara singkat dapat disebutkan sebagai berikut:

  1. Informator, sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, study lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.
  2. Organisator, guru sebagai seorang organisator, pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran, dan lain-lain. Komponen-komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, siswa diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga dapat mencapai efektifitas dan efesiensi dalam belajar pada diri siswa.
  3. Motivator, peranan guru sebagai motivator ini penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa.
  4. Pengarah/Director, jiwa kepemimpinan bagi guru dalam peranan ini lebih menonjol. Guru dalam hal ini harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. Guru juga harus 凥andayani_.
  5. Inisiator, guru dalam hal ini sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar mengajar. Sudah barang tentu ide-ide itu merupakan ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya. Jadi termasuk pula dalam lingkup semboyan 処ng Ngarso Sung Tulodo_.
  6. Transmitter, dalam kegiatan belajar mengajar guru juga akan bertindak selaku penyebar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan.
  7. Fasilitator, guru dalam hal ini akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar, misalnya menciptakan suasana kegiatan belajar yang serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar mengajar akan berlangsung efektif. Hal ini bergayut dengan semboyan 揟ut Wuri Handayani_.
  8. Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa. Misalnya, menengahi atau memberikan jalan keluar kemacetan dalam kegiatan diskusi siswa. Mediator juga dapat diartikan sebagai penyedia media, bagaimana cara memakai dan mengorganisasikan penggunaan media.
  9. Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademis maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil dalam belajar atau tidak.[1] 

Dengan mengetahui hal itu semua maka dapat disimpulkan bahwasanya pemberian nilai-nilai pendidikan yang mengacu pada upaya pembinaan kepribadian siswa yang memiliki akhlak mulia hanya mungkin tercapai apabila materi yang diberikan memuat nilai-nilai ajaran yang serasi dan tujuan yang diprogramkan adalah suatu kemustahilan apabila tujuan pendidikan yang dirancang sejalan dengan kerangka ajaran Islam diberi muatan kurikulum yang bersumber dari materi luar itu.

Diantara cara yang baik yang ditempuh dalam penyajian materi agama untuk pembinaan kepribadian siswa adalah dengan cara mengadakan forum tanya jawab dalam kelas maupun luar kelas mengenai seputar kehidupan siswa masing-masing agar mereka mencari jawaban secara terbuka terhadap berbagai tanda tanya akibat dari pengalaman yang dilaluinya. Setiap pertanyaan yang diajukan oleh siswa harus ditanggapi dengan sungguh-sungguh, wajar dan penuh perhatian.

Agar diperhatikan pula agama yang bersifat abstrak itu dapat disajikan sedemikian rupa sehingga ia menjadi bekal dalam hidup dan kehidupan manusia secara umum dan anak-anak didik secara khusus. Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa latihan-latihan keagamaan sangat penting, agar agama itu betul-betul masuk menjadi bagian diri pribadi anak. Agar mampu melaksanakan upaya pembinaan kepribadian siswa maka kepada semua guru agama tanpa memandang tingkat dan jenis sekolah yang dihadapinya sangat dituntut untuk memiliki perangkat kompetensi kepribadian yang telah disebutkan di atas.      

 



[1] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2001. Hal 141-144

Leave A Reply

Your email address will not be published.