Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Guru Agama Islam Sebagai Pengajar

0

Guru Agama Islam Sebagai Pengajar

Dalam pengajaran yang dipermasalahkan adalah bagaimana agar anak dapat belajar, jadi yang penting bukan apa yang dilakukan guru melainkan apa yang dapat dilakukan anak didik setelah ia mengikuti pengajaran tertentu. Dalam pengertian ini proses belajar terjadi karena guru menerangkan atau menyampaikan materi kepada anak, tetapi dapat juga terjadi karena ada interaksi aktif antara anak didik dengan sumber belajar yang ada di lingkungannya.

Namun demikian peranan guru sebagai pengajar tidak dapat diabaikan, karena guru selalu berusaha memanipulasikan sumber belajar di lingkungan anak didik supaya terjadi interaksi belajar yang terarah antara anak didik dengan lingkungannya sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Jumu’ah: 2

uqèd “Ï%©!$# y]yèt/ ’Îû z`¿Íh‹ÏiBW{$# Zwqߙu‘ öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Ftƒ öNÍköŽn=tã ¾ÏmÏG»tƒ#uä öNÍkŽÏj.t“ãƒur ãNßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% ’Å”s9 9@»n=|Ê &ûüÎ7•B ÇËÈ (الجمعة: 2)

Artinya:

            ialah yang mengutus kepada ummat yang buta huruf seorang Rasul dari antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka dan membersihkan hati serta mengajarkan mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelum benar-benar dalam kesesatan yang nyata_. (Q.S. Al-Jumu’ah: 2)[1] 

Guru adalah pribadi yang bertanggung jawab kepada anak didiknya, masyarakat sekitar, dirinya sendiri dan Tuhan Yang Maha Esa. Tanggung jawab terhadap anak didiknya tidak terbatas pada upaya mencerdaskan saja, namun melakukan pembinaan sehingga memiliki pribadi yang bertanggung jawab.[2]

Menurut Soetomo ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru sebagai pengajar, yaitu:

  1. Guru harus berusaha membangkitkan motivasi pada diri anak. Untuk membangkitkan motivasi anak dalam belajar, guru dapat menjelaskan pelajarannya dengan sistematis, bahasa yang sederhana yang dapat dimengerti anak. Tidak menggunakan istilah yang asing, karena hal demikian anak tidak menaruh minat pada materi yang disampaikan. Guru hendaknya tidak bersikap kaku dan monoton, tetapi perlu memberikan variasi dalam penyampaian materi dan memberikan contoh yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan pengalaman anak.
  2. Guru hendaknya membuat struktur pengajaran yang sistematis. Dalam hal ini, guru hendaknya merinci pengajaran terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pendahuluan, bagian inti, dan bagian penutup.
  3. Guru harus dapat memahami dan menghormati murid. Setiap anak didik mempunyai perbedaan-perbedaan dan guru harus memahami dan menghormat setiap perbedaan itu. Misalnya siswa yang cepat, dan lambat belajar. Mereka mempunyai minat, kebutuhan, pengalaman dan latar belakang yang berbeda-beda. Guru harus bisa menyesuaikan materi dengan perbedaan-perbedaan yang dimiliki siswa.
  4. Guru harus bisa menyesuaikan bahan dan metode dengan kesanggupan anak didik. Setiap anak mempunyai kesanggupan yang berbeda dalam setiap hal, biasanya guru berusaha menyesuaikan pelajarannya dengan kesanggupan rata-rata anak dalam kelas. Sehingga bagi yang kurang pandai jelas merasa kesulitan dalam menerima pelajaran atau sebaliknya.
  5. Guru harus percaya bahwa anak memiliki potensi (kemampuan) untuk berkembang. Pada dasarnya setiap anak memiliki kemampuan untuk berkembang karena itu guru hendaknya memberi kesempatan pada muridnya untuk mengembangkan potensinya. Guru hendaknya demokratis, yang mana memberi kesempatan kepada murid untuk menentukan sendiri apa yang akan dipelajari sambil membimbingnya.
  6. Guru membuat perencanaan dan persiapan yang matang sebelum mengajar, baik perencanaan dan persiapan secara tertulis maupun perencanaan dan persiapan diri.
  7. Memberi hukuman yang bersifat mendidik dan memberi ganjaran  atau pujian kepada siswa yang melakukan perbuatan baik. Pujian yang diberikan dapat berupa penghormatan, hadiah dan dapat berupa pemberian kepercayaan untuk memimpin sesuatu. Dalam memberi hukuman hendaknya menjauhi hukuman badan.
  8. Guru dapat memanfaatkan media pengajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional. Media yang digunakan hendaknya yang digunakan jangan dilihat dari mahalnya tetapi apakah media itu dapat mendukung tercapainya tujuan pengajaran.[3]

Di sekolah guru bertanggung jawab penuh melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang guru. Di tengah masyarakat ia dituntut tanggung jawabnya sebagai anggota masyarakat, bahkan biasanya karena ia seorang guru masyarakat memberinya tanggung jawab yang lebih besar dibanding anggota masyarakat lainnya.

Guru selalu diidentikkan dengan sosok yang pintar sekaligus berbudi luhur, guru yang bertanggung jawab pasti akan berusaha memenuhi tanggung jawab tersebut dengan sebaik-baiknya. Tetapi sebagai guru tanggung jawabnya yang paling besar adalah tanggung jawabnya terhadap program pengajaran. Tanggung jawab ini pada dasarnya yang lain apabila ia sudah berhasil mengangkat derajat anak didiknya, dari jurang kebodohan sehingga mendapatkan cahaya kecerdasan dengan tulus dan ikhlas, maka ia sudah melaksanakan tanggung jawabnya kepada yang lain. Guru yang mengerti tugas dan tanggung jawab dan kewajibannya tidak akan melarikan diri dari tanggung jawab.

Ia bukan tipe orang yang suka melemparkan tanggung jawab kepada orang lain walaupun tugas dan kewajibannya tersebut dirasakan cukup berat, ia tidak akan pura-pura tidak tahu apa tugas dan kewajibannya, sebaiknya ia akan berusaha melaksanakan program yang dibebankan kepadanya dengan sebaik-baiknya.



[1] Departemen Agama RI, Op.Cit., Hal 932

[2] Soejitno Irmin dan Abdul Rochim, Op.Cit., Hal 45.

[3] Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, Surabaya, Usaha Nasional, 1993, Hal. 21-24

Leave A Reply

Your email address will not be published.