Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Guru Agama Islam Sebagai Pendidik Akhlak

0

Guru Agama Islam Sebagai Pendidik Akhlak

Pendidik adalah merupakan salah satu faktor yang sangat penting karena pendidik itulah yang akan bertanggung jawab dalam pembentukan pribadi anak didiknya. Terutama pendidikan agama ia mempunyai pertanggung jawaban yang lebih berat dibandingkan dengan pendidik pada umumnya, karena selain bertangung jawab terhadap pembentukan pribadi anak yang sesuai dengan ajaran Islam, ia juga bertanggung jawab terhadap Allah SWT.[1] 

Proses pendidikan tidak mungkin terjadi apabila tidak ada pendidik. Yang dimaksud dengan pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan bimbingan secara sadar terhadap perkembangan kepribadian dan kemampuan si terdidik baik jasmani maupun rohani agar mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai makhluk tuhan, makhluk individu dan makhluk sosial.

Seorang pendidik atau guru harus mengetahui apa, mengapa, dan bagaimana proses perkembangan jiwa anak didik, karena dia sebagai formal memang terutama bertugas untuk mengisi kesadaran anak-anak, membina mental mereka, dan membangun kepribadian yang baik dan integral sehingga mereka kelak berguna bagi nusa dan bangsa. Tugas pendidik agama adalah sebagai berikut:

  1. Mengajarkan ilmu pengetahuan agama Islam
  2. Menanamkan keimanan dalam jiwa
  3. Mendidik anak agar berbudi pekerti yang baik dan mulia
  4. Mendidik anak agar taat terhadap ajaran agama.[2]

Karena itu pendidik atau guru harus bisa memahami isi jiwa, sifat mental, minat dan kebutuhan setiap muridnya agar ia bisa memberikan bimbingan dan pelajaran dengan sebaik-baiknya.

Salah satu syarat yang harus dimiliki oleh seorang Guru Agama Islam adalah tingkah laku yang menunjukkan kerendahan hati, keluhuran budi dan penuh kebijaksanaan dalam menghadapi segala sesuatu. Cara yang demikian telah dirintis oleh Nabi sendiri. Ayat yang memperjelas hal ini dalam surat At-Tahrim:6 dan surat An-Nahl: 125 adalah sebagai berikut:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR (التحريم: 6)

Artinya:

            ai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka_. (Q.S. At-Tahrim: 6)[3]

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ (النحل: 125)

Artinya:

            erulah manusia kedalam agama Islam dengan kebijaksanaan dan nasehat yang baik. Bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih tahu akan orang yang sesat dari jalan agama-Nya dan lebih tahu akan orang-orang yang mendapat petunjuk_. (Q.S. An-Nahl: 125)[4]

Dengan demikian maka akhlak adalah 搆ebiasaan kehendak_ berarti bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu maka kebiasaannya itu disebut dengan akhlak.[5] Maka jelaslah bahwa agama memberikan bimbingan hidup kepada setiap diri manusia ke jalan yang lurus. Agama Islam merupakan suatu agama yang di dalamnya mengandung ajaran-ajaran bagi seluruh ummat-Nya. Salah satu ajaran agama Islam yang paling mendasar adalah masalah akhlak. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Surat Luqman: 17

¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4’n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷“tã ͑qãBW{$# ÇÊÐÈ (القمان: 17)

Artinya:

            ai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)_. (Q.S. Luqman: 17)[6]

Berdasarkan ayat di atas maka berakhlak itu diwajibkan bagi setiap orang yang mana akhlak tersebut banyak menentukan sifat dan karakter seseorang khususnya dalam pergaulannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Seseorang akan dihargai dan dihormati apabila memiliki sifat atau akhlak mulia. Demikian juga sebaliknya dia akan dicampakkan dan dibenci dimata masyarakat apabila dia berakhlak yang buruk dan tercela, bahkan dihadapan Allah akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang dilakukannya.

Oleh karena itu, tujuan setiap pendidik agama, tidak lain ialah untuk menuntun anak agar menjadi manusia yang berakhlak, manusia yang berbudi luhur, manusia yang bertaqwa kepada Tuhan dan manusia yang menyakini dan mengamalkan ajaran agamanya masing-masing, termasuk ajaran Agama Islam.



[1] Zuharini dkk, Metodologi Pendidikan Agama, Ramadhani, Solo, 1993, Hal. 11

[2] Zuharini dkk, Op.Cit., Hal 35

[3] Departemen Agama RI, Op.Cit.,Hal. 951

[4] Departemen Agama RI, Log.Cit., Hal 421

[5] Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), Jakarta, Bulan Bintang, 1995, Hal. 62

[6] Departemen Agama RI, Op.Cit., Hal 655

Leave A Reply

Your email address will not be published.