Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN

0

Dalam kehidupan sehari-hari manusia menghadapi berbagai pilihan- pilihan.  Manusia  yang  satu  dengan  yang  lainnya  memiliki  variasi  dalam keanekaragaman pilihan-pilihan yang dihadapi. Aktivitas atau kegiatan seseorang pada dasarnya adalah tindakan untuk menentukan salah satu atau sejumlah pilihan dari beberapa alternatif yang dihadapinya (Barlett, 1980). Individu dihadapkan dengan beberapa alternatif untuk dipilah-pilah atau dikaji dan mulai menentukan alternatif mana yang sesuai atau mendatangkan manfaat bagi dirinya. Hal  ini merupakan sebagian dari pokok pikiran yang disampaikan  dalam  the                 real  life choise theory (Gladwin, 1980).

Menurut  teori  tersebut,  apabila  seseorang  melakukan  suatu  aktivitas tertentu berarti ia telah melewati suatu tahapan pemilihan dari beberapa alternatif yang  ada  di  hadapannya.  Jadi,  apabila  seseorang  pergi                                                                         berbelanja  ke  suatu supermarket, maka ia telah melewati tahap pemilihan terhadap beberapa alternatif. Kemungkinan sebelum pergi berbelanja ke supermarket, ia juga menghadapi pilihan lain, misalnya pergi ke salon, menjenguk cucu, menonton telenovela, menelpon seseorang, membaca koran, atau bersantai di atas sofa. Dari beberapa alternatif  tersebut  ia  memilih  untuk  pergi  berbelanja  ke  supermarket.  Hal  ini dipilih karena dipandang lebih sesuai dan mendatangkan manfaat bagi dirinya saat

itu. Sangat dimungkinkan pilihan yang diambil oleh orang tersebut merupakan

 

 

 

 

 

1

 

 

 

 

 

 

pilihan yang tidak sesuai dan tidak bermanfaat bagi orang   lain. Kemungkinan orang  lain  tersebut  akan  memilih  beristirahat  di  atas  sofa  atau  menonton televovela. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa pilihan yang diambil oleh seseorang terkait dengan kondisi internal seseorang.

Erat terkait dengan pembahasan di atas adalah masalah pengambilan keputusan atau decision making. Pengambilan keputusan merupakan aktivitas sehari-hari yang tidak dapat dihindari oleh setiap orang baik disadari maupun tidak disadari. Pada saat orang harus memilih, mempertimbangkan, menaksir dan memprediksi sesuatu maka berarti ia berada dalam situasi pengambilan keputusan (Matlin, 1998).

Studi tentang pengambilan keputusan telah banyak dilakukan orang dari pelbagai disiplin ilmu.  Decision making telah menjadi perhatian yang cukup lama baik dalam pengembangan teori ataupun penelitian dalam Psikologi sosial. Dalam kancah  Psikologi,  biasanya  studi  tentang  pengambilan  keputusan  dikaitkan dengan pengaruh persepsi, ingatan, pola pikir, emosi dan karakteristik kepribadian (Wolman, 1997).

Menurut Chang (dalam, Kuntadi, 1996), dalam kehidupan sehari-hari individu sering berada dalam situasi pengambilan keputusan yang ditandai dengan adanya permasalahan dan beberapa alternatif atau pilihan yang harus diambilnya. Pilihan-pilihan tersebut merupakan alternatif pemecahan masalahnya. Dalam menentukan pilihan yang diambil maka individu harus melakukan perhitungan, analisa dan perkiraan terhadap serangkaian alternatif tersebut. Alternatif yang mendatangkan  manfaat  dan  menghindarkan  diri  dari  kerugian-kerugian  akan

 

 

 

 

 

 

diambil, sementara alternatif yang merugikan akan dihindari atau diabaikan. Menurut Chang, proses pemilihan atau penentuan alternatif pemecahan masalah terhadap beberapa alternatif yang ada   merupakan inti dari proses pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan ini meliputi semua aspek kegiatan individu, baik dalam kegiatan rutinitas maupun permasalahan yang penting dalam diri  individu,  namun  seringkali  dalam  kajian  ilmiah  tentang  pengambilan keputusan perhatian terutama ditujukan pada proses pengambilan keputusan yang penting dalam kehidupan seseorang  (Siagian, 1991).

Dalam hal pengambilan keputusan ternyata ditemukan bahwa tidak semua individu melakukan pendekatan dengan cara yang sama dalam mengambil keputusan. Jadi ada gaya yang berbeda-beda dalam pengambilan keputusan (Birgham Young   University,                  1999).         Gaya  pengambilan    keputusan                  dapat didefinisikan sebagai cara unik seseorang dalam membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Tanpa memperhatikan keputusan apa yang dibuat, tiap orang mempunyai cara unik untuk mengambil keputusan. Tidak ada satupun cara terbaik yang dapat berlaku bagi semua orang. Setiap orang belajar mengandalkan suatu  cara  terbaik  yang  berlaku  atas  dirinya  sesuai  dengan  pengalamannya (Harren, dkk.,1978).

Berdasarkan hal tersebut, maka berarti tiap orang memiliki cara atau gaya tersendiri dalam mengambil keputusan. Gaya pengambilan keputusan menjadi bersifat unik dan khas bagi individu-individu. Harren, (dalam Bruce & Scott,

1999) mengajukan skema klasifikasi gaya pengambilan keputusan yang mencakup dua         (2)        kategori         yang berseberangan     dengan               tajam      berkenaan                dengan

 

 

 

 

 

 

pengumpulan    informasi    dan   evaluasi    informasi,    yaitu   gaya    pengambilan keputusan rasional dan intuitif. Gaya pengambilan keputusan rasional bercirikan kepastian, kemampuan yang tinggi dalam perencanaan, sistematis, kepercayaan diri tinggi, cenderung menyelesaikan tugas dengan kontrol tinggi. Gaya intuitif lebih mengandalkan fantasi, perasaan, kesadaran emosional, kadang-kadang impulsif, cepat mengambil keputusan, banyak dipengaruhi oleh dorongan emosional.

Gaya pengambilan keputusan juga dapat dipahami sebagai cara respon yang   dipelajari   atau   dibiasakan   dan   melalui   hal   ini,   individu   melakukan pendekatan dan mengambil keputusan (Bruce & Scott, 1999). Dari hal ini nampak bahwa gaya pengambilan keputusan terjadi melalui pengalaman-pengalaman dan dalam kurun waktu tertentu atau dibiasakan.

Telah disebutkan di atas bahwa pengambilan keputusan juga dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian seseorang (Wolman,1977).  Tiap individu memiliki cara unik dalam melakukan pendekatan dan mengambil keputusan, sehingga cara- cara unik tersebut menjadi gaya pengambilan keputusan bagi masing-masing individu. Berdasarkan hal ini, maka dapat diajukan suatu pertanyaan yang relevan, yaitu apakah ada hubungan atau keterkaitan antara gaya pengambilan keputusan dan karakteristik  kepribadian.

Masalah  kepribadian  telah  menjadi  bahan  perbincangan  dan  penelitian atau bahkan polemik ilmiah di antara para ahli Psikologi. Hal ini mengingat kepribadian merupakan masalah yang kompleks. Para ahli sebagian besar sepakat bahwa aspek kepribadian menjadi aspek penentu keunikan dan menentukan warna

 

 

 

 

 

 

khas individu yang satu dengan yang lain (Suryabrata, 2000). Kepribadian merupakan organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Istilah menentukan ini berarti sangat mempengaruhi perbuatan-perbuatan  yang dilakukan individu atau perilakunya (Allport, dalam Suryabrata, 1998). Batasan yang  lain  menyatakan  bahwa  kepribadian  dapat  dilihat  sebagai  integrasi  dari aspek kognitif, afektif, konatif dan karakteristik fisik individu . Kepribadian juga dipandang  sebagai  motif  perilaku  atau  sistem  berperilaku  (Roback,  dalam Bischof, 1970).

Bersamaan dengan berjalannya waktu, minat para ahli Psikologi terhadap penemuan  ilmiah  tentang  perbedaan  kepribadian  antar  individu  juga  semakin besar. Para ahli mulai banyak mempelajari dan meneliti perbedaan atau tipologi kepribadian                                           manusia.  Berdasarkan   penemuan-penemuan                      tentang      perbedaan kepribadian manusia ini, para ahli juga mulai meneliti lebih dalam lagi, yaitu pengaruh perbedaan kepribadian tersebut bagi perilaku seseorang (Smith & Anderson, 1986) Penelitian seperti ini ternyata mendatangkan manfaat praktis yang besar, kemudian para ahli mulai menyusun teori maupun tes atau alat ukur untuk menentukan perbedaan kepribadian antara individu yang satu dengan yang lainnya (Suryabrata, 1998).

Salah satu penemuan ilmiah berkaitan dengan hal tersebut di atas adalah tipologi yang diajukan oleh Jung, yaitu membedakan kepribadian seseorang ke dalam  dua  tipe  kepribadian  :  introvert  dan   extravert.                                                                              Tipe  kepribadian  ini kemudian  oleh  Eysenck  dikembangkan  lebih  lanjut.  Eysenck  membedakan

 

 

 

 

 

 

kepribadian dalam dua tipe, yaitu introvert dan extravert, untuk menyatakan adanya perbedaan dalam reaksi-reaksi terhadap lingkungan dan dalam tingkah laku (Suherman,M., R.A. & Yuanita, R., 2000).

Menurut Jung (dalam Hall & Lindsay, 1999), individu yang bertipe kepribadian introvert orientasi jiwanya terarah ke dalam dirinya, suka menyendiri, menjaga jarak terhadap orang lain, cenderung pemalu, membutuhkan waktu agak lama dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan, tidak mudah percaya pada impuls seketika, tidak menyukai perangsangan, suka hidup teratur, perasaannya di bawah kontrol yang ketat, agak pesimis dan menjunjung nilai-nilai etis. Individu yang  bertipe  kepribadian  extrovert  orientasi  jiwanya  terarah  ke  luar  dirinya, bersifat sosiabel, membutuhkan orang lain untuk diajak berbicara dan tidak menyukai aktifitas menyendiri, menyukai perangsangan, menyukai tindakan berisiko secara tiba-tiba, umumnya bersifat impulsive, menyukai perubahan, cenderung agresif dan perasaannya tidak di bawah kontrol yang ketat.

Eysenck melihat bahwa tiap individu memiliki atau tergolong dalam salah satu tipe kepribadian tersebut. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa tipe kepribadian ekstravert – intravert  ini untuk menyatakan adanya perbedaan-perbedaan reaksi terhadap       lingkungan,        sekaligus  menggambarkan          keunikan                 individu         dalam beringkah                      laku terhadap         suatu                    stimulus                 sebagai  perwujudan        karakter, temperamen, fisik dan kognitif individu (Suherman & Yuanita, 2000).

Berdasarkan beberapa pernyataan di atas, maka diketahui bahwa tipe kepribadian seseorang akan sangat berpengaruh dalam penentuan pola perilaku

 

 

 

 

 

 

tertentu dalam menghadapi stimulus-stimulus. Hal ini juga berlaku dalam masalah gaya pengambilan  keputusan (decision- making style).

Leave A Reply

Your email address will not be published.