Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Fisiologi Tawa

0

Fisiologi Tawa

 

Aspek-aspek emosi, termasuk tertawa, “diatur” oleh pusat emosi di dalam struktur otak yang dinamakan sistem limbic (limbic sistem). Sistem limbic berasal dari kata “limbus” yang berarti “batas”. Nama ini dipilih karena menunjukkan daerah fungsional yang dibatasi. Daerah itu sendiri dibentuk oleh beberapa komponen otak, antara lain hippocampus, gyrus limbic, dan amiygdale. Sistem limbic ini memainkan peranan dalam mengatur emosi manusia (Aswin, 2005. Pasiak, 2004 : 66).

            Sistem limbik yang juga berhubungan dengan aspek-aspek tingkah laku tertentu ini bentuknya seperti lingkaran sehingga oleh seorang ahli bernama Papez dinamai lingkaran bergema. Papez menemukan hal ini karena ketika intinya dirusak, orang yang bersangkutan menunjukkan suatu emosi yang tidak tepat atau kacau. Artinya, secara tidak sengaja orang ini bisa mudah marah, tetapi gampang pula tertawa terbahak-bahak meskipun tidak lucu. Itu karena lingkaran yang juga merupakan pusat emosi manusia itu terputus. Kalau salah satu bagian dari lingkaran ini rusak, memori orang itu juga akan hilang. Hal ini terjadi pada orang yang sudah pikun.

            Menurut Dr. Lee Berk, seorang imunolog dari Loma Linda University di California USA, tertawa bisa mengurangi peredaran dua hormon dalam tubuh, yaitu efinefrin dan kortisol, yang bisa mengalangi proses penyembuhan penyakit.

            Sementara itu, Ekman dan Friesen (1984, dalam Hasanat, 1996) membagi wajah ke dalam tiga bagian (a) alis/dahi (b) mata/kelopak mata, pangkal hidung dan (c) wajah bagian bawah yaitu bibir, mulut, sebagian besar hidung, dagu, pembagian ini didasarkan fakta bahwa daerah ini secara motorik tidak saling tergantung.

            Menurut Ekman dan Friesen (1984, dalam Hasanat, 1996) ekpresi wajah bahagia tampak pada ekpresi senyum yang ditunjukkan pada:

a)      Sudut bibir tertarik kebelakang dan tertarik ke atas

b)      Bibir merapat atau meregang dengan gigi terlihat atau tidak

c)      Ada kerutan turun dari hidung sampai sudut luar bibir

d)     Pipi terangkat

e)      Ada kerutan dibawah kelopak mata bagian bawah

f)       Ada kerutan disudut luar mata.

            Selanjutnya Ekman dan Friesen (1984, dalam Hasanat, 1996) mengatakan bahwa dalam ekspresi bahagia biasanya mata terlihat ”bersinar”. Intensitas bahagia terutama ditentukan oleh posisi bibir. Apabila sudut bibir semakin kebalakang dan keatas disertai dengan kerutan naso labial, dan kerutan dibawah kelopak mata bagian bawah, maka ekspresi bahagia semakin kuat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.