Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Fenomena Remaja Metropolitan

0

Fenomena Remaja Metropolitan

Dewasa ini, dalam arus kesibukan dan kekalutan pembangunan masyarakat, fenomena yang boleh mengentaskan kemajuan menular di kalangan rakyat. Fenomena ini bukanlah satu yang sukar untuk ditemui, malah amat nyata di kalangan masyarakat. Fenomena yang dimaksudkan ini ialah prilaku muda-mudi atau remaja yang sering diperkatakan.

Remaja saat ini sungguh berbeda dengan generasi dari usia yang sama pada masa-masa sebelumnya. Remaja biasanya didefinisikan sebagai masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Tidak ada batasan usia yang jelas untuk masa transisi ini, tapi kurang lebih dimulai sejak usia 12 tahun hingga akhir usia belasan, atau awal usia 20-an tahun. Setidaknya ada tiga hal penting yang menandai masa-masa peralihan remaja ini, yakni perubahan fisik, pencarian dan pemantapan identitas diri, serta persiapan menghadapi tugas dan tanggung jawab sebagai manusia yang mandiri[1].

Perubahan di kalangan remaja tidak boleh dianggap sebagai perkara yang remeh. Perkara ini perlu dipandang dengan lebih serius terutamanya oleh golongan remaja yang menganggap diri mereka sebagai ‘warga kota’. Mereka bersikap egoistik terhadap persekitaran sehingga mengagungkan budaya barat hingga terungkai ikatan pedoman yang dipupuk sejak kecil. Mungkin seribu satu alasan akan diajukan dalam mengukuhkan kedudukan remaja mengenai prilaku mereka.

Faktor mendukung seperti masyarakat yang sedikit-banyak menyebabkan perubahan kepada golongan remaja. Rakan sebaya memainkan peranan penting dalan pembentukkan moral, namun demikian, keyakinan terhadap diri sendiri perlu diawasi. Remaja tidak seharusnya membutakan mata sendiri hingga tidak lagi dapat membedakan yang baik dan buruk serta yang hitam dan yang putih. Memang sering dilihat dikalangan remaja, sudah ada yang berjinak-jinak dengan rokok. Pandangan sedemikian amatlah menjijikkan dan boleh juga dikatakan ‘mengerikan’.

Pada  masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness).  Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri.  Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran.   Remaja putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”.  Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan  remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata.  Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau pun dipikirkannya. Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan oleh orang lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan.

Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka.  Tindakan impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat jangka pendek atau jangka panjang. Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung-jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung-jawab. Pemilihan idola ini juga akan menjadi sangat penting bagi remaja. Salah satu topik yang paling sering dipertanyakan oleh individu pada masa remaja adalah masalah “Siapakah Saya?” Pertanyaan itu sah dan normal adanya karena pada masa ini kesadaran diri (self-awareness) mereka sudah mulai berkembang dan mengalami banyak sekali perubahan.   Remaja mulai merasakan bahwa “ia bisa berbeda” dengan orangtuanya dan memang ada remaja yang ingin mencoba berbeda.  Inipun hal yang normal karena remaja dihadapkan pada banyak pilihan. Karenanya, tidaklah mengherankan bila remaja selalu berubah dan ingin selalu mencoba – baik dalam peran sosial maupun dalam perbuatan. Contoh: anak seorang insinyur bisa saja ingin menjadi seorang dokter karena tidak mau melanjutkan atau mengikuti jejak ayahnya. Ia akan mencari idola seorang dokter yang sukses dan berusaha menyerupainya dalam tingkahlaku. Bila ia merasakan peran itu tidak sesuai, remaja akan dengan cepat mengganti peran lain yang dirasakannya “akan lebih sesuai”. Begitu seterusnya sampai ia menemukan peran yang ia rasakan “sangat pas” dengan dirinya. Proses “mencoba peran” ini merupakan proses pembentukan jati-diri yang sehat dan juga sangat normal. Tujuannya sangat sederhana; ia ingin menemukan jati-diri atau identitasnya sendiri. Ia tidak mau hanya menurut begitu saja keingingan orangtuanya tanpa pemikiran yang lebih jauh.



[1]    Hilgard, Ernest R, Rita L, Etkinson  & Richard C. Atkinson, Introduction to Psychology, New York: Harcoun Brace Jovanovich Inc., 1979, hal.88

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.