Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Epistemologi psikoanalisis Sigmund Freud pada periode klasik

0

Epistemologi psikoanalisis Sigmund Freud pada periode klasik

Psikoanalisis layak disebut sebagai aliran psikologi yang paling berpengaruh di dunia ilmu pengetahuan. Pengaruh tersebut tergambar pada salah satu pernyataan Erich Fromm sebagai ilmuwan yang secara giat mengkaji pemikiran psikoanalisis. Fromm menyebut pendiri psikoanalisis, Sigmund Freud sebagai arsitek dunia modern seperti halnya Einstein dan Karl Marx. Menurut Fromm, Freud mampu menunjukkan tatanan fundamental realitas manusia seperti Einstein yang mampu menunjukkan cara kerja alam dan Marx yang mampu menunjukkan realitas masyarakat.  
Namun, di satu sisi Freud disebut-sebut sebagai pemikir yang mewariskan ketidakberesan epistemologi atas teori-teorinya (psikoanalisis). Keilmiahan objek psikoanalisis dari awal kelahirannya telah menjadi perdebatan. Hal itu tergambar dalam pengantar “Tafsir Mimpi” dimana Freud menegaskan kedudukan epistemologi mimpi dalam pengetahuan ilmiah kontemporer.  Kalangan psikolog sendiri pun tidak sedikit yang enggan menerima psikoanalisis. Bukti tersebut terlihat jelas dari paparan James D. Page yang mewakili para psikolog berikut ini:
The unwillingness of most psychologists to accept psychoanalysis fully has been explained on the grounds that Freudian concepts are based on subjective, nonscientific techniques that have no self-evident validity.
Pernyataan lain yang lebih tegas menyerang kecacatan asumsi yang dibangun Freud dalam menghasilkan teori adalah:
“The Oedipus Complex is based on the faulty assumption that there is a fixed, uniform pattern of family life.”
Problem epistemologi yang lebih mengernyitkan dahi adalah apa yang ditunjukkan oleh Hans Küng. Küng menunjukkan bahwa bangunan epistemologi Freud berbasis anatomik. Menurutnya, Freud menerapkan prinsip-prinsip fisikalis-fisiologis dalam penelitian-penelitian psikologis, sehingga proses-proses psikologis manusia terpahami layaknya mesin.  
Problem-problem epistemologi psikoanalisis Freud tidak hanya berlangsung pada masanya. Hingga kini problem-problem tersebut masih lekat dalam berbagai diskursus ilmu pengetahuan. Strukturalisme, postrukturalisme, feminisme, posfeminisme, dan cultural studies adalah penggiat-penggiat kajian epistemologi ilmu pengetahuan yang terus menunjukkan problem epistemologi aliran psikologi tersebut. Salah satu tokoh strukturalisme, Jacques Lacan mengkritik bahwa Freud telah mencita-citakan proyek yang mustahil dicapai. Freud mencita-citakan bahwa ego dapat menggantikan ketidaksadaran. Proyek tersebut yang menurut Lacan adalah kemuskilan. Menurutnya, ego tidak akan pernah menggantikan ketidaksadaran, karena ego hanyalah ilusi dan merupakan produk kesadaran itu sendiri.  Meskipun Lacan adalah psikoanalis yang banyak terinspirasi oleh temuan-temuan Freud, ia tetap mengakui problem epistemologi pendahulunya tersebut.
Kritik-kritik epistemologi psikoanalisis Freud juga didengungkan oleh pemikir postrukturalisme, Jacques Derrida. Menurut filsuf kelahiran Aljazair itu, bangunan epistemologi Freud tidak dapat terlepas dari logosentrisme modernisme Barat. Freud meneguhkan bahwa kesadaran adalah sesuatu yang hadir dan harus dicapai untuk membentuk kedewasaan.  Padahal, menurut Derrida logosentrisme modernisme Barat mengandung cacat-cacat internal yang tidak mungkin mampu memandang dunia secara utuh.  Artinya, modernisme selalu menghadirkan sebuah centrum yang harus dipuja, sementara yang tidak menjadi centrum menjadi subordinat. Oleh karena itu, kehadiran kesadaran yang diusung Freud hanyalah penegasan kembali atas logosentrisme modernisme Barat yang bersemangat mengsubordinatkan selain centrum.

Leave A Reply

Your email address will not be published.