Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Dimensi-Dimensi Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia

0

Dimensi-Dimensi Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia

            Berbicara masalah sumber daya manusia, sebenarnya dapat kita lihat dari dua aspek, yakni kuantitas dan kualitas. Kuantitas menyangkut jumlah sumber daya manusia (penduduk) yang kurang penting kontribusinya dalam pembangunan, dibandingkan dengan aspek kualitas. Bahkan kuantitas sumber daya manusia tanpa disertai kualitas yang baik menjadi beban pembangunan suatu bangsa. Sedangkan kualitas menyangkut mutu sumber daya tersebut, yang menyangkut kemampuan, baik kemampuan fisik maupun non fisik (kecerdasan dan mental). Oleh karena itu, untuk kepentingan akselerasi suatu pembangunan dibidang apapun, maka peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan suatu syarat utama.[1]

            Menurut Moh. Kasiram sebagaimana yang dikuti oleh Asmaun Sahlan kualitas sumber daya manusia ini menyangkut dua aspek juga, yaitu aspek fisik (kualitas fisik) dan aspek non fisik (kualitas non fisik), yang menyangkut kemampuan bekerja, berpikir, dan ketrampilan-ketrampilan lain. Oleh sebab itu, upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia ini diarahkan kepada dua aspek tersebut. Untuk meningkatkan kualitas, dapat diusahakan melalui program-program kesehatan gizi. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas  dan kemampuan-kemampuan non fisik tersebut, maka upaya pendidikan dan pelatihan adalah penting diperlukan. Upaya inilah yang dimaksud dengan pengembangan sumber daya manusia.[2] Dengan demikian pada hakikatnya pengembangan SDM merupakan upaya untuk mengaktualisasikan dan mengembangkan seluruh potensinya sebagai subjek pembangunan sesuai dengan tuntutan zamannya.[3]

            Sedang konsep pengembangan SDM dalam Islam banyak sekali ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Quran. Dari sejumlah ayat yang ada, menjelaskan bahwa SDM yang berkualitas menurut Islam adalah individu yang mampu mencapai  derajat Ulul Albab seperti yang dijelaskan dalam surat Ali Imron ayat 191. Keunggulan Ulul Albab adalah sosok pribadi yang sudah mampu berdaya guna dan berhasil guna dalam tiga aktifitas, yaitu: dzikir, fikir dan fi’il (berkarya).

            Kemampuan dzikir Ulul Albab memberi arti bahwa mereka selalu sadar sebagai hamba Allah. Dzikir yang dimaksud adalah dzikir pasif adalah  yaitu    berdzikir kepada Allah seperti biasa dilakukan dalam beribadah maupun dzikir aktif yaitu berpikir mendalam tentang alam seisinya.

Kemampuan berpikir Ulul Albab adalah berpikir tentang penciptaan langit dan bumi, tidak identik dengan melamun, menghayal atau sekedar berpikir kosong. Namun, ini diartikan dalam tindakan nyata yang mencakup praktek penelitian dan eksperimen untuk mengetahui kebesaran Allah, yang berarti untuk melakukan kemajuan-kemajuan dalam bidang sains dan teknologi.[4]

Kemampuan fi’il atau beramal sholeh Ulul Albab sedikitnya merangkum tiga dimensi. Pertama, profesionalisme; kedua, transenden berupa pengabdian dan keikhlasan; ketiga, kemaslahatan bagi kehidupan pada umumnya pekerjaan yang dilakukan oleh Ulul Albab didasarkan pada keahlian dan rasa tanggungjawab tinggi. Apalagi amal sholeh selalu terkait dengan dimensi keutamaan dan transenden, maka mereka lakukan dengan kualitas tinggi.[5]

Para ahli agama juga berusaha merumuskan dimensi sumber daya manusia. Menurut Tolhah Hasan, ada tiga dimensi yang harus diperhatikan dalam usaha meningkatkan kualitas umat, yaitu:

  1. Dimensi kepribadian sebagai manusia, yaitu kemampuan untuk menjaga integritas, sikap, tingkah laku, etika dan moralitas yang sesuai dengan pandangan masyarakat;
  2. Dimensi produktivitas, yang menyangkut ada yang dihasilkan oleh manusia, dalam jumlah yang lebih banyak dan kualitas lebih baik
  3. Dimensi kreatifitas, yaitu kemampuan seseorang untuk berpikir dan berbuat kreatif, menciptakan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan masyarakat.[6]

Sedang menurut H. A. R. Tilaar dimensi dari spektrum kualitas manusia Indonesia perlu diprioritaskan pada pembangunan  jangka panjang, serta dinamika masyarakat saat ini. Dimensi-dimensi tersebut adalah:

  1. Dimensi moralitas;
  2. Dimensi kecerdasan;
  3. Dimensi kekaryaan.

Kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh suatu bangsa dapat dilihat sebagai sinergistik antara kualitas jasmani dan rohani yang dimiliki oleh individu masyarakat.atau dalam istilah lain: dimensi  fisik dan non fisik. Dalam perspektif pendidikan, kualitas dimensi non fisik menyangkut ranah kognitif, afektif dan psikomotorik sebagaimana yang diungkapkan oleh Benyamin F. Bloom. Sebagaimana dikutip oleh Muhaimin dkk. yang diprioritaskan dalam pendidikan.

Adapun klasifikasi dari masing-masing dimensi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Dimensi kognitif, yang mencakup:
    1. Knowledge (pengetahuan)
    2. Comprehension (kemampuan pemahaman)
    3. Application (kemampuan pemahaman aplikasi)
    4. Analysis ( kemampuan berpikir analisis)
    5. Synthesis ( kemampuan berpikir sintesis)
    6. Evaluation ( kemampuan berpikir evaluatif)
    7. Dimensi affective, yang mencakup:
      1. Receiving (sikap menyimak)
      2. Responding (sikap kesediaan menanggapi)
      3. Valuing (sikap memberi nilai)
      4. Organization (sikap mengorganisasikan nilai)
      5. Caracteration by value complecs ( karakteristik nilai)
      6. Dimensi psikomotorik, yang mencakup:
        1. perception (ketrampilan persepsi)
        2. set ( ketrampilan kesiapan)
        3. guided response ( ketrampilan respon terpimpin)
        4. mechanisme (ketrampilan mekanisme)
        5. compleks over response ( ketrampilan nyata gerakan motor)
        6. adaptation (adaptasi)
        7. organization (ketrampilan organisasi).[7]

 

Dari ketiga ranah diatas dapat diketahui bahwa ranah kognitif digambarkan oleh tingkat kecerdasan individu, sedangkan afektif digambarkan oleh kadar keimanan, budi pekerti, kesatuan kepribadian serta ciri-ciri kemandirian lainnya. Sementara ranah psikomotorik dicerminkan oleh tingkat ketrampilan, produktivitas, dan kecakapan pendayagunaan berinovasi.[8]

Dalam firman dalam al-Qur’an surat at-Tiin :

لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم

Artinya: ”sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”   (Q.S. At-Tin: 4)

 

Hal ini juga dipertegas dalam hadits Nabi Muhammad dengan sabdanya:

إنما بعثت لأتمّم مكارم الأخلاق

Artinya :” sesungguhnya aku diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak dan budi pekerti” ( H.R. Ahmad, Baihaqi dan Hakim)

 

 

Ayat al-Qur’an dan hadits diatas memberikan gambaran bahwa makhluk manusia merupakan makhluk yang sebaik-baiknya, sempurna dan berkecenderungan untuk berakhlak karimah. Hal ini dapat dilihat dari aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Nanih Machendrawati, dalam bukunya  Pengembangan Masyarakat Islam bahwa aspek kognitif dan afektif (ahsani taqwiim) ini akan membangun atau membentuk aspek psikomotorik, yakni amal saleh atau kemampuan berpikir, merasa dan bersikap serta sikap berbuat baik.[9]

Dalam pendidikan Islam khususnya dimensi yang hendak dituju dan ditingkatkan oleh kegiatan pendidikan Islam, yaitu:

  1. Dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam;
  2. Dimensi pemahaman dan penalaran (intelektual) serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran agama Islam;
  3. Dimensi penghayatan dan pengamalan batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran agama Islam;
  4. Dimensi pengamalannya, dalam artian bagaimana ajaran Islam yang telah diimani, dipahami dan dihayati oleh peserta didik itu mampu diamalkan dalam kehidupan pribadi sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia serta diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara[10]

Dari berbagai dimensi yang dipaparkan diatas, dapat penulis sebutkan bahwa  aspek kognitif (ilmu pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (ketrampilan) sangat mempengaruhi proses terbentuknya kepribadian seseorang. Oleh karenanya perlu adanya keseimbangan antara ranah tersebut yang dilandasi nilai-nilai ajaran agama Islam.



[1] .Soekidjo Notoatmodjo, Pengembangan Sumber Daya Manusia (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hlm. 3-4.

[2]  Asmaun Sahlan, op.cit.,hlm.3.

[3] Soekidjo Notoatmodjo, op.cit.,, hlm.5.

[4] A. Qodry Azizy, op.cit., hlm. 103.

[5] STAIN Malang, Tarbiyah Uli Al-Albab: Dzikr, Fikr dan Amal Shalih, (Malang: STAIN Malang, 2002), hlm. 9.

[6] M.Tolhah Hasan, op.cit., hlm. 187-188.

[7] Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam, Sebuah Komponen Dasar Kurikulum, (Solo: Ramadhani, 1991), hlm. 66-67.

[8]  Jimmly Ash -Shidiqie (eds)., op.cit., hlm.151

[9] Nanih Machendrawati, Pengembangan Masyarakat Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2000), hlm.163.

[10] Muhaimin dkk., Strategi Belajar Mengajar Penerapannya dalam Pembelajaran Agama Islam, (Surabaya: Media Karya Anak Bangsa, 1996), hlm. 2.

Leave A Reply

Your email address will not be published.