Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Dimensi-dimensi komunikasi interpersonal

0

Dimensi-dimensi komunikasi interpersonal.

 

De  Vito  (1997)  menyatakan  agar  komunikasi interpersonal berlangsung dengan efektif, maka ada beberapa aspek yang harus diperhatikan oleh para pelaku komunikasi interpersonal tersebut.

a.  Keterbukaan (openness)

 

Keterbukaan dapat dipahami sebagai keinginan untuk membuka  diri  dalam  rangka  berinteraksi  dengan  orang  lain. Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi     interpersonal, yaitu:      komunikator  harus       terbuka pada           komunikan            demikian         juga     sebaliknya,     kesediaan komunikator    untuk  bereaksi            secara         jujur   terhadap     stimulus yang       datang,     serta     mengakui                     perasaan, pikiran      serta mempertanggungjawabkannya.

 

 

 

 

 

 

 

b.  Empati (Emphaty)

 

Empati     didefinisikan     oleh    Henry     Backrack     (1976) sebagai  kemampuan  untuk  merasakan  hal-hal  yang  dirasakan orang lain. Hal ini termasuk salah satu cara untuk melakukan pemahaman     terhadap    orang    lain.    Langkah     pertama    dalam mencapai empati adalah menahan godaan untuk mengevaluasi, menilai, menafsirkan, dan mengkritik. Langkah kedua dengan mencoba  mengerti  alasan  yang  membuat  orang  itu  memiliki perasaan          tersebut.                 Ketiga,     mencoba merasakan apa      yang sedang  dirasakan  orang  lain  dari  sudut  pandangnya.  Empati dapat dikomunikasikan secara verbal ataupun nonverbal.

c.  Sikap mendukung (supportiveness)

 

Dukungan meliputi tiga hal. Pertama, descriptiveness, dipahami           sebagai               lingkungan   yang            tidak            di       evaluasi menjadikan                   orang   bebas    dalam         mengucapkan   perasaannya, tidak    defensif  sehingga                         orang           tidak      malu        dalam mengungkapkan   perasaannya   dan   orang   tidak   akan   merasa bahwa dirinya dijadikan bahan kritikan terus menerus.

Kedua,    spontanity      dipahami sebagai          kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara spontan dan mempunyai pandangan yang berorientasi ke depan, yang mempunyai sikap terbuka                  dalam       menyampaikan        pemikirannya. Ketiga,

 

 

 

 

 

 

 

provisionalism   dipahami  sebagai  kemampuan  untuk  berpikir secara terbuka (open minded).

d.  Sikap Positif (positiveness)

 

Sikap    positif    dalam    komunikasi     interpersonal    berarti bahwa                 kemampuan           seseorang       dalam   memandang   dirinya secara  positif  dan  menghargai  orang  lain.  Sikap  positif  tidak dapat  lepas  dari  upaya  mendorong menghargai  keberadaan serta           pentingnya     orang     lain.     Dorongan     positif     umumnya berbentuk  pujian  atau  penghargaan,  dan  terdiri  atas  perilaku yang biasanya kita harapkan.

d.  Kesetaraan (equality)

 

Tidak  akan  pernah  ada  dua  orang  yang  sama-sama setara dalam semua hal. Komunikasi interpersonal akan efektif apabila  suasananya  setara.  Artinya,  harus  ada  pengakuan  dari kedua  belah  pihak  sama-sama  berharga  dan  ada  sesuatu  yang akan disumbangkan. Kesamaan dalam suatu komunikasi akan menjadikan suasana komunikasi yang akrab, sebab dengan tercapainya           kesamaan        kedua       belah    pihak   baik     komunikan maupun komunikator akan berinteraksi dengan nyaman.

Apabila      suatu     hubungan      interpersonal  didalamnya terdapat      kesetaraan,                maka    ketidaksepakatan     serta            konflik dipandang   sebagai   upaya   untuk   lebih   memahami   perbedaan tidak  untuk  menjatuhkan  pihak  lain.  Kesetaraan  tidak  berarti

 

 

 

 

 

 

 

menerima   semua   perilaku   verbal   dan   nonverbal   pihak   lain melainkan memberikan “penghargaan positif tak bersyarat”. Spitzberg                dan         Cupach        (1989)                   menjelaskan      bahwa    agar

komunikasi interpersonal efektif dapat menerapkan model kompetensi. Model tersebut menawarkan lima kualitas efektifitas: kepercayaan diri, kebersatuan,  manajemen  interaksi,  daya  pengungkapan,  dan  orientasi ke pihak lain.

a.   Kepercayaan diri

 

Komunikator   yang   secara   sosial   memiliki   kepercayaan   bersikap santai,  tidak  kaku,  fleksibel  dalam  suara  dan  gerak  tubuh,  tidak terpaku  pada  nada  suara  tertentu  dan  gerak  suara  tertentu.  Sosok yang   santai   menurut   riset,   mengkomunikasikan   sikap   terkendali, status serta kekuatan. Ketegangan, kekakuan serta kecanggungan mengisyaratkan  ketidak  mampuan  mengendalikan  orang  lain  atau ia berada dalam kendali pihak luar.

b.   Kebersatuan

 

Kebersatuan mengacu pada penggabungan antara komunikator dan komunikan,                     terciptanya            rasa            kebersamaan     dan     kesatuan. Komunikator      yang            memperlihatkan     kebersatuan,   mengisyaratkan minat dan     perhatian.                     Bahasa    yang     menunjukkan   kebersatuan umumnya                 ditanggapi secara    positif.   Kebersatuan            menyatukan komunikator dan komunikan.

 

 

 

 

 

 

 

Secara     nonverbal,     kebersatuan     dapat    diwujudkan    dengan memelihara kontak mata, kedekatan fisik serta sosok tubuh yang terbuka  meliputi  gerak  tubuh  yang  dipusatkan  pada  orang  yang sedang  diajak  berinteraksi,  pandangan  yang  terfokus,  tersenyum dan perilaku lain yang mengisyaratkan minat komunikator untuk berinteraksi terhadap komunikan.

Kebersatuan  dikomunikasikan secara verbal dengan berbagai cara,

 

misalnya:  menyebut  nama  lawan  bicara,  memberikan  umpan  balik yang   relefan,  menggunakan    kata           ganti        yang                  mencakup       baik pembicara  maupun  pendengar,  memusatkan  perhatian  pada  kata- kata lawan bicara, serta menghargai pembicaraan orang lain.

c.   Manajemen interaksi

 

Manajemen   interaksi   menekankan   pada   kedua   pihak,  masing- masing   berkontribusi      dalam      keseluruhan                    komunikasi.   Menjaga peran  sebagai  pembicara  dan  pendengar,  melalui  gerakan  mata, ekspresi vokal, gerakan tubuh dan wajah yang sesuai, saling memberikan kesempatan untuk berbicara merupakan keterampilan manajemen  interaksi.  Penting  untuk  menyampaikan  pesan  verbal dan nonverbal yang saling berkesesuaian dan memperkuat.

Pemantauan diri berhubungan secara integral dengan manajemen interaksi  interpesonal.  Pemantauan  diri  merupakan  manipulasi  citra yang  ditampilkan  kepada  pihak  lain.  Pemantauan  diri  yang  cermat

 

 

 

 

 

 

 

selalu  menyesuaikan  perilaku  mereka  menurut  umpan  balik  dari pihak lain untuk mendapatkan efek yang paling menyenangkan.

d.   Daya pengungkapan atau ekspresi

 

Daya pengungkapan atau ekspresi menekankan pada keterampilan mengkomunikasikan                              keterlibatan                  tulus        dalam        interaksi interpersonal. Daya ekspresi sama dengan keterbukaan dalam hal penekanannya pada                   keterlibatan,                              contohnya                 ekspresi bertanggungjawab  atas  pikiran  dan  perasaan,  mendorong  umpan balik yang relevan, dan keterbukaan pada orang lain.

e.   Orientasi ke pihak lain

 

Orientasi     mengacu     pada    kemampuan     untuk    menyesuaikan     diri dengan   komunikan        selama     terjadi           interaksi.                Orientasi    tersebut mencakup   pengkomunikasian   perhatian   dan   minat   terhadap   apa yang  dikatakan  komunikan.  Komunikator  yang  berorientasi  pada pihak  lain  melihat  situasi  dan  interaksi  dari  sudut  pandang  lawan bicara dan menghargai perbedaan pandangan.

Model     lain     dimana     prinsip-prinsip      efektifitas     komunikasi

 

interpersonal   dapat   diturunkan   adalah   model   teori   pergaulan   sosial (Thibaut  et  al.,  1986).  Teori  pergaulan  sosial  menekankan  bahwa kita mengembangkan  hubungan  apabila  manfaatnya  lebih  besar  dari  pada biaya yang harus dikeluarkan. Teori tersebut cenderung menjelaskan kecenderungan       manusia                          untuk         mencari keuntungan                     atau    manfaat dengan  mengeluarkan  biaya  sesedikit  mungkin.  Kebanyakan  dari  kita

 

 

 

 

 

 

 

mempunyai      harapan      dalam     suatu     hubungan.      Apabila     harapan terlampaui, maka akan mengalami kepuasan. Sebagai contoh, manusia merasa  puas  jika  mendapat  manfaat  lebih  besar  dari  pada  apa  yang semula diharapkan. Apabila harapan tidak terpenuhi akan mengalami ketidakpuasan.

Philip    Kotler   (2000)    menjelaskan   ada    tiga    faktor   yang melandasi kredibilitas komunikator, yaitu:

1.   Keahlian

 

Keahlian     merupakan     kemampuan    khusus     yang     dimiliki    oleh komunikator                         untuk            mendukung      pesan yang          disampaikan. Contohnya                       :                 apabila           seorang     akunting    membicarakan      masalah keuangan perusahaan                 akan              lebih    dipercaya             dibandingkan  yang berbicara adalah bagian humas.

2.   Kelayakan untuk dipercaya

 

Kelayakan untuk dipercaya berkaitan dengan anggapan atas tingkat obyektivitas        dan                      kejujuran               sumber     pesan     itu.    Teman     lebih dipercaya dibandingkan orang yang belum dikenal, dan orang yang tidak   dibayar   untuk   merekomendasikan   sesuatu   dianggap   lebih dapat dipercaya daripada orang yang dibayar.

3.   Kemampuan untuk disukai

 

Kemampuan   untuk   disukai   menunjukkan  daya   tarik   sumber   di mata komunikan. Sifat-sifat seperti terus terang, humoris, dan apa adanya membuat komunikator lebih disukai.

 

 

 

 

 

 

 

Kelayakan untuk dipercaya adalah lebih utama dari ketiga hal tersebut.                Apabila seseorang             memiliki      sikap           yang     positif          terhadap komunikator  dan  pesan,  atau  sikap  yang  negatif  terhadap  keduanya, maka terjadilah keadaan   yang         dinamakan                    keadaan     kongruen. Perubahan sikap akan terjadi searah dengan bertambahnya jumlah kesesuaian    antara                  kedua  evaluasi    tersebut.         Prinsip    kongruen menjelaskan   bahwa   komunikator   dapat   menggunakan   citra   baiknya untuk  mengurangi  sikap  negatif  terhadap  suatu  pesan  tetapi  dalam proses tersebut komunikator mungkin kehilangan penghargaan dari komunikan.

Menurut Lunandi (1994) ada empat aspek yang mempengaruhi komunikasi  interpersonal  yaitu  :  citra  diri  (self-image), citra pihak lain (The image of the others), lingkungan fisik, lingkungan sosial.

a.  Citra   diri   (self-image).   Setiap   manusia   mempunyai   gambaran tertentu      mengenai               dirinya,        status        sosialnya,                  kelebihan      dan kekurangannya.  Gambaran  itulah  yang  menjadi  penentu  bagi  apa yang   dilihatnya,   didengarnya,   bagaimana   penilaiannya   terhadap segala  yang  berlangsung  di  sekitarnya.  Dengan  kata  lain,  citra diri menentukan ekspresi dan persepsi orang. Manusia belajar menciptakan citra diri melalui hubungannya dengan orang lain, terutama  manusia  lain  yang  penting  bagi  dirinya.  Seperti  ayah- bunda,  guru,  atasan.  Melalui  kata-kata maupun komunikasi tanpa kata (perlakuan, pandangan mata dan sebagainya) dari orang lain

 

 

 

 

 

 

 

ia   mengetahui   apakah   dirinya   dicintai   atau   dibenci,   dihormati atau diremehkan, dihargai atau direndahkan. Citra diri sebagai seseorang  yang  lemah  akan  terlihat  pada  komunikasinya  dengan orang lain. Sukar berbicara bebas, sulit mengatakan isi hati dan pikiran, ataupun yang terjadi sebaliknya.

b.  Citra pihak lain (The image of the others). Selain citra diri, citra pihak        lain       juga            menentukan   cara     dan       kemampuan           orang berkomunikasi.       Pihak    lain,            yakni         orang       yang     diajak berkomunikasi, mempunyai gambaran khas bagi dirinya. Kadang dengan orang yang satu komunikasi lancar, jelas, tenang. Dengan orang yang lainnya tahu-tahu jadi gugup, sukar menemukan kata- kata  yang  tepat  dan  bingung.  Ternyata  pada  saat  berkomunikasi itu dirasakan campur tangan ataupun umpan balik antara citra diri dan citra pihak lain.

c.  Lingkungan  fisik.  Faktor  ini  punya  pengaruh  pada  komunikasi.

 

Bagaimanapun orang yang suka berteriak pada waktu berada di rumah  sendiri,  ia  lebih  banyak  berbisik  di  tempat  beribadah. Sekalipun   orang   diajak   berkomunikasi   itu   sama   (misal   anak sendiri).  Di  tempat  kerja,  ia  berkomunikasi  dengan  gaya  lain. Memang  tingkah  laku  manusia  berbeda  dari  suatu  tempat  ke tempat     yang               lain.      Karena  setiap    tempat             mempunyai     norma sendiri yang harus ditaati.

 

 

 

 

 

 

 

d.  Lingkungan      sosial.      Lingkungan   sosial  merupakan proses komunikasi           yang                  terjadi  pada situasi               ataupun orangnya   bila situasi atau   orangnya                     berbeda    akan   menyebabkan    terjadinya proses komunikasi yang berbeda pula. Pakaian, tingkah laku dan bahasa  pada  jamuan  para  cendikiawan  di  hotel  besar  tentunya tidak sama dengan yang dipakai pada pesta pernikahan pembantu rumah                tangga   di              kampung.   Perlu       dikemukakan, bahwa sebagaimana   lingkungan        (fisik               dan         sosial)        mempengaruhi tingkah   laku          dan      cara                 berkomunikasi   mempengaruhi   suasana lingkungan,   setiap    orang         harus     memiliki          kepekaan            terhadap lingkungan   tempat                berada, memiliki  kemahiran         untuk membedakan lingkungan yang satu dengan lingkungan yang lain.

Penting  untuk  memahami  garis-garis  atraksi  dan  penghindaran dalam  sistem  sosial  agar  mampu  diramalkan  darimana  pesan  akan muncul,               kepada          siapa            pesan    itu                akan        mengalir           dan  lebih    lagi bagaimana   pesan   akan   diterima.   Berarti   dengan   mengetahui   siapa tertarik kepada siapa atau siapa menghindari siapa, seseorang dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi. Semakin seseorang   tertarik   kepada   orang   lain   makin   besar   kecenderungan seseorang   berkomunikasi   dengan   orang   tersebut.   Kesukaan   kepada orang  lain,  sikap  positif  dan  daya  tarik  seseorang  disebut  sebagai atraksi interpersonal.

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan   uraian-uraian    tersebut    di    atas    maka    dapat disimpulkan     bahwa    aspek-aspek     yang    ada                   dalam        komunikasi interpersonal antara lain didasari oleh sikap terbuka, empati, saling mendukung, sikap positif, dan kesamaan diantara pihak yang terkait, komunikasi  interpersonal  sebagian  besar  juga  terbentuk  oleh  citra  diri (self image), citra pihak lain (the image of the other), lingkungan fisik, dan  lingkungan  sosial  yang  pada  akhirnya  menimbulkan  daya  tarik seseorang  dalam  berkomunikasi  juga  sikap  positif  dan  kesukaan  pada orang lain untuk berkomunikasi yang lebih dikenal dengan atraksi interpersonal.

Leave A Reply

Your email address will not be published.