Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Ciri Ciri Belajar Mengajar

0

Konsep Belajar Mengajar
a.      Ciri Ciri Belajar Mengajar

Sebagai suatu proses pengaturan kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari cirri-ciri tertentu, yang menurut Edi Suardi sebagai berikut:[1]

  1. Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yan dimaksud kegiatan belajar mengajar itu sadar akan tujuan, dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian.
  2. Adanya prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
  3. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang kusus.
  4. Ditandai dengan aktifitas anak didik. Sebagai konsekuensi bahwa anak didik merupakan syarat muthlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
  5. Dalam kegiatan belajar mengajar, disamping sebagai pembimbing guru juga sebagai fasilitator, serta juga berperan sebagi motifator dan mediator dalam pembelajaran.
  6. Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat aturan yang disusun menurut ketentuan yang telah disetujui antara anak didik dan pengajar.
  7. Ada batasan waktu, yaitu tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu sudah harus dicapai.
  8. Evaluasi.
  9. b.      Komponen-Komponen Belajar Mengajar

Sebagai suatu system, tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber serta evaluasi. Komponen tersebut diantaranya sebagai berikut.[2]

  1. Tujuan

 Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Pada dasarnya tidak ada pemprogaman tanpa adanya tujuan terlebih dahulu, sehingga dalam kegiatan apapun tujuan keberadaan tidak bisa diabaikan. Demikian pula halnya dalam kegiatan belajar mengajar.

Dalam dunia pendidikan dan pengajaran adalah suatu cita-cita yang berniali normatif. Dengan perkataan lai, dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik. Yang selanjutnya nilai nilai tersebut nantinya akan mewarnai cara anak didik bersikap dan berbuat dalam lingkungan sosialnya, baik disekolah maupun diluar sekolah. Semua tujuan berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya, dan tujuan dibawahnya menunjang  tujuan di atasnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan mempunyai jenjang dari yang luas ke yang sempit, yang umum dan yang kusus, jangka panjang dan pendek, menengah.

  1. Bahan Pelajaran

Bahan pelajaran merupakan substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Dalam pemahaman selanjutnya bahan pelajaran ada dua macam, bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang study yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya, sedangkan bahan pelajaran penunjang adalah bahan yang dapat membuka wawasan guru agar dalam mengajar dapat menunjanga penyampaian bahan pelajaran pokok.

  1. Kegiatan Belajar Mengajar

 Kegiatan belajar mengajar adalah inti darip[ada kegiatan pendidikan, diaman segala apa yang telah diprogaramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar ini. Semua komponen pengajaran akan dilibatkan, sesuai dengan tujuanya

 

  1. Metode

Metode atau strategi adalah sebuah cara yang digunakan untuk mencapai tujuan dari pada pendidikan itu sendiri

  1. Alat

Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan dari pada belajar mengajar. Alat dalam hal ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu alat dan alat bantu . Yang dimamaksud dengan alat adalah suruhan, perintah, larangan, aturan, dan lainsebagainya. Sedangkan alat bantu adalah alat yang dapat membantu menjelaskan dalam proses belajar mengajar seperti, globe, peta, komputer, vidio, dan lainsebagainya.

  1. Sumber pelajaran

Menurut Drs. Uddin Syaripuddin Winata Putra, M.A Dan Drsa. Rustana Adiwinarta, sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat asal untuk belajar, dengan demikian sumberbelajar merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal hal baru bagi pelajar. Hal ini disebabkab hekekat belajar adalah mendapatkan hal hal yang baru. Pemahaman tentang sumber belajar memiliki keragaman yang berbeda beda.[3]

Dr. Roestiyah. N. K .[4], mengatakan bahwa sumber belajar itu adalah

a)      Manusia (dalam  keluarga, sekolah dan lingkungan sosial)

b)        Buku atau perpustakaan

c)      Mass media (majalah, koran, peta, gambar, dan lainsebagainya)

d)     Lingkungan

e)      Alat pelajaran (buku pelajaran, kapur, pensil, penggaris, dan lainsebagainya)

f)       Museum (tempat penyimpanan benda bersejarah)

Drs. Sudirman. N, dkk mengemukakan macam-macam sumber belajar, diantaranya:[5] a) Manusia itu sendiri, b) Bahan, c) Lingkungan, d) Alat, e) perlengkapan, f) Aktivitas yang meliputi:

  1. Pengajaran berprogram
  2. Simulasi
  3. Karyawisata
  4. Sistem pengajaran modul

Drs. Uddin syarifuddin winataputra, M. A. Dan Drs. Rustana Adiwinata[6] berpendapat terdapat sekurang kurangnya lima macam sumber belajar yaitu.(a)  Manusia (b)  Buku ajar/perpustakaan  (c) Alam lingkungan; Alam lingkungan terbuka, alam lingkungan sejarah, alam lingkungan manusia (d)   Media masa (e) Media pendidikan.

  1. Evaluasi

Evaluasi memilkiki arti yang umum sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu tersebut. Menurut Wayan Nurkencono dan P.P.N. Sumartana,[7] evaluasi adalah suatu tindakan aatu suatu proses untuk menentukan nilai segal sesuatu dalam dunia pendidikan. Sedangkan Dr. Roestiyah. N. K.[8] Berpendapat bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas luasnya dan sedalam dalamnya, yang bersangkutan dengan kapbelitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar siswa.

Komponen Pembelajaran[9]

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari bagan tersebut dapat kita lihat bahwa sebagai suatu sistem, proses pembelajaran terdiri dari beberapa komponen yang satu sama lainnya saling beribteraksi dan berinterelasi, kompenen tersebut adalah tujuan, materi pelajaran, metode atau strategi pembelajaran, media dan evaluasi

  1. c.       Teori Teori Dalam Belajar

      Dalam sejarah pembelajaran terdapat teori teori belajar yang diambil dari perkembangan pemahaman teori psikologi, dalam hal ini akan dibahas tentang teori psikologi yang berhubungan dengan teory belajar, diantaranya[10]

1)      Teori Psikologi Klasik Tentang Belajar

Dalam teori ini dijelaskan bahwa manusia terdiri dari jiwa dan badan. Badan adalah suatu objek yang sampai kealat indera, sedangkan jiwa merupakan sesuatu yang non materiil. Selanjutnya menurut teori ini hakekat belajar adalah kita belajar melihat objek dengan menggunakan substansi dan sensasi. Dalam hal ini pengembangan dan pelatihan kekuatan mencipta, ingatan, keingainan dan pikiran, dalam artian bahwa pendidikan atau belajar adalah sesuatu yang berasal dari dalam atau inner development. Sedangkan tujuan pendidikan dari teori ini adalah self development atau self cultivation.

2)      Teori Psikologi Gaya

Menurut teori ini jiwa manusia terdiri dari berbagai daya, ingatan , fikiran, perasaan, kemauan, dan sebagaianya, dimana tiap dari komponen tersebut memilki pengaruh dan fungsi tersendiri, dalam hal ini manusia sama memilki daya tersebut akan tetapi berbeda kekuatan yang dimiliki. Latihan sangatlah dibutuhkan dalm teori ini untuk mengaktifkan dan mengembangkan daya yang dimiliki manusia tersebut.

Dalam teori ini ransangan sangatlah dibutruhkan, sehingga penyediaan rangsangan sangtlah mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam belajar. Untuk itulah maka kurikulum harus menyediakan mata pelajaran yang dapat mengembangkan daya daya tersebut, dimana penekanan bukan terletak pada materi akan tetapi terletak pada isi dari materi tersebut. Pemilihan materi belajar berdasarkan atas pembentrukan daya daya secara efesien dan ekonomis.

3)      Teori Mental State

Menurut teori ini belajar adalah memperoleh pengetahuan melalui indera yang disampaikan dalam bentuk perangsang perangsang dari luar. Pengalaman berasosiasi dan bereproduksi. Karena itulah latihan memegang peran penting dalam pembelajaran.

Dalam teori ini dikatakan cara belajar yang baik ialah dengan jalan memperbanyak hafal;an dan dengan menggunakan hukum asosiasi reproduksi, maka dari itu faktor ingatan sangatlah menonjol.

4)      Teori Behaviorisme

Behavioristik adalah suatu study tentang kelakuan manusia. Timbulnya aliran ini disebabkan karena tidak puas dengan teori teoti yang ada diatas. Hal ini dipandang karena aliran terdahulu hany menekankan aspek kesadaran saj tanpa memandang aspek yang lain.

Dalam teori ini dijelaskan bahwa keberhasilan siswa dalam belajar dipengaruhio oleh rangsangan yang ada yang bersifat terus menerus serta berkesinambungan. Dengan memberikan rangsangan maka siswa akan merespon. Hubungan rangsang dan respon akan menimbulkan kebiasaan kebiasan otomatis pada proses belajar, dengan kata lain bahwa kelakuan anak adalah terdiri atas reespon tertentu terhadap rangsangana tertentu pula.

5)      Teori koneksitas

Dalam teori ini terdapat doktrin pokok, yakni hubingan antara stimulus dan respon, asosiasi dibuat antara kesan kesan pengadaan dan dorongan dorongan untuk berbuat. Koneksi koneksi dapat diperkuat atau dapat diperlemah serasi dengan banyaknya penggunaan dan pengaruh dari penggunaan tersebut

Throndike menyusun hokum-hukum belajar sebagai berikut 

  1. Hukum pengaruh; hubungan hubungan diperkuat atau diperlemah tergantung pada kepuasan atau ketidak senangan yang berkenaan dengan penggunaannya.
  2. Hukum latihan; apabila seseorang sering dilatih maka akan menjadi kuat dengan sendirinya
  3. Hukum kesediaan; keberhasilan dan tidak sesuatu dipengaruhi oleh kesiapan dan ketidak siapan seseorang dalam merespon sesuatu.

Dewasa ini hukum yang diungkapkan diatas dikembangkan menjadi dan dilengkapi denga prinsip prinsip pendidikan diantaranya

  1. Siswa harus mampu membuat berbagai jawaban terhadap rangsangan yang ada
  2. Belajar dibimbing dan diarahkan melelui sikap dan respon siswa itu sendiri
  3. Jawaban yang telah dipelajari dengan baik dapat juga digunakan terhadap rangsangan yang lain
  4. Jawaban terhadap situasi situasi baru dapat dibuat apabila siswa melihat adanya analogi yang baru terhadap ranngsangan yang lama.
  5. Siswa dapat mereaksi secara selektif terhadap faktor faktor esaensial di dalam situasi

Dalam teori Conectionisme ini terdapat pandangan pandangan pokok terhadap teori belajar, antara lain

  1. Kelakuan merupakan akibat pengaruh dari lingkungan terhadap individu
  2. Menjelaskan antara kelakuan dan motivasi secara mekanis
  3. Kurang memperhatikan prosesproses mengenal dan berfikir
  4. Mengutamakan dan menitik beratkan pada pengalaman pengalaman masa lampau
  5. Menganggap bahwa situasi keseluruhan adalah terdiri dari bagian bagian yang saling membentuk satu sama lain

6)      Teori Gestalt

Dalam teori ini dijelaskan bahwa jiwa manusia  adalah suatu keseluruhan yang berstruktur, diman keseluruhan tersebut bukan terdiri dari bagian bagian yang membentuk satu sama lain akan tetapi bagian atau unsur unsur itulah yang berada dalam keseluruhan dalam struktur yanmg telah tertentu dan saling berinterelasi.

Teori ini sangatlah berpengaruh terhadap tafsiran tentang belajar, beberapa prinsip yang perlu difahai dan di mengerti

  1. Tingkah laku terjadi berkat interaksi antara individu dan lingkungannya
  2. Individu berada dalam keseimbangan yang dinamis. Terjadinya gangguan terhadap keseimbangan itu akan mendorong terjadinya tingkah laku
  3. Belajar mengutamakan aspek pemahaman terhadap situasi problematis
  4. Belajar menitik beratkan pada situasi sekarang, dalam situasi tersebut menetukan dirinya.
  5. Belajar dimulai dari keseluruhan dan bagian bagian hanya bermakna dalam keseluruhan itu.

7)      Teori Psikologi Field Theori Tentang Belajar

      Dalam teori ini difahami adanya beberapa prinsip diantaranya

  1. Belajar dimulai dari suatu keseluruhan
  2. Keseluruhan memberikan makan kepada bagian bagian, bagian bagain terjadi dalam suatu keseluruhan
  3. Individuasi bagian bagian dari suatu keseluruhan
  4. Siswa/anak belajar dengan menggunakan pemahaman. Pemahaman disini dimaksudkan sebagai kemampuan melihat hubungan hubungan antara berbagai faktor atau unsur dalam situasi problematis[11]
  5. d.      Sasaran Kegiatan Belajar Mengajar

  Setiap kegiatan belajar mengajar mempunyai sasaran dan tujuan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari yang sangat operasional dan konkret, yakni tujuan instruksional khusus dan tujuan instruksional umum, tujuan kurikuler, tujuan nasional, sampai kepada tujuan yang bersifat universal. Pada tingkat sasaran dan tujuan yang universal, manusia yang diidamkan tersebut harus memiliki kualifikasi:

  1. Pengembangan bakat secara optimal,
  2. Hubungan antar manusia,
  3. Efisiensi ekonomi,
  4. Tanggung jawab selaku warga Negara.

Sasaran tujuan pendidikan Indonesia sejalan dengan dasar Negara dan pandangan hidup kita, adalah terbinanya warga Negara yang cakap, memahami, menghayati, dan mengamalkan sila-sila dalam pancasila.[12]

Begitu juga tujuan pendidikan Indonesia sebagaimaan yang tertera dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 teantang Sisdiknas, yaitu bertujuan untuk berkembangnya potensi pesrta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[13]

  1. e.       Belajar Mengajar Sebagai Suatu Sistem

Belajar mengajar sebagai suatu sistem instruksional mengacu pada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung antara satu dan lainnya untuk mencapai tujuan. Sebagai suatu sistem, belajar mengajar meliputi sejumlah komponen antara lain: tujuan, bahan, siswa, guru, metode, situasi dan evaluasi. Komponen-komponen tersebut harus saling berhubungan dan guru tidak boleh hanya memperhatikan satu komponen saja agar nantinya tujuan dapat tercapai.

  1. f.        Hakikat Proses Belajar

Belajar adalah proses perubahan prilaku berkat pengalaman dan pelatihan. Artinya tujuan kegiatan belajar adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, ketrampilan, sikap, bahkan meliputi segenap aspek pribadi. Kegiatan belajar mengajar seperti mengorganisasi pengalaman belajar, menilai proses dan hasil belajar, termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru. Jadi, hakikat belajar adalah perubahan.[14]

Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentru saja akan dapat tercapai jika anak didik di sini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. Padahal belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktifitas belajar. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kategori belajar. Misalnya, perubahan fisik, mabuk gila, dan sebagainya.

Kegiatan megajar bagi seorang guru menghendaki hadirnya sejumlah anak didik. Berbeda dengan belajar. Belajar tidak selamanya memerlukan kehadiran seorang guru. Cukup banyak aktifitas yang dilakukan oleh seseorang di luar dan keterlibatan guru. Belajar di rumah cenderung menyendiri dan tidak terlalu banyak mengharapkan bantuan dari orang lain. Apalagi aktifitas belajar itu berkenaan dengan kegiatan membaca buku tertentu.

Mengajar pasti merupakan kegiatan yang mutlak memerlukan keterlibatan individu anak didik. Bila tidak ada anak didik atau objek didik, siapa yang diajar. Hal ini perlu sekali guru sadari agar tidak terjadi kesalah tafsir terhadap kegiatan pengajaran. Karena itu, belajar dan mengajar merupakan istilah yang sudah baku dan menyatu di dalam konsep pengajaran. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar adalah dwi tunggal dalam perpisahan raga jiwa bersatu antara guru dan anak didik.

Biasanya permasalahn yang guru hadapi ketika berhadapan dengan sejumlah anak didik adalah masalah pengelolaan kelas. Apa, siapa, bagaimana, kapan, dan di mana adalah serentetan pertanyaan yang perlu dijawab dalam hubungannya dengan masalah pengelolaan kelas. Peranan guru itu paling tidak berusaha mengatur suasana kelas yang kondusif bagi kegairahan dan kesenangan belajar anak didik. Setiap kali guru masuk kelas selalu dituntut untuk mengelola kelas hingga berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Jadi, masalah pengaturan kelas ini tidak akan pernah sepi dari kegiatan guru. Semua kegiatan itu guru lakukan tidak lain demi kepentingan anak didik, demi keberhasilan belajar anak didik.

Sama halnya dengan belajar, mengajar pun hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuna kepada anak didik dalam melakukan proses belajar.[15]

Dalam hal yang lebih mendalam dapat difahami bahwa hakekat belajar mengajar adalah proses pengaturan yang dilakukan oleh guru.



[1] Syaiful Bahri Djamaroh, Aswan Zain, Op. Cit., hlm: 46

[2] Ibid, hlm. 48

[3] Syaiful Sagala. Konsep Dan Makna Pembelajaran  ( Bandung: Alfabeta, 2005), hlm 55

[4] Ibid, hlm 56

[5] Ibid,.

[6] Ibid, hlm 57

[7] Ibid, hlm 58

[8] Ibid,.

[9] Dr. Wina Sanjaya, M.Pd, Op. Cit., hal 57

[10] Muhibbin Syah, M.Ed, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan baru (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004), hlm. 105

                 [11] Ibid  42

[12] Syaiful Sagala, Op.,Cit, hlm. 224

[13] Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Op. Cit., hlm.76.

[14] Syaiful Bahri Djamaroh, Op, Cit., 11

[15] Ibid, hlm 45

Leave A Reply

Your email address will not be published.