Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Cara budidaya Rumput Laut

0

Cara budidaya Rumput Laut

            Setelah semuanya siap, mulai dari lokasi budidaya sampai bibit yang akan dibudidayakan, maka pekerjaan selanjutnya adalah melakukan penanaman. Dalam penanaman ini harus terlebih dahulu dipersiapkan beberapa pokok sebagai berikut :

  1. Peralatan

Peralatan yang perlu disiapkan di lokasi budidaya adalah kayu atau bambu, tali plastik (rafia atau rumput jepang), tali nilon, jangkar, dan pasak. Sebenarnya keberadaan peralatan ini tergantung sepenuhnya pada metode budidaya yang dipakai.

  1. Tenaga kerja

Tenaga kerja yang dimanfaatkan sebagai tenaga pengelola usaha budidaya rumput laut ini juga harus benar-benar dalam kondisi yang baik. Hal ini mengingat, hampir sebagian besar waktunya digunakan untuk selalu berada di dalam air. Ini berlainan sekali dengan usaha budidaya tanaman darat. Salain itu air laut juga mempunyai kadar salinitas yang cukup tinggi.

  1. Jarak tanaman

Jarak tanaman rumput laut perlu mendapat perhatian, sebagaimana halnya dengan tanaman darat. Karena jarak tanam ini akan sangat berpengaruh pada hasil produksinya dan mutunya. Pada rumput laut jarak tanam yang bisa digunakan adalah 20 cm antara tanaman satu dengan yang lainnya.

  1. Metode budidaya

Dalam usaha budidaya rumput laut ini telah banyak metode atau cara penanaman yang dipakai, serta membawa hasil yang cukup memuaskan. Namun demikian perlu diingat bahwa pemakaian metode ini tergantung pada keadaan dasar perairan di lokasi budidaya, serta peralatan yang tersedia. Metode yang baik untuk rumput laut jenis Eucheuma cottonii adalah dengan metode rakit.

 

2.1.3 Pasca panen

Rumput laut yang dibudidayakan biasanya dipanen setelah beratnya mencapai 400-600 gram atau setelah berumur 40-60 hari. Pemanenan saat laut pasang dilakukan dengan cara mengangkut seluruh tanaman ke darat, kemudian tali ris pengikat rumput laut dilepas. Kegiatan pemanenan pada saat air surut dapat lebih mudah dilakukan karena pemanenan dapat dilakukan di areal budidaya dengan memotong tali ris pengikat rumput laut. Rumput laut yang telah lepas dari tali ris dimasukkan dalam kantong plastik atau karung plastik. Sebagian dari rumput laut yang dipanen dipilih yang kira-kira baik untuk dijadikan bibit baru pada penanaman selanjutnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Aslan (1991), yang menyatakan bahwa saat panen berlangsung kita juga menyeleksi hasil panen untuk memilih bibit yang akan ditanam termasuk menentukan hasil panen yang akan dipasarkan.

Biasanya hasil panen rumput laut langsung mendapakan perlakuan-perlakuan seperti pembersihan rumput laut tadi dengan cara menyiram dengan air laut dan dilakukan sortasi. Dimana sortasi bertujuan untuk mendapatkan hasil yang seragam, baik pengeringan, ukuran, jenis maupun mutunya. Perlakuan setelah diadakan sortasi terhadap rumput laut yang diterima langsung oleh pedagang pengumpul adalah menyimpan rumput laut di gudang sebelum dikirim ke pedagang besar.         

Penanganan pasca panen rumput laut disesuaikan dengan pemanfaatannya sebagai bahan baku industri. Untuk itu dalam penanganan pasca panennya, rumput laut dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu kelompok penghasil agar-agar dan kelompok penghasil karagenan

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Pemanenan Rumput Laut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Hasil Panen Rumput Laut Jenis Eucheuma cottonii

Dalam penanganan pasca panen rumput laut, ada tujuh kegiatan yang harus dikerjakan, yaitu :

  1. Pengeringan I

Sebaiknya pengeringan ini dilakukan di atas para-para atau rak dan diberi atap yang bisa dibuka dan ditutup. Tujuan diberikannya atap di sini adalah agar rumput laut yang dikeringkan tidak kehujanan dan terkena embun malam. Karena air tawar dapat merusak dan mempengaruhi kualitas rumput laut. Para-para atau rak bertujuan agar rumput laut tetap bersih dan tidak tercampur dengan pasir dan kotoran lainnya. Lokasi penjemuran diusahakan di tempat terbuka, jauh dari pemukiman penduduk, tetapi tidak jauh dari pantai.

 

  1. Perendaman I

Setelah rumput laut cukup kering atau lama pengeringannya sudah berkisar 3-4 hari, baru rumput laut dicuci dan direndam. Perendaman dilakukan dengan menggunakan air laut selama kurang lebih 1-2 jam.

  1. Pengeringan II

Pengeringan II ini dilakukan selama lebih kurang 7 jam. Jadi dari perendaman pertama, rumput laut dikeringkan lagi yang kedua kalinya hingga cukup kering dan warnanya menjadi kekuning-kuningan.

  1. Penyortiran

Proses selanjutnya adalah penyortiran atau pemisahan. Di sini dilakukan pemisahan antara kotoran dan bahan kering, juga menurut jenisnya. Pada proses ini kadar air rumput laut masih tinggi, sekitar 30-35 %. Jadi kadar air tesebut masih terlampau banyak dan harus diturunkan lagi sehingga mencapai 25-27 %.

  1. Perendaman II

Setelah proses penyortiran tersebut, rumput laut direndam dan dibilas lagi dengan air untuk membebaskan garam dan mengurangi kotoran yang masih melekat.

  1. Pengeringan III

Rumput laut selanjutnya dijemur, dikeringkan kembali untuk yang ketiga kalinya. Pengeringan berlangsung selama 1-2 hari, sampai rumput laut benar-benar kering dengan kadar air 25-27 %.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. Pengeringan Rumput Laut

  1. Pengepakan

Akhir dari seluruh proses pasca panen ini adalah pengepakan. Rumput laut dikemas yang cukup aman, terhindar dari air hujan dan sebagainya (Hidayat, 1994).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6. Pengepakan Rumput Laut

Menurut Hety et al (1992), pengaruh pasca panen rumput laut adalah sebagai berikut :

  1. Rumput laut dibersihkan dari kotoran, seperti pasir, batu-batuan, kemudian dipisahkan dari jenis yang satu dengan yang lainnya.
  2. Setelah bersih, rumput laut dijemur sampai kering, bila cukup baik penjemuran hanya membutuhkan 3 hari. Agar cukup hasilnya cukup berkualitas tinggi rumput laut dijemur di atas para-para tidak boleh ditumpuk. Rumput laut yang telah kering ditandai dengan keluarnya garam.
  3. Pencucian dilakukan setelah rumput laut kering. Sebagai bahan baku agar-agar rumput laut kering dicuci dengan air tawar, sedangkan untuk diambil keragenannya dicuci dengan air laut. Setelah bersih rumput laut dikeringkan lagi kira-kira 1 hari. Kadar air yang diharapkan setelah pengeringan sekitar 28 %.
  4. Rumput laut kering setelah pengeringan kedua, kemudian diayak untuk menghilangkan kotoran yang masih tertinggal.
  5. Rumput laut yang bersih dimasukkan dalam karung goni. Caranya dengan dipadatkan atau tidak dipadatkan. Rumput laut yang akan dikirim di bagian luarnya dituliskan nama barang, nama kode perusahaan, nomor karung, berat bersih dengan jelas. Pemberian keterangan ini hanya untuk memudahkan untuk proses pengecekan dalam pengiriman.

Tujuan menyediakan dan mempertahankan sifat rumput laut dalam keadaan kering merupakan tujuan utama dalam penanganan pasca panen. Rumput laut dalam keadaan kering dapat mempertahankan kualitas rumput laut tadi, di atas para-para atau terpal plastik guna menurunkan kandungan air yang ada di dalamnya.

 

2.2 Pemasaran

            Pemasaran didefinisikan sebagai semua kegiatan yang bertujuan untuk memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen secara paling efisien, dengan maksud untuk menciptakan permintaan pasar yang efektif. Pemasaran adalah suatu kegiatan yang produktif, karena dapat menciptakan barang-barang yang lebih berguna bagi masyarakat. Kegunaan yang diciptakan dalam kegiatan pemasaran adalah kegunaan waktu, tempat dan kegunaan karena hak milik (Nitisemito, 1981).

            Menurut Swastha (1980), pemasaran merupakan fungsi-fungsi penting bagi masyarakat karena menciptakan faedah, dimana faedah ini ada beberapa faedah sebagai berikut :

  1. Faedah bentuk

Faedah bentuk merupakan faedah yang diciptakan oleh adanya perubahan-perubahan dalam usaha memperbaiki suatu barang. Penciptaan faedah bentuk ini dilaksanakan dalam kegiatan produksi meliputi :

  1. Pengubahan bentuk atau fungsi bahan baku.
  2. Penentuan macam material yang digunakan.
  3. Penentuan campuran/komposisi kimiawi.
  4. Pengubahan ukuran, bentuk atau dimensi lain dari barang jadi.
  5. Pengubahan metode pembuatannya.
    1. Faedah waktu

Faedah waktu dapat terjadi pada waktu konsumen hendak melakukan pembelian. Suatu barang tidak akan berguna bagi konsumen jika tidak dihubungkan baik sebelum maupun sesudah diinginkan. Dalam hal ini, saluran distribusi ikut membantu dalam penciptaan faedah waktu dengan mengadakan penyimpanan.

  1. Faedah tempat

Faedah tempat dapat terjadi pada lokasi yang diinginkan oleh konsumen. Seorang konsumen tidak akan terpenuhi kepuasannya bilamana suatu barang berada pada lokasi yang jauh. Di sini, saluran dapat menciptakan faedah tempat dengan mengadakan pengangkutan.

  1. Faedah milik

Faedah milik menunjukkan kegiatan-kegiatan untuk merubah pemilikan suatu barang. Baik pembeli industri maupun konsumen, tidak dapat melakukan kegiatan ekonomi mereka tanpa memeriksa barang-barang yang diinginkan. Biasanya perusahaan ingin memiliki barang-barang untuk keperluan produksi atau untuk dijual lagi, dan kepuasannya akan terpenuhi bilamana ia dapat memperoleh laba atau dapat mencapai tujuan lain yang diinginkan.

            Arus barang niaga hasil perikanan pada umumnya melalui proses pengumpulan (konsentrasi), pengimbangan (equalisasi) dan penyebaran (dispersi). Konsentrasi merupakan kegiatan pengumpulan dimana barang-barang yang dihasilkan dalam jumlah yang lebih besar. Dalam proses pengumpulan fungsi pedagang pengumpul cukup penting sekali, karena dengan mengumpulkan dari skala produksi yang kecil-kecil, letak daerah produksi yang terpencar-pencar dan produksinya berlangsung musiman, tentunya berperan dalam menentukan harga. Equlisasi merupakan proses kedua dari arus barang, dimana terjadi tindakan-tindakan penyesuaian antara permintaan dan penawaran. Pada proses tersebut pedagang menjual produknya kepada pedagang berikutnya. Sedangkan proses selanjutnya adalah dispersi yang merupakan proses tahap akhir dari arus barang, dimana barang-barang yang telah terkumpul disebarkan kepada konsumen atau pihak yang menggunakan (Hanafiah dan Saefuddin, 1983).

       Menurut Mubyarto (1985), panjang pendeknya saluran pemasaran belum menjamin pemasaran dari suatu barang dikatakan efisien karena saluran dianggap efisien apabila memenuhi dua syarat :

  1. Mampu menyampaikan hail-hasil dari petani produsen kepada konsumen dengan biaya semurah-murahnya.
  2. Mampu mengadakan pembagian keuntungan yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen akhir kepada lembaga atau semua pihak yang berperan dalam dalam pemasaran.

            Menurut Soekartawi et al (1986), analisa Return to Total Capital merupakan perbandingan antara pendapatan bersih yang dikurangi nilai kerja keluarga, dengan total modal. Return to Total Capital digunakan untuk mengetahui besarnya nilai imbalan dari seluruh modal usaha yang tertanam pada perusahaan tersebut dari besarnya dinyatakan dalam persen. Menurut Soetrisno (1983), pendapatan bersih adalah kelebihan seluruh penerimaan atas seluruh pengeluaran yang dinyatakan dalam bentuk uang. Untuk mengetahui efisiensi dari suatu usaha Mubyarto (1985) menyatakan dapat diketahui dengan melihat besarnya angka perbandingan antara pendapatan bersih (keuntungan) dan total biaya yang digunakan.

Menurut Hanafiah dan Saefuddin (1983), biaya pemasaran suatu jenis barang biasanya diukur secara kasar dengan margin pemasaran, dimana margin pemasaran menyatakan perbedaan harga yang dibayar oleh penjual pertama dan harga yang dibayar oleh pembeli terakhir. Dengan diketahui nilai margin pemasaran tersebut, maka akan dapat diketahui efisiensi dari suatu sistem pemasaran. Pemasaran suatu produk dikatakan mempunyai mempunyai efisiensi yang tinggi, apabila telah bekerja pada margin pemasaran yang rendah. Hal ini berarti keuntungan yang didapat pedagang perantara tidak terlalu tinggi sehingga konsumen dapat menerima dengan harga yang wajar.

Penawaran atau suplay berarti jumlah barang yang tersedia untuk dijual pada berbagai tingkat harga pada suatu waktu tertentu dan pada tempat tertentu. Penawaran hasil perikanan berbeda dengan penawaran hasil industri pada umumnya, perbedaan tersebut disebabkan karena penawaran hasil perikanan laut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Penawaran tidak dapat ditambahkan atau dikurang dengan cepat karena sifatnya yang perishable, sehingga tidak dapat lebih lama di pasar.
  2. Perluasan dan peningkatan produksi, sering mengarah kepada kenaikan ongkos per unit.
  3. Produksi sukar disesuaikan dengan harga, dimana apabila produksi tinggi harga relatif rendah dan apabila produksi rendah harga relatif tinggi.
  4. Produksi sangat tergantung pada alam (Hanafiah dan Saefudin, 1983).

Hubungan antara besarnya barang yang ditawarkan terhadap harga dapat ditunjukkan melalui kurva penawaran. Kurva penawaran tersebut pada umumnya bergerak dari kiri bawah ke kanan atas atau dari kanan atas ke kiri bawah, tergantung dari mana kita memandangnya.

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

                              Gambar A                                              Gambar B

Penurunan penawaran ditunjukkan oleh pergeseran ke kiri dari kurva penawaran  (S ® S, Gambar A) dan ini biasanya mengakibatkan kenaikan harga pasar dan penurunan volume transaksinya. Sebaliknya adanya kenaikan penawaran yang ditunjukkan oleh pergeseran ke kanan dari kurva penawaran (S ® S, Gambar  B) akan mengakibatkan penurunan harga pasar dan kenaikan volume transaksinya             (Boediono, 1983).

            Hanafiah dan Saefuddin (1983) menyatakan bahwa biaya pemasaran adalah jumlah pengeluaran perusahaan perikanan yang dikeluarkan nelayan atau petani ikan, untuk keperluan pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan penjualan hasil produksinya dan jumlah pengeluaran oleh lembaga tata niaga serta laba yang diterima oleh badan yang bersangkutan.

Menurut Soekartawi et al (1986), biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran. Biaya pemasaran meliputi biaya pengangkutan, penyimpanan, resiko kerusakan, waktu kerja dan lain-lain. Tingginya biaya pemasaran disebabkan oleh berbagai faktor berpengaruh dalam proses pemasaran, antara lain pengangkutan, penyimpanan, resiko kerusakan, waktu kerja dan lain-lain. Selanjutnya dikatakan pula bahwa biaya pemasaran dibedakan lagi menjadi dua, yaitu fixed cost dan variable cost. Fixed cost adalah biaya pemasaran yang besarnya tidak tergantung kepada besarnya volume yang dipasarkan untuk jangka pendek dan biaya tetap ini selalu diperhitungkan baik peralatan itu dipakai atau tidak. Variable cost adalah biaya pemasaran yang besar kecilnya tergantung pada besar kecilnya volume barang yang dipasarkan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.