Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Budidaya Rumput Laut

0

Budidaya Rumput Laut

Kalau mendengar kata rumput laut bayangkan kita akan mengarah ke suatu tumbuhan seperti rumput laut yang ada di laut. Gambaran tersebut sesungguhnya sama sekali salah dan tidak saling berhubungan. Rumput laut adalah tumbuhan yang tidak dapat dibedakan antara bagian akar, batang dan daun. Semua bagian tumbuhannya disebut THALLUS. Karena bentuknya seperti rumput terutama yang berukuran besar dan hidupnya di laut, maka orang awam terutama kaum usahawan menyebutnya rumput laut (Susanto, 1999).

Rumput laut (seaweed) secara biologi termasuk salah satu anggota alga merupakan  tumbuhan berklorofit. Rumput laut terdiri dari banyak sel, berbentuk koloni, hidupnya bersifat bentik di daerah perairan yang dangkal, berpasir, berlumpur, daerah pasut jernih dan biasanya menempel pada karang mati, potongan karang dan substrat yang keras lainnya, baik terbentuk secara alamiah atau buatan (artificial). Alga mempunyai bentuk bermacam-macam, seperti benang atau tumbuhan tinggi. Ciri utamanya tidak mempunyai alat berupa akar, batang dan daun yang dindingnya selnya dilapisi lendir (Sediadi dan Utari, 2000).

Ada lima jenis rumput laut yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi yaitu jenis Eucheuma, Gracillaria, Galidium, Gellidiella, dan Hypnea. Dari kelima jenis tersebut ada dua jenis yang sedang dibudidayakan di perairan Indonesia yaitu Gracillaria sp dan Eucheuma sp. Lebih tepat dibudidayakan di perairan tambak, sedangkan Eucheuma sp lebih cocok dibudidayakan di perairan pantai. Manfaat Gracillaria sp adalah sebagai bahan baku industri makanan (agar-agar), farmasi dan kosmetik. Sedangkan Eucheuma sp banyak digunakan sebagai bahan pembantu (penetral, pengental, dan pemadat) pada industri makanan dan minuman      (Anonymous, 1989).

Menurut Hadiwigeno (1990), klasifikasi Eucheuma cottonii adalah sebagai berkut :

Divisio : Thallopyta

Class    : Rhodophyceae

Ordo    : Gigartinales

Famili  : Solieriaceae

Genus  : Eucheuma

Spesies : Eucheuma cottonii

Eucheuma sp mempunyai ciri-ciri umum adalah thalli (kerangka tanaman) bulat silindris atau gepeng, berwarna merah coklat, hijau-kuning dan sebagainya, bercabang berselang tidak teratur, atau trikhotomous, memiliki benjolan-benjolan (blunt nodule) dan duri-duri atau spines dan substansi thalli “gelatinus” dan atau “kartilaginus” (lunak seperti tulang rawan) (Aslan, 1991).

Menurut Wisman et al (2000), berdasarkan hasil kajian, gracillaria dapat dibudidayakan dengan beberapa metode, yaitu : metode dasar (bettom method) di dalam tambak dengan menebarkan bibit pada dasar tambak dan metode lepas dasar (off bottom method) seperti budidaya Eucheuma sp, yaitu dengan cara mengikat bibit pada tali ris (ropeline) kemudian diikatkan pada patok-patok atau pada rakit. Akhir-akhir ini dikembangkan pula budidaya Eucheuma sp dengan metode rakit (floating rack method) dan metode rawai (longline method). Metode ini sangat tepat diterapkan pada areal perairan antara interdal dan subtidal dimana pada saat air surut terendah dasar perairan masih terendam air serta lebih banyak memanfaatkan perairan yang relatif dangkal. Oleh karena itu untuk melakukan pengembangan budidaya rumput laut tersebut sangat terbatas apalagi beberapa lokasi perairan pantai di Indonesia pada waktu surut terendah dasar perairannya kering. Dengan demikian perlu adanya metode lain yang bisa memanfaatkan perairan-perairan yang relatif dalam yang selama ini kurang dimanfaatkan walaupun sebenarnya mempunyai potensi lebih besar apabila dimanfaatkan secara optimal.

Ismail dan Mubarak (1985) menyatakan bahwa keberhasilan budidaya rumput laut sangat tergantung pada teknologi atau metode penanamannya. Metode yang dipilih hendaknya dapat memberikan pertumbuhan yang menguntungkan, mudah pelaksanaannya dengan bahan bangunan yang murah dan mudah didapat.

Menurut Winarno (1990), pengembangan komoditas dalam arti luas tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia dalam suatu kerangka yang utuh. Hal ini mengandung pengertian bahwa keberhasilan pengembangan dari suatu komoditas seharusnya tidak hanya berdasarkan kesesuaian lahan, tetapi juga kemampuan pelaku usaha dalam pengelolaannya. Gambaran tersebut berlaku semua komoditas, termasuk di dalamnya usaha budidaya rumput laut. Sebagai persyaratan umum, lokasi budidaya hendaknya dipilih perairan yang terlindung, namun masih memiliki pergerakan air yang baik. Dengan adanya pergerakan air, hara dalam air dapat selalu bergerak dan menyebar sehingga dapat diharapkan suplai hara dari bagian perairan sekitarnya. Persyaratan hara yang diperlukan (fosfat dan nitrat) biasanya sulit diperkirakan dan ditentukan. Di samping itu hendaknya dipilih perairan yang bebas polusi, baik polusi oleh limbah domestik (rumah tangga) maupun limbah industri. Adanya polusi logam berat seperti merkuri (Hg), akan banyak meningkatkan biaya produksi dan pembersihan. Persyaratan umum lainnya adalah perairan harus bersih dan jernih karena perlu untuk fotosintesis tanaman. Daerah budidaya hendaknya dipilih daerah yang terpencil dan mudah dicapai dengan transportasi yang ada.

Hety et al (1992) menyatakan syarat-syarat pemilihan lokasi budidaya jenis Eucheuma sp adalah sebagai berikut :

  1. Lokasi budidaya sebaiknya jauh dari pengaruh daratan. Lokasi yang langsung menghadap laut lepas sebaiknya terdapat karang penghalang yang berfungsi melindungi tanaman dari kerusakan akibat ombak yang kuat. Ombak yang kuat juga akan menyebabkan keruhnya perairan lokasi budidaya sehingga mengganggu proses fotosintesis. Di samping itu akan timbul kesulitan pada tahap-tahap penanaman, pemeliharaan dan pemanenan.
  2. Untuk memberi kemungkinan terjadinya aerasi, lokasi budidaya harus ada pergerakan air cukup. Di samping terjadinya aerasi, gerakan air yang cukup juga menyebabkan tanaman memperoleh pemasokan makanan secara tetap, serta terhindar dari akumulasi debu air dan tanaman menempel.
  3. Bila menggunakan metode lepas dasar, dasar lokasi budidaya harus agak keras, yaitu terbentuk oleh pasir dan karang.
  4. Lokasi yang dipilih sebaiknya pada waktu surut yang masih digenangi air sedalam 30-60 cm. Ada dua keuntungan dari genangan air ini, yaitu penyerapan makanan dapat berlangsung terus menerus, dan tanaman terhindar dari dari kerusakan akibat sengatan matahari langsung.
  5. Perairan lakasi budidaya sebaiknya ber-pH antara 7,3-8,2.
  6. Perairan yang dipilih sebaiknya ditumbuhi komunitas yang terdiri dari berbagai jenis makro Algae. Bila perairan sudah ditumbuhi rumput laut alami, maka daerah tersebut cocok untuk budidaya rumput laut jenis Eucheuma cottonii.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Areal Budidaya Rumput Laut

 

 

2.1.1  Bibit

Faktor yang harus dapat perhatian adalah masalah bibit atau benih yang dipakai. Faktor bibit di sini mempunyai arti penting dan merupakan faktor penentu kedua setelah budidaya. Untuk pengadaan bibit ini ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan, sebagai berikut :

  1. Proses pencarian bibit

Sebelum melakukan pencarian dan pengumpulan bibit rumput laut sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu peralatannya. Peralatan ini berupa kotak penampungan bibit (seed bin). Tempat kotak penampungan bibit ini biasanya terbuat dari besi atau kayu yang ada pada sekelilingnya diberi jaring dari kawat, kecuali mulut kotak dibiarkan terbuka. Ukuran kotak panjang 2 meter, lebar 1 meter, dan tinggi 1 meter.

  1. Proses pencarian dan pengumpulan bibit

Diusahakan agar bibit rumput laut dapat ditemukan di sekitar atau tidak jauh dari lokasi budidaya, hal ini guna menghindari kerusakan yang terjadi pada bibit selama proses pengangkutan berlangsung. Bibit dikumpulkan dengan cara memotong bagian tubuhnya, karena bagian ini akan menjadi tanaman baru. Ini sesuai dengan perkembangbiakan rumput laut secara vegetatif (pembiakan secara vegetatif). Sebaiknya bibit yang dipergunakan sudah cukup tua agar pertumbuhannya baik. Selain itu banyaknya bibit yang diperlukan harus cukup untuk satu areal penanaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Kegiatan Pengikatan Bibit

 

  1. Proses pengangkutan bibit

Setelah bibit terkumpul, pekerjaan selanjutnya adalah mengangkut bibit dari tempat ditemukannya ke lokasi budidaya. Dalam pengangkutan bibit ini ada dua cara yang sering dipakai yaitu :

  1. Apabila bibit ditemukan tidak jauh dari lokasi, maka pengangkutannya cukup diseret atau diapungkan kemudian ditarik perlahan-lahan. Dengan demikian rumput laut akan tetap berada di dalam air sehingga keselamatannya terjamin.
  2. Apabila bibit ditemukan jauh dari lokasi dan memerlukan sarana transportasi serta tidak terus di dalam air laut, yaitu dengan cara menyiraminya. Selain itu kotak ditutup, agar air hujan dan sinar matahari tidak sampai mengenai rumput laut secara langsung.

Leave A Reply

Your email address will not be published.