BEBERAPA TEKNIK MENUMBUHKAN KOMUNITAS BELAJAR

BEBERAPA TEKNIK MENUMBUHKAN KOMUNITAS BELAJAR

Karena keterbatasan waktu,  tidak semua permasalahan tersebut dibahas alternatif pemecahannya. Beberapa kegiatan berikut merupakan contoh upaya memecahkan permasalahan dalam rangka menumbuhkan komunitas belajar di sekolah, misalnya:

 

  1. 1. Pengadaan Sumber Belajar dan Media Belajar

Ceramah dapat dikurangi apabila tersedia sumber belajar (buku teks, kliping, radio, TV, CD, internet) dan media pembelajaran yang cukup. Sebaiknya buku teks tidak hanya satu (sesuai tuntutan Kurikulum, lebih dari satu). Sekolah dapat mengadakan buku kepustakaan dengan:  a.  Meminta siswa yang lulus menyumbangkan buku bekasnya;  b.  Meminta sumbangan alumni;

Untuk menambah koleksi bacaan di perpustakaan, guru dimotivasi untuk menugaskan siswa mengumpulkan kliping. Kliping yang terkumpul dibendel, dimasukkan ke perpustakaan sekolah. Pada waktu proses pembelajaran, kliping digunakan sebagai sumber belajar. Dengan demikian pembuatan kliping berfungsi, bukan untuk pajangan belaka.

Guru juga dapat menugaskan siswa untuk membuat gambar, grafik, skema, tabel, dsb.  Gambar untuk matapelajaran biologi, fisika sangat penting untuk media belajar (matapelajaran lain juga penting)..

 

  1. 2. Mengurangi Ceramah

Kurangi sebanyak mungkin ceramah. Apa yang sudah tercantum di buku tidak perlu diceramahkan. Suruh siswa belajar sendiri dari buku, radio, TV, CD, internet.  Mungkin ada beberapa konsep penting yang perlu diceramahkan.

Gunakan metode bervariasi misalnya diskusi, tugas, eksperimen. Diskusi akan berjalan apabila: ada masalah yang dimunculkan (masalah dari guru atau siswa), ada sumber belajar (buku, kliping) dan guru yang mengamati dan mengevaluasi.  Guru menyediakan lembar observasi untuk menilai siswa (evaluasi psikomotorik).

 

  1. a. Diskusi

Selain masalah diskusi dan sumber belajar, pengelolaan kelas selama diskusi memegang kunci penting agar proses diskusi mendukung terciptanya komunitas belajar. Secara alami, di kelas siswa dapat dikategorikan sebagai siswa kelompok A (menguasai), B (sedang) dan C (kurang menguasai).  Juga ada siswa laki-laki dan perempuan. Selain itu mungkin ada kategori lain misal berdasar suku (Jawa, Madura, Non Pri) atau agama.  Agar proses belajar berlangsung multi arah, pembentukan kelompok hendaknya:  1) maksimal terdiri dari 4 orang; 2) heterogen ditinjau dari kemampuan, jenis kelamin, suku dsb).

Proses diskusi diarahkan agar terjadi proses saling belajar antar siswa. Guru berkeliling, dan jika terdapat siswa atau kelompok yang tidak dapat memecahkan permasalahan maka guru berupaya memotivasi siswa tersebut agar mau bertanya kepada siswa atau kelompok yang mampu.  Jadi siswa C dimotivasi agar bertanya ke siswa A. Dengan demikian terjadi proses belajar membelajarkan antar siswa sehingga siswa C meningkat pemahamannya dan A juga akan lebih memahami dan terampil menyampaikan informasi kepada temannya dan daya ingatnya akan lebih lama. Selanjutnya setiap siswa hendaknya memiliki hasil diskusi. Kolaborasi tidask berarti siswa yang kurang mampu ”mengikut” siswa yang mampu. Hasil diskusi hendaknya dimiliki oleh setiap siswa. Karena itu pada akhir diskusi, guru tidak menunjuk kelompok untuk mempresentasikan, melainkan menunjuk individu siswa. Pertanyaan-pertanyaan guru kepada kelas/semua siswa hendaknya dihindari dan mengutamakan pertanyaan untuk setiap individu siswa.

 

  1. b. Tugas

Berbagai tugas dapat diberikan kepada siswa misalnya: membuat grafik pertumbuhan penduduk dengan meminta data ke RT/Kelurahan (Geografi),  membuat buku neraca dari sebuah warung/toko (Ekonomi),  essai tentang Sejarah Pasuruan (Sejarah),  mekanisme bel listrik (fisika),  pengamatan laba-laba membuat sarang (Bio),  mendata kandungan bahan kimia tambahan pada makanan (Kimia),  berlatih musyawarah mufakat (PPKN),  mengukur tinggi pohon dengan rumus (Matematika),  membuat naskah pidato (bahasa Indonesia),  mendengarkan radio Australia (Inggris), mengukur perbandingan kapasitas paru-paru orang yang gemar oleh raga dan tidak (Olah raga). Banyak tugas mengiringi materi pelajaran yang dapat diberikan kepada para siswa.

Tugas-tugas yang diberikan itu harus diminta laporannya. Setiap siswa hendaknya membuat laporan. Laporan terbaik dipajang di kelas, dimasukkan ke majalah dinding, atau diseminarkan.

Adakan seminar siswa antar kelas atau di sekolah dalam rangka HUT Kemerdekaan, Maulud Nabi, Hari Kartini, Kenaikan kelas dst

Tugas-tugas siswa yang baik disimpan, diadakan pameran. Siswa yang berprestasi akan bangga dan memicu siswa lain untuk ikut berprestasi.

 

 

  1. c. Kegiatan Ilmiah.

Di dalam Kurikulum tercantum kompetensi ”siswa mampu berkomunikasi secara ilmiah”.  Yang dimaksud dengan berkomunikasi secara ilmiah adalah berkomunikasi secara tertulis dan atau lisan.  Kegiatan ilmiah ini harus dibudayakan di sekolah misalnya dengan: 1) melakukan seminar antar kelas/di sekolah, seminar antar sekolah, seminar tingkat Kabupaten.  2) me-ngadakan lomba karya ilmiah tingkat sekolah/wilayah/Kabupaten

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *