Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Aspek-Aspek Pembentuk Keharmonisan Rumah Tangga

0

Aspek-Aspek Pembentuk Keharmonisan Rumah Tangga

Dalam rumah tangga harus terdapat kematangan emosional demi terbentuknya keharmonisan rumah tangga. Adapun ciri kematangan tersebut:

  1. Kasih sayang, yaitu sikap kasih sayang mendalam yang diwujudkan secara wajar.
  2. Emosi yang terkendali, yaitu individu dapat mengatur perasaan-perasaannya terhadap keluarga dan terhadap pasangan. Tidak mudah berbuat hal yang menyakiti perasaan, misalnya marah, cemburu buta, dan ingin merubah pribadi pasangannya.
  3. Emosi terbuka-lapang, yaitu individu dapat menerima kritik dan saran dari pasangannya sehubungan dengan kelemahan dan perbuatannya, demi pengembangan diri dan puasan pasangan.
  4. Emosi terarah, yaitu individu dengan kendali emosinya sehingga tenang, dapat mengarahkan ketidakpuasan dan konflik-konflik yang konstruktif dan kreatif. [1]

Muhammad M. Dlori menjelaskan kunci dalam pembentukan keluarga adalah:

  1. Rasa cinta dan kasih sayang. Tanpa keduanya rumah tangga takkan berjalan harmonis. Karena keduanya adalah power untuk menjalankan kehidupan rumah tangga.
  2. Adaptasi dalam segala jenis interaksi masing-masing, baik perbedaan ide, tujuan, kesukaan, kemauan, dan semua hal yang melatarbelakangi masalah. Hal itu harus didasarkan pada satu tujuan yaitu keharmonisan rumah tangga.
  3. Pemenuhan nafkah lahir batin dalam keluarga. Dengan nafkah maka harapan keluarga dan anak dapat terealisasi sehingga tercipta kesinambungan dalam rumah tangga. [2]

Menurut Basri untuk meraih keharmonisan rumah tangga sumi istri perlu memiliki sifat-sifat ideal dan menerapkannya dalam rumah tangga, sifat tersebut adalah:

  1. Persyaratan fisik biologis yang sehat-bugar. Hal ini penting karena; untuk menjalankan tugasnya keduanya memerlukan tubuh atau anggota badan yang berfungsi baik dan sehat. Seperti berkomunikasi, bekerja, kehidupan seksualitas, daya tarik, dan sebagainya. Jika mereka memiliki tubuh dan fisik yang sehat terutama otak maka keluarga akan terbantu dengan sisi kreatif dari otak. Tubuh merupakan dasar untuk hidup
  2. Psikis-rohaniah yang utuh. Kondisi psikis-rohaniah yang utuh sangat diperlukan dalam menunjang kemampuan seseorang dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam rumah tangga.dengan mental yang sehat akan mampu mengendalikan emosi yang kadang tergoncang karena berbagai macam alasan dan situasi. Taraf kepribadian dan rohani yang utuh dan teguh sangat diperlukan, karena dalam perjalanannya godaan dan cobaan datang secara silih berganti, baik dalam moral kesusilaan, keadilan, kejujuran, tanggung jawab sosial dan keagamaan.

Mental yang sehat dapat menyebabkan seseorang mampu menghadapi kenyataan sebagaimana adanya dan akan berusaha meraih kebahagiaan hidup tanpa merugikan orang lain, ia akan mampu beradaptasi dengan efektif dan wajar. Bermacam-macam aspek kepribadian dan unsur akhlak budi pekertinya akan utuh dan teguh serta menjaga taraf keluhuran dan kehormatannya. Psikis-rohaniah yang utuh dapat mambuat kedua pasangan memelihara daya tarik yang membuat mereka betah dan bahagia dalam rumah tangganya.

  1. Kondisi sosial dan ekonomi yang cukup memadai untuk memenuhi hidup rumah tangga. Hal ini dapat berupa semangat dan etos kerja yang baik dalam memenuhi nafkah, kreatifitas dan semangat untuk mengusahakannya, sehingga keluarga akan terpenuhi kebutuhannya. [3]

Zakiah Daradjat menjelaskan babarapa persyaratan dalam mencapai keluarga yang harmonis, adapun syarat tersebut adalah:

  1. Saling mengerti antar suami isteri, yaitu; (a) Mengerti latar belakang pribadinya; yaitu mengetahui secara mendalam sebab akibat kepribadian (baik sifat dan tingkah lakunya) pasangan, (b) Mengerti diri sendiri; memahami diri sendiri masa lalu kita, kelebihan dan kekurangan kita, dan tidak menilai orang berdasarkan diri sendiri.
  2. Saling menerima. Terimalah apa adanya pribadinya, tugas, jabatan dan sebagainya jika perlu diubah janganlah paksakan, namun doronglah dia agar terdorong merubahnya sendiri. Karena itu; (a) Terimalah dia apa adanya karena menerima apa adanya dapat menghingkan ketegangan dalam keluarga. (b) Terimalah hobi dan kesenangannya asalkan tidak bertentangan dengan norma dan tidak merusak keluarga. (b) Terimalah keluarganya
  3. Saling menghargai. Penghargaan sesungguhnya adalah sikap jiwa terhadap yang lain. Ia akan memantul dengan sendirinya pada semua aspek kehidupan, baik gerak wajah maupun perilaku. Perlu diketahui bahwa setiap orang perlu dihargai. Maka menghargai keluarga adalah hal yang sangat penting dan harus ditunjukkan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.

Adapun cara menghargai dalam keluarga adalah; (a) Menghargai perkataan dan perasaannya. Yaitu; menghargai seseorang yang berbicara dengan sikap yang pantas hingga ia selesai, menghadapi setiap komunikasi dengan penuh perhatian positif dan kewajaran, mendengarkan keluhan mereka. (b) Menghargai bakat dan keinginannya sepanjang tidak bertentangan dengan norma. (c) Menghargai keluarganya.

  1. Saling mempercayai. Rasa percaya antara suami isteri harus dibina dan dilestarikan hingga ke hal yang terkecil terutama yang berhubungan dengan akhlaq, maupun segala segi kehidupan. Diperlukan diskusi tetap dan terbuka agar tidak ada lagi masalah yang disembunyikan. Untuk menjamin rasa saling percaya hendaknya memperhatikan; (a) Percaya akan pridinya. Hal ini ditunjukkan secara wajar dalam sikap ucapan, dan tindakan. (b) Percaya akan kemampuannya, baik dalam mengatur perekonomian keluarga, mengendalikan rumah tangga, mendidik anak, maupun dalam hubungannya dengan orang luar dan masyarakat.
  2.  Saling mencintai. Syarat ini  merupakan tonggak utama dalam menjalankan kehidupan keluarga. Cinta bukanlah kejaiban yang kebetulan datang dan hilang namun ia adalah “usaha untuk…”. Adapun syarat untuk pempertalikan dengan cinta adalah; (a) Lemah lembut dalam berbicara. (b) Menunjukkan perhatian kepada pasangan, terhadap pribadinya maupun keluarganya. (c) Bijakna dalam pergaulan. (d) Menjauhi sikap egois (e) Tidak mudah tersinggung. (f) Menentramkan batin sendiri. Karena takkan bisa menentramkan batin seseorang apabila batinnya sendiri tidak tentram, orang disekitarnya pun tidak akan nyaman. Saling terbuka dan membicarakan hal dengan pasangan adalah kebutuhan yang dapat menentramkan masalah. Peran agama dan spiritual pun sangat menentukan. Dengannya kemuliyaan hati tercermin dalam tingkah laku yang lebih baik dan menarik. Oleh sebab itu orang yang tentram batinnya akan menyenangkan dan menarik bagi orang lain. (g) Tunjukkan rasa cinta. Hal ini dapat melalui tindakan, ucapan maupun sikap terhadap pasangan. [4]

Prof Nick Stinnet dan John DeFrain (dalam Hawari) mengemukakan pegangan atau kriteria keluarga bahagia atau harmonis, keriteria tersebut adalah:

  1. Menciptakan kehidupan agama atau spiritualitas dalam keluarga. Karena dalam agama terdapat nilai-nilai moral atau etika kehidupan. Landasan utama agama dalam kehidupan terutama rumah tangga adalah kasih sayang. Penelitian mengatakan keluarga yang tidak religius, komitmen agamanya rendah, atau yang tidak mempunyai komitmen agama sama sekali beresiko empat kali tidak berbahagia, dan berakhir dengan broken home, perceraian, tak ada kesetiaan, dan kecanduan NAZA.
  2. Terdapat waktu bersama keluarga. Sesibuk apapun keluarga tersebut hendaknya para anggota harus menyediakan waktu untuk keluarga atau suasana kebersamaan dengan unsur-unsur keluarga sebagai usaha pemeliharaan hubungan.
  3. Dalam interaksi segitiga, keluarga menciptakan hubungan yang baik antara anggotanya. Komunikasi yang baik dan dua arah, suasana demokratis dalam keluarga harus dijaga agar tidak terjadi kesenjangan diantara anggota keluarga.
  4. Saling harga-menghargai dalam interaksi ayah, ibu, dan anak. Hal ini dilakukan melalui ucapan, tindakan, dan sikap yang tertanam dalam anggota keluarga.
  5. Keluarga sebagai unit terkecil harus erat dan kuat, jangan longgar, dan jangan rapuh. Mereka bukan hanya dekat dimata namun juga harus dekat dihati. Hubungan silaturrahmi berdasarkan kasih sayang haruslah dibina dalam keluarga.
  6. Jika mengalami krisis dan benturan-benturan, maka prioritas utamanya adalah keutuhan keluarga.

Jika aspek diatas telah terpenuhi dan berfungsi dengan baik berdasarkan pada tuntunan nilai-nilai spiritual agama maka keharmonisan rumahtangga akan mudah diraih.[5]



[1] Andi Mappiare,. Psikologi Orang Dewasa,.( Surabaya: Usaha Nasional,1983), hal 153

[2] Muhammad M. Dlori, Dicinta Suami (Istri) Sampai Mati, (Jogjakarta: Katahati,2005), hal 16-23

[3] Hasan Basri, Keluarga Sakinah Tinjauan Psikologi dan Agama, (Yogyakarta; Pustaka pelajar, 2002), 32-37

[4] Zakiah Dradjat, Ketenangan Dan Kebahagiaan Dalam Keluarga.

[5] Hawari, Al-Quran: Ilmu Kedokteran Jiwa Dan Kesehatan Jiwa., hal 805-808

Leave A Reply

Your email address will not be published.