APA DAN MENGAPA LESSON STUDY

APA DAN MENGAPA LESSON STUDY

Ibrohim, dkk.

 

A. Pengertian Lesson study

Lesson study adalah suatu proses sistematis yang digunakan oleh guru-guru Jepang untuk menguji keefektifan pengajarannya dalam rangka meningkat hasil pembelajaran (Garfield, 2006). Proses sistematis yang dimaksud adalah kerja guru-guru secara kolaboratif untuk mengembangkan rencana dan perangkat pembelajaran, melakukan observasi, refleksi dan revisi rencana pembelajan secara bersiklus dan terus menerus. Menurut Walker (2005) Lesson study merupakan salah  satu metode pengembangan profesional guru. Lewis (2002) mendefinisikan lesson study sebagai berikut. As we will see, lesson study is a cycle in which teachers work together to consider their long-term goals for students, bring those goals to life in actual “research lessons,” and collaboratively observe, discuss, and refine the lessons.

Selanjutnya, Lewis (2002) menyatakan hal-hal sebagai berikut. Lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe, and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal-setting, careful data collection on student learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues.

Apakah itu research lesson? Research lessons (pembelajaran yang diteliti) merupakan “centerpiece” dari “lesson study”, yaitu suatu pembelajaran yang dirancang, dilaksnakan, diamati dan didiskusikan, kemudian disempurnakan, dan kalau mungkin dibelajarkan lagi di kelas yang lain serta dikaji ulang.  Dalam kaitan ini Lewis (2002) menjelaskan bahwa di dalam lesson study, para guru bekerjasama untuk:

  • Merumuskan tujuan pembelajaran dan tujuan pengembangan siswa jangka panjang.
  • Secara kolaboratif merancang “research lesson” yang didesain untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran tersebut.
  • Melaksanakan pembelajaran oleh salah seorang anggota tim, dan anggota tim yang lain mengumpulkan data-data atau bukti-bukti tentang aktivitas belajar dan pengembangan diri siswa
  • Mendiskusikan bukti-bukti atau kejadian yang telah diperoleh dari pembelajaran, menggunakannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran unit tersebut, atau peningkatan pembelajaran secara lebih umum.
  • Jika perlu, mengajarkan kembali rencana yang telah direvisi pada kelas yang lain, dan mengkajinya lagi peningkatan yang yang terjadi.

Siklus peningkatan pembelajaran oleh guru dalam lesson study tersebut digambarkan seperti pada Gambar 1.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1: Siklus Lesson Study (Lewis, 2002)

 

Wang-Iverson dan Yoshida, pada Appendix A tentang Glossary of Lesson study Terms, (2005) mendefinisikan research lesson sebagai berikut: sebuah Research lesson (kenkyujugyo), umumnya juga diacukan sebagai suatu “study lesson” adalah rencana pembelajaran yang ditulis bersama oleh tim, diajarkan di depan pengamatan para teman guru, setelah itu didiskusikan bersama, direvisi, diajarkan kembali, dan dilaporkan.

Wang-Iverson dan Yoshida (2005) juga memberikan penegasan tentang  lesson study sebagai berikut. Lesson  study adalah:

  • Kegiatan guru meningkatkan profesionalismenya dalam pembelajaran
  • Dilakukan dengan tujuan yang jelas (spesifik)
  • Berfokus pada materi subyek dalam konteks berfikir siswa
  • Diberikan jastifikasi oleh oleh pihak luar yang memiliki otorita atau keahlian.

Lesson study bukan:

  • “Pelatihan” guru
  • tentan menciptakan pembelajaran yang sempurna
  • dilakukan secara terpisah
  • dilakukan hanya dalam satu siklus atau langkah.

 

Wang-Iverson dan Yoshida (2005) juga mengemukakan definisi dan hal-hal yang terkait dengan lesson study sebagai berikut.

  • Lesson study (jugyokenkyu) is a form of long-term teacher-led professional learning, developed in Japan, in which teachers systematically and collaboratively conduct research on teaching and learning in classroom in order to enrich students’ learning experiences and improve their own teaching.
  • A lesson study cycle generally involves a team of teachers planning colla­bora­tively based upon a research theme, implementing the lesson in the classroom, collec­ting observation data, reflecting upon and discussing the data, and developing a record of their activity.
  • Lesson study is more than a studying instructional materials and developing useful lessons. It also explores ideas for improved teaching that bring out students’ thinking and thinking processes, helps students to develop mental images for solving problem and understanding the topic, and expands those skills and abilities.
  • Lesson study is a comprehensive approach to professional learning that helps teachers develop ways of:
  • Lesson study supports teachers in becoming lifelong learners about how to develop and improve teaching and learning in the classroom.
  • thinking about learning and teaching in the classroom
  • planning lessons
  • observing how students are thinking and learning and taking appropriate actions
  • reflecting on and discussing teaching
  • identifying and recognizing knowledge and skills necessary to improve their practice and seek new solutions.

 

B. Mengapa Lesson study?

Lesson study dipilih dan dimplementasikan karena beberapa alasan. Pertama, lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini benar, karena (1) pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil “sharing” pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktek dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru, (2) pe­ne­kanan mendasar suatu lesson study adalah para siswa memiliki kualitas belajar, (3) tujuan pelajaran dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas, (4) berdasarkan pengalaman real di kelas, lesson study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan (5) lesson study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran (Lewis, 2002).

Kedua, lesson study yang didesain dengan baik akan menghasilkan guru yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan lesson study para guru dapat (1) me­nentukan tujuan, pelajaran (lesson), satuan (unit) pelajaran, dan mata pelajaran yang efektif; (2) mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa; (3) mem­perdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru; (4) me­nentukan tujuan jangka panjang yang akan dicapai para siswa; (5) merencanakan pe­la­jaran secara kolaboratif; (6) mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa; (7) mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang
dapat diandalkan; dan (8) mela­ku­kan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya (Lewis, 2002)

Wang-Iverson dan Yoshida (2005) mengatakan bahwa lesson study memiliki beberapa manfaat sebagai berikut.

  • Mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya)
  • Membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pempelajarannya
  • Memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan kurikulum.
  • Membantu guru memfokuskan bantuannya pada seluruh aktivitas belajar siswa.
  • Menciptkan terjadinya pertukaran harapan-harapan untuk pemahaman berpikir dan belajar siswa
  • Meningkatkan kolaborasi perhatian pada sesama guru.

 

C. Bagaimana Melaksanakan Lesson study?

Ada berbagai variasi tahapan atau langkah pelaksanaan lesson study dalam perkembangan implementasinya. Lewis (2002) menyarankan ada eman tahapan dalam awal mengimplementasikan lesson study di sekolah.

Tahap 1:  Membentuk kelompok lesson study.

Tahap 2: Memfokuskan lesson study.

Tahap 3: Merencanakan rencana pelmbelajaran (Research Lesson).

Tahap 4:  Melaksanakan pembelajaran di kelas dan mengamatinya (observasi).

Tahap 5: Mendiskusikan dan menganalisis pembelajaran, yang telah dilaksanakan.

Tahap 6: Merefleksikan pembelajaran dan merencanakan tahap-tahap selanjutnya.

Sementara itu, Richardson (2006) menuliskan ada 7 tahap atau langkah yang termasuk dalam lesson study, yang masih mirip deng Lewis, yakni:

Tahap 1: Membentuk sebuah tim lesson study.

Tahap 2: Memfokuskan lesson study

Tahap 3: Merencanakan rencana pelmbelajaran (Study Lesson).

Tahap 4:  Persiapan untuk observasi.

Tahap 5:  Melaksanakan pengajaran dan observasinya.

Tahap 6: Melaksanakan tanya-jawab/diskusi pembelajaran.

Tahap 7: Melakukan refleksi dan merencanakan tahap selanjutnya.

Di tempat lain, dalam rangkaian adaptasi dan implementasi lesson study di “Israeli midle school teachers” Robinson (2006) mengusulkan ada 8 tahap berdasarkan pada jumlah pertemuan yang diperlukan dalam pelaksanaan lesson study, yakni:

Tahap  1: Pemilihan topik lesson study

Tahap 2: Melakukan reviu silabus untuk mendapatkan kejelasan tujuan pembelajaran untuk topik tersebut dan mencari ide-ide dari materi yang ada dalam buku yang mreka bawa. Selajutnya bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana pembelajaran.

Tahap 3: Setiap tim yang telah menyusun rencana pembelajaran menyajikan atau mendemonstrasikan rencana pembelajarannya, sementara kelompok lain memberi masukan, sampai akhirnya diperoleh bentuk jadi yang lebih baik.

Tahap 4:Guru sukarelawan mengambil masukan-masukan untuk memperbaiki rencana pembelajaran di rumah untuk dipresentasikan pada pertemuan yang akan datang.

Tahap 5: Guru sukarelawan mempresentasikan rencana pembelajarannya di depan semua anggota kelompok lesson study dan mendaptkan balikan.

Tahap 6: Guru sukarelawan memperbaiki kembali secara lebih detil rencana pembelajaran dan mengirimkan pada semua guru anggota kelompok agar mereka tahu bagaimana pembelajaran akan dilaksanakan di kelas.

Tahap 7: Para guru dapat belajar tentang berbagai aspek dari hasil observasi pembelajaran, mendiskusikan dan memutuskan tugas khusu dalam observasi. Tugas khusu difokuskan pada hal-hal yang penting seperti; pengajaran guru, pemahaman siswa, proses pemecahan oleh murid, dan kesesuaian antara rencana dan iplementasi pembelajaran.

Tahap 8: Guru sukarelawan mengajar di kelas bersama muridnya, sementara guru yang lain bersama dosen mengamati sesuai dengan tugas masing-masing untuk memberi masukan pada guru. Pertemuan setelah pengajaran dilakukan secapatnya dengan dimulai fefleksi oleh guru pengajar, masukan dari guru observer, dan akhirnya komentar dari dosen atau ahli luar tentang keseluruhan proses serta saran sebagai peningkatan pembelajaran jika mereka mengulang di kelas masing-masing atau dengan topik yang berbeda.

Dari 8 tahapan di atas tampak adanya upaya penyusunan dan perbaikan rencana pembelajaran yang berulang-ulang untuk  memperoleh rencana pembelajaran yang terbaik.

Dalam kesempatan pengenalan dan implementasi lesson study dalam konteks IMSTEP-JICA di Indonesia Saito, dkk (2005) mengenalkan lesson study yang berorientasi pada praktik.  Lesson study yang dilaksanakan tersebut terdiri atas 3 tahap pokok, yakni:

  1. Merencanakan pembelajaran dengan penggalian akademis pada topik dan alat-alat, disebut tahap Plan.
  2. Melaksanakan pembelajaran dengan mengacu pada rencana pembelajaran dan alat-alat yang disediakan, serta mengundang rekan-rekan sejawat untuk mengamati, disebut tahap Do.
  3. Merefleksikan melalui berbagai pendapat dan diskusi bersama pengamat, sisebut tahap See.

Lebih jelasnya digambarkan dalam bagan berikut.

 

 

 

 

 

 

Gambar 2: Daur Studi Pembelajaran Terorientasi pada Praktik

 

Berikut ini akan diuraikan secara lebih detil keenam tahap yang dikemukakan oleh Lewis.

1. Membentuk Grup Lesson study

Setidak-tidaknya ada empat kegiatan yang perlu dilakukan dalam membentuk grup lesson study. Keempat kegiatan tersebut adalah (1) merekrut anggota kelompok, (2) menyusun komitmen waktu khusus, (3) menyusun jadwal pertemuan, dan (4) menyetujui aturan kelompok.

Anggota kelompok lesson study pada dasarnya dapat direkrut dari guru, dosen, pejabat pendidikan, dan/atau pemerhati pendidikan. Yang sangat penting adalah me­reka mempunyai komitmen, minat, dan kemauan untuk melakukan inovasi dan mem­perbaiki kualitas pendidikan.     Setiap anggota kelompok lesson study harus memiliki komitmen agar dia me­nyiapkan waktu khusus untuk mewujudkan atau mengimplementasikan lesson study. Para anggota kelompok ini biasanya menyelenggarakan pertemuan-pertemuan rutin baik mingguan, bulanan, semesteran, maupun tahunan dalam satu tahun ajaran ter­ten­tu. Di samping itu, mereka juga bisa bertindak sebagai guru untuk mengajarkan suatu research lesson.

Seperti dikemukakan di atas, pertemuan-pertemuan anggota kelompok sangat sering dan beragam. Oleh sebab itu sangat diperlukan adanya jadwal yang harus dita­ati oleh setiap anggota kelompok. Jadwal itu juga akan sangat berguna dalam meng­atur semua tugas yang terkait dengan kegiatan anggota kelompok, termasuk tugas mengajar rutin. Anggota kelompok yang bertugas sebagai guru tentu saja harus me­ning­galkan kelas mengajarnya dan akan digantikan oleh guru lain yang bukan anggota kelompok lesson study.

2. Memfokuskan Lesson study

Pada langkah ini ada tiga kegiatan yang dapat dilakukan yaitu menyepakati tema penelitian (research theme), fokus penelitian, atau tujuan utama penelitian; me­mi­lih mata pelajaran; serta memilih topik dan unit pelajaran (lesson)

Terkait dengan penentuan tema penelitian suatu lesson study, kita perlu mem­perhatikan tiga hal. Pertama, bagaimana kualitas aktual para siswa saat sekarang? Kedua, apa kualitas ideal para siswa yang diinginkan di masa mendatang? Terakhir, adakah kesenjangan antara kualitas ideal dan kualitas aktual para siswa yang menjadi sasaran lesson study? Kesenjangan inilah yang dapat diangkat menjadi bahan tema penelitian.

Mata pelajaran yang digunakan untuk lesson study ditentukan oleh anggota ke­lompok lesson study. Anggota kelompok bisa memilih misalnya mata pelajaran Ki­mia, Fisika, Bahasa, atau Matematika, dll. Sebagai panduan untuk memilih mata pela­jar­an, kita dapat menggunakan tiga pertanyaan berikut. Perta
ma
, mata pelajaran apa yang paling sulit bagi siswa?. Kedua, mata pelajaran apa yang paling sulit diajarkan oleh guru?. Ketiga, mata pelajaran apa yang ada pada kurikulum baru yang ingin diku­asai dan dipahami oleh guru?.

Setelah menentukan mata pelajaran, langkah berikutnya adalah me­mi­lih topik dan pembelajaran. Topik yang dipilih sebaiknya adalah topik yang menjadi da­sar bagi topik belajar berikutnya, topik yang selalu sulit bagi siswa atau tidak disu­kai siswa, topik yang sulit diajarkan atau tidak disukai oleh guru, atau topik yang baru da­lam kurikulum. Setelah topik dipilih, kita menetapkan tujuan topik tersebut. Ber­da­sar­kan tujuan topik ini kita menetapkan beberapa pembelajaran yang akan menunjang tercapainya tujuan topik tersebut.

3. Merencanakan Research Lesson

Di dalam merencanakan suatu research lessons (a teacher-led instructional improvement), di samping mengkaji pelajaran-pelajaran yang sedang berlangsung, kita perlu mengembangkan suatu rencana untuk memandu belajar (plan to guide learning). Rencana itu akan memandu proses pembelajaran, pengamatan, dan diskusi tentang research lesson serta mengungkap temuan yang muncul selama lesson study berlangsung. Format rencana untuk memandu belajar dapat dilihat pada Appendix 5 (Lewis, 2002). Rencana untuk memandu belajar itu merupakan suatu hal yang kompleks. Oleh sebab itu, akan sangat membantu jika kita memperhatikan elemennya dalam tiga daerah lingkaran yang sepusat, yaitu rencana research lesson yang terletak pada daerah pusat lingkaran, rencana unit/satuan (unit plan) yang berada pada daerah ring lingkaran yang lebih luar, dan rencana pembelajaran menyeluruh yang berlokasi di daerah ring lingkaran paling luar.

Suatu rencana research lesson menjawab pertanyaan sangat penting yaitu “perubahan-perubahan apa yang akan terjadi pada siswa selama pelajaran berlangsung dan apa yang akan memotivasi mereka? Rencana research lesson ini biasa ditulis dalam suatu tabel yang memuat tiga atau empat kolom. Kolom-kolom tersebut memuat:

  • pertanyaan, masalah, dan aktivitas yang harus dikemukakan oleh guru
  • jawaban-jawaban siswa yang diantisipasi
  • jawaban-jawaban yang direncanakan guru untuk siswa
  • butir-butir yang perlu dicatat selama pelajaran (atau “evaluasi”)

Selanjutnya, terkait dengan content and planning, Wang-Iverson dan Yoshida (2005) mengemukakan juga bahwa rencana research lesson umumnya terdiri dari hal-hal berikut:

  • Nama/identitas, tujuan dan urutan unit pembelajaran
  • Judul dan tujuan pembelajaran
  • Rasional pengajaran dan pembelajaran dan gubungannya dengan tujuan lesson study.
  • Detil dari deskripsi rencana pembelajaran dalam format tabel/kolom (Table 1).

 

Table 1: Four-column lesson description

 

Langkah/

Tahapan

Aktivitas siswa, Pertanyaan-pertanyaan guru, Respons-respons antisipasi.

Bahan dan hal-hal yang harus diingat guru

Metode evaluasi

Tahapan dari pmbelajaran dan alaokasi waktunya

Aktivitas murid yang akan ditingkatkan, masalah-masalah yang muncul (dimiliki siswa), pertanyaan yang memicu aktivitas berpikir siswa, antisipasi solusi siswa, metode, dan kesalahan-kesalahan

Termasuk benda-benda yang diperlukan guru selama pembelajaran

Berisi pertanyaan yang didesain untuk menetapkan keefektifan dari pembelajaran.

 

Daftar pertanyaan berikut mungkin dapat membantu untuk memandu perencanaan research lesson (Lewis, 2002).

  1. Apa yang saat ini dipahami oleh siswa tentang topik ini?
  2. Apa yang kita inginkan dari siswa untuk dipahami pada akhir pelajaran?
  3. Apa “drama” atau rentetan pertanyaan dan pengalaman yang akan mendorong para siswa untuk berpindah dari pemahaman awal menuju pemahaman yang diinginkan?
  4. Bagaimana para siswa akan menjawab pertanyaan dan aktivitas pada pelajaran tersebut? Apa masalah dan miskonsepsi yang akan muncul? Bagaimana guru akan menggunakan idea dan miskonsepsi untuk meningkatkan pelajaran tersebut?
    1. Apa yang akan membuat pelajaran ini mampu memotivasi dan bermakna bagi siswa?
    2. Apa bukti tentang belajar siswa, motivasi siswa, perilaku siswa yang harus dikumpulkan agar dapat mendiskusikan pelajaran itu dan tema penelitian yang lebih luas? Apa sajakah format pengumpulan data yang diperlukan?

Elemen berikutnya dari daerah lingkaran sepusat tadi adalah rencana unit/ satuan. Unit ini lebih luas dari research lesson. Rencana unit menunjukkan bagaima­na research lesson yang diamati sesuai dengan serangkaian pelajaran.

Bagian terakhir dari rencana memandu belajar adalah tema penelitian. Tema pe­ne­litian ini telah dikemukakan di depan. Tema penelitian dan pelajaran mempunyai hubungan yang erat.

Pembuatan rencana untuk pengumpulan data juga merupakan suatu elemen penting dalam menyusun rencana untuk memandu belajar. Seperti telah dikemukakan di depan, salah satu kolom rencana research lesson memuat “point to notice” atau “evaluation”. Kolom ini memandu pengamat untuk memperhatikan aspek-aspek khusus dari pelajaran. Anggota kelompok lesson study dan guru-guru biasanya dibe­rikan tugas dan format pengumpulan data untuk membantu mereka dalam mengum­pulkan data. Pengumpulan data itu biasanya dikaitkan dengan suatu denah tempat duduk siswa, daftar anggota setiap kelompok siswa, catatan tentang pemikiran awal siswa, daftar cek untuk mencatat hal-hal penting tentang karya siswa, catatan tentang partisipasi setiap anggota dari suatu kelompok kecil, atau data lainnya yang sesuai dan diperlukan.

Data yang dikumpulkan selama lesson study biasanya memuat bukti tentang aktivitas be­lajar, motivasi, dan iklim sosial. Walaupun pengumpulan data biasanya lebih difo­kus­kan pada siswa tetapi pengumpulan data juga biasa dilakukan untuk mencatat ucapan atau ceramah guru dan waktu yang digunakan guru pada setiap elemen pelajaran.

Satu bagian penting lagi dan yang patut dipertimbangkan dalam merencanakan research lesson adalah ahli dari luar. Mereka bisa berasal dari guru atau peneliti yang memiliki pengetahuan tentang bidang studi yang dipelajari dan/atau bagaimana mengajar bidang studi tersebut. Keterlibatan ahli dari luar ini akan lebih efektif jika su­dah berlangsung sejak awal. Dengan cara ini, ahli tersebut mempunyai kesempatan dalam membantu merancang pelajaran, memberi saran tentang sumber-sumber kuri­kulum, dan bertindak sebagai komentator terhadap research lesson.

4. Mengajar dan Mengamati Research Lesson

Sekarang research lesson yang sudah direncanakan sudah dapat diimple­men­tasikan dan diamati. Guru anggota kelompok yang sudah ditunjuk atau disepakati me­lak­sanakan tugas untuk mengajar lesson yang sudah ditetapkan, sedangkan anggota kelompok yang lain mengamati lesson tersebut. Pengamat akan mengumpulkan data yang diperlukan selama pelajaran berlangsung. Untuk mendokumentasikan research lesson biasanya dapat dilakukan dengan menggunakan audiotape, videotape, handy­cam, kamera, karya siswa, dan catatan observasi naratif. Peranan pengamat selama lesson study adalah mengumpulkan data dan bukan membantu siswa. Para siswa harus diberitahu lebih dahulu bahwa pengamat a
tau guru lain di kelas mereka itu hanya bertugas untuk mempelajari pelajaran yang berlangsung dan bukan untuk membantu mereka.

Selanjutnya, setiap anggota kelompok lesson study sebaiknya diberi tugas dan tanggung jawab tertentu. Diantara mereka ada yang bertugas misalnya untuk mem­peroleh materi yang dibutuhkan pelajaran, mengkopi rencana pembelajaran untuk pengamat, mencatat hasil-hasil diskusi setelah pelajaran, dan memfasilitasi diskusi setelah pelajaran.

 

5. Mendiskusikan dan Menganalisis Research Lesson

Research lesson yang sudah diimplementasikan perlu didiskusikan dan dianalisis. Hal ini perlu dilakukan, karena hasil diskusi dan analisis tersebut dapat dijadikan seba­gai bahan masukan untuk perbaikan atau revisi research lesson. Dengan demi­kian research lesson diharapkan akan menjadi lebih sempurna, efektif dan efisien.

Diskusi dan analisis tentang research lesson sebaiknya memuat butir-butir: (1) Refleksi instruktur, (2) Latar belakang anggota kelompok lesson study, (3) Presentasi dan diskusi tentang data dari research lesson, (4) Diskusi umum, (5) Komentator dari luar (optional), dan (6) Ucapan terimakasih (Lewis, 2002).

Beberapa bagian penting dan berguna dari panduan diskusi pelajaran adalah sebagai berikut. Pertama, guru yang mengajar research lesson diberi kesempatan menjadi pembicara pertama dan mempunyai kesempatan untuk mengemukakan se­mua kesulitan dalam pelajarannya sebelum kesulitan tersebut dikemukakan oleh yang lain. Kedua, sebagai suatu aturan main, pelajaran yang disampaikan merupakan milik semua anggota kelompok lesson study. Ini adalah pelajaran “kita”, bukan pe­lajaran “saya”, dan hal ini direfleksikan dalam setiap keterangan setiap orang. Anggota kelompok berasumsi bahwa mereka bertanggung jawab untuk menjelaskan pemikiran dan perencanaan yang ada pada pelajaran tersebut. Ketiga, instruktur atau para guru yang merencanakan pelajaran itu sebaiknya menceritakan mengapa mereka meren­canakan itu, perbedaan antara apa yang mereka rencanakan dan apa yang sesung­guhnya terjadi, serta aspek-aspek pelajaran yang mereka inginkan agar para pengamat mengevaluasinya. Keempat, diskusi berfokus pada data yang dikumpulkan oleh para pengamat. Para pengamat membicarakan secara spesifik tentang percakapan dan karya siswa yang mereka catat. Pengamat tidak membicarakan tentang kualitas pela­jaran berdasarkan kesan mereka tetapi mereka membicarakan fakta yang ditemukan. Kelima, waktu diskusi bebas terbatas; oleh sebab itu terdapat kesempatan yang terbatas untuk “grandstanding” dan penyimpangan (Lewis, 2002).

Diskusi dan analisis research lesson ini dilaksanakan segera, pada hari yang sa­ma, setelah research lesson diimplementasikan. Hal ini benar, sebab seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa hasil diskusi dan analisis ini dapat digunakan dan dipertimbangkan sebagai bahan untuk merevisi pelajaran/unit/pendekatan pembe­lajaran.

 

6. Merefleksikan Lesson study dan Merencanakan Tahap-tahap Berikutnya

Dalam merefleksikan lesson study hal yang perlu dilakukan adalah memikirkan tentang apa-apa yang sudah berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana dan apa-apa yang masih perlu diperbaiki. Sekarang tiba saatnya untuk berpikir tentang apa yang harus dikerjakan selanjutnya oleh kelompok lesson study. Apakah anggota ke­lom­pok  berkeinginan untuk membuat peningkatan agar pelajaran ini menjadi lebih baik? Apakah anggota-anggota yang lain dari kelompok lesson study ini berkeinginan un­tuk mengujicobakan pelajaran ini pada kelas mereka sendiri? Apakah anggota kelompok lesson study puas dengan tujuan-tujuan lesson study dan metode operasi kelompok? (Lewis, 2002).

Pertanyaan-pertanyaan berikut juga dapat membantu kita dalam melakukan refleksi terhadap siklus lesson study maupun memikirkan langkah yang akan dila­kukan berikutnya. Pertanyaan tersebut antara lain adalah (1) apa yang berguna atau bernilai tentang lesson study yang dikerjakan bersama?, (2) apakah lesson study membimbing kita untuk berpikir dengan cara baru tentang praktek pembelajaran sehari-hari?, (3) apakah lesson study membantu mengembangkan pengetahuan kita tentang mata pelajaran serta pengetahuan tentang belajar dan perkembangan siswa?, (4) apakah tujuan lesson study menarik bagi kita semua?, (5) apakah kita bekerja bersama-sama dalam suatu cara yang bersifat produktif dan suportif?, (6) sudahkah kita membuat kemajuan terhadap tujuan lesson study kita secara menyeluruh?, (7) apakah semua anggota kelompok kita merasa terlibat dan berguna?, dan (8) apakah pihak yang bukan peserta merasa terinformasikan dan terundang dalam kegiatan lesson study kita? (Lewis, 2002).

D. Penutup

Lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui peng­kajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip kolegalitas dan mutual learning. Lesson study secara praktik dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan), Do (melaksanakan), dan See (merefleksikan) yang dilaksana-kan secara bersiklus dan berkelanjutan.

Bagi sekolah, lesson study merupakan wahana strategis untuk meningkatkan kompetensi guru, baik terkait dengan kompetensi profesional, kompetensi pedagogis, maupun kompetensi sosial. Peningkatan dua kompetensi pertama jelas sangat mung­kin tercapai sebab melalui lesson study para guru dapat belajar dari dosen, dari guru lain, maupun dari pengalaman dalam mengamati porses pembelajaran. Keseluruhan tahapan, dari plan sampai see memungkinkan guru untuk meningkatkan penguasaan bahan ajar dan meningkatkan ketrampilan mengembangkan dan atau menerapkan metode pembelajaran yang efektif.

Potensi lesson study untuk meningkatkan kompetensi sosial dapat diaktualkan khususnya pada tahap see. Pada tahap itu guru dituntut dan dilatih berkomunikasi dengan sesama guru secara efektif, arif, dan bijaksana. Ketika mengajukan pandangan atau pendapat tentang proses pembelajaran yang telah diamati, guru harus meng­gunakan fakta yang diamati di kelas sebagai dasarnya, bukan atas dasar opini apalagi yang terkesan subjektif dan tidak ilmiah. Segala fakta yang terhimpun harus dielaborasi sedemikian rupa menjadi argumen yang runut, jelas, dan mudah dipahami orang lain.

Pada akhirnya harus dipahami bahwa lesson study bukan hanya sekedar pengetahuan bagi guru, tetapi harus menjadi sebuah kegiatan yang membudaya dalam upaya memningkatkan kemampuan guru. Jika hal ini dapat dilakukan, maka semua orang yang terlibat dalam lesson study harus mem­peroleh lesson learned (hikmah). Dengan demikian maka lesson study sangat potensial membangun learning community.

 

Daftar Rujukan

Garfield, J. 2006. Exploring the Impact of Lesson Study on Developing Effective Statistics Curriculum.  (Online): www.stat.auckland.ac.nz/-iase/publication/-11/Garfield.doc. diakses tanggal 19-6-2006.

Susilo, H. 2005. Lesson Study: Apa dan Mengapa. Makalah dalam Seminar dan Workshop Lesson Study dalam Rangka Persiapan Workshop Kolaborasi FMIPA UM dan MGMP MIPA SMP dan SMA Kota Malang. Di FMIPA UM – 21 Juni 2005.

Lewis, Catherine C. 2002. Lesson study: A Handbook of Teacher-Led Instructional

Change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools, Inc.

Morgan, Shawn. 2001. Teaching Math the Japanese Way (Online), (http://www.as1.org/alted/lessonstudy.htm, diakses tanggal 16 Mei 2005.

Muchtar Abdul Karim, 2006. Apa, Mengapa, dan Baga
imana Lesson Study
, Makalah disampaikan dalam pelatihan Lesson Study bagi Guru Berprestasi dan Pengurus MGMP Se-Indonesia Timur, di Malang dan Bali  29 Nov – 15 Des 2006.

Robinson, Naomi. 2006. Lesson Study: An example of its adaptation to Israeli middle school teachers. (Online): stwww.weizmann.ac.il/G-math/ICMI/ Robinson_proposal.doc

Richardson, J. 2006. Lesson study: Teacher Learn How to Improve Instruction. Nasional Staff Development Council. (Online): www.nsdc.org. 03/05/06.

Saito, E., Imansyah, H. dan Ibrohim. 2005. Penerapan Studi Pembelajaran di Indonesia: Studi Kasus dari IMSTEP. Jurnal Pendidikan “Mimbar Pendidikan”, No.3. Th. XXIV: 24-32.

Saito, E., 2006. Development of school based in-service teacher training under the Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project. Improving Schools. Vol.9 (1): 47-59

Walker, J.S. 2005. UWEC Math Dept. Journal of Lesson Studies. (Online):

Wang-Iverson, Patsy and Yoshida, Makoto (Editors). 2005. Building Our Understanding of Lesson study. Philadelphia, PA: Research for Better Schools.

 

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *