Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

اللغة و علم اللغة BAHASA DAN LINGUISTIK

0

DEFENISI BAHASA ( تعربف اللغة )

– اللغة أصوات يعبر بها كل قوم عن أغراضهم

– إن اللغة نظام إعتباطي لرموز صوتية تستخدم لتبدل الأفكار و المشاعر بين أعضاء جماعة لغوية متجانسة

– اللغة نظام ذهني يتم بموجبه ربط العناصر اللغوية سواء كان على المستوى الفنولوجي أو الصرفي أو النحوي

– Adalah Bunyi yang digunakan oleh setiap bangsa atau masyarakat untuk mengemukakan ide.

– Adalah siste lambang bunyi yang arbitrer digunakan untuk saling bertukar pikiran dan perasaan antar anggota kelompok masyarakat dan bangsa.

– Bahasa adalah sistem mental/dalam pikiran yang membentuk suatu ikatan atau aturan pada unsur-unsur bahasa, baik pada tataran fonologi, morfologi, maupun sintaksis.

HAKIKAT BAHASA

– Satu sistem lambing bunyi yang bersifat arbitrer ( Antara Labang yang berupa Bunyi tidak memiliki hubungan wajib dengan konsep yang dilambangkannya )

– Bersifaf dinamis dan interaksi atau alat berkomunikasi di dalam masyarakat.

ASAL-USUL BAHASA

“ Kalau bahasa itu Ada, berarti ada asal-ususlnya “

– F.B. Condilac. ( Filosuf Prancis ) Bahasa berasal dari teriakan-teriakan dan gerak-gerik badan yang bersifat naluri yang dibangkitkan oleh perasaan atau emosi yang kuat. Kemudian teriakan itu berubah menjadi bunyi-bunyi yang bermakna.

Menurutnya pula bahwa : Bahasa Berasal dari Tuhan . Tuhan telah melengkapi kehadiran pasangan adam dan hawa dengan kepandaian berbahasa.

– Von Herder ; ( Filosuf German ) : Bahasa itu tidak mungkin datang dari Tuhan karena bahasa itu sedemikian buruknya dan tidak sesuai dengan Dzat Tuhan yang sempurnah.

Menurutnya : Bahasa terjadi dari proses onomatope. Yaitu peniruan bunyi alam. Bunyi-bunyi alam yang ditiru ini merupakan benih yang tumbuh menjadi sebagai akibat dari dorongan hati yang sangat kuat untuk berkomunikasi.

– Von Schlegel : ( Filosif German ) : Bahasa yang ada di bumi ini tidak mungkin berasal dari satu bahasa, ada yang berasal dari onomatope, lahir dari kesadaran manusia, atau dari mana pun bahasa itu manusialah yang membuatnya sempurnah..

– Brooks ; Bahasa Itu lahir pada waktu yang sama dengan kelahiran manusia. Artinya manusia telah diciptakan menjadi makhluk berbahasa.

– Phlip Liberman : Bahasa lahir secara evolusi sebagaimana teori ovolusinya Darwin .

FUNGSI-FUNGSI BAHASA :

– Alat Berinteraksi

– Alat untuk Menyampaikan Pikiran, Gagasan, Ide dan persaaan

– Alat berkomunikasi baik lisan / tulisan

– Ekspresi : Mengambarkan Rasa

– Informasi : Menyampaikan sesuatu

– Eksplorasi : Menjelaskan Suatu hal/perkara

– Persuasi : Mengaruhi

– Entertaimen : Menghibur

KARAKTERISTIK BAHASA :

A. Oral : ( اللسان )

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ بِلِسَانٍ قَوْمِهِ, لـِنُبـَيِّنَ لَهُمْ …..( إبراهيم : 4)

B. Sistematis ( نظام )

Contoh : Dalam Bidang Fonologi ( علم الأصوات )

Penyebutan bunyi Huruf : ت ذَلـْقِيٌّ لِثَوِيٌّ أَسْنَانِيٌّ مُرَقَّقٌ, Berbeda dengan penyebutan Bunyi huruf ذَلـْقِيٌّ لِثَوِيٌّ أَسْنَانِيٌّ مُفَخَّمٌ : ص

C. Arbitrer dan Simbolis) ( إعتباطي و رموزي

Arbitrer : Tidak terdapat hubungan yang rasional antara lambang verbal dengan acuannya.

Contoh : Benda cair bening yang biasa diminum

– Dalam bahasa arab desebut : ماء

– Dalam bahasa Indonesia disebut ; Air

– Dalam bahasa Inggris disebut : Water

– Dalam bahasa Gorontalo disebut : Taluhu

D. Konvensional ( إتفاقي )

Maksudnya : Bahasa merupakan kesepakatan masyarakat penggunaan bahasa. Kesepakatan tersebut bukanlah formal, melainkan kesepakatan yang sifatnya “ kebiasaan “ yang berlangsung turun temurun.

E. Unik dan Universal ( طريف / شمول )

Maksudnya : Bahasa memiliki ciri khas yang berbeda dengan yang lainnya.

F. Beragam ( متنّـوع )

Maksudnya : Bahasa memiliki keragaman dilihat dari sisi :

Dialek ( لهجات )
Sosiolek ( إجتماعي )
Idiolek ( إعتقادي )

G. Berkembang ( نمــــو / إزدهار )

Bahasa selalu berkembang bahkan sering menyerap bahasa lain , Contoh : Kata Televisi ( تلفاز ) Enter : ( أنقر ) Compac Disck : ( قرص ) File : ( ملف ) .

H. Produktif / Kreatif ( منتيج / مبتكر )

Bahwa produksi suatu bahasa itu sangat berlimpah, Hanya berasal dari sebuah akar kata dapat menghasilkan kata lain, contoh :

كتب : كاتب – مكتوب – مكتب – مكتبة – كتاب

Begitu pula dengan kreatif : Bahasa yang dihasilkan oleh manusia senantiasa memproduksi sesuatu yang baru, contoh : Kata Hand Phone : bisa disebut dengan : هاتف – جوال – محمول.

I. Fenomena Sosial ( مظاهر الإجتماع )

Bahwa bahasa itu merupakan konveksi suatu masyarakat pemilik atau pengguna bahasa. Seseorang menggunakan suatu bahasa sesuai dengan norma-norma yang disepakati atau ditetapkan untuk bahasa itu.

LINGUISTIK : ( علم اللغة )

علم اللغة هو العلم الذي يتخذ اللغة موضوعا له

Ilmu Bahasa / Ilmu Yang mengambil Bahasa sebagai Objek Kajiannya

Pakar Linguistik disebut “ Linguis “

– Linguis : Orang yang mahir menggunakan beberapa bahasa

– Linguis : Orang yang mempelajari bahasa bukan hanya bertujuan untuk mahir menggunakan bahasa, melainkan untuk mengetahui secara mendalam aspek dan segi yang menyangkut bahasa itu.

– Poliglot : Orang yang mahir dan lancar dalam menggunakan beberapa bahasa namun tidak mendalami teori tentang bahasa.

– Monoglot ; Orang yang mahir dan lancar menggunakan hanya satu bahasa dan tidak mendalami teori tentang bahasa.

BIDANG LINGUISTIK :

– Linguistik Makro : Bahasa hubungannya dengan faktor Luar

– Sosiologis

– Psikologis

– Antropologis

– Neorologis

– Linguistik Mikro : Bahasa yang hubungnnya dengan Faktor Dalam

– Fhonology ( الأصوات )

– Morfologi ( بناء الكلمة )

– Sintaksis ( بناء الجملة )

– Semantik ( الدلالـــــة )

OBJEK KAJIAN LINGUISTIK

– Linguistik Teoritis : Bertujuan untuk mencari atau menemukan teori – teori / kaidah-kaidah Linguistik

– Linguistik Terapan : Bertujuan untuk menerapkan kaidah-kaidah linguistik dalam kegiatan praktis ( Pengajaran / Penerjemahan / Penyusunan Kamus )

– Linguistik Sejarah : Bertujuan Untuk mengkaji perkembangan dan perubahan suatu bahasa / sejulah bahasa baik dengan memperbandingkannya ataupun tidak.

– Sejarah Linguistik : Bertujuan untuk mengkaji perkembangan ilmu linguistik baik mengenai tokoh-tokohnya, aliran-aliran teorinya maupun hasil-hasil kerjanya.

PEMBAGIAN LINGUISTIK

Comparative Linguistics ( علم اللغة المقارن )
Descriptive Linguistics ( علم اللغة الوصفيّ )
Historical Linguistics ( علم اللغة التاريخيّ )
Contrastive Linguistics ( علم اللغة التقابليّ )

TEORI-TEORI LINGUISTIK

Berikut ini beberapa teori bahasa yang diutarakan oleh para linguistic terhadap hakikat bahasa, hubungan bahasa dengan kognisi, maupun hubungan bahasa dengan kebudayaan. Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa bahasa memang merupakan objek kajian dari berbagai disiplin. Namun, dari disiplin linguistik itu sendiri dapat dicermati adanya berbagai teori atau aliran yang terkadang berbeda, tumpang tindih, maupun bertentangan. Dalam bab ini akan dibicarakan lagi secara singkat empat teori atau aliran linguistik yang sedikit banyak punya kaitan dengan masalah psikologi, baik kognitif maupun behavioristik, dengan para tokohnya agar kita mempunyai gambaran yang lebih menyeluruh dan komprehensif, dan bisa memahami masalah linguistik dengan lebih baik.

Keempat aliran atau teori itu adalah :

1. Teori Ferdinand de Saussure, yang menganut paham psikologi kognitif, behavioristik, dan pragmatik

Teori Leonard Bloomfield, yang tampak menganut psikologi behavioristik
Teori John Rupert Firth, yang tampak menganut aliran pragmatistik;
Teori Noam Chomsky, yang tampak menganut paham kognitif. Keempat aliran itu mempunyai nama sendiri-sendiri sesuai dengan teori linguistiknya bukan psikologinya.

1. Teori Ferdinand De Saussure

Ferdinand De Saussure (1858-1913) adalah seorang linguis Swiss yang sering disebut-sebut sebagai Bapak atau Pelopor Linguistik Modern. Bukunya yang terkenal Course de Linguistique Generale (1916) diterbitkan oleh murid-muridnya, Bally dan Schehaye, berdasarkan catatan kuliah, setelah beliau meninggal.

De Saussure disebut sebagai “Bapak Linguistik Modern” karena pandangan­ pandangannya yang baru mengenai studi bahasa yang dimuat dalam bukunya itu. Pandangan pandangannya itu antara lain mengenai :

(1) Telaah sinkronik dan diakronik dalam studi bahasa

(2) Perbedaan langue dan parole,

(3) Perbedaan signifianx dan signifie’, sebagai pembentuk signe’ lingustique,

(4) Hubungan sintagmatik dan hubungan asosiatif atau paradigmatik

De Saussure menjelaskan bahwa perilaku bertutur atau tindak tutur (speech act) sebagai satu rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih, seperti antara A dengan B. Perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian-luar dan bagian-dalam. Bagian-luar dibatasi oleh mulut dan telinga sedangkan bagian-dalam oleh jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara dan pendengar. Jika A berbicara maka B menjadi pendengar, dan jika B berbicara maka A menjadi pendengar.

Di dalam otak penutur A terdapat konsep-konsep atau fakta-fakta mental yang dihubungkan dengan bunyi-bunyi linguistik sebagai perwujudannya yang digunakan untuk melahirkan atau mengeluarkan konsep-konsep tersebut. Baik konsep maupun imaji bunyi itu terletak dalam satu tempat yaitu di pusat penghubung yang berada di otak. Jika penutur A ingin mengemukakan sebuah konsep kepada pendengar B, maka konsep itu “membukakan” pintu kepada pewujudnya yang berupa imaji bunyi yang masih berada dalam otak dan merupakan fenomena psikologis. Kemudian dengan terbukanya pintu imaji bunyi ini, otak pun mengirim satu impuls yang sama dengan imaji bunyi itu kepada alat-alat ucap yang mengeluarkan bunyi; dan ini merupakan proses fisiologis. Kemudian gelombang bunyi itu bergerak dari mulut A melewati udara ke telinga B; dan ini merupakan proses fisik. Dari telinga B gelombang bunyi bergerak terus masuk ke otak B dalam bentuk impuls. Lalu terjadilah pula proses psikologis yang menghubungkan imaji bunyi ini dengan konsep yang sama, seperti yang ada dalam otak A. Apabila B berbicara clan A mendengarkan, maka proses yang sama akan terjadi pula. Perhatikan bagan berikut.

PROSES BERTUTUR DAN MEMAHAMI

Dalam perilaku berbahasa ini dibedakan antara pelaksana yaitu pusat penghubung penutur clan telinga pendengar yang keduanya sebagai bagian yang aktif; clan penerima yaitu pusat penghubung pendengar dan telinga penutur yang kedua sebagai bagian yang pasif.

De Saussure membedakan antara parole, langue, clan langage. Ke­ tiganya bisa dipadankan dengan kata “bahasa” dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan pengertian yang sangat berbeda.

Parole adalah bahasa yang konkret yang keluar dari mulut seorang pembicara. Jadi, karena sifatnya yang konkret itu maka parole itu bisa didengar.

Langue adalah bahasa tertentu sebagai satu sistem tertentu seperti bahasa Inggris atau bahasa Jawa menggunakan istilah bahasa. Jadi, sifatnya abstrak; hanya ada dalam otak penutur bahasa yang bersangkutan.

Langage adalah bahasa pada umumnya sebagai alat interaksi manusia seperti tampak dalam kalimat “Manusia punya bahasa, binatang tidak”. Jadi, langage ini juga bersifat abstrak.

Menurut De Saussure linguistik murni mengkaji langue, bukan parole maupun langage. Teori linguistik De Saussure tidak mengikutsertakan parole. Alasan De Saussure mengkaji langue adalah sebagai berikut.

1. Langue bersifat sosial sedangkan parole bersifat individual. Kedua sifat ini saling bertentangan. Langue berada di dalam otak. Belajar langue bersifat sosial dalam pengertian sinkronik, sedangkan parole bersifat idiosinkronik karena ditentukan secara perseorangan.

2. Langue itu bersifat abstrak dan tersembunyi di dalam otak sedangkan parole selalu bergantung pada kemauan penutur dan bersifat intelektual.

3. Langue adalah pasif sedangkan parole adalah aktif.

Jadi, menurut De Saussure linguistik haruslah mengkaji langue karena langue adalah fakta sosial sedangkan parole merupakan perlakuan individual, dan hanya merupakan embrio dari langage. Dengan kata lain, apa yang keluar dari mulut penutur dalam bentuk kalimat-kalimat selalu berubah-ubah dan bersifat idiosinkretis. Oleh karena itu, tidak layak dijadikan bahan kajian linguistik. Sebaliknya, di kalangan anggota masyarakat yang dipertalikan satu sama lain oleh langue akan tercipta suatu average yang merupakan tanda atau lambang yang sama dan berpola; dan digabungkan dengan konsep-konsep yang sama dan berpola, serta tidak berubah-ubah dari satu individu ke individu lain. Maka inilah yang layak dijadikan objek kajian linguistik. Oleh karena itu, langue menurut definisi De Saussure adalah satu sistem tanda atau lambang yang arbitrer, dan digunakan untuk menyatakan ide-ide, dan mempunyai aturan-aturan. Dengan kata lain, langue merupakan satu sistem nilai murni yang terdiri dari pikiran yang tersusun yang digabungkan dengan bunyi.

Tanda linguistik seperti yang disebutkan dalam definisi di atas mempersatukan sebuah konsep dengan sebuah imaji bunyi. Jadi, bukan mempersatukan nama dengan benda seperti nama pohon dengan sebuah pohon sebagai bendanya.

Dalam hal ini yang dimaksud dengan imaji bunyi bukanlah bunyi dalam bentuk benda atau fisik, tetapi “cetakan” psikologis dari bunyi itu atau pengaruhnya pada pancaindra kita. Jadi, baik imaji bunyi maupun konsep adalah sesuatu yang abstrak. Oleh karena itu pula, De Saussure tidak berpendapat bahwa kata terdiri dari fonem atau fonem-fonem, melainkan terdiri dari imaji-imaji bunyi. Fonem itu sendiri terjadi sebagai kegiatan vokal yang merupakan realisasi imaji-dalam ketika bertutur. Yang paling penting pada teori linguistik De Saussure adalah mengenai signe’ linguistique atau tanda Linguistik karena bahasa merupakan.

4. Sebuah sistem tanda. Menurut De Saussure tanda linguistik adalah sebuah maujud psikologis yang berunsur dua yaitu signifie’ atau konsep atau petanda; dan signifiant atau imaji bunyi atau penanda. Kedua unsur ini, signifie’ dan signifiant terikat erat sehingga yang satu selalu mengingatkan yang lain, atau sebaliknya.

Ada beberapa ciri dari signe’ linguistique ini yaitu sebagai berikut.

Pertama, tanda linguistik bersifat arbitrer, maksudnya, hubungan antara satu petanda/konsep dengan satu penanda/imaji bunyi bersifat kebetulan. Namun, tanda linguistik itu tidak dapat diubah (immutable); tetapi sistem bahasa dapat berubah.

Kedua, penanda (signifiant) dari suatu signe’ linguistique itu meru­pakan satu bentangan (span) yang dapat diukur dalam satu dimensi atau merupakan satu garis, satu perpanjangan. Ini berarti bahwa bahasa dapat dianggap sebagai satu deretan atau urutan (sequence).

Ketiga, signe’ linguistique mempunyai pergandaan yang tidak dapat dihitung. Dengan kata lain tanda linguistik jumlahnya tidak terbatas.

Menurut De Saussure metode yang sesuai dalam analisis linguistik adalah segmentasi dan klasifikasi. Dengan kedua metode ini seorang linguis akan menentukan pola-pola untuk mengklasifikasikan unit-unit yang dianalisis. Pola-pola itu bisa sintagmatik, yaitu pola yang tersusun berturut-turut dalam satu arus ujaran, atau juga paradigmatik, yaitu hubungan-hubungan antara unit-unit yang menduduki tempat yang sama dalam arus ujaran.

Pembentukan kalimat menurut De Saussure bukanlah semata-mata urusan langue, tetapi lebih banyak menyangkut urusan parole. Pembentukan

kalimat merupakan satu proses penciptaan bebas, tidak dibatasi oleh rumus-rumus linguistik, kecuali dalam hal yang menyangkut bentuk kata dan pola bunyi.

2. Teori Leonard Bloomfield

Leonard Bloomfield (1887-1949) seorang
tokoh linguistik Amerika, sebelum mengikuti aliran
behaviorisme dari Watson dan Weiss, adalah seorang
penganut paham mentalisme yang sejalan dengan
teori psikologi Wundt. Kemudian beliau menentang
mentalisme dan mengikuti aliran perilaku atau
behaviorisme. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan linguistik Amerika, terutama di sekolah linguistik Yale yang didirikan menurut ajarannya. Bloomfield menerangkan makna (semantik) dengan rumus-rumus behaviorisme. Akibatnya, makna menjadi
tidak dikaji oleh linguis-linguis lain yang menjadi pengikutnya. Unsur­
unsur linguistik diterangkannya berdasarkan distribusi unsur-unsur tersebut di dalam lingkungan (environment) di mana unsur-unsur itu berada. Distribusi dapat diamati secara langsung sedangkan makna tidak dapat.

Teori linguistik Bloomfield ini akan bisa diterangkan dengan lebih jelas kalau kita mengikuti anekdot “Jack and Jill” (Bloomfield, 1933:26). Dalam anekdot itu diceritakan Jack dan Jill sedang berjalan-jalan. Jill melihat buah apel yang sudah masak di sebatang pohon. Jill berkata kepada Jack hahwa dia lapar dan ingin sekali makan buah apel itu. Jack memanjat pohon apel itu; memetik buah apel itu; dan memberikannya kepada Jill. Secara skematis peristiwa itu dapat digambarkan sebagai berikut.

Penjelasan

S r. ………………………s R

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

(1) Jill melihat apel (S= stimulus)

(2) Otak Jill bekerja mulai dari melihat apel hingga berkata kepada Jack.

(3) Perilaku atau kegiatan Jill sewaktu berkata kepada Jack (r = respons)

(4) Bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Jill waktu berbicara kepada Jack (…)

(5) Perilaku atau kegiatan Jack sewaktu mendengarkan bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Jill (s=stin1ulus)

(6) Otak Jack bekerja mulai dari mendengar bunyi suara Jill sampai bertindak.

(7) Jack bertindak memanjat pohon, memetik apel, dan memberikan kepada Jill (R = respons).

Nomor (3), (4), dan (5) yaitu (r s) adalah lambang atau perilaku berbahasa (speech act) yang dapat diobservasi secara fisiologis; sedangkan yang dapat diamati atau diperiksa secara fisik fianyalah nomor (4).

Berdasarkan keterangan di atas maka yang menjadi data linguistik bagi teori Bloomfield adalah perilaku berbahasa atau lambang bahasa (r…………………….. s) dan hubungannya dengan makna (S R). Apa yang terjadi di dalam otak Jill mulai dari (1) hingga (2) sampai dia mengeluarkan bunyi tidaklah penting karena keduanya tidak dapat diamati. Begitu juga dengan proses yang terjadi di dalam otak Jack setelah dia mendengar bunyi-bunyi itu yang membuatnya bertindak (5 dan 6) adalah juga tidak penting bagi teori Bloomfield ini.

Menurut Bloomfield bahasa merupakan sekumpulan ujaran yang muncul dalam suatu masyarakat tutur (speech community). Ujaran inilah yang harus dikaji untuk mengetahui bagian-bagiannya. Lalu, bagi Bloomfield bahasa adalah sekumpulan data yang mungkin muncul dalam suatu masyarakat. Data ini merupakan ujaran-ujaran yang terdiri clan potongan­potongan perilaku (tabiat) yang disusun secara linear.

Teori linguistik Bloomfield didasarkan pada andaian-andaian dan definisi-definisi karena kita tidak mungkin mendengar semua ujaran di dalam suatu masyarakat tutur. Jadi, tidak mungkin kita dapat menujukkan bahwa pola-pola yang kita temui dalam beberapa bahasa berlaku juga pada bahasa-bahasa lain. Ini harus diterima sebagai satu andaian. Kita tidak mungkin menunjukkan bahwa lambang-lambang ujaran dihubungkan dengan makna karena tidak mungkin mengenal satu per satu makna itu dalam data.

Menurut Bloomfield bahasa itu terdiri dari sejumlah isyarat atau tanda berupa unsur-unsur vokal (bunyi) yang dinamai bentuk-bentuk linguistik. Setiap bentuk adalah sebuah kesatuan isyarat yang dibentuk oleh fonem-fonem (Bloomfield, 1933;158). Umpamanya:

Pukul adalah bentuk ujaran.

Pemukul adalah bentuk ujaran

Pe- adalah bentuk bukan ujaran

Pukul terdiri dari empat fonem, yaitu : /p/, /u/, /k/, dan /l/. Di sini fonem /u/ digunakan dua kali.

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa setiap ujaran adalah bentuk, tetapi tidak semua bentuk adalah ujaran. Menurut Bloomfield ada dua macam bentuk, yaitu:

(1) Bentuk bebas (Free Form), yakni bentuk yang dapat diujarkan sen­dirian seperti bentuk amat, jalan, dan kaki dalam kalimat “Amat jalan kaki”,

(2) Bentuk terikat (Bound Farm) yakni bentuk linguistik yang tidak dapat diujarkan sendirian seperti bentuk pe- pada kata pemukul; dan bentuk -an seperti pada kata pukulan.

Dalam teori linguistik Bloomfield ada beberapa istilah/term yang perlu dikenal, yaitu berikut ini.

Fonem adalah : Satuan bunyi terkecil dan distingtif dalam leksikon suatu bahasa, Seperti bunyi [u] pada kata bahasa Indonesia /bakul/ karena bunyi itu merupakan bunyi distingtif dengan kata /bakal/. Di sini kita lihat kedua kata itu, /bakul/ dan /bakal/, memiliki makna yang berbeda karena berbedanya bunyi [u] dari bunyi [a].

Morfem adalah : Satuan atau unit terkecil yang mempunyai makna dari bentuk leksikon. Umpamanya dalam kalimat Amat menerima hadiah terdapat morfem : Amat, me-, terima, dan hadiah.

Frarse adalah : Unit yang tidak minimum yang terdiri dari dua bentuk bebas atau lebih. Umpamanya dalam kalimat Adik saya sudah mandi terdapat dua buah frase, yaitu frase adik saya dan frase sudah mandi.

Kata adalah : Bentuk bebas yang minimum yang terdiri dari satu bentuk bebas dan ditambah bentuk-bentuk yang tidak bebas. Misalnya, pukul, pemukul, dan pukulan adalah kata, sedangkan pe-, dan -an bukan kata; tetapi semuanya pe-, -an, dan pukul adalah morfem.

Kalimat adalah ujaran yang tidak merupakan bagian dart ujaran lain dan merupakan satu ujaran yang maksimum. Misalnya Amat duduk di kursi, Amat melihat gambar, clan Ibu dosen itu cantik.

Bloomfield dalam analisisnya berusaha memenggal-menggal bagian­bagian bahasa itu, serta menjelaskan hakikat hubungan di antara bagian­bagian itu. Jadi, kita lihat bagian-bagian itu mulai dart fonem, morfem, kata, frase, dan kalimat. Kemudian beliau juga menerangkan lebih jauh tentang tata bahasa serta memperkenalkan banyak definisi, istilah, atau konsep yang terlalu teknis untuk dibicarakan di sini seperti konsep taksem, semem, tagmem, episemem, dan lain-lain. Oleh karena itu, teori Bloomfield mi disebut juga linguistik taksonomik karena memotong-motong bahasa secara hierarkial untuk mengkaji bagian-bagiannya atau strukturnya.

3. Teori John Rupert Firth

John Rupert Firth (1890-1960) adalah seorang linguis Inggris yang pada tahun 1944 mendirikan sekolah linguistik deskriptif di London. Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dari konteks-konteks ini. Tiap-tiap konteks mempunyai peranan sebagai lingkungan untuk unsur-unsur atau unit-unit tiap tingkat bahasa itu. Susunan dari konteks-konteks ini membentuk satu keseluruhan dari kegiatan-kegiatan yang penuh arti. Maksudnya, tiap-tiap unsur pada tiap tingkatan mempunyai arti yang dapat dibedakan dan dianalisis.

Menurut Firth struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu tingkatan fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik. Yang menjadi unsur dalam tingkatan fonetik adalah fonem, yang menjadi unsur dalam tingkatan morfologi adalah morfem, yang menjadi unsur dalam tingkatan sintaksis adalah kategori-kategori sintaksis; dan yang menjadi unsur dalam tingkatan semantik adalah kategori-kategori semantik. Firth lebih memusatkan perhatian pada tingkatan fonetik dan tingkatan semantik. Sedangkan tingkatan lain kurang diperhatikan.

Fonem dapat dikaji dalam hubungannya dengan kata. Konteks fonologi terbatas pada bunyi-bunyi “dalam” yang terdapat pada kata. Bentuk yang meragukan pada satu tingkat, tidak selalu meragukan pada tingkatan lain.

Misalnya, bentuk /kèpala] dalam bahasa Indonesia. Pada tingkatan fonetik bentuk ini meragukan sebab ada beberapa makna kata kepala dalam bahasa Indonesia. Untuk menjelaskan, kita dapat beranjak ketingkatan yang lebih tinggi yaitu tingkatan morfologi atau sintaksis atau semantik. Dalam konteks morfologi bentuk kepala kantor ataupun keras kepala tidak meragukan lagi.

Arti atau makna menurut teori Firth adalah hubungan antara satu unsur pada satu tingkatan dengan konteks unsur itu pada tingkatan yang sama. Jadi, arti tiap kalimat terdiri dari lima dimensi, yaitu berikut ini.

1. Hubungan tiap fonem dengan konteks fonetiknya (hubungan fonem satu sama lain dalam kata).

2. Hubungan kata-kata satu sama lain dalam kalimat.

3. Hubungan morfem pada satu kata dengan morfem yang sama pada kata lain, clan hubungannya dengan kata itu.

4. Jenis kalimat clan bagaimana kalimat itu digolongkan.

5. Hubungan kalimat dengan konteks situasi.

Ada dua jenis perkembangan dalam ilmu linguistik yang selalu dikaitkan dengan Firth, Yaitu (a) teori konteks situasi untuk menentukan arti, (b) analisis prosodi dalam fonologi. Teori konteks situasi ini menjadi dasar teori linguistik Firth; beliau menolak setiap usaha untuk memisahkan bahasa dari konteksnya dalam kehidupan manusia dan budaya. Firth menekankan bahwa makna merupakan jantung dari pengkajian bahasa. Semua analisis linguistik dan pernyataan-pernyataan tentang linguistik haruslah merupakan analisis dan pernyataan mengenai makna. Dalam hal ini beliau memperkenalkan dua kolokasi untuk menerangkan arti, yaitu arti gramatikal clan arti fonologis.

Arti Gramatikal adalah peranan dari unsur-unsur tata bahasa di dalam konteks gramatikal dari yang mendahului dan mengikuti unsur-unsur itu di dalam kata atau konstruksi (gagasan) dan dari unsur-unsur tata bahasa yang bersamaan di dalam paradigma-paradigma. Jadi, arti menurut kolokasi adalah abstraksi sintagmatik. Umpama dalam kalimat bahasa Inggris “She liked me”. Arti gramatikal liked adalah peranan atau hubungannya dengan she dan me; dan juga hubungannya dengan like dan likes pada tingkatan paradigmatik.

Arti fonologi adalah peranan atau hubungan dari unsur-unsur fonologi di dalam konteks fonologi dari struktur suku-kata dan unsur-unsur lain yang bersamaan secara paradigmatik yang dapat berperanan dalam konteks yang serupa.

Salah satu dimensi arti dari lima dimensi seperti yang disebutkan di atas adalah dimensi hubungan kata-kata; hal ini tidak boleh dipisahkan dari konteks situasi dan budaya. Arti satu tergantung dari kolokasi yang mungkin dari kata itu. Umpamanya, salah satu arti kata malam adalah kolokasinya dengan gelap, dan sebaliknya gelap berkolokasi dengan malam. Jadi, jelas arti sebuah kata ditentukan oleh konteks linguistiknya.

Sebagai linguis Firth dikenal juga sebagal tokoh analisis prosodi atau fonologi prosodi. Menurut Firth analisis prosodi dapat digunakan untuk menganalisis bahasa dan membuat pernyataan-pernyataan yang sistematis dari analisis ini yang didasarkan pada penelitian yang mendalam terhadap data bahasa serta menggunakan istilah-istilah dan kategori­kategori yang sesuai. Analisis prosodi ini menganggap ada dua jenis fonologi, yaitu berikut ini.

1. Unit-unit fonematik yang terdiri dari konsonan-konsonan segmental dan unsur-unsur vokal yang merupakan maujud-maujud yang dapat saling menggantikan dalam bermacam-macam posisi pada suku kata Yang berlainan.

2. Prosodi-prosodi yang terdiri dari fitur-fitur atau milik-milik struktur Yang lebih panjang dari satu segmen, baik berupa perpanjangan fonetik, maupun sebagai pembatasan struktur secara fonologi, seperti suku kata atau kata_ Prosodi-prosodi ini merupakan maujud yang menjadi ciri khas suku-suku kata secara keseluruhan, dan tidak dapat saling menggantikan_

Ke dalam perpanjangan fonetik ini termasuk semua fonem supra­segmental dari fitur-fitur seperti nasalisasi, glotalisasi, dan retrofleksi yang biasanya tidak diikutsertakan dalam analisis fonetik terutama analisis fonetik menurut linguistik struktural Amerika

Secara singkat bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan prosodi menurut teori Firth adalah struktur kata beserta ciri-ciri khas lagu kata itu sebagai sifat-sifat abstraksi tersendiri dalam keseluruhan fonologi bahasa itu. Jadi, yang termasuk ke dalam fitur-fitur prosodi satu kata adalah:

(1) Jumlah suku kata;

(2) Hakikat suku katanya: terbuka atau tertutup; (3) Kualitas suku-suku kata

(4) Urutan suku-suku kata

(5) Urutan bunyi-bunyi vokal;

(6) Tempat, hakikat, dan kuantitas bunyi-bunyi penting,

(7) Kualitas “gelap” atau “terang” dari suku-suku kata;

(8) Ciri-ciri hakiki lagu suku kata dan juga potongan kalimat tempat kata itu terdapat.

(9) Semua sifat yang menyangkut struktur suku kata, urutan suku kata, dan keharmonisan suku kata dalam kata, potongan kalimat, dan keseluruhan kalimat.

4. Teori Noam Chomsky

Noam Chomsky adalah linguis Amerika yang dengan teori tata bahasa generatif transformasinya dianggap telah membuat satu sejarah baru dalam psikolinguistik.

Dalam sejarah pertumbuhannya teori Chomsky ini dapat dibagi atas empat fase. Yaitu :

(1) Fase generatif transformasi klasik yang bertumpu pada buku Syntactic Structure antara tahun 1957 – 1964. (2) Teori standar yang bertumpu pada buku Aspect of the Theory of Syntac antara tahun 1965-1966. (3) Fase teori standar yang diperluas antara tahun 1967-1972. (4) Fase sesudah teori standar yang diperluas antara 1973 sampai kini. seperti teori penguasaan dan ikatan (government and binding theory) yang berkembang sejak tahun delapan puluhan. Adanya fase-fase itu adalah karena adanya kritik, reaksi, dan saran dari berbagai pihak; dan lebih untuk menyempurnakan teori itu.

Menurut Chomsky untuk dapat menyusun tata bahasa dari suatu bahasa yang masih hidup (masih digunakan dan ada penuturnya) haruslah ada suatu teori umum mengenai apa yang membentuk tata bahasa itu. Teori umum itu adalah satu teori ilmiah yang disusun berdasarkan satu korpus ujaran yang dihasilkan oleh para bahasawan asli bahasa itu. Dengan korpus ujaran itu dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan umum atau kaidah-kaidah umum tata bahasa yang dapat digunakan untuk memprediksikan semua ujaran (kalimat) yang dapat dihasilkan oleh seorang penutur asli bahasa itu. Begitu pun teori ini harus bisa digunakan untuk menerangkan kalimat­kalimat baru yang bisa dihasilkan oleh seorang penutur pada satu kesempatan yang sesuai. Sedangkan penutur lain dapat memahaminya dengan segera, meskipun kalimat itu juga baru bagi mereka (Chomsky, 1969: 7).

Dalam hal ini bisa juga dikatakan kalau kita menguasai suatu bahasa dengan baik, karena kita menjadi penutur bahasa itu, maka kita dapat menghasilkan kalimat-kalimat baru seperti disebutkan di atas yang jumlahnya tidak terbatas. Kalimat-kalimat baru yang jumlahnya tidak terbatas itu tidak mungkin dapat diperoleh dengan teori S – R (stimulus – respons)-nya kaum behaviorisme seperti yang dikemukakan oleh Bloomfield karena kita tidak mupgkin pernah mendengar kalimat-kalimat baru yang jumlahnya tidak terbatas.

Tampaknya teori linguistik Chomsky menyangkut adanya pasangan penutur-pendengar yang ideal di dalam sebuah masyarakat tutur yang betul-betul merata dan sama. Keduanya, penutur dan pendengar itu, harus mengetahui dan menguasai bahasanya dengan baik. Terjadinya suatu tindak tutur memerlukan adanya interaksi dari berbagai faktor. Dalam hal ini kompetensi atau kecakapan linguistik dari penutur-penutur yang menyokong terjadinya tuturan tadi, hanyalah merupakan satu faktor saja.

Sehubungan dengan hal di atas, Chomsky membedakan adanya kom­petensi (kecakapan linguistik) dan performansi (pelaksanaan atau perlakuan linguistik). Kompetensi adalah Pengetahuan penutur-pendengar mengenai bahasanya sedangkan Performansi adalah pelaksanaan berbahasa dalam bentuk menerbitkan kalimat-kalimat dalam keadaan yang nyata. Pada kenyataan yang sebenarnya perlu diingat bahwa pertuturan tidaklah betul-betul merupakan respons dari suatu kecakapan, misalnya jika terjadi kesalahan pada awal percakapan, penyimpangan, kaidah tata bahasa atau perubahan yang terjadi di tengah­-tengah percakapan.

Menurut Chomsky yang penting bagi seorang linguis adalah menelaah data-data penuturan (yang berupa kalimat-kalimat), kemudian menentukan sistem kaidah yang telah diterima atau dikuasai oleh penutur-pendengar dan yang dipakai dalam penuturan yang sebenarnya. Maka itu, menurut Chomsky teori linguistik itu bersifat mental karena teori ini mencoba menemukan satu realitas mental yang menyokong perilaku bahasa yang sebenarnya terjadi.

Kompetensi atau kecakapan adalah suatu proses generatif, dan bukan “gudang” yang berisi kata-kata, frasa-frasa, atau kalimat-kalimat seperti konsep langue dalam teori linguistik De Saussure. Kompetensi merupakan satu sistem kaidah atau rumus yang dapat kita sebut tata bahasa dari bahasa penutur itu. Maka kalau dibagankan proses perilaku berbahasa itu adalah sebagai berikut.

untuk rr penafsir dengar). kembah

Bagan Perilaku Berbahasa

Tata bahasa suatu bahasa adalah uraian (deskripsi) kompetensi penutur-pendengar yang ideal; clan uraian ini harus mampu memberi uraian struktur tiap-tiap kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, serta dapat menjelaskan bagaimana kalimat-kalimat ini dipahami oleh penutur-pendengar yang ideal itu. Dilihat dari segi semantik tata bahasa suatu bahasa adalah satu sistem rumus atau kaidah yang menyatakan persamaan atau keterkaitan antara bunyi (bahasa) dan makna (bahasa) dalam bahasa itu. Dilihat dari segi daya kreativitas, tata bahasa adalah sebuah alat perancangan yang khusus menerangkan dengan jelas pembentukan kalimat-kalimat gramatikal (yang jumlahnya tidak terbatas) dan menjelaskan struktur setiap kalimat itu. Alat perancangan inilah yang diberi nama “tata bahasa generatif’ oleh Chomsky, untuk membedakan dari pernyataan deskriptif yang hanya menggunakan sekumpulan unsur yang muncul dalam uraian-uraian struktur yang konteksnya sangat beragam. Tata bahasa generatif sebagai alai perancangan ini merupakan satu sistem rumus yang tepat dan jelas yang dapat digunakan dalam gabungan baru yang belum pernah dicoba untuk membentuk kalimat-kalimat baru. Rumus-rumus ini dapat juga digunakan untuk menentukan struktur clan bentuk fonetik kalimat ini, dan menunjuk penafsiran-penafsiran semantik kalimat-kalimat baru (yang baru kita dengar), serta menolak urutan struktur yang bukan milik “bahasa itu” .

Dari uraian itu kita dapat juga menarik konsep Chomsky mengenai bahasa yakni bahasa adalah sejumlah kalimat, panjang setiap kalimat adalah terbatas dan dibina oleh sejumlah unsur yang terbatas. Bahasa itu sendiri merupakan perilaku yang diatur oleh rumus-rumus.

Menurut Chomsky perkembangan teori linguistik dan psikologi yang sangat penting dan perlu diingat dalam pengajaran bahasa adalah sebagai berikut.

1. Aspek kreatif penggunaan bahasa.

2. Keabstrakan lambang-lambang linguistik.

3. Keuniversalan struktur dasar linguistik.

4. Peranan organisasi intelek nurani (struktur-dalam) di dalam proses kognitif/mental.

Yang dimaksud dengan aspek kreatif adalah perilaku linguistik yang biasa, bebas dari rangsangan, bersifat mencipta dan inovatif. Tiap kalimat merupakan karya baru dari kompetensi, dan bukan hasil cungkilan oleh rangsangan. Ulangan dari frase-frase pendek jarang terjadi. Hanya dalam hal-hal yang istimewa saja konteks keadaan menentukan kalimat yang akan dikeluarkan. Misalnya, dalarn konteks perjumpaan di pagi hari melahirkan kalimat, “selamat pagi”. Andaikata ada kalimat yang serupa dengan kalimat yang sudah ada dalam korpus data, maka hat itu adalah karena kebetulan saja. Kalimat-kalimat yang baru itu masing-masing adalah kalimat baru yang kebetulan sama dengan kalimat lain. Kalimat-kalimat yang sama itu bukanlah hasil cungkilan rangsangan yang keluar sebagai tabiat atau kebiasaan dengan cara mekanis karena kalimat itu sudah pernah didengar dan dilatihkan dulu pada waktu mempelajari bahasa itu.

Seorang penutur bahasa-ibu suatu bahasa sudah menuranikan satu tata bahasa generatif secara tidak sadar; dan tanpa disadari dia telah menguasai segala “milik” tata bahasa itu. Jadi, tugas linguis adalah menemukan dan menerangkan “milik-milik” tata bahasa yang tidak disadarinya.

Yang dimaksud dengan keabstrakan lambang-lambang linguistik adalah bahwa rumus-rumus atau kaidah-kaidah yang menentukan bentuk­bentuk kalimat dan penafsiran artinya yang rumit bukan merupakan sesuatu yang konkret melainkan merupakan sesuatu yang abstrak. Struktur-struktur

yang telah dimanipulasi dihubungkan dengan fakta-fakta fisik dengan cara yang jauh sekali, baik dalam tataran fonologi, sintaksis, maupun semantik. Karena prinsip-prinsip yang bekerja dalam tata bahasa generatif transformasi ini, dan struktur-struktur yang dimanipulasinya tidak ada hubungan dengan fenomena-fenomena indra tertentu menurut hukum-hukum teori psikologi empiris maupun behavioris.

Yang dimaksud dengan keuniversalan linguistik dasar adalah prinsip­prinsip abstrak yang mendasari tata bahasa generatif transformasi ini; dan yang tidak dapat diperoleh melalui pengalaman dan latihan. Oleh karena prinspi-prinsip ini bersifat abstrak dan tidak bisa diperoleh melalui peng­alaman dan latihan, maka berarti prinsip-prinsip ini bersifat universal. Jadi, prinsip-prinsip yang mendasari setiap tata bahasa generatif transformasi bersifat universal. Maka itu, menurut Chomsky masalah utarna linguistik adalah hal-hal yang universal dari linguistik itu.

Menurut Chomsky keuniversalan linguistik ini dimiliki manusia sejak lahir karena merupakan unsur atau struktur-struktur yang tidak terpisahkan dari manusia. Sernuanya bisa diterangkan berdasarkan peranan organisasi intelek nurani.

Masalah organisasi intelek nurani di dalam proses kognitif umumnya, dan di dalam pemerolehan bahasa khususnya, merupakan perkembangan baru yang sangat penting terutama dalam psikolinguistik. Prinsip-prinsip dasar organisasi linguistik adalah keuniversalan linguistik yang oleh Chomsky kemudian disebut tata bahasa universal. Tata bahasa merupakan satu sistem yang merupakan bagian dari organisasi intelek nurani yang bersifat universal. Tata bahasa mempunyai peranan yang sangat penting dalam pemerolehan bahasa; dan peranan ini sama dengan peranan yang dimainkan tata bahasa generatif transformasi, misalnya, di dalarn pengenalan bentuk-bentuk fonetik sebuah kalimat karena rumus-rumus tata bahasa itu digunakan dalam analisis sintaksis kalimat itu untuk mengenal isyarat­isyarat fonetik itu. Di dalam teori linguistiknya, Chomsky membedakan adanya struktur­dalam (deep structure) dan struktur-luar (surface structure).

Leave A Reply

Your email address will not be published.